Malam yang dingin seperti ini, dengan tiupan angin kencang
yang membuat curahan hujan seakan diayun ayun, selalu membuatku terkenang akan
dia, yang sekarang entah berada dimana.
Persis seperti suasana dimalam ini, duapuluhan tahun yang
lalu, aku kebetulan bertemu dengannya. Kami terlibat dalam dialog tanpa
pola. Namun berujung pada proses belajar yang penuh makna.
Malam ini, aku seakan kembali berada didepannya.
Terngiang ditelinga kata-katanya yang sederhana. Ya, demikian
sederhananya, sehingga sekilas bagaikan tidak mengandung arti apa-apa.
“Bapak, apakah sebetulnya yang kita cari dalam hidup di
dunia ini?”, demikian aku bertanya.
Dengan santai dia menjawab seenaknya. “Aku tidak tahu apa
yang kamu cari, dan apa yang orang lainnya cari”.
“Maksud Bapak?”
“Ya terang saja aku tidak tahu apa yang kamu dan orang-orang
lain cari. Karena kelian tidak pernah memberitahukannya kepadaku”.
“Tapi apakah Bapak tahu apa yang Bapak cari dalam hidup
ini?”
“Kalau itu jelas aku tahu.”
“Bolehkah aku tahu apa gerangan?”
“O, jelas boleh. Dan itu tidaklah serumit yang kamu duga.
Karena aku memang tidak mencari apa-apa.”
Ah, sebuah jawaban yang sederhana. Tapi dibalik
kesederhanaan itu justru tersimpan kerumitan.
“Maksud Bapak dengan tidak mencari apa-apa itu?”
“Ya, aku tidak mencari apa-apa.”
“Maksud Bapak, Bapak tidak inginkan apa-apa?”
“Persis. Orang selalu bersusah payah mencari sesuatu yang
diinginkannya. Nah kalau tidak ada keinginan apa-apa, kan tidak harus mencari
apa-apa.”
“Tapi, apakah hidup sesederhana itu dalam pandangan Bapak?”
“Secara konseptual hidup adalah sederhana. Sangat sederhana.
Namun dalam realita orang sering membuatnya menjadi ribet, kompliketid.”
“Jadi Bapak sama sekali tidak punya keinginan apa-apa?”
“Aku hanya punya satu keinginan. Hanya satu saja. Tidak ada
lainnya. Dan itu membuat hidupku jadi mudah, ringan, tanpa beban. Nggak pake
ribet.”
“Bolehkah aku tahu keinginan Bapak tersebut?”
“Aku ingin kembali kepadaNya dalam keadaan tanpa dosa.”
“Maksud Bapak?”
“Dulu aku terlahir ke dunia dalam keadaan suci tanpa dosa.
Dan satu-satunya keinginanku adalah untuk dapat kembali kepadaNya dalam keadaan
suci tanpa dosa. Persis seperti semula.”
“Jadi Bapak tidak menginginkan harta?”
“Harta? Untuk apa? Bukankah rezeki semua makhluk telah
dijaminNya?!”
“Tapi bukankah Bapak juga ingin membantu orang miskin
misalnya. Atau menunaikan ibadah hajji. Itu tidak mungkin bisa dilakukan tanpa
harta”, aku mulai berteori.
“Membantu orang adalah kewajiban. Bukan keinginan. Kenapa
aku harus ingin membantu sementara membantu itu sudah diwajibkan atasku? Begitu
juga dengan hajji, zakat sedekah, dan yang lainnya.”
“Tapi, maaf. Bagaimana Bapak bisa melakukan itu kalau tak
punya harta?”, aku melanjutkan teoriku.
“Nak. Apakah kalau sudah punya harta engkau pasti bisa dan
akan melakukan kewajiban itu? Ini adalah cara berpikir yang keliru. Berbahaya
dan menyesatkan.”
“Aku tidak mengerti Pak. Dimana keliru dan sesatnya?”
“Nak. Dalam setiap keinginan terselip hawa nafsu. Sehalus
dan setipis apapun nafsu itu akan menyesatkan.”
Aku tidak sepenuhnya mengerti. Tapi tetap
melanjutkan percakapan.
“Jadi Bapak tidak punya keinginan apa-apa?”
“Tidak, kecuali satu saja. Ingin kembali kepadaNya tanpa
dosa.”
“Tapi setidaknya Bapak ingin hidup dengan nyaman. Itu
memerlukan harta”, aku lanjut berteori.
“Apakah menurutmu aku tidak nyaman dalam hidupku? Bahkan aku
merasa lebih nyaman dari kebanyakan orang diluar sana.”
“Apakah Bapak tidak ingin masuk surga?”, aku mencoba
menyudutkannya.
“Surga? Apa yang kamu maksud dengan surga?”
“Surga. Surganya Allah. Seperti yang dinyatakan dalam banyak
ayat dalam Al-Quran”, jawabku dengan semakin terseret untuk berteori.
“Kalau aku kembali menghadapNya dalam keadaan tanpa dosa,
lalu dimanakah aku akan ditempatkanNya?”
Aku terdiam. Antara mengerti dan tidak. Namun lanjut
berkata: “Bolehkah aku minta penjelasan?”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan Nak. Semuanya begitu
sederhana. Buang semua keinginanmu. Niatkan hidup hanya untuk Dia semata.”
Aku bingung dan terpana. Diluar hujan pun sudah reda.
Akhirnya kami bersalaman. Aku dan dia sama-sama melanjutkan perjalanan. Ke
tujuan masing-masing. Sebelum berpisah, dengan tersenyum dia berkata pelan “Nak
buang semua keinginanmu. Niatkan hidupmu hanya untuk Dia semata.” (SYB)
from : Syahril Bermawan



21.42
bpksms
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar