Tampilkan postingan dengan label Taujih Qiyadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih Qiyadah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 April 2014

Selasa, 15 April 2014

"Kemenangan PKS" | Oleh Musyafa Ahmad Rahim


Musyafa Ahmad Rahim, Lc., MA.
Kabid Kaderisasi DPP PKS

PKS mempunyai konsep tersendiri tentang maksud kalah menang, semoga para kader bisa memahaminya dengan baik.

1. Setelah PKS dihantam secara dahsyat dan bertubi-tubi, target "lawan" adalah melumpuhkan daya juang kader PKS dan juga daya juang & kebanggaan anak keturunan biologisnya.

2. Mereka (para lawan) itu juga selalu menghembuskan terompet "PKS tamat"- "PKS tamat".

3. Lagi-lagi, yang ditarget dari hantaman dan hembusan itu adalah kader dan generasi biologisnya, supaya tidak ada lagi yang memperjuangkan visi misi seperti yang diusung oleh PKS!

4. Oleh karena itu, PKS memaknai "menang" dalam pemilu adalah sebagai berikut:

a. PKS menyebut diri menang jika para kadernya tetap semangat dan bahkan bertekad bulat untuk terus memperjuangkan visi misinya.

b. PKS menyebut diri menang jika anak keturunan biologis para kadernya tetap bangga bahwa orang tuanya adalah para pejuang, dan tumbuh dalam diri mereka semangat untuk mengikuti, menjaga dan melanjutkan perjuangan orang tuanya.

c. PKS menyebut diri menang jika eksistensinya masih bertahan, yaitu lolos PT (Parliamentary Treshold), yaitu batas petolehan 3.5% suara pemilu legislatif. Dan para kader dan anak keturunan biologisnya patut berbangga, sebab, setelah gempuran dahsyat, ternyata masih dapat mencapai perolehan antara 6.5% - 7.5%.

Oleh karena itu, wahai para kader dan anak-anak kader:

1. Perbanyak ucapan alhamdulillah wasy-syukru lillah atas kemenangan ini.

2. Tetaplah bangga dan semangat dalam memperjuangkan visi, misi, program dan aksi-aksi PKS, baik yang bersifat perseorangan maupun bersama-sama (jama'i).

3. Mari terus senandungkan syi'ar-syi'ar, idiom-idiom, mahfuzhat dan nasyid-nasyid perjuangan.

Semoga, dengan tetap terus berjuang, Allah SWT akan menambahkan anugrah-Nya kepada PKS dan para kadernya, amin.


*pkspiyungan

Kamis, 09 Februari 2012

Kamis, 09 Februari 2012

Perangkat Nilai “Mesin” Dakwah

Oleh : Cahyadi Takariawan

Bekerja di ladang dakwah telah memberikan banyak hikmah dan pelajaran kepada kita semua. Semakin hari semestinya kita menjadi semakin dewasa, karena dimatangkan oleh peristiwa demi peristiwa, oleh benturan, oleh gesekan, oleh program yang berkesinambungan.

Ketika dakwah mampu menghimpun para aktivis dalam sebuah tatanan, sesungguhnya pada dirinya terkandung dua sisi sekaligus. Pertama sisi potensi yang melimpah ruah, oleh karena dakwah akan dikuatkan oleh berbagai potensi yang dibawa oleh setiap aktivis. Namun pada sisi lainnya, terdapat pula peluang terjadinya gesekan tingkat tinggi, karena semua orang memiliki kemampuan yang setara untuk memimpin dan menempati posisi strategis.

Misalnya saat menentukan kepemimpinan lembaga dakwah, semua aktivis pada hakikatnya memiliki kemampuan, kapasitas, dan kapabilitas yang setara. Artinya, semua aktivis memiliki peluang yang sama dalam menempati posisi tersebut. Demikian pula saat menentukan personal untuk menempati pos-pos strategis dalam dakwah, baik di dalam lembaga maupun di luar lembaga, semua aktivis relatif memiliki kapasitas yang setara untuk mendudukinya.

Para pemimpin sering kesulitan saat harus memilih personal, bukan karena tidak ada potensi, namun justru karena semua aktivis memiliki potensi. Sementara pos-pos strategis baik internal maupun eksternal jumlahnya cukup terbatas, yang tentu saja tidak mungkin mampu mewadahi semua aktivis. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus memilih. Bagi yang tidak terpilih, bukan berarti “tidak potensial” atau “tidak terpakai”, sesungguhnyalah semua ingin dipilih, namun pos yang ada sangat terbatas.

Gesekan Adalah Keniscayaan

Setiap titik interaksi kita, selalu menimbulkan gesekan. Walaupun interaksi itu seluruhnya dalam kebaikan, tidak ada satupun yang bernilai kejahatan. Namun selalu menimbulkan gesekan. Justru karena saling bergesekan antara satu komponen dengan komponen lainnya itulah yang menyebabkan mesin menjadi berfungsi dan bisa menggerakkan roda mobil.

Gesekan itu kadang terasa menyakitkan, justru karena kita semua menginginkan kebaikan. Sejak awal kita “menjadi mesin” yang menggerakkan roda perjalanan dakwah, sepenuhnya telah sadar, bahwa apapun akan kita tempuh untuk mencapai tujuan mulia. Kita menyadari ada bahaya dan hambatan dari luar, namun amat banyak pula yang berasal dari dalam.

Manajemen apapun tidak akan bisa menghindarkan kita dari saling bergesekan, karena sebagai mesin kita semua harus bergerak. Satu komponen berpengaruh dan terhubung dengan komponen lain, saling berinteraksi secara positif, sehingga bergeraklah roda dakwah. Namun sepanjang perjalanan, mesin tentu mengalami pemanasan, dan semakin kencang laju mobil dakwah, semakin kuat pula gesekan antar komponen.

Manajemen yang diperlukan bukanlah menghindarkan gesekan antar komponen, namun manajemen untuk melicinkannya, agar gesekan yang terjadi sebagai sebuah keharusan tidak saling menyakiti dan tidak saling melukai. Semua komponen diperlkukan, walau hanya mur dan baut, walau hanya karet penghubung, namun seluruhnya menjadi satu kesatuan untuk berfungsinya mesin dengan baik.

Pada banyak kalangan partai politik, gesekan bisa sedemikian keras dan kasar. Dampaknya, sebagian pihak terlempar, sebagian terjatuh, sebagian terbuang, sebagian tersingkirkan, dan sebagian lainnya berkuasa. Mereka tidak tahan terhadap gesekan, karena memiliki watak ingin menguasai. Semua komponen ingin mengalahkan dan menjatuhkan yang lainnya, dalam sebuah rivalitas yang amat keras.

Sepuluh Perangkat Nilai

Bersyukur, dalam dakwah telah disiapkan perangkat yang memungkinkan semua komponen siap untuk bekerja dengan optimal. Perangkat paling utama bernama kepahaman. Dengan perangkat ini semua komponen mengerti berbagai tuntutan perjalanan dakwah sehingga mampu menyiapkan diri dan menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut.

Perangkat kedua adalah keikhlasan. Dengan landasan keikhlasan, berbagai gesekan tidak sampai menimbulkan korban yang berjatuhan. Bukankah kita semua bekerja untuk mencari ridha Allah dan bukan mencari jabatan, kemuliaan, popularitas, kedudukan dan lain sebagainya.

Perangkat ketiga adalah amal yang berkesinambungan. Bekerja dalam dakwah memerlukan kontinuitas amal, sehingga menuntut bekerjanya semua komponen mesin dakwah setiap saat. Dakwah tidak akan berhenti hanya oleh karena ketakutan terkena dampak gesekan.

Perangkat keempat adalah kesungguhan atau jihad. Semua komponen dituntut untuk melaksanakan kegiatan dan agenda dakwah sepenuh kesungguhan. Termasuk bersungguh-sungguh menyiapkan jiwa agar memiliki daya tahah prima di medan dakwah yang penuh tantangan.

Perangkat kelima adalah pengorbanan. Dakwah tidak akan bisa berjalan tanpa didukung pengorbanan. Semua komponen siap memberikan pengorbanan terbaik demi tercapainya tujuan-tujuan dakwah. Termasuk mengorbankan “gengsi” diri, dalam rangka mencapai tujuan dakwah.

Perangkat keenam adalah ketaatan. Semua pihak dalam tatanan dakwah harus memiliki ketaatan terhadap rujukan utama dari Allah dan Rasul-Nya. Dalam tataran praktis, dituntut pula memiliki ketaatan terhadap manhaj dakwah, serta keputusan lembaga dan para pimpinan, walaupun di antara isi keputusan tersebut ada yang tidak sesuai dengan pendapat pribadinya.

Perangkat ketujuh adalah keteguhan. Seluruh aktivis dakwah harus memiliki keteguhan dan ketegaran dalam menapaki jalan dakwah. Sangat banyak cobaan dan hambatan di sepanjang perjalanan dakwah, hanya aktivis yang memiliki keteguhan hati, ketegaran jiwa, kekokohan sikap, yang akan mampu melewatinya.

Perangkat kedelapan adalah kemurnian. Dakwah menuntut kemurnian hati, pemikiran dan aktivitas. Dakwah menghajatkan kemurnian orientasi, niat dan tujuan, agar terbebaskan dari penyimpangan tujuan yang sangat membahayakan.

Perangkat kesembilan adalah persaudaraan. Kita semua diikat dalam sebuah tali persaudaraan yang kuat. Setiap kita lebih mengutamakan saudaranya daripada diri sendiri. Kita bahagia jika mampu membahagiakan saudaranya. Semua kita menjadi bersedih jika membuat saudaranya berduka. Kebersamaan adalah kunci kemenangan dakwah.

Perangkat kesepuluh adalah kepercayaan. Ikatan dalam dakwah bukanlah materi, bukan jabatan, bukan kedudukan duniawi, namun ikatan visi, ikatan tujuan, ikatan iman, ikatan manhaj. Oleh karena itu sangat diperlukan saling kepercayaan antara satu bagian dengan bagian lainnya, antara pimpinan dengan anggota, dan antara sesama aktivis dakwah.

Saya selalu merangkai sepuluh perangkat tersebut dalam satu kesatuan. Saya selalu melihat kesepuluh perangkat itu adalah mutiara berkilauan. Sebelum berbicara manajemen praktis, kita terlebih dahulu diikat oleh sepuluh perangkat nilai, yang menyebabkan kita mampu melewati semua mihwar, semua tahapan, semua fase dalam dakwah, kendati sangat banyak gesekan dalam menjalankan kegiatan.





*)sumber: http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2038

Minggu, 05 Februari 2012

Minggu, 05 Februari 2012

Tadzkirah Mursyid untuk para aktivis (pengelola dan pelaksana) Tarbiyah



o   Posisi kita seperti posisi tentara di perbatasan, di mana musuh mencari celah utk masuk ke barisan islam. Celah itu adalah titik lemah dr pos-pos kita, walau seluruh titik sudah di jaga, ada titik tertentu ada penjagaan yang lemah. Kita adalah penjaganya. Jangan sampai ada titik lemah. Kiat satu tim, jangan sampai kegagalan tim –jika gagal -- gara-gara salah satu dari kita.
o   Hendaklah kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah swt, baik saat sendiri mauun saat terbuka/bersama orang lain. Kita hendaklah membawa diri kita, membawa ikhwan-akhwat ke padal hal-hal yang membuat Allah ridha kepada kita, hendaklah kita -- kapan dan di manapun berada -- dalam posisi sesuai yang dikehendaki Allah swt, hendaklah kita menempatkan porsi perhatian terbesar dr seluruh jerih payah kita, waktu kita, dan program2 kita difokuskan kepada aspek peningkatan aspek keimanan dan ibadah.
o   Hendaklah mentarbiyah ikhwah untuk cinta masjid, dan menjadikan masjid sebagai posko, bertolak dari masjid dan kembali ke masjid
o   Kami ingin usrah adalah usrah yang muntijah, baik secara da’awi maupun ijtimai yg produktifitasnya terasa di lingkungan usrah tersebut dan hendaklah syiar usrah -- dlm konteks berlomba menuju allah -- jangan sampai kitanomor dua (harus nomor satu)
o   Hendaklah manajemen dan sistim idarah kita suasananya adalah suasana cinta, kasih saying, simpatik, dan takaful (senasib sepenaggungan), kemudian sistem manajemen kita hendaklah di dominasi oleh prinsip kebebasan berekspresi, tidak boleh ada pengekangan pendapat, tidak boleh ada sikap melukai thd pemilik suatu pendapat, hendaklah menerima kritik dan nasihat dengan lapang dada. Dan hendaklah selalu ingat pesan musythafa masyhur, “berikan nasihat dalam bentuknya yg sempurna dan terimalah nasihat darimanapun datangnya”. Dan hendaklah kita selalu menampilkan qiyadah kita di hadapan ikhwah dengan penampilan yang terbaik.
o   Hendaklah kita seagai pengelola tarbiyah menjadi teladan yang baik dalam setiap ucapan dan perbuatan, mengingat Rasul saw adalah qudwah kita, maka berakhlaqlah dengan akhlaq rasul saw dan jadikan sifat beliau, dan perbuatan beliau sebagai sifat kita. Hendaklah kita sebagai pengelola tarbiyah selalu terdepan dlm setiap pekerjaan atau tugas, jangan sampai …
o   Hendalah kita sebagai pengelola tarbiyah, memanifestasikan/mewujudkan apa yg pernah dinyatakan imam asy syahid,
§  Hak sebagai orang tua utk urusan ikatan hati
§  Hak sebagai ustad utk urusan penambahanwasan ilmu
§  Hak sbg syaikh dlm hal tarbiyah ruhiyah
§  Hak sebagai qaid dlm urusan siyasah amah/policy umum da’wah.
Bgm jika seorang menuntu hak-hak tersebut, karena itu laksanakan amanah dan jadilah sebaik-baik pelaksan hak-hak ini
o   Keistemawaan terpenting dari seorang pengelola tarbiyah adalah kemampuannya utk
§  Menyelesaikan berbagai persoalan
§  Mengatasi berbagai kesulitan
§  Merangkul berbagai personil
§  Menampung berbagai persoalan
§  Mengilaj persoalan itu dengan solusi dan cara terbaik
o   Sebagai aktivis tarbiyah jgn sampai tdk membaca sejarah da’wah sejarah para pemimpinnya, dan sejarah para mursyidnya. Sebab pada sejarah itu terdapat banyak pelajaran dan ibroh, jg terdapat bekalan yg sebenanrnya di atas jalan da’wah, juga terdapat jawaban praktis terhadap berbagai syubhat yg dialamatkan kepada dakwah. Hendaklah kalian mengkaji majmuah rasail dengan pendalaman, pemahaman, kesadaran dan penguasaan. Utk kalian pelajari dan kalian ajarkan prinsip-prinsip haqiqi da’wah
o   Bekerjalah dengan semangat jihad untuk mempraktekkan 10 muwashafat baik terhadap diri antum ataupun terhadap mutarabbi antum.
o   Inilah tadzkirah untuk antum dan ini sebagai alas an kepada Allah bahwa aku telah menunaikan. Semoga Allah membibing antum dan smg diberi keikhlasan dlm berbicara dan bertindak baik saat sendiri atau terbuka.


--
Akhukum fillah
Navis Murbiyanto
Sekretaris Bidang Kaderisasi DPP PKS

Selasa, 08 November 2011

Selasa, 08 November 2011

Sombong Dan Senioritas Bukan Sifat Dai

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:
Puja puji hanya milik Allah Rabb alam semesta. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Pemimpin, teladan, imam para dai Nabi Muhammad saw.

Ikhwah fillah….
Doa dan harap kita kepada Allah swt, semoga kita selalu diberikan curahan rahmat dan inayah-Nya serta kesabaran dalam menapaki jalan dakwah yang begitu panjang dan penuh dengan berbagai rintangan dan hambatan,

Jumat, 04 November 2011

Jumat, 04 November 2011

Dosa Mendiamkan Kezhaliman dan Kemaksiatan


(#qà)¨?$#ur ZpuZ÷FÏù žw ¨ûtùÅÁè? tûïÏ%©!$# (#qßJn=sß öNä3YÏB Zp¢¹!%s{ ( (#þqßJn=÷æ$#ur žcr& ©!$# ߃Ïx© É>$s)Ïèø9$# ÇËÎÈ  
 “Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (QS. Al Anfal: 25)

Jumat, 21 Oktober 2011

Jumat, 21 Oktober 2011

Amal di Bulan Dzulhijjah

Tidak terasa, kita saat ini tengah berada di penghujung bulan  tepatnya tanggal 24 Dzulqa’dah 1432 H.atau 21 Oktober 2011 M. Sepekan lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah 1432 H. Dengan demikian kita telah 2 bulan keluar dari madrasah Ramadhan, dan kini bersiap dengan tarbiyah Allah SWT yang lain, yakni madrasah Dzulhijjah. Di Bulan Ramadhan terdapat 10 hari terakhir, maka di Bulan Dzulhijjah ini terdapat 10 hari yang pertama, yang mana keduanya merupakan hari-hari yang amat-sangat istimewa yang telah diberikan oleh ALLAH SWT kepada orang-orang yang beriman.

Rabu, 19 Oktober 2011

Rabu, 19 Oktober 2011

Siyasatud Da'wah


Siyasatud da’wah merupakan aktivitas politik praktis da’wah yang erat kaitannya dengan minhaj da’wah, bukan ilmu politik seperti yang kita kenal selama ini yang dilakukan oleh personal structural dan fungsional da’wah dimana ruang lingkupnya adalah dalam pengendalian problematika da’wah.

Selasa, 18 Oktober 2011

Selasa, 18 Oktober 2011

Pertumbuhan Berkesinambungan


Ust. Anis Matta*

Ketika Nabi Muhammad SAW memulai dakwahnya, ia hanya seorang diri. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 23 tahun saat beliau melaksanakan hajjatul wada', kaum Muslim telah berjumlah sekitar 100 sampai 125 ribu orang dalam berbagai riwayat. Dengan jumlah penduduk dunia ketika itu sekitar 100 juta orang, maka rasio kaum Muslim terhadap penduduk dunia adalah 1 per 1000 orang.

Senin, 17 Oktober 2011

Senin, 17 Oktober 2011

7 Arahan Ustadz Hilmi Aminuddin


Situasi yang kita hadapi sekarang adalah mata rantai dari ujian-ujian dakwah sebelumnya. Adalah sunatullah bahwa akan ada terus rekayasa untuk mengkerdilkan dakwah. Namun yang penting adalah bagaimana kemampuan kita untuk membuktikan dengan kerja nyata.
Kita sebagai dai dan daiyah diperintahkan oleh Allah SWT jika menghadapi sesuatu yang sulit, yang menghimpit, cepat kembali kepada Allah (fafirruu ilallah..). Kemudian selesaikan dengan mentadabburi konsep Allah. “Afala yatadabbarunal Qur’an am ‘ala quluubin aqfaluha.”

Jadilah Kader Terlatih

Taujih KH. Hilmi Aminudin
Partai Keadilan Sejahtera adalah partai kader. Pimpinan PKS diberbagai level tidak boleh lelah menyiapkan seluruh perangkat-perangkat kaderisasi. Kader-kader PKS harus menjadi kader-kader terlatih agar sanggup menghadapi segala bentuk kompetisi. Hanya kader-kader terlatihlah yang sanggup memikul beban dakwah.

Menjaga Karamah Basyariyah

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin, Lc.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra, 17: 70)
Ikhwah fillah, di muqaddimah jalasah ini tadi telah saya bacakan ayat yang sangat masyhur dan sering dinukil dari surat Al-Isra’. Dalam ayat ini terlihat betapa Allah SWT secara fitrah, kata orang Malaysia secara ‘semula jadi’, menciptakan manusia dalam kemuliaan : “وَلَقَدْ كَرَّمْنَا”. Akan tetapi kemuliaan ini adalah al-karamah bittakrim, kemuliaan karena dimuliakan dan bukannya al-karamah dzatiyah, kemuliaan an sich atau kemuliaan yang melekat dengan sendirinya.

Jumat, 30 September 2011

Jumat, 30 September 2011

Membangun Peradaban


Taujih Ust Anis Matta (Silaturahim GOR Bandung)


Tadi menghadiri silaturahmi di GOR Bandung. Ada taujih dari Ust HM Anis Matta, Lc. Saya kultwitkan taujih dari beliau di twitter via Akun Saya @Indra_Kusumah. Berikut ini adalah taujih beliau:Mengambil keputusan besar seperti pernikahan butuh keberanian. Kita butuh keberanian seperti itu #Taujih

Shalat, zakat dan haji adalah ibadah bil fi'li (melakukan sesuatu). Shaum itu ibadah bil kaffi (menahan diri/tdk melakukan sesuatu) #Taujih

Menilai Diri Sendiri


Oleh: Anis Matta
Para pahlawan mukmin sejati selalu mengetahui kadar kepahlawanan dari setiap perbuatan dan karyanya. Maka tidak bisa membesar-besarkan nilai perbuatan dan karya mereka jika kadar kepahlawanan dalam perbuatan dan karyanya itu secara objektif memang tidak ada atau sedikit. Demikian pula sebaliknya.

Mereka juga mengetahui letak sisi kepahlawanan mereka. Sebab, tidak ada orang yang bisa menjadi pahlawan dalam segala hal. Maka, mereka menempatkan diri pada sisi dimana mereka bisa menjadi pahlawan. Mereka tidak pernah memaksakan kehendak dan juga tidak pernah melawan kodrat mereka. Mereka yang merasa hanya bisa menjadi pahlawan dalam perang, tidak akan pernah memaksakan diri menjadi pahlawan dalam ilmu pengetahuan.

Menilai diri sendiri adalah seni yang paling rumit dari sekian banyak keterampilan jiwa yang harus dimiliki seorang pahlawan. Sebab, inilah saat-saat yang paling menentukan sejarah kepahlawanan mereka, sekaligus menentukan jalan masuk mereka kepada sejarah sebagai pahlawan.

Seni ini dimulai dari pengamatan yang mendalam tentang peta diri sendiri. Setelah itu, berlanjut pada penemuan letak kepahlawanan mereka. Setiap ditahap ini, seni itu belum terlalu rumit. Seni itu akan menjadi rumit menakala memasuki penilaian tentang karya dan perbuatan mereka. Sebab, setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk membesarkan dirinya sendiri melampaui kadar yang sebenarnya. Karenanya, letak kerumitan dari seni penilaian ini ada pada pertarungan antara kecenderungan membesarkan diri sendiri dengan keharusan bersikap objektif yang sudah menjadi sifat sejarah yang niscaya dalam menilai para pahlawan. Inilah pertarungan antara megalomania dengan objektivitas. Simaklah firman Allah tentang kecenderungan ini, “Jangan sekali - kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang bergembira dengan apa yang mereka kerjakan; janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dan siksa, dan bagi mereka siksaan yang pedih.” (Ali Imran: 188).

para ilmuwan mengalami pertarungan ini, ketika menilai manakah dari karya-karya mereka yang paling monumental dan dimanakah letak kedudukan karya-karya ilmiah mereka itu dihadapan para ilmuan lain yang sejenis. Para sastrawan mengalami pertarungan ini, ketika mereka menilai manakah karya-karya sastra mereka yang paling abadi dan dimanakah letak kedudukan karya sastra itu diantara karya-karya para sastrawan lainnya? Para pemimpin perang juga mengalami pertarungan ini, ketika menilai manakah pertarungan yang dimenangkannya yang paling monumental, dan dimanakah letak kehebatannya, jika dibanding kehebatan para pemimpin perang lainnya dalam jenis perang yang mereka menangkan? Para pemimpin politik dan dakwah juga mengalami pertarungan ini ketika mereka menilai jejak-jejak kepemimpinan mereka tentang dimanakah letak kehebatannya dan seperti apa nilai kehebatan itu dibanding jejak-jejak para pemimpin lain dalam bidang politik dan dakwah?

Mempertahankan objektifitas di depan godaan megalomania adalah pekerjaan jiwa yang paling rumit yang senantiasa akan dirasakan oleh para pahlawan. Cobalah simak cara seorang khalifah dari Zaman Abbasiyah menilai dirinya, “Saya tidak akan pernah bangga pada prestasi yang saya capai, tapi sebenarnya tidak saya rencanakan. Tapi saya juga tidak akan menyesali setiap kegagalan yang saya alami, selama saya sudah merencanakan semuanya dengan baik sebelum melakukannya.”


*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Minggu, 25 September 2011

Minggu, 25 September 2011

Tamayyuz di Mihwar Muassasi


Ikhwah dan akhwat fillah, saat ini gerakan dakwah kita memiliki rakizah siyasiah, yakni stressing atau titik tekan pada bidang politik. Hal ini perlu saya garis bawahi, mengingat ada beberapa hal yang kadang-kadang menyebabkan kita mengalami keterjebakan situasional. Misalnya ada yang mengatakan atau menganggap kita masuk ke dalam mihwar siyasi (era politik).
Padahal dalam manhaj kita, hanya dikenal mahawir arba’ah atau empat era yang di dalamnya tidak ada mihwar siyasi (era politik) sebagaimana halnya tidak ada mihwar tarbawi (era pembinaan). Keempat mihwar dakwah tersebut ialah mihwar tanzhimi (structural), mihwar sya’bi (masyarakat), mihwar muassasi (kelembagaan) dan mihwar daulah (negara). Di setiap mihwar dari empat mihwar dakwah tersebut terkandung amal siyasi (aktivitas politik) dengan tingkat persentase yang berbeda-beda, karena amal siyasi adalah bagian tidak terpisahkan dari amal da’wi (aktivitas dakwah) kita.
Ikhwah dan akhwat fillah, seringkali dalam menghadapi situasi, kondisi-kondisi, aksi-aksi dan tantangan-tantangan tertentu kita lupa untuk merujuk atau kembali ke manhaj (pedoman). Padahal penguasaan kita akan manhaj, insya Allah cukup baik, apakah itu di ruang lingkup manhaj asasi, yakni Alquran dan Sunah ataupun di ruang lingkup produk ijtihad jama’ah kita yang tentunya juga bersumber dari Alquran dan Sunah. Langkah-langkah perjuangan dalam bentuk manhaj amali (pedoman aktivitas) tersebut cukup untuk dapat merespon dan mengantisipasi segala perkembangan. Hanya saja kita seringkali lupa merujuk ke manhaj tersebut. Boleh jadi karena keterdesakan kita di lapangan atau kesibukan yang demikian padat.

Agar lebih jelas, saya ingin sedikit mengulang penjelasan-penjelasan tentang stressing di masing-masing mihwar. Pada mihwar tanzhimi, rakizatul amal (stressing kerja) kita berupa bina syakhshiyah islamiah dan syakhshiyah da’iyah atau mewujudkan sosok pribadi islami dan pribadi da’iah. Juga bagaimana kita berusaha mengokohkan mishdaqiyah syakhsyiah islamiyah dan mishdaqiyah syakhshiyah da’iyah atau kredibilitas pribadi islami dan kredibilitas pribadi da’iyah.

Di era atau mihwar tanzhimi tersebut yang selalu kita ukur dan evaluasi adalah tingkat pertumbuhan kader dalam arti pertumbuhan dan perkembangan kader-kader kita secara internal. Bahkan ketika kita mengukur, mengevaluasi diri dari segi eksternal, yang kita lihat pun sejauh mana pertumbuhan calon kader yang dapat direkrut menjadi kader. Jadi di masa itu orientasinya adalah perekrutan, pembinaan, pertumbuhan dan perkembangan kader-kader dakwah.

Kemudian dakwah kita berkembang dan memasuki mihwar atau era sya’bi. Di era ini kita mulai ber-sya’biah atau mensosialisasikan siri, kader-kader dan program-program dakwah kita di masyarakat. Sasaran yang ingin dicapai di mihwar ini adalah mishdaqiyah syakhshiyah ijtima’iyah atau kredibilitas sebagai pribadi yang diterima di masyarakat. Kita berupaya keras agar kader-kader kita memiliki kredibilitas tersebut. Di mihwar sya’bi ini kita bukan hanya menerapkan tolak ukur kuantitas berupa pertumbuhan dan perkembangan kader, melainkan juga sejauh mana kader-kader yang kita miliki memberi pengaruh di masyarakat.

Ikhwah dan akhwat fillah, di mihwar tanzhimi kita sudah mulai melaksanakan program-program yang merupakan mukadimah atau pengkondisian ke arah mihwar sya’bi. Begitu pula di mihwar sya’bi, kita sudah melakukan langkah-langkah pendahuluan yang sekaligus merupakan kondisioning untuk menuju mihwar muassasi.

Alhamdulillah, Allah Ta’ala memberikan peluang yang mempercepat masuknya kita ke mihwar muassasi. Kita memang sudah membuat langkah-langkah mukadimah menuju mihwar muassasi berupa pendirian yayasan, lembaga-lembaga pendidikan, lembaga penelitian dan lain sebagainya. Namun perubahan-perubahan cepat yang terjadi yang antara lain dipicu dan dipacu oleh globalisasi ekonomi, politik dan lain-lain serta krisis ekonomi—dan tentu saja sebab utamanya adalah tadbirullah (rekayasa Allah), membuat peluang untuk memunculkan diri dalam bentuk kelembagaan formal terbuka lebar. Maka mulailah kita memasuki mihwar muassasi dengan menampilkan diri sebagai Hizbul ‘Adalah (Partai Keadilan). Kita menyebutnya mihwar muassasi dan bukan mihwar siyasi, walaupun memang dalam mihwar muassasi sebagaimana halnya di mihwar tanzhimi dan sya’bi terkandung aspek-aspek siyasi. Dan karena di mihwar muassasi ini sudah menyentuh aspek kelembagaan politik, maka persentase amal siyasinya pun meningkat.

Upaya memantapkan langkah-langkah secara struktural dan operasional di mihwar muassasi ini juga akan menyentuh sektor amal siyasi. Sekali lagi saya tegaskan bahwa amal siyasi merupakan sektor. Sebab bila kita mengatakan mihwar kini sebagai mihwar siyasi berarti kita terjebak ke dalam amal juz’i dan sekaligus harakah juz’iah, seperti halnya kita tidak bisa mengatakan sebagai mihwar tarbawi agar tidak terjebak juga pada ke-juz’iyah-an atau keparsialan. Jadi setiap mihwar memiliki beragam amal sesuai dengan ke-syumuliah-an dan ke-takamuliah-an amal Islam.

Ikhwah dan akhwat fillah, karena itu di setiap mihwar dibutuhkan adanya ke-tawazun-an antar amal. Ke-tawazun-an adalah proporsionalitas dalam pemberian peran-peran, pendayagunaan dan pengerahan potensi-potensi SDM. Kata proporsionalitas menunjukkan adanya ketepatan atau akurasi penyaluran potensi sesuai dengan tuntutan medan dan situasi-kondisi serta aksi-aksi yang kita lakukan.

Oleh karena itu, ikhwah dan akhwat fillah, betapa pun kita dituntut untuk merespon situasi dan kondisi saat ini dengan proporsionalitas yang menuntut porsi lebih di bidang politik, tetap saja kita tidak boleh mengabaikan amal tarbawi (pembinaan), amal tsaqafi (penambahan wawasan), amal khairi (sosial), amal ijtima’i (kemasyarakatan) dan lain-lain. Masalah stressing atau penekanan di sektor tertentu pada moment tertentu adalah hal yang biasa. Misalnya di bulan Ramadhan kita meliburkan halaqah-halaqah tarbawi internal, karena kita ingin merespon amal khairi dan taabbudi (ibadah) di bulan mulia tersebut. Kita berkonsentrasi meningkatkan tadayyun sya’bi (keberagamaan masyarakat) karena terdapat katsafah furshah (peluang yang luas) di bulan Ramadhan.

Jadi bila kini menjelang pemilu kita merespon tuntutan amal siyasi yang membesar, itu merupakan masalah proporsionalitas tanpa harus mengabaikan bidang-bidang lain. Sehingga memadatnya aktivitas politik kita menjelang pemilu tidak berarti kita terjebak dalam mihwar politik. Mihwar kita adalah mihwar muassasi, artinya secara kelembagaan kita mulai menampilkan diri seluruh batang tubuh ke permukaan dengan nama Hizbul ‘Adalah.

Ikhwah dan akhwat fillah, mihwar muassasi ini akan terus berkembang ditandai dengan bertambahnya muassasah atau lembaga infrastruktur sosial politik kemasyarakatan baik yang kita bangun sendiri atau yang kita warnai (muassasah yang dibangun oleh ikhwah seperjuangan dalam Islam, yaitu ormas atau parpol lain), dan nantinya juga kita bisa melebarkan sayap dengan memasuki secara langsung lembaga-lembaga suprastruktur dan infrastruktur kenegaraan. Hal ini merupakan bagian dari mihwar muassasi dan merupakan langkah-langkah awal yang akan menjembatani masuknya kita, Insya Allah, mustaqbalan (di masa mendatang) ke dalam mihwar daulah.

Hal penting yang harus kita perhatikan di dalam mihwar muassasi ialah bahwa kita bukan sekadar memunculkan diri dalam bentuk kelembagaan partai, melainkan juga mengupayakan bagaimana aqidah, fikrah dan manhaj kita mewarnai infrastruktur sosial politik di masyarakat atau infrastruktur kenegaraan dan kemudian akhirnya supra struktur kenegaraan. Lembaga infrastruktur dan suprastruktur negara akan kita masuki jika tingkat proporsi penyebaran SDM dan pengaruh kita di ruang lingkup kelembagaan infrastruktur kemasyarakatan atau sosial politik sudah memadai. Barulah kemudian kita melangkah ke dalam mihwar daulah.

Dalam hal ini ingin saya ingatkan bahwa setiap mihwar memiliki perimbangan proporsi amal yang berbeda-beda dan dapat berubah-ubah. Hendaknya hal ini tetap dalam ruang lingkup ke-tawazun-an dan keterpaduan amal islami.

Tamayyuz
Langkah-langkah amal kita harus mutamayyiz. Kita bergaul bersama, berpacu, namun nahnu mutamayyyizun (kita berbeda). Kata tamayyuz mengandung pengertian keberbedaan yang mengandung keistimewaan. Jadi bukan asal beda, melainkan mutamayyiz ’an ghairina, berbeda yang mengandung keistimewaan dari yang lainnya. Kita mengetahui slogan yang dikumandangkan oleh Syahid Sayyid Quthb, yaitu yakhtalithun walakin yatamayyazun, kita berbaur, bergaul, bersilaturahmi, ber-tawashau bil haq, ber-tawashau bis shabri, tawashau bil marhamah dengan seluruh lapisan umat, namun nahnu mutamayyizun, kita berbeda. Tamayyuz—kespesifikan ini penting agar menjadi arahan yang memudahkan masyarakat untuk mendukung kita.

Pertama-tama tamayyuz kita adalah dalam ruang lingkup SDM. Kita harus mutamayyiz fii rijal. Kita harus sanggup menampilkan tamayyuz fii rijal, keistimewaan SDM atau personil.

Ikhwah dan akhwat fillah, dalam memasuki mihwar muassasi yang kedudukannya merupakan langkah-langkah mukadimah menuju mihwar daulah, rijalud da’wah atau SDM dakwah kita seyogianya sekaligus juga memiliki bobot dan bakat yang akan dikembangkan menjadi rijalud daulah atau sosok negarawan yang memiliki visi kenegaraan yang baik.

Kita sudah memiliki kader-kader yang berbasis akidah, fikrah dan minhaj yang baik. Kini tinggal berupaya bagaimana kita mengekspresikan diri dan mengaktualisasikan diri secara atraktif. Bukan berarti kita riya, melainkan semata-mata dalam kerangka ‘isyhadu bi anna muslimin”, saksikan kami ini orang-orang Islam. Kita mencoba memperjelas, mengedepankan tampilan produk islamisasi rijal kita.

Paling tidak ada lima kespesifikan, keunikan atau keistimewaan yang—Alhamdulillah—dimiliki oleh jamaah kita, yaitu:

1. Mutamayyiz fii rijal (keistimewaan SDM)
2. Mutamayyiz fi adaa (keistimewaan penunaian tugas)
3. Mutamayyiz fii intaj (keistimewaan sentuhan produk)
4. Mutamayyiz fii khidmah (keistimewaan pelayanan)
5. Mutamayyiz fii muamalah (keistimewaan bermasyarakat)

Keistimewaan yang pertama ialah mutamayyyiz fii rijal atau keistimewaan personil dakwah. Keistimewaan personil dakwah atau SDM ini dilandasi oleh tamayyuz fii aqidah, fikrah, minhaj dan akhlaq. Modal utama berupa keistimewaan dalam akidah, fikrah, minhaj dan akhlak sangat berdayaguna dalam membangun mishdaqiyah syakhshiayah da’iyah (kredibilitas pribadi muslim dan da’iyah).

Namun keistimewaan SDM ini harus ditunjang oleh tamayyuz fii adaa atau keistimewaan dalam penunaian tugas. Jadi kita harus mutamayyiz fii adaa. Dalam menunaikan tugas, kita memiliki modal berupa motivasi yang tinggi yang dibangun oleh aqidah kita. Kemudian idealisme yang besar yang dibangun oleh fikrah kita dan langkah-langkah kerja yang tertib teratur yang dibangun oleh manhajiah kita.

Kesemuanya itu menjadi modal dalam menunaikan ruhul badzli wa tadhhiyah karena dilandasi niat yang khalishan li wajhillah ta’ala. Ruhul badzli wa tadhhiyah adalah modal motivasi, militansi dan vitalitas stamina yang dibangun oleh akidah, fikrah, akhlak dan semangat ibadah kita. Kesemuanya itu menjadi modal utama dalam tamayyuz fii adaa yang kemudian ditopang pula oleh kemampuan dalam takhtit, perencanaan/programming dan idariah/manajemen.

Kelengkapan modal tersebut membuat kita mutamayyiz fi adaa, istimewa dalam penunaian tugas. Kita tidak menjadi orang-orang yang menunaikan tugas secara infiradiyah, sekenanya, seketemunya dan seadanya di lapangan, melainkan benar-benar mutamayyiz fii adaa karena di back up oleh faktor-faktor mental, moral dan ideal serta faktor-faktor konsepsional, berupa perencanaan dan manajemen yang baik. Jika kita berhasil menampilkan adaa’ul wazhaif (penunaian tugas secara baik), insya Allah keistimewaan kita akan muncul di tengah masyarakat.

Apalagi bila diikuti dengan keistimewaan produk-produk yang kita hasilkan yang menimbulkan kesan dan pengaruh yang kuat di masyarakat karena mau tidak mau masyarakat memang menilai dan mengukur masalah produktivitas.

Karena itu, keistimewaan yang ketiga yang harus kita miliki adalah tamayyuz fii intaj. Program-program yang kita gulirkan harus terasa hasilnya di masyarakat. Sudah tentu yang dimaksudkan terasa, tidak selalu harus dalam bentuk produk materi. Bahkan sebagian besar yang kita miliki bukan berupa produk materi, melainkan pendekatan ilmi, shihhi, ijtima’i, ma’nawi dan sebagainya

Ikhwah dan akhwat fillah, sudah sewajarnyalah masyarakat mengharap dan menunggu-nunggu produk-produk nyata yang dihasilkan oleh parpol-parpol dan kelompok-kelompok organisasi yang menjamur belakangan ini. Oleh karena itu kita harus mampu menyajikan produk yang mutamayyiz kepada masyarakat jika ingin mendapatkan sambutan publik yang baik.
Tamayyuz dalam produk bukan diukur dari segi kuantitasnya, melainkan dari segi kualitas sentuhannya yang terasa di hati masyarakat.

Ikhwah dan akhwat fillah, tamayyuz yang berikutnya yang juga harus kita miliki ialah tamayyuz fii khidmatan lis muslimin (keistimewaan dalam pelayanan kepada muslimin), khidmatan lin naas (pelayanan kepada manusia), sehingga kita akan tampil mutamayyiz fii khidmah (istimewa dalam pelayanan). Ada pepatah Arab berbunyi, “An-naas yuwalluna man yakhdimuhum,” (manusia akan memberikan wala atau loyalitas kepada orang-orang yang melayaninya). Karenanya ada juga pepatah lain, “Sayyidul qaum khaadimuhum” (Pemimpin suatu kaum [bangsa] adalah pelayan bagi kaum tersebut).

Bila kita tampil sebagai lembaga yang paling piawai memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka ia pun akan mendapatkan sambutan lebih dibanding dengan yang lain. Pelayanan kepada masyarakat tidak harus selalu diartikan pelayanan fisik, materi yang bersifat langsung, simbolik, atraktif dan promotif, misalnya pemimpin datang memberikan bantuan materi kepada bawahannya. Hal itu hanya merupakan sebagian kecil dari ruang lingkup pelayanan kepada masyarakat. Memang hal itupun perlu juga sekali-kali kita lakukan, namun yang lebih penting adalah bagaimana kerja keras kita, mengupayakan terjaminnya kemaslahatan masyarakat dalam dua hal yang digariskan Allah dalam Q.S. Quraisy: (1) Terjaminnya masyarakat dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya yang asasi أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ (terbebasnya dari kelaparan) dan (2) Kebutuhan akan rasa aman atau terbebas dari ketakutan, ketidakpastian, intimidasi, kediktatoran dan kezhaliman (وَءَامَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ).
Kedua hal tersebut juga berkaitan dengan لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ atau masalah qalb (hati) dan وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ atau berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan jasadiyah. Ruang lingkup pelayanan kita harus meliputi kedua aspek tersebut.

Dalam masalah pelayanan ini, hal yang perlu saya garis bawahi bahwa itu meliputi garis vertikal ke atas, yakni upaya kita mempengaruhi decision making dalam hal politik, hukum dan perundang-undangan dengan cara aktif memberikan usulan, kritik dan koreksi. Kemudian juga meliputi garis vertikal ke bawah, yakni upaya kita menggulirkan produk-produk dalam ruang lingkup ijtima’iyah, khairiyah, ilmiyah, tsaqafiyah, shihhiyah dan fanniyah di tengah masyarakat.

Produk-produk dalam ruang lingkup vertikal ke bawah akan menjadi basis dari upaya meluncurkan produk siyasah wal qanun ke atas. Dan produk siyasah wal qanun ke atas akan memayungi dan melindungi segala aktivitas pelayanan kita ke bawah. Artinya segala aktivitas kita yang menyebar di masyarakat perlu mendapat perlindungan politik dan hukum. Sebaliknya segala aktivitas yang berkaitan dengan masalah politik dan hukum perlu mendapatkan basis berupa produk dan kerja nyata kita di bidang ijtima’iyah, khairiyah, ilmiyah, fanniyah, iqtishadiyah dan sebagainya.

Akhirnya, ikhwah dan akhwat fillah, tamayyuz kelima yang harus kita miliki adalah tamayyuz fii muamalah. Cara agar kita tampil beda dan istimewa dalam bermuamalah (bergaul) adalah bila kita bermuamalah bil ihsan. Allah berfirman,

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلاَّ الْإِحْسَانُ
“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).

Dalam hadits juga disebutkan bahwa Allah menyuruh kita berbuat ihsan dalam segala urusan. Yang dimaksud dengan ihsan adalah kebaikan-kebaikan, apakah berupa kebaikan materi, sulukiyah, maupun sikap dan perilaku. Dalam menyalurkan kebaikan-kebaikan tersebut hendaknya kita membingkainya dengan akhlaqul karimah. Sebab betapa pun besar kebaikan yang diberikan, jika cara memberikannya tidak disertai dengan adab dan kesantunan, maka ia akan lebih dirasakan sebagai penghinaan dan bukan kebaikan.

Inti muamalah adalah bagaimana kita menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat dengan dibingkai akhlaqul karimah. Maka masyarakat pun akan melihat bahwa kita mutamayyiz fii muamalah, istimewa dalam berinteraksi di masyarakat. Sebab upaya menanamkan pengaruh di masyarakat, pada hakikatnya adalah bagaimana kita merebut hati orang. Selain berupaya membuka hati mereka melalui program-program yang kita selenggarakan dengan baik, juga harus dengan kekuatan ta’abudi dan taqarrub kita kepada Allah, karena miftahul qulub, kunci hati ada di tangan Allah. Dengan kekuatan ikhtiar dan doa kita berharap kepada semoga Allah membukakan hati-hati mereka.

Wallahu a’lam



sumber : intimagazine

Sabtu, 24 September 2011

Sabtu, 24 September 2011

Ri’ayah Dakwah

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin, Lc.

Untuk menjamin nishabul baqa (angka atau quota yang aman bagi eksistensi gerakan dakwah), qudratu ‘ala tahammul (kemampuan memikul beban / tanggung jawab), dan hayawiyatul harakah (dinamika gerakan); perlu dilakukan ri’ayah da’wah, yang meliputi:
Ri’ayah Tarbawiyah
Ini sangat penting sebagai basis dari sebuah program.  Sebuah recovery tarbiyyah. Walaupun kita juga harus tawazzun (seimbang), dalam arti, sering saya ingatkan bahwa kita ini harakah Islamiyah bukan harakah tarbawiyyah. Walaupun kita faham bahwa tarbiyah itu bukan segala sesuatu dalam jamaah ini—karena ia hanya juz’iyyatul ‘alal amal islami, tapi dia sangat menentukan segala sesuatu. Makanya jangan lalai dalam tarbiyah ini.  Saya pun bertanggung jawab jangan sampai terjadi tawaruth siyasi (larut dalam dunia politik).
Hasil tarbiyah ini jangan dibatasi manfaatnya menjadi tarbiyah untuk tarbiyah. Artinya moralitas, idealisme, dan semangat yang dihasilkan tarbiyah itu jangan hanya dirasakan ketika ia menjadi murabbi saja. Tapi harus dirasakan juga produk tarbiyah itu baik secara moralitas, idealisme, akhlak, hayawiyah, semangat ke dalam dunia politik. Aktif dalam sektor bisnis, eksekutif, budaya, sosial, dan peradaban; perasaan bahwa mereka juga harus merasakan tarbiyah. Jangan sampai produk-produk tarbawi hanya semangat ketika mentarbiyah saja. Ketika di dunia politik dia lesu, di dunia ekonomi memble, di dunia sosial kemasyarakatan ketinggalan, dalam seni budaya jauh di urutan ke berapa.
Tarbiyah harus bisa memacu, memberikan semangat, memberikan moralitas tinggi, idealisme tinggi dalam segala bidang. Itu sebetulnya sudah kita rasakan, dan semakin kita butuhkan ketika kita semakin besar. Jangan sampai potensi apa pun yang ada tidak mendapat sentuhan tarbawi tersebut. Jangan terjadi apa yang dinamakan al-izaaban (pelarutan). Jangan sampai ketika aktif di bidang politik terjadi izaabatu syakhsiyyatul islamiyyah (pelarutan kepribadian islami), atau aktif di bidang ekonomi terjadi izaabatul akhlaqul islamiyyah. Pelarutan-pelarutan itu insya Allah tidak akan terjadi atau bisa diminimalisir jika tarbiyah kita konsisten.
Ri’ayah Ijtima’iyah
Kemampuan kita melakukan komunikasi sosial, baik dalam jama’ah sendiri atau juga di masyarakat, tahsinul ‘alaqotul ijtima’iyyah (perbaikan hubungan kemasyarakatan) ini sangat dibutuhkan dalam peran kita sebagai da’i.
Ri’ayah Tanzhimiyah
Jaringan struktur kita sebagai jalur komando harus solid. Agar cepat dan tepat, bisa menyalurkan program-program dari pusat sampai ke daerah-daerah.
Ri’ayah Iqtishadiyah
Ekonomi ini menjadi perhatian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (sesaat setelah hijrah-red) setelah membangun masjid. Masjid untuk membangun anfus (jiwa) dan pasar untuk membangun potensi amwal (harta), keduanya untuk wa jahidu bi amwalikum wa anfusikum.
Ekonomi kita masih berbasiskan ekonomi jaringan, belum berbasiskan ekonomi pasar. Yang dagang ikhwan dan akhwat, yang belanja juga ikhwan dan akhwat. Memang ekonomi jaringan itu nikmat, tapi sulit untuk menjadi besar, artinya ketemu pedagang sambil kangen-kangenan, tawar menawarnya juga enak. Dalam ekonomi kalau mau menjadi besar itu harus berbasiskan pasar.
Dalam ri’ayah iqtishadiyah, pelihara terus ekonomi jaringan, tetapi kembangkan menuju ekonomi pasar. Ekonomi jaringan itu menjadi basis ekonomi pasar. Jangan keasyikan berputar-putar di ekonomi jaringan, gak bisa besar. Sebab pasar kita terbatas. Coba hitung berapa persen kader kita yang menjadi pedagang, kemudian berapa komunitas kita yang jadi pasarnya. Apalagi kalau dibagi dengan jumlah pedagang yang berdagang dari halaqoh ke halaqoh, sehingga pembagian jumlah konsumen itu kecil.
Kita berada di negara yang pasarnya dipenuhi oleh negara-negara besar; Amerika, Eropa, Cina, dan Jepang berebut pasar Indonesia. Kenapa kita sebagai pemilik pasar tidak mendayagunakannya sebesar-besar manfaat dari pasar Indonesia ini. Pasar Indonesia ini pasar yang jika dilihat dari luas geografisnya—bahkan secara demografisnya lebih luas lagi—sama dengan London – Moskow.
Ri’ayah Siyasiyah
Komunikasi politik kita harus lebih baik antar partai-partai. Jangan ada hambatan-hambatan yang membuat komunikasi kita dengan mereka terputus. Terutama karena kita partai dakwah. Jangan ada komunikasi yang putus dengan siapa pun. PDIP mad’u (objek dakwah) kita, Golkar mad’u kita, bahkan PDS juga mad’u kita. Sebisa mungkin ada jalur komunikasi. Jika tidak ada komunikasi keumatan atau keislaman, maka bangun jalur kemanusiaan. Saya kira tidak ada partai yang anggotanya bukan manusia. Banteng simbolnya, tapi anggotanya tetap manusia.
Minimal hubungan kemanusiaan harus terbentuk dengan kelompok manapun. Ingat, seperti dulu saya tegaskan bahwa mihwar muassasi itu merupakan muqaddimah menuju mihwar dauli. Kalau kita sudah mencapai mihwar dauli, rakyat yang kita kelola itu dari beragam parpol, kelompok, dan agama; semuanya rakyat yang harus kita kelola. Harus kita layani. Jangan dibayangkan kalau sebuah partai dakwah berkuasa di sebuah negara, akan membumihanguskan golongan-golongan lain. Tidak! Karena khilafah fil ardhi, termasuk embrionya, mihwar daulah, itu juga mengemban misi rahmatan lil ‘alamin, bukan rahmatan lil mu’minin saja. Semua komponen bangsa harus menikmati kehadiran kita dalam sebuah daulah, minimal secara manusia. Terjamin hak-hak kemanusiaannya, termasuk hak-hak politiknya tidak akan diberangus. Kita akan memberikan space kepada siapa pun komponen bangsa ini—sudah tentu yang tidak bertentangan dengan konstitusi negara yang disepakati—agar mempunyai ruang hidup, baik secara politik, ekonomi, budaya, dan relijius.
Itu latihannya dari sekarang. Membangun komunikasi politik, budaya, bisnis, dan sosial dengan semua golongan, semua lapisan masyarakat, semua kelompok, semua komponen bangsa dari sekarang. Sehingga kita diakui, laik memimpin negara ini. Allahu Akbar! Insya Allah tidak lama lagi.