Jumat, 17 Februari 2012

Jumat, 17 Februari 2012

TIDAK INGIN APA-APA


Malam yang dingin seperti ini, dengan tiupan angin kencang yang membuat curahan hujan seakan diayun ayun, selalu membuatku terkenang akan dia,  yang sekarang entah berada dimana.
Persis seperti suasana dimalam ini, duapuluhan tahun yang lalu,  aku kebetulan bertemu dengannya. Kami terlibat dalam dialog tanpa pola. Namun berujung pada proses belajar yang penuh makna.
Malam ini, aku seakan kembali berada didepannya. Terngiang  ditelinga kata-katanya yang  sederhana. Ya, demikian sederhananya, sehingga sekilas bagaikan tidak mengandung arti apa-apa.
“Bapak, apakah sebetulnya yang kita cari dalam hidup di dunia ini?”, demikian aku bertanya.
Dengan santai dia menjawab seenaknya. “Aku tidak tahu apa yang kamu cari, dan apa yang orang lainnya cari”.
“Maksud Bapak?”
“Ya terang saja aku tidak tahu apa yang kamu dan orang-orang lain cari. Karena kelian tidak pernah memberitahukannya kepadaku”.
“Tapi apakah Bapak tahu apa yang Bapak cari dalam hidup ini?”
“Kalau itu jelas aku tahu.”
“Bolehkah aku tahu apa gerangan?”
“O, jelas boleh. Dan itu tidaklah serumit yang kamu duga. Karena aku memang tidak mencari apa-apa.”
Ah, sebuah jawaban yang sederhana. Tapi dibalik kesederhanaan itu justru tersimpan kerumitan.
“Maksud Bapak dengan tidak mencari apa-apa itu?”
“Ya, aku tidak mencari apa-apa.”
“Maksud Bapak, Bapak tidak inginkan apa-apa?”
“Persis. Orang selalu bersusah payah mencari sesuatu yang diinginkannya. Nah kalau tidak ada keinginan apa-apa, kan tidak harus mencari apa-apa.”
“Tapi, apakah hidup sesederhana itu dalam pandangan Bapak?”
“Secara konseptual hidup adalah sederhana. Sangat sederhana. Namun dalam realita orang sering membuatnya menjadi ribet, kompliketid.”
“Jadi Bapak sama sekali tidak punya keinginan apa-apa?”
“Aku hanya punya satu keinginan. Hanya satu saja. Tidak ada lainnya. Dan itu membuat hidupku jadi mudah, ringan, tanpa beban. Nggak pake ribet.”
“Bolehkah aku tahu keinginan Bapak tersebut?”
“Aku ingin kembali kepadaNya dalam keadaan tanpa dosa.”
“Maksud Bapak?”
“Dulu aku terlahir ke dunia dalam keadaan suci tanpa dosa. Dan satu-satunya keinginanku adalah untuk dapat kembali kepadaNya dalam keadaan suci tanpa dosa. Persis seperti semula.”
“Jadi Bapak tidak menginginkan harta?”
“Harta? Untuk apa? Bukankah rezeki semua makhluk  telah dijaminNya?!”
“Tapi bukankah Bapak juga ingin membantu orang miskin misalnya. Atau menunaikan ibadah hajji. Itu tidak mungkin bisa dilakukan tanpa harta”, aku mulai berteori.
“Membantu orang adalah kewajiban. Bukan keinginan. Kenapa aku harus ingin membantu sementara membantu itu sudah diwajibkan atasku? Begitu juga dengan hajji, zakat sedekah, dan yang lainnya.”
“Tapi, maaf. Bagaimana Bapak bisa melakukan itu kalau tak punya harta?”, aku melanjutkan teoriku.
“Nak. Apakah kalau sudah punya harta engkau pasti bisa dan akan melakukan kewajiban itu? Ini adalah cara berpikir yang keliru. Berbahaya dan menyesatkan.”
“Aku tidak mengerti Pak. Dimana keliru dan sesatnya?”
“Nak. Dalam setiap keinginan terselip hawa nafsu. Sehalus dan setipis apapun nafsu itu akan menyesatkan.”
Aku tidak sepenuhnya mengerti.  Tapi tetap  melanjutkan percakapan.
“Jadi Bapak tidak punya keinginan apa-apa?”
“Tidak, kecuali satu saja. Ingin kembali kepadaNya tanpa dosa.”
“Tapi setidaknya Bapak ingin hidup dengan nyaman. Itu memerlukan harta”, aku lanjut berteori.
“Apakah menurutmu aku tidak nyaman dalam hidupku? Bahkan aku merasa lebih nyaman dari  kebanyakan orang diluar sana.”
“Apakah Bapak tidak ingin masuk surga?”, aku mencoba menyudutkannya.
“Surga? Apa yang kamu maksud dengan surga?”
“Surga. Surganya Allah. Seperti yang dinyatakan dalam banyak ayat dalam Al-Quran”, jawabku dengan semakin terseret untuk berteori.
“Kalau aku kembali menghadapNya dalam keadaan tanpa dosa, lalu dimanakah aku akan ditempatkanNya?”
Aku terdiam. Antara mengerti dan tidak. Namun lanjut berkata: “Bolehkah aku minta penjelasan?”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan Nak. Semuanya begitu sederhana. Buang semua keinginanmu. Niatkan hidup hanya untuk Dia semata.”
Aku bingung dan terpana. Diluar hujan pun sudah reda. Akhirnya kami bersalaman. Aku dan dia sama-sama melanjutkan perjalanan. Ke tujuan masing-masing. Sebelum berpisah, dengan tersenyum dia berkata pelan “Nak buang semua keinginanmu. Niatkan hidupmu hanya untuk Dia semata.” (SYB)

from : Syahril Bermawan

0 komentar:

Posting Komentar