Rabu, 28 Desember 2011

Rabu, 28 Desember 2011

Dialog Rasulullah dengan Abu Dzaar



Diriwayatkan oleh Muhammad bin Al-Husain dari Abu Idris Al-Khaulani bahawa Abu Dzar r.a. bercerita: “Pada suatu hari aku masuk ke dalam masjid dan menemui Rasulullah saw. sedang duduk seorang diri; maka aku mendekatinya dan duduk di sampingnya, kemudian terjadilah dialog (soal jawab di antara beliau dan aku).
1. Aku (Abu Dzarr) bertanya, “Ya Rasulullah, engkau memerintahkan aku bersolat?”
Beliau (Rasulullah) menjawab: “Solat adalah sebaik-baik perbuatan, maka perbanyakkanlah atau sedikit.”
2. Aku tanya, “Amal apakah yang paling afdhal?”
Beliau jawab:”Beriman kepada Allah dan berjihad fi sabiilih (pada jalanNYA).”
3. Aku tanya,”Mukmin yang bagaimanakah yang paling afdhal?”
Beliau jawab: “Ialah yang terbaik akhlaknya.”
4. Tanya, “Muslim yg bagaimanakah yang paling  selamat?”
Jawab: “Ialah yg menyelamatkan orang-orang dari gangguan lidahnya dan tangannya.”
5. Tanya, “Hijrah yg bagaimanakah yg afdhal, ya Rasulullah?”
Jawab: “Ialah hijrah dari (meninggalkan) perbuatan maksiat.”
6. Tanya,”Solat yang bagaimanakah yang afdhal, ya Rasulullah?”
Jawab:”Berkhusyuk yang panjang (lama berdiri).”
7. Tanya,”Hamba-hamba sahaya manakah yg paling afdhal utk dimerdekakan?”
Jawab:”Hamba yg paling mahal harganya dan yg paling disayang oleh pemiliknya.”
8. Tanya,”Sedekah yg bagaimanakah yg paling afdhal, ya Rasulullah?”
Jawab:”Pemberian dari orang yg masih kekurangan (tidak kaya) dan pemberian secara rahasia kepada fakir miskin.”
9. Tanya,”Ayat apakah di antara ayat-ayat yg diturunkan kepadamu yg paling besar?”
Jawab:”Ayat Kursi, dan tujuh langit itu jika dibandingkan dengan Kursi, melainkan seperti sebuah cincin (atau lingkaran besi) yg berada di tengah-tengah padang pasir, dan perbandingan Arasy terhadap Kursi adalah perbandingan padang pasir itu terhadap cincin tadi.”
10. Tanya,”Berapakah bilangan Nabi-Nabi, ya Rasulullah?”
Jawab:”Seratus dua puluh empat ribu.” (124,000)
11. Tanya,”Berapakah yg menjadi Rasul di antara mereka, ya Rasulullah?”
Jawab:”Sebanyak tiga ratus tiga belas.” (313)
12. Tanya,”Siapakah yg pertama, ya Rasulullah?”
Jawab:”Adam.”
13. Tanya,”Apakah dia seorang Nabi yg diutus ?”
Jawab:”Benar, dia diciptakan oleh Allah dengan tanganNYA, ditiupkan ruh ke dalam tubuhnya yang disempurnakan.”
Dan selanjutnya Rasulullah bersabda:
“Hai Abu Dzarr, empat dari mereka adalah dari golongan Siryaniun, iaitu Adam, Syith, Nuh, dan Idris, iaitu Nabi pertama yg dapat menulis dengan pensel. Dan empat Nabi dari keturunan Arab, iaitu Hud, Syuaib, Saleh, dan Nabimu, hai Abu Dzarr.”
14. Abu Dzarr bertanya,”Berapa kitab telah diturunkan Allah, ya Rasulullah?”
Ar-Rasul saw. jawab:”Seratus empat kitab (104). Kepada Syith telah diturunkan lima puluh halaman, Idris tiga puluh halaman, Ibrahim sepuluh halaman, Musa sebelum Taurat ada sepuluh halaman, di samping kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an.”
15. Tanya,”Ya Rasulullah, apakah isi lembaran yg diturunkan kepada Ibrahim?”
Jawab:”Isinya ialah: Hai Raja yg berkuasa, dipuji dan sombong, sesungguhnya AKU tidak mengutusmu untuk mengumpulkan dunia, melonggokkan sebagian di atas sebagian, akan tetapi AKU mengutusmu untuk menerima doanya orang yg teraniaya agar tidak sampai kepada-KU, kerana AKU tidak akan mengembalikannya walaupun ia datang dari seorang yg kafir. Seorang yg bijaksana akan membagi masanya menjadi beberapa waktu untuk bermunajat kepada Tuhannya, beberapa waktu untuk bertanya pada dirinya sendiri (muhasabah), beberapa waktu untuk merenungkan ciptaan Allah, dan beberapa waktu lagi utk mengurus keperluan makan dan minumnya. Seorang yang bijaksana tidak akan meributkan (menyibukkan) diri melainkan untuk tiga tujuan: mencari bekal untuk hari kemudian (Akhirat), mencari nafkah hidup, dan mencari kelezatan yg halal. Seorang yg bijaksana hendaklah mengenal zamannya, tekun mengurus urusannya, dan menjaga lidahnya. Barangsiapa yang menyesuaikan bicaranya dengan perbuatan, maka akan jarang berbicara melainkan dalam hal-hal yg mengenai dirinya.”
16. Tanya,”Apakah isi lembaran-lembaran yg diturunkan ke atas Musa, ya Rasulullah?”
Jawab:”Isinya adalah semua peringatan dan ibarah; aku heran dari orang yg yakin akan mati bagaimana ia dapat bersuka-ria, aku heran dari orang yg yakin dengan adanya takdir bagaimana ia membanting tulang bekerja, aku heran dari org yg melihat keadaan dunia yg selalu berubah bagaimana ia dapat tenang mempercayainya dan aku heran dari orang yg yakin adanya hari hisab besok, bagaimana ia enggan beramal.”
17. Tanya,”Ya Rasulullah, apakah ada yg sampai kepada kita sesuatu yg dulu ada di tangan Ibrahim dan Musa, dan apakah yg diturunkan Allah kepadamu?”
Jawab:”Ada, cobalah baca hai Abu Dzarr, ‘Sesungguhnya beruntunglah orang yg membersihkan diri (dengan beriman) dan ia ingat akan nama Tuhannya, lalu ia bersembahyang. Tetapi kamu (orang2 kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.’ Sesungguhnya ini benar2 terdapat dalam kitab2 yg dahulu (iaitu) kitab2 Ibrahim dan Musa.”
18. Abu Dzarr bertanya,”Apakah wasiatmu kepadaku, ya Rasulullah?”
Ar-Rasul saw menjawab:”Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah, karena itu (taqwa) adalah pokok segala urusanmu.”
19. Abu Dzarr bertanya lagi,”Apa lagi ya Rasulullah?”
Rasulullah saw. menjawab: “Bacalah Al-Qur’an dan berzikirlah (ingatlah) kepada Allah, kerana itu akan menjadi zikir buatmu di langit dan cahaya bagimu di dunia.”
20. Tanya, “Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab: “Hindarilah banyak ketawa, kerana itu mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah.”
21. Tanya, “Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab: “Laksanakanlah kewajiban berjihad, karena itu merupakan kerahiban perjuangan bagi umatku.”
22. Tanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab:”Hendaklah engkau selalu diam (tidak bercakap) melainkan untuk kebaikan, kerana itu dapat mengusir syaitan dan dapat menolongmu dalam urusan agamamu.”
23. Tanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab:”Lihatlah kepada orang yg di bawahmu dan janganlah melihat orang yg berada di atasmu, agar engkau tidak memandang rendah akan nikmat yg Allah berikan kepadamu.”
24. Abu Dzarr bertanya,”Apa lagi, ya Rasulullah?
Jawab: “Cintailah orang2 fakir miskin dan duduklah bersama-sama mereka, agar engkau tidak memandang rendah dan kecil nikmat Allah kepadamu.”
25. Bertanya Abu Dzarr, “Apa lagi, ya Rasulullah?”
Rasulullah saw. menjawab: “Hubungilah kerabatmu, walaupun mereka memutuskan hubungannya dengan engkau.”
26. Tanya Abu Dzarr, “Apa lagi ya Rasulullah?”
Jawab Rasululllah: “Katakanlah apa yang haq (yang benar) walaupun itu merupakan hal yg pahit.”
27. Tanya, “Apa lagi ya Rasulullah?”
Jawab:”Janganlah engkau takut dicerca orang karena membela agama Allah.”
28. Tanya,”Apa lagi ya Rasulullah?”
Jawab:”Apa yang engkau ketahui tentang dirimu akan mencegahmu mencampuri urusan orang lain dan janganlah engkau sesalkan bahwa orang tidak melakukan apa yg engkau sukai. Dan cukup sebagai aib bahwa engkau mengetahui tentang orang lain apa yang engkau tidak mengetahui tentang dirimu sendiri.”
Kemudian Rasulullah saw. memukul dadaku dengan tangannya seraya bersabda: “Tiada aqal seperti kebijaksanaan, tiada wara’ seperti memahami diri dan tiada kebanggaan seperti akhlak yang baik.”

Sumber:
Terjemahan Ibnu Katsir, Jilid 2

Minggu, 25 Desember 2011

Minggu, 25 Desember 2011

Surat dari Gaza untuk Umat Islam di Indonesia


Untuk saudaraku di Indonesia,
Saya tidak tahu, mengapa saya harus menulis dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia, Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki Adalah karena Negeri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini, bukan demikian saudaraku?

Rabu, 21 Desember 2011

Rabu, 21 Desember 2011

CERITA DARI GUNUNG



Seorang bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. "Aduhh!" jeritannya memecah
keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, "Aduhh!". Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, "Hei! Siapa kau?" Jawaban yang terdengar, "Hei! Siapa kau?" Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, "Pengecut kamu!" Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa. Ia bertanya kepada sang ayah, "Apa yang terjadi?" Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, "Anakku, coba perhatikan." Lelaki itu berkata keras, "Saya kagum padamu!" Suara di kejauhan menjawab, Saya kagum padamu!" Sekali lagi sang ayah berteriak "Kamu sang juara!" Suara itu menjawab, "Kamu sang juara!" Sang bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah menjelaskan, "Suara itu adalah gema, tapi sesungguhnya itulah kehidupan."
Kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakanmu. Dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita. Bila kamu ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam hatimu.Bila kamu menginginkan tim kerjamu punya kemampuan tinggi, ya tingkatkan kemampuan itu. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kau berikan kepadanya. Ingat, hidup bukan sebuah kebetulan tapi sebuah bayangan dirimu.

Senin, 19 Desember 2011

Senin, 19 Desember 2011

Persepektif Partai IM di Mata Profesor Azyumardi Azra

Partai Kebebasan dan Keadilan

Oleh Azyumardi Azra*
(Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1998-2006)

Jumpa lagi dengan Essam el-Haddad; kali ini dalam Forum Demokrasi bertajuk ‘Sustaining Democracy in the Arab World’ yang diselenggarakan International Institute for Democracy Assistance (IDEA) di Madrid, Spanyol, 27-28 November 2011. Sebelumnya 6-8 April 2011, saya pertama kali bertemu dengan el-Haddad dalam diskusi meja bundar di kantor pusat International IDEA di Stockholm—membahas tentang gejolak transisi Mesir pasca-Mubarak.

Sabtu, 17 Desember 2011

Sabtu, 17 Desember 2011

Hambatan Komunikasi Suami Isteri



Oleh : Cahyadi Takariawan

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak pasangan suami isteri mengalami kegagalan berkomunikasi. Sering terjadi salah paham di antara mereka berdua. Saat suami bicara, isteri tidak menangkap maksud pembicaraan suami. Menurut sang isteri, suaminya kalau berbicara selalu melingkar-lingkar dan tidak jelas kemauannya.
Demikian pula saat isteri berbicara, tidak dimengerti isinya oleh suami. Sudah sekian lama isteri bicara, namun suami merasa kehilangan arah, sebenarnya apa yang dikehendaki sang isteri. Ujung-ujung dari pembicaraan yang saling tidak dimengerti ini adalah ketersinggungan, kemarahan dan pertengkaran.

Kamis, 15 Desember 2011

Kamis, 15 Desember 2011

Delapan Mata Air Kecemerlangan



oleh : Ust. Anis Matta


Islam datang dengan 2 pesona; pesona kebenaran yang abadi dan pesona manusia muslim yang temporal. Dan pada setiap momentum sejarah di mana kedua pesona itu bertemu, Islam selalu berada di puncak kekuatan dan kejayannya. Akan tetapi, itulah masalah Islam saat ini. Ia memang tidak akan pernah kehilangan pesona kebenarannya, karena kebenarannya bersifat abadi. Namun, ia kini masih kehilangan pesona manusianya.

Buku Delapan Mata Air Kecemerlangan ini merupakan upaya Anis Matta menjawab problematika itu.

Selasa, 13 Desember 2011

Selasa, 13 Desember 2011

Doa Rabithah: Doa di Sepanjang Mihwar Dakwah

Oleh : Cahyadi Takariawan
Siang tadi (Sabtu 3 Desember 2011), saya mengikuti acara Tatsqif Kader Dakwah di Markaz Dakwah Gambiran, Yogyakarta. Ustadz Tulus Musthafa menyampaikan tausiyah yang sangat mengena. Penjagaan terhadap kader pada era dakwah di ranah publik harus semakin dikuatkan. Sarananya, kata beliau, telah terangkum dalam Doa Rabithah yang rutin kita baca setiap pagi dan petang.

Sembari mengikuti tausiyah beliau, ingatan saya menerawang jauh ke belakang.....

Minggu, 11 Desember 2011

Minggu, 11 Desember 2011

Facebook Status Anak Kita



Mohammad Fauzil Adhim

Sekali waktu, tengoklah status facebook anakmu. Jelajahilah alam pikirannya. Pahamilah apa yang sedang terjadi padanya. Dan bersiap-siaplah untuk terkejut disebabkan apa yang berharga bagi hidupnya, membanggakan dirinya, menyenangkan hatinya dan menjadi keinginannya justru perkara yang kita membencinya. Mereka sangat berhasrat justru terhadap apa-apa yang kita ajarkan kepada mereka untuk menjauhi. Astaghfirullahal ‘adzim.

Jumat, 09 Desember 2011

Jumat, 09 Desember 2011

Membangun Soliditas dengan Kader Berkualitas

Oleh : Solikhin Abu Izzuddin

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (q.s. Ash-Shaff: 4)

Senin, 05 Desember 2011

Senin, 05 Desember 2011

Uang Logam

By Ust. Irfan Toni Herlambang

Suatu ketika ada seorang anak menemukan sekeping uang logam. Dia sangat senang sekali dengan apa yang ditemukannya. Dia mendapatkan uang tanpa harus mengeluarkan tenaga. Tanpa bersusah payah dia dapat membeli apa yang diinginkannya dengan uang yang ditemukannya itu. Lalu dia berpikir untuk melakukan pekerjaan ini sampai sore nanti. Dia lalu menghabiskan hari itu dengan kepala menunduk, mata terbuka lebar, dan meneliti setiap pojok jalan dengan seksama.

Sabtu, 03 Desember 2011

Sabtu, 03 Desember 2011

Umat yang Tergulung


Sebuah metafora lama masih segar dalam ingatan kita. Alkisah seorang guru memberikan sebuah game untuk para muridnya. Di depan kelas, ia bentangkan sebuah karpet. Kemudian di tengah karpet tadi diletakkan sebuah Al-Qur’an. Sang guru membuat sayembara kepada muridnya: Siapakah yang bisa mengambil Al-Qur’an tanpa menginjak karpet?andaleh)

Selasa, 29 November 2011

Selasa, 29 November 2011

Cangkir yang Cantik

By Ust. Irfan Toni Herlambang

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja ke sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya. "Kau benar, itu cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara.

Senin, 28 November 2011

Senin, 28 November 2011

Mentalitas Da'i dalam Menghadapi Ujian Dakwah


Dakwah adalah jalan suci para Nabi dan Rasul yang tak pernah sepi dari ujian.Sepeninggal mereka, Alloh SWT telah menyiapkan para kader penerus dakwah dengan melahirkan para Da'i disetiap generasi hingga hari kiamat, tak pernah berubah dan memang itulah sunnahnya dakwah, akan selalu menghadapi berbagai rintangan dan halangan . Para da'i dari masa kemasa akan terus menghadapi berbagai fitnah yang bertujuan menghentikan langkah dakwah mereka, ingatlah pernyataan Rasululloh saat orang-orang quraisy meminta beliau SAW untuk meninggalkan dakwahnya. 

Minggu, 27 November 2011

Minggu, 27 November 2011

Ujub Dikala Ada Prestasi

Oleh: Insan Konayuki

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq menasihati panglima Khalid bin Walid justru telah menang perang gilang gemilang di Irak, “Semoga Allah mengaruniakan kepadamu kelurusan niat dan kedudukan yang tinggi. Sempurnakanlah amalmu, maka Allah akan menyempurnakanmu. Janganlah kamu terkena penyakit ujub, karena hal itu akan membuatmu merugi dan terhina. Jauhilah olehmu sifat unjuk dan pamer atas suatu perbuatan, karena sesungguhnya hanya Allah-lah sang Pemberi anugerah dan kemuliaan, Dialah yang maha Pembalas…(Tarikh al-Tabri, dari buku Hambatan-hambatan dakwah, dikutip dari buku new Quantum Tarbiyah)

Sabtu, 26 November 2011

Sabtu, 26 November 2011

SEMANGAT BARU LIQO KITA

Muharram Tahun Baru ini, semoga memberikan energi segar bagi kita. Bukan hanya fisik, tapi ma’nawi kita juga bertambah kekuatannya. Oleh karena itu bagi aktifis dakwah seharusnya muharram merupakan momentum untuk meningkatkan produktifitas amal, meningkatkan kontribusi da’awi, dan meloncatkan prestasi kita bagi jama’ah dakwah ini.

Kamis, 24 November 2011

Kamis, 24 November 2011

Keluarga Kunci Kesuksesan


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Seringkali kita dengar orang-orang yang membangun karir bertahun-tahun akhirnya terpuruk oleh kelakuan keluarganya. Ada yang dimuliakan di kantornya tapi dilumuri aib oleh anak-anaknya sendiri, ada yang cemerlang karirnya di perusahaan tapi akhirnya pudar oleh perilaku istrinya dan anaknya. Ada juga yang populer di kalangan masyarakat tetapi tidak populer di hadapan keluarganya. Ada yang disegani dan dihormati di lingkungannya tapi oleh anak istrinya sendiri malah dicaci,

Senin, 21 November 2011

Senin, 21 November 2011

Rumah Tangga yang Menyenangkan



Banyak orang yang menyangka bahwa pernikahan itu indah. Padahal sebetulnya? Indah ...sekali. Tak sedikit yang menyesal, kenapa tak dari dulu menikah.

Minggu, 20 November 2011

Minggu, 20 November 2011

ASAS PENTING PEMBENTUKAN UMMAH ISLAMIYYAH

 

Pendahuluan

Setelah kejatuhan Daulah Islamiyyah dan kehilangan Khilafah Islamiyyah, musuh-musuh Islam menakluki negeri-negeri umat Islam dengan pelbagai cara penaklukan. Penaklu­kan meliputi aspek kebudayaan, kepercayaan mulhid, ibahi (permis­sive) dan ekonomi. Realiti ini telah meletakkan ‘Amal Islami dalam keadaan yang buruk sekali.
Umat Islam dikerumuni oleh musuh-musuhnya seperti semut mengerumuni hidangan maka­nan. Keadaan umat Islam telah hampir menyamai keadaan masyarakat sebelum kedatangan da’wah pertama dahulu. Islam telah kembali dagang (terasing) sebagaimana ia bermula dalam keadaan dagang. Tepatlah sepertimana sabda Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam (yang bemaksud):

“Islam telah bermula dengan dagang dan ia akan kembali dagang, maka berbahagialah mereka yang bersama Islam di waktu ia dagang.”
- Hadith Riwayat Muslim.

Kewajipan Membentuk Ummah

Beramal untuk Islam dalam rangka mewujudkan individu, keluarga, jama’ah dan ummah Islamiyyah merupakan suatu kewajipan yang syar’i. Kewajipan ini tidak akan gugur selagimana tidak tertegak suatu kuasa yang memikul tanggungjawab menjaga semua urusan umat Islam. Begitu juga, selagimana kekuasaan itu tidak wujud, maka segala kecuaian samada oleh mereka yang beramal atau oleh mereka yang berdiam diri adalah merupakan dosa. Dosa ini tidak akan terhapus sehinggalah orang-orang yang cuai itu mengambil inisia­tif secepat mungkin untuk memikul tanggungjawab dan taklif amal Islami.

Ditinjau dari sudut hukum, bekerja dan beramal untuk Islam adalah wajib. Realiti pembekuan hukum-hukum Allah di muka bumi dan penguasaan sistem serta undang-undang jahiliyyah ke atas manusia telah mewajibkan umat Islam bekerja dan beramal untuk menegakkan Ummah Islamiyyah dan mengembalikan kehidupan secara Islam. Umat Islam juga berkewajipan mengembalikan manusia kepada pengabdian diri hanya kepada Allah Subhanahuwata’ala dalam semua hal.

Oleh kerana mewujudkan Ummah Islamiyyah dan berhukum dengan hukum-hukum Allah Subhanahuwata’ala itu wajib, maka segala amal atau kerja yang menuju kepada perlaksanaan kewajipan-kewajipan itu juga wajib, berdasarkan qaedah syara’:

“Tidak sempurna sesuatu kewajipan melainkan dengan jalannya, maka jalan itu juga menjadi wajib.”

Model Pembentukan Ummah

Orang mukmin mempunyai model yang tidak boleh dipertikaikan lagi dalam kerja-kerja pembentukan masyarakat atau pembinaan ummah. Model ini telah dizahirkan oleh Allah Subhanahuwata’ala pada generasi awal pimpinan Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam atau lebih dikenali Generasi al-Quran.

Kita perlu melalui jalan yang telah dilalui oleh Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam. Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam memulakan dakwah dengan menyemai ‘aqidah tauhid dalam jiwa pengikut-pengikutnya.
Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam mendidik mereka di Dar al-Arqam dengan santapan dan hidangan al-Quran. Dari Madrasah Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam ini, lahirlah rijal ‘aqidah yang sanggup berjihad dan berkorban demi membina ummah Islamiyyah.

Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam telah membangunkan ummah Islamiyyah pertama di atas asas-asas ‘aqidah yang sahih, ‘ibadah salih dan akhlak yang teguh.

‘Aqidah Melahirkan Wihdah Dan Kekuatan

Setelah terbina kekuatan ‘aqidah tauhid maka terbentuklah kekua­tan ukhuwwah dan wihdah (kesatuan). Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam telah memper­saudarakan Muhajirin dan Ansar dengan ikatan ukhuwwah Islamiyyah. Setelah itu Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam mencari punca-punca kekuatan yang lazim dan perlu bagi melancarkan jihad selanjutnya. Dengan itu terbentuklah asas yang kukuh atau tapak yang kuat untuk berdiri­nya daulah Islamiyyah di Madinah al-Munawwarah.

Inilah model yang sepatutnya menjadi contoh utama orang-orang mukmin dalam usaha membentuk Ummah Islamiyyah. Firman Allah Subhanahuwata’ala:

“Adalah bagi diri Rasulullah itu contoh ikutan yang baik bagi mereka yang mengharapkan Allah serta hari Akhirat dan banyak mengingati Allah.
-Surah Al Ahzab: ayat 21

Kita Perlu Mengikuti Jalan Yang Sama

Tiada jalan lain lagi melainkan jalan ‘aqidah atau iman untuk membina kembali ummah Islamiyyah. Jika di permulaan Islam dahulu iman telah menjadi tenaga pembangunannya, iman juga mesti menjadi tenaga pembangun di zaman kebelakangan ini.

Kita kini sedang menghadapi suasana-suasana yang sama seperti yang dihadapi oleh angkatan pertama umat Islam di permulaan lahirnya Islam.

Jika ditinjau suasana alam ketika Nabi Muhammad Sallallahu’alaihiwasallam diutuskan, didapati masyarakat manusia dalam keadaan tidak tenteram dan menghadapi krisis nilai ke paras maksimum. Manusia sesat dalam pemujaan dan pengabdian. Sesat dalam aqidah dan pemikiran. Mereka juga ragu-ragu terhadap kebenaran dan yakin pula terhadap kebati­lan. Nilai mereka sesat. Mereka senang kepada kejahatan dan kuncu-kuncunya serta benci kepada kebaikan dan pendokong-pendo­kongnya. Praktik hidup sesat. Penzalim menjadi pemerintah. Penjahat hidup senang dan mewah. Orang-orang yang soleh tersisih dari masyarakat. Perkara yang ma’ruf dipandang munkar dan yang munkar dipandang ma’ruf. Ketagihan arak telah menjadi kebiasaan. Kejahatan bermaharajalela. Amalan riba telah sampai ke peringkat merampas harta orang lain. Keinginan kepada harta benda telah sampai ke peringkat tamak haloba. Kezaliman dan keras hati telah menjangkau kepada perbuatan menanam anak hidup-hidup.

Asas-asas moral anugerah Allah Subhanahuwata’ala kepada manusia ketika itu tidak dibimbing dengan betul. Akibatnya kecelakaan menimpa mere­ka. Orang berani bertukar menjadi pembinasa dan pengganas. Orang pemurah bertukar menjadi pemboros dan pengikis harta. Orang cer­dik bertukar menjadi penipu. ‘Aqal fikiran digunakan untuk meran­cang jenayah dan program-program untuk memuaskan hawa nafsu. Kekuasaan yang ada pada seseorang umpama sebilah pedang di tangan pemabuk. Dia akan melukakan diri, anak, isteri dan saudara-mara­nya tanpa disedari.

Ciri-ciri seumpama di atas bukan sahaja wujud di zaman jahiliyyah kuno, bahkan wujud juga di zaman moden ini. Oleh kerana ciri-ciri itu wujud di zaman ini, maka zaman ini juga disifatkan sebagai jahiliyyah atau Jahiliyyah Moden.

Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam telah merawat segala penyakit kemasyarakatan tadi dengan iman. Justeru itu ubat atau penawar iman juga perlu digu­nakan untuk merawat segala penyakit kemasyarakatan di zaman ini. Sekaligus, iman menjadi titik tolak ke arah pembentukan Ummah Islamiyyah.

Proses Keimanan

Ummah Islamiyyah tidak akan lahir selagimana satu golongan manu­sia tidak dibentuk terlebih dahulu melalui proses keimanan yang mengikrarkan ‘ubudiyyah hanya kepada Allah Subhanahuwata’ala semata-mata.
‘Ubudiyyah yang meliputi i’tiqad dan berperanan dalam susunan atau amalan hidup mereka. Proses keimanan itu akan member­sihkan hati serta jiwa daripada pengabdian kepada selain daripada Allah Subhanahuwata’ala. Proses itu juga mengawal setiap amalan daripada bermatlamatkan sesuatu yang lain daripada Allah Subhanahuwata’ala. Melalui proses ini sahajalah ummah Islamiyyah terbentuk atau dibentuk. Ummah Islamiyyah dianggotai oleh mereka yang menjalani sistem pembentukan yang bertolak daripada kalimah tauhid yang diikrarkan oleh setiap anggota, iaitu kalimah لا اله الا الله.

Syahadah
لا اله الا الله hendaklah ditegakkan terlebih dahulu dan menjadi asas bagi sistem hidup Islam yang lengkap dan praktikal. Kehidupan ummah Islamiyyah dalam semua bidang dibina di atasnya dan dikawal olehnya. Kehidu­pan Islam tidak akan wujud tanpa asas ini, atau ditegakkan di atas asas yang lain, atau ditegakkan bersama-sama asas lain.

Kumpulan yang sudah bersih hati dan jiwa dalam ‘ubudiyyah inilah sahaja yang dapat membentuk dan membangunkan ummah Islamiyyah yang diredhai oleh Allah Subhanahuwata’ala.

Begitulah caranya kumpulan Islam pertama dibina dan berjaya membentuk ummah Islamiyyah. Mereka adalah ummah contoh yang dikenali sebagai Generasi Al-Quran Yang Unik. Begitulah juga caranya proses pembentukan masyarakat atau ummah Islamiyyah yang kemudian.



Pentingnya Pengukuhan Asas

Sesungguhnya asas yang kukuh amat perlu untuk melahirkan ummah Islamiyyah.
Ia laksana asas bagi binaan yang besar. Binaan yang terbesar ialah binaan Islam.

Memanglah sesuatu asas bagi binaan tidak akan kelihatan dengan jelas dan nyata di atas tanah yang rata serta-merta, meskipun telah banyak usaha dan titik peluh dicurahkan untuk menanam dan membenamkannya. Orang-orang yang tidak arif atau orang-orang yang mengharapkan natijah segera akan menganggap bahawa segala usaha dan waktu yang dihabiskan untuk menanam asas adalah sia-sia lantaran mereka tidak nampak kewujudan binaan yang tersergam di atas tanah yang rata itu. Sesungguhnya, tahap atau peringkat meletakkan asas adalah paling sukar dan penting dalam proses pembinaan bangunan.

Setiap waktu dan usaha yang dicurahkan untuk membina asas seseb­uah bangunan tidak boleh dianggap sia-sia. Proses pembinaannya tidak boleh dihentikan dengan alasan belum nampak apa-apa hasil di permukaan tanah. Sudah tentulah bangunan Islam yang besar memerlukan waktu yang banyak dan usaha yang gigih untuk menyiap­kan asasnya.

Tahap-Tahap

Pembentukan masyarakat dan ummah Islamiyyah memerlukan masa yang panjang, usaha yang berterusan, pencurahan tenaga yang besar dan kesediaan melalui tahap-tahap tertentu seperti yang diperlihatkan dalam Sirah Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam dan para sahabat baginda.

Tahap-tahap yang berdasarkan Sirah Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam adalah seperti berikut:

1. Tahap pembangunan ‘Aqidah yang melahirkan kefahaman yang betul tentang hakikat alam, manusia dan kehidupan. Inilah tahap asasi, pertama dan utama dalam pembentukan syaksiyyah Islamiyyah. Ia kaedah asas yang akan memperbetulkan tindakan-tindakan beri­kutnya.

2. Tahap perlaksanaan Iman dalam realiti hidup Muslim.

“Iman bukanlah dengan angan-angan dan hiasan-hiasan, tetapi ia adalah apa yang bertakhta di dalam hati dan dibukti pula dengan amalan.”


Inilah tahap penghayatan Iman dalam tingkah laku dan aktiviti hidup supaya benar-benar lahir kehidupan Islam.

3. Mereka yang kukuh ‘aqidah, betul fahaman dan baik amalan menyedari bahawa di sana terdapat tanggungjawab yang wajib dilak­sanakan iaitu ‘Amal Haraki untuk membentuk, menerus dan memperta­hankan ummah Islamiyyah. Kerja-kerja besar ini tidak mampu dipikul dengan tenaga seorang, bahkan memerlukan pengliba­tan dalam tanzim haraki secara bersungguh-sungguh. Setiap mukmin perlu bangun memperbaiki ahli-ahli, kawan-kawan dan mereka yang dapat dihubunginya.
Seorang mukmin tidak akan gugur tugasnya untuk mengislahkan orang lain. Dia wajib bangun memikul tanggungjawab amar ma’ruf dan nahi mungkar meskipun keseorangan.



Oleh: Ustaz Omar Haji Saleh

Jalan Sang Dai – Mekkah, Karakter Alami Pemikul Risalah

Sirah Nabawiyah

Oleh: Muhammad Elvandi, Lc.

Bukan karena di Mekkah dakwah Islam akan berhasil sedang di tempat lain tidak terjamin kesuksesannya seperti analisis beberapa sejarawan. Jika seperti itu, artinya Islam tidak mampu dimulai selain dari Mekkah. Islam hanya cocok untuk Arab. Islam tidak lebih hebat dari Mekkah. Bukan seperti itu. Karena Islam pasti tertancap di bumi ini, di manapun ia bermula dan bergerak. Tanpa limitasi teritori.
Lalu mengapa Mekkah?

Sabtu, 19 November 2011

Sabtu, 19 November 2011

Sejarah Komunitas Khawarij


Khawarij artinya adalah orang-orang yang keluar. Bentuk kata ini jamak. Bentuk tunggalnya adalah khoorij. Istilah ini disematkan pada sekelompok orang yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib r.a. saat terjadi perundingan antara kelompok Ali dan Muawiyah r.a. Berkata Abu Hasan Al-Asy`ari: "Dan sebab penamaannya dengan khawarij adalah pemberontakan mereka terhadap Ali bin Abi Thalib." Ibn ‘Umar memandang mereka sebagai makhluq Allah yang jahat. Menurutnya: “Mereka telah mengenakan ayat-ayat yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir kepada orang-orang beriman.”

Jauh sebelum khawarij eksis sebagai sebuah kelompok, keberadaan khawarij sebagai sebuah watak telah Rasulullah saw singgung. Saat itu Rasulullah saw sedang membagikan harta rampasan perang dari Perang Hunain. Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma menceritakan, “Ada seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ji’ranah sepulangnya beliau dari -peperangan- Hunain, ketika itu di atas kain Bilal terdapat perak yang diambil sedikit demi sedikit oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dibagikan kepada orang-orang. Kemudian lelaki itu mengatakan, ‘Hai Muhammad, berbuat adillah!’. Maka Nabi menjawab, ‘Celaka kamu! Lalu siapa lagi yang mampu berbuat adil jika aku tidak berbuat adil. Sungguh kamu pasti telah celaka dan merugi jika aku tidak berbuat adil.’ Maka Umar bin al-Khatthab radhiyallahu’anhu berkata, ‘Biarkanlah saya wahai Rasulullah untuk menghabisi orang munafiq ini.’ Maka beliau bersabda, ‘Aku berlindung kepada Allah, jangan sampai orang-orang nanti mengatakan bahwa aku telah membunuh para sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan para pengikutnya adalah suka membaca al-Qur’an akan tetapi bacaan mereka tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka. Mereka keluar darinya sebagaimana keluarnya anak panah yang menembus sasaran bidiknya.’” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga menyindir tentang watak khawarij dalam sebuah hadits: “Sesungguhnya di belakang orang ini akan muncul suatu kaum yang rajin membaca al-Qur’an namun tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka. Mereka membunuhi umat Islam dan justru meninggalkan para pemuja berhala. Mereka keluar dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari sasaran bidiknya. Apabila aku menemui mereka, niscaya aku akan membunuh mereka dengan cara sebagaimana terbunuhnya kaum ‘Aad.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim)

Imam An-Nawawi rahimahullah menerangkan, “Di dalam hadits ini terkandung dorongan untuk memerangi mereka -yaitu Khawarij- serta menunjukkan keutamaan Ali radhiyallahu’anhu yang telah memerangi mereka.”

Pasca pembunuhan Utsman bin Affan r.a., Madinah dalam keadaan kemelut. Setelah mengalamai kekosongan kepemimpinan selama beberapa hari, Ali bin Abi Thalib terpilih secara sah sebagai amirul mukminin.

Muawiyah yang masih kerabat Utsman menginginkan agar semua yang terlibat pembunuhan Utsman dihukum. Sedangkan Ali bin Abi Thalib berpendapat bahwa yang patut dibunuh hanyalah pembunuh Utsman saja, karena sulit mengidentifikasi semua yang terlibat pembunuhan Utsman bin Affan. Perbedaan pendapat ini menyebabkan ketegangan hingga Muawiyah mempersiapkan pasukannya di Syam.

Mendengar kabar persiapan Muawiyah, Ali segera mempersiapkan pasukan untuk meredakan pemberontakan Muawiyah. Namun rencana itu diinterupsi oleh pemberontakan Aisyah, Thalhah dan Zubair bin Awwam. Pemberontakan ini pun dipicu oleh perbedaan pendapat pula. Ali menginginkan stabilitas negara dan investigasi kasus pembunuhan Utsman secara mendalam, sedangkan pihak Aisyah menginginkan qishosh bagi pembunuh Utsman dipercepat.

Pasukan yang telah dipersiapkan Ali terpaksa dibelokkan ke Basrah untuk menghadapai pasukan Aisyah. Pertemuan Ali dan Aisyah sesungguhnya menghasilkan kesepakatan yang membawa perdamaian. Tetapi kaum munafikin tidak menghendaki perdamaian ini. Malam harinya mereka menyusup ke barisan Thalhah dan Zubair lalu melakukan penyerangan mendadak. Karena mengira diserang, kubu Thalhah dan Zubair pun melancarkan serangan balasan sehingga terjadi pertempuran. Peperangan malam hari yang dimenangkan pasukan Ali ini disebut Perang Jamal. Pertempuran ini memakan dua orang sahabat yang telah dijamin masuk surga: Thalhah dan Zubair. Aisyah sendiri dikembalikan secara terhormat ke Madinah.

Kemudian perhatian beralih ke kelompok Muawiyah. Di Shiffin kedua kelompok ini bertemu. Pertempuran pun pecah. Pasukan Muawiyah terdesak. Ketika pasukan Ali hampir mendapatkan kemenangan, kelompok Muawiyah mengacungkan Al-Qur'an sebagai isyarat untuk berdamai. Ali pun menyetujuinya. Proses selanjutnya disepakati untuk melakukan perundingan kesepakatan damai diwakili utusan masing-masing kelompok di Daumatul-Jandal. Kelompok Muawiyah diwakili 'Amr binAsh, sementara 'Ali diwakili Abu Musa Al-Asy'ari. Kedua pasukan pulang ke tempat masing-masing dan menyerahkan persoalan tahkim pada dua orang tersebut.

Kelompok khawarij memperlihatkan wataknya pada peristiwa ini. Mereka tiba-tiba mundur begitu saja di saat perang tengah berkecamuk dan kelompok Muawiyah mengacungkan Al-Qur'an. Mereka mendesak Ali untuk berdamai dengan Muawiyah. Mereka berdalil dengan QS. Ali ‘Imran [3] : 23: Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al-Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran).

Lalu ketika tahkim ditempuh, mereka pun malah spontan berbalik menolak, juga dengan dalil Al-Qur'an. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah (QS. Al-An’am [6] : 57). Jargon "Inil-hukmu illa lil-’Llah" inilah yang memicu Ali mengeluarkan kata-kata yang sangat terkenal: Kalimatu haqqin yuradu biha bathil. Maksudnya adalah pernyataan Khawarij itu adalah kata-kata yang benar. Hanya saja mereka menempatkan pada posisi yang salah.

Kelompok khawarij ini berada dalam kelompok Ali. Di perjalanan pulang, mereka membelot dan keluar dari barisan. Jumlah mereka antara 8000-10000 orang, berkumpul di sebuah tempat bernama Harura. Dan saat itu mereka terkenal dengan panggilan Haruriyyah. Ali mengutus Ibn Abbas berdialog dengan Khawarij/Haruriyyah untuk menjelaskan kebenaran. Saat itu Ibn ‘Abbas menjelaskan bahwa pengambilan keputusan dengan diwakilkan kepada manusia jelas dibenarkan oleh Islam, dan tidak bisa dipandang kafir, tentunya sepanjang berdasar pada hukum Allah. Dalilnya, menurut Ibn ‘Abbas, firman Allah swt dalam QS. An-Nisa` [4] : 35: "Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." Maka sebagian dari khawarij bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.

Eksistensi Khawarij makin menguat saat mereka mengangkat Abdullah bin Wahab ar Rasibi.

Walau pun khawarij memberontak, Ali bin Abi Thalib masih memperbolehkan mereka datang ke masjid tanpa dihalang-halangi. Mereka berhak mendapatkan fa'i, dan tidak boleh diperangi selama mereka tidak memerangi umat Islam.

Hanya saja, di zaman kepemimpinan Ali mereka banyak membuat keonaran. Mereka membunuh Abdullah bin Khabab bin Irits dan istrinya. Suatu saat mereka bertemu dengan Abdullah bin Khabbab. Mereka berkata kepadanya, “Siapakah anda?” Beliau menjawab, “.Aku adalah Abdullah bin Khabbab, sahabat Rasulullah saw. kalian telah membuat aku takut.” Mereka berkata, “Tidak mengapa, sampaikanlah kepada kami apa yang engkau dengar dari ayahmu.” Beliau berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: 'Akan terjadi fitnah, orang yang duduk dalam fitnah tersebut lebih baik daripada orang ‘yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan. Orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari.'" Lalu mereka menyeret Khabbab ke sungai dan memenggal lehernya. Tak cukup dengan itu, mereka juga mendatangi istri Khabbab. Istri Khabbab berkata, "Aku adalah wanita yang sedang hamil, tidakkah kalian takut kepada Allah SWT?" Ucapan itu tidak berpengaruh apa-apa. Istri khabab dibunuh dan perutnya dibelah hingga janinnya dikeluarkan.

Pada akhirnya Ali bin Abi Thalib mengutus pasukan untuk memerangi kelompok Khawarij hingga pecahlah pertempuran Nahrawan. Pertempuran ini berhasil memberangus pemberontak. Pemimpin-pemimpin Khawarij seperti Abdullah bin Wahab, Hurqush bin Zuhair, Syuraih bin Aufa dan Abdullah bin Syajarah as-Sulami tewas. Sementara pasukan Ali hanya terbunuh tujuh orang saja. Saat dikumpulkan orang-orang yang terluka dari pihak Khawarij, jumlah mereka empat ratus orang. Ali menyerahkan mereka pada kabilah-kabilah mereka untuk diobati. Ali pun tidak mengambil harta rampasan perang dari mereka.

Saat Ali ditanya tentang pasukan Khawarij dalam perang Nahrawan apakah mereka termasuk kaum musyrikin?’ Ali menjawab, ‘Justru mereka menghindar dari kemusyrikan.’ Ada lagi yang bertanya, ‘Apakah mereka termasuk kaum munafikin?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya kaum munafikin tidak mengingat Allah SWT. kecuali sedikit’ Kemudian ada yang bertanya, ‘Lalu bagaimanakah kedudukan mereka wahai Amirul Mukminin?’ Ali menjawab, ‘Mereka adalah saudara-saudara kita yang membangkang terhadap kita. Kita memerangi mereka karena pembangkangan mereka itu’.

Begitulah sejarah Khawarij sebagai sebuah komunitas pemberontak. Tapi sampai saat ini hingga kiamat akan tetap ada manusia berwatak khawarij. Cirinya adalah mereka menghalalkan darah kaum muslimin. Mereka mudah saja membunuh Abdulllah bin Khabbab.

Dalam Sunan ad-Darimi diriwayatkan bahwa shahabat Ibn Mas’ud pernah memperingatkan beberapa orang yang membuat lingkaran-lingkaran dzikir di masjid sebagai perbuatan bid’ah. Saat itu Abdullah ibn Mas’ud memperingatkan:

Celaka kalian hai umat Muhammad, alangkah cepatnya kalian binasa. Padahal para shahabat Nabi kalian, saw, masih banyak, baju Rasul belum musnah, bejana-bejanannya belum hancur. Demi Allah, apakah kalian mengira ada dalam millah yang lebih bagus daripada millah Muhammad, ataukah justru kalian membuka pintu kesesatan?” Mereka menjawab: “Wahai Abu ‘Abdirrahman, maksud kami baik.” Jawab ‘Abdullah: “Bukankah banyak dari orang yang bermaksud baik tapi ia tidak mencapai kebaikan!? Sesungguhnya Rasulullah saw sudah mengingatkan kita akan adanya sekelompok orang yang mereka membaca al-Qur`an, tapi tidak bisa melewati tenggorokan mereka. Demi Allah, aku tidak tahu, bisa jadi kebanyakan dari kalian termasuk dari mereka.” Kemudian ‘Abdullah ibn Mas’ud pergi meninggalkan mereka.

Kata ‘Amr ibn Salamah (salah seorang perawi riwayat di atas): “Kami lihat kebanyakan dari orang-orang yang ikut di lingkaran-lingkaran (halaqah) tersebut menyerang kami pada hari Nahrawan bersama Khawarij.” (Sunan ad-Darimi kitab al-muqaddimah bab fi karahiyah akhdzir-ra`yi no. 204. Hadits dinilai shahih oleh al-Albani [as-Silisilah as-Shahihah 5 : 4])

Kaum Khawarij juga dijuluki "Anjing-Anjing Neraka" oleh Rasulullah saw.

Diriwayatkan pula dari Sa’id bin Jamhan, beliau berkata: “Saya masuk menemui Ibnu Abi Aufa dalam keadaan beliau telah buta, aku berikan salam kepadanya. Ia pun menjawab salamku, kemudian bertanya: “Siapakah engkau ini?”. Aku menjawab: “Saya Sa’id bin Jamhan”. Dia bertanya lagi: “apa yang terjadi pada ayahmu?” Aku menjawab: “Dia dibunuh oleh sekte Azariqah”. Maka Ibnu Abi Aufa mengatakan tentang azariqah: “Semoga Allah memerangi Azariqah, sungguh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan kepada kami: Ketahuilah bahwa mereka adalah anjing-anjing penduduk neraka”.

Aku bertanya: “Apakah sekte azariqah saja atau seluruh khawarij?” Beliau menjawab: “Seluruh khawarij”. (As-Sunnah Ibnu Abi Ashim hal. 428 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Dhilalul Jannah)

Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam juga memuji orang-orang yang membunuh mereka. Sebaliknya beliau shalallahu ‘alaihi wasallam mencerca mayat-mayat mereka dengan kalimat “sejelek-jelek bangkai di bawah naungan langit”.

Diriwayatkan dari Abu Ghalib bahwa ia berkata: ”Pada saat aku berada di Damaskus. Tiba-tiba didatangkanlah tujuh puluh kepala dari tokoh-tokoh Haruriyyah (khawarij) dan dipasang di tangga-tangga masjid. Pada saat itu datanglah Abu Umamah r.a., seorang Rasulullah saw, masuk ke masjid. Beliau shalat dua rakaat, dan keluar dan menghadap kepala-kepala tadi dengan meneteskan air mata. Beliau memandangnya beberapa saat seraya berkata: ”Apa yang dilakukan oleh iblis-iblis ini terhadap ahlul Islam?” (tiga kali diucapkan). Dan beliau berkata lagi: ”Anjing-anjing neraka” (juga tiga kali diucapkan). Kemudian beliau berkata:

”Mereka sejelek-jelek bangkai di bawah naungan langit, dan sebaik-baik mayat adalah orang yang dibunuh olehnya.” (tiga kali).

(Dari Berbagai Sumber)

Jumat, 18 November 2011

Jumat, 18 November 2011

DAKWAH DAN DA’I

 


1.Dakwah dan da’I tidak boleh dipisahkan dalam membangun risalah Allah.

2.Dakwah ialah menyeru manusia kepada Islam yang hanif dengan keutuhan dan kesyumulannya – dengan syiar-syiar dan syariatnya – dengan aqidah dan kemuliaan akhlaqnya – dengan metod / kaedah dakwahnya yang bijaksana dan jalan-jalan yang unik – serta cara-cara penyampaian yang benar.

"Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (Surah al- Maidah – 15-16).

Kamis, 17 November 2011

Kamis, 17 November 2011

Kekuatan Cinta

By Ust. Irfan Toni Herlambang

Di Pegunungan Andes hidup dua suku. Satu tinggal di lembah, sedangkan satunya lagi di atas gunung. Suatu hari suku gunung menyerang suku lembah dan menjarah seluruh isi desa. Mereka menculik seorang bayi dari salah satu keluarga suku lembah dan membawanya ke atas gunung.

Selasa, 15 November 2011

Selasa, 15 November 2011

Ikhwan Al-Mujahidin


  Setelah setiap liqo dan rapat kita yakinkan sebagai undangan spesial dari Allah untuk kita…
  Setelah bulat tekad untuk memberikan kontribusi terbaik bagi setiap liqo dan rapat…
  Setelah liqo dan usroh kita jadikan sebagai taman yang indah…

Senin, 14 November 2011

Senin, 14 November 2011

Mendidik Anak Remaja



MEMANG tidak mudah mendidik anak supaya menjadi seorang anak yang hebat. Bagaikan sudah menjadi hakikat ‘sunahtullah’ bahawa terdapat perbezaan antara mendidik anak lelaki dengan perempuan. Dalam pelbagai aspek seperti memberi nasihat, mendidik, menegur ajar, menyuruh dan sebagainya, terdapat cara yang berbeza terhadap jenis jantina anak. Hakikat inilah yang tidak diketahui oleh kebanyakan ibu bapa, menyebabkan mereka melakukan kesilapan dalam mendidik anak seperti anak lelaki dididik secara anak perempuan dan begitu juga sebaliknya. Akibatnya, keberkesanannya tidak tercapai.

Minggu, 13 November 2011

Minggu, 13 November 2011

BERITA KEMENANGAN ISLAM

            Abad 15 H adalah abad kebangkitan Islam. Riak-riak kebangkitan ini dari hari ke hari kian terasa. Bagi mereka yang bergerak bersama denyut nadi umat pasti merasakannya. Karena itulah mereka terus bergerak dengan semangat yang tak pernah padam.

             Tapi di sisi lain kita pun melihat sekelompok orang dari umat ini yang memandang masa depan dengan pesimis. Tak ada gelora perjuangan dalam dadanya. Tak terlintas dalam benaknya kemauan untuk bergerak. Karena mereka memang tidak memiliki visi perjuangan. Tapi mereka ini bukanlah ahli maksiat, bahkan mereka adalah hamba-hamba Allah yang taat dan ikhlash. Tetapi renggangnya mereka dari realitas perjuangan umat menyebabkan hati-hati mereka selalu dirundung duka. Padahal kemenangan Islam sudah di depan mata, Insya Allah. 

Sabtu, 12 November 2011

Sabtu, 12 November 2011

Batu

Ust. Irfan Toni Herlambang
 
Suatu ketika ada seorang wanita bijak mendaki gunung. Tanpa disengaja ia menemukan sebongkah batu yang sangat berharga. “Pualam yang indah tentu mahal harganya,” ujarnya.Dia lalu menyimpan batu itu di tempat makanannya.

Tak lama berselang, ia bertemu dengan seorang pendaki lain yang sedang kelaparan. Sang wanita membuka kotak makanannya dan membagi bekal tersebut. Si pendaki yang lapar itu melihat batu pualam. Ia bertanya, apakah ia dapat memiliki pualam indah itu.

Perginya Syeikh Najar, Tokoh Gerakan Islam Palestin

 

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rooji'un, pada Jumaat (11/11/2011) Haji Muhammad Abdu Khattab An-Najjar, salah seorang tokoh penting dan pengasas Jamaah Ikhwanul Muslimin di Palestin telah meninggal dunia pada usianya yang menghampiri 84 tahun.

Haji Muhammad Abdu Khattab An-Najjar, atau lebih dikenali dengan panggilan Haji Najjar meninggal dunia setelah sekian lama menderita sakit di Hospital Gaza Eropa di Khan Yunis.

Selasa, 08 November 2011

Selasa, 08 November 2011

Sombong Dan Senioritas Bukan Sifat Dai

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:
Puja puji hanya milik Allah Rabb alam semesta. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Pemimpin, teladan, imam para dai Nabi Muhammad saw.

Ikhwah fillah….
Doa dan harap kita kepada Allah swt, semoga kita selalu diberikan curahan rahmat dan inayah-Nya serta kesabaran dalam menapaki jalan dakwah yang begitu panjang dan penuh dengan berbagai rintangan dan hambatan,

Senin, 07 November 2011

Senin, 07 November 2011

Dari Tunis untuk Orang yang Mau Belajar

Oleh: Fahmi Huwaedi

Peristiwa di Tunis, yang gaungnya hingga ke penjuru dunia, realita dan faktanya harus diamati dengan baik oleh kita. Terlebih lagi peristiwa tersebut mengirimkan kepada kita sejumlah pesan penting yang harus kita terima dan kita cerna dengan seksama.
Penulis ingin berbicara tentang hasil pemilu yang telah diselenggarakan disana pada Ahad (23/10) lalu dimana Gerakan al-Nahdhah / Parti de la Renaissance (selanjutnya disingkat HN, pent.) memperoleh 90 kursi dari total 217 kursi di parlemen.

Minggu, 06 November 2011

Minggu, 06 November 2011

TAMASYA KE SURGA

(Ringkasan Hadil Arwaah Ila Biladil Afraah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

Eksistensi Surga

            Eksistensi Surga diterangkan dengan sangat jelas dalam beberapa keterangan Al-Qur’an dan hadits Nabi yang semuanya harus kita imani.

Sementara Golongan Qadariyah dan kalangan Mu’tazilah beranggapan bahwa surga baru diciptakan kelak di hari akhirat. Menurut Ibnu Qayyim ini adalah pendapat yang nyeleneh. Pendapat yang paling rajih menurutnya adalah pendapat Ahlu Sunnah yang menyatakan bahwa surga itu telah diciptakan oleh Allah, diantara alasannya adalah:

Sabtu, 05 November 2011

Sabtu, 05 November 2011

Si Peniru

Ust. Irfan Toni Herlambang

Di sebuah sekolah diadakan pementasan drama. Pentas drama meriah itu dimainkan oleh siswa-siswi. Setiap anak mendapat peran dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang diperankannya. Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas. Sementara di depan panggung semua orang tua murid hadir menyemarakkan acara itu.

Jumat, 04 November 2011

Jumat, 04 November 2011

Dosa Mendiamkan Kezhaliman dan Kemaksiatan


(#qà)¨?$#ur ZpuZ÷FÏù žw ¨ûtùÅÁè? tûïÏ%©!$# (#qßJn=sß öNä3YÏB Zp¢¹!%s{ ( (#þqßJn=÷æ$#ur žcr& ©!$# ߃Ïx© É>$s)Ïèø9$# ÇËÎÈ  
 “Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (QS. Al Anfal: 25)