Kamis, 30 Juni 2011

Kamis, 30 Juni 2011

Mendaki Sejarah!




Oleh Ust. Anis Matta
-------------------
Di alam batin para pahlawan, pencinta dan pembelajar sejati, hidup selalu dimaknai sebagai pendakian sejarah. Kita akan sampai ke puncak kalau kita selamanya punya energi dan rute pendakian yang jelas. Pendakian kita akan terhenti begitu kita kehabisan nafas dan kehilangan arah. Energi dan rute, nafas dan arah, adalah kekuatan fundamental yang selamanya membuat kita terus mendaki, selamanya membuat hidup terus bertumbuh.

Semakin tinggi gunung yang kita daki, semakin panjang nafas yang kita butuhkan. Begitu kita kehabisan oksigen, kita mati. Semakin kita berada di ketinggian semakin kita kekurangan oksigen. Itu sebabnya kita harus merawat dan mempertahankan semangat kepahlawanan kita. Karena dari sanalah kita memperoleh nafas untuk terus mendaki.

Tapi kita perlu rute yang akurat dan jelas. Sebab kesadaran tentang jarak memberi kita kesadaran lain tentang bagaimana mendistribusi energi secara seimbang dan proporsional dalam jarak tempuh yang harus dilalui dan pada lama waktu yang tersedia. Dengan begitu kita bisa mengukur posisi ketinggian maksimum yang mungkin kita capai pada pandakian yang kita lakukan.

Rute yang jelas dan akurat membuat kita jadi terarah. Keterarahan, atau perasaan terarah, sense of direction, memberi kita kepastian dan kemanta¬pan hati untuk melangkah. Pandangan mata kita jauh menjangkau masa depan, menembus tabir ketidaktahuan, keraguan dan ketidakpastian. Kita tahu kemana kita melangkah, berapa jauh jarak yang masih harus kita tem¬puh, berapa lama waktu yang kita perlukan. Tapi ketika kita menengok ke belakang, atau melihat ke bawah, ke kaki gunung yang telah kita lalui, ke lembah ngarai yang terhampar di sana, kita juga tahu jarak yang telah kita lalui. IIham dari masa lalu dan mimpi masa depan terajut indah dan cerah dalam realitas kekinian.

Rute itu membuat kita menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran akan jarak dan waktu. Dalam kesadaran itu fokus kita tertuju pada semua upaya untuk menjadi efesien, efektif dan maksimal. “Kita menjadi peserta kehidupan yang sadar”, kata Muhammad Iqbal.

Kesadaran itu manifestasi pembelajaran. Kesadaran itu melahirkan kekhusyukan. Maka begitulah sejak dini benar, tepatnya pada tahun keempat periode Mekkah, Allah menegur keras para sahabat Rasulullah saw, generasi pertama Islam, untuk tidak banyak bercanda dan segera menjalani hidup dengan penuh kekhusyukan:

"Belumkah datang saatnya bagi orang-orang beriman untuk meng¬khusyukkan diri mengingat Allah dan (melaksanakan) apa yang turun dari kebenaran itu (AI Qur'an)".

Sumber: Tarbawi

Minggu, 26 Juni 2011

Minggu, 26 Juni 2011

Tak Semua Masalah Politik Harus Diselesaikan Dengan Cara Politik




Taujih Sekjen PKS HM Anis Matta, Lc
(Dalam Konsolidasi Kader & Struktur PKS se-Lampung serta Peresmian GSG Ragom Sejahtera, Kamis, 2 Juni 2011)


Assalamualaikum wr wb

Ikhwan dan akhwat sekalian para mas’ulin DPW Lampung, dan Wilda Sumatra, dan seluruh kader yang saya cintai. Saya bersyukur sekali bisa datang ke sini pagi ini meresmikan gedung baru DPW (GSG) yang lebih bagus dari milik DPP (applause …).

Target menuju 3 besar sudah semakin dekat. Apalagi saya juga tahu bahwa di beberapa kabupaten di Lampung ini sudah nomor 3 ya.

Ikhwan akhwat sekalian.

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah ke Malaysia. Tiba-tiba ada goncangan pesawat kemudian ada pengumuman dari pilot “Para penumpang sekalian kita akan mengalami goncangan selama 15 menit setelah itu cuaca akan kembali baik.” Setelah 15 menit goncangan benar berhenti, pesawat terbang normal dan kita landing di Kuala Lumpur dengan selamat.

Saya mengingat itu terus menerus karena kita sedang menghadapi operasi politik secara bersamaan. Dan saya yakin operasi politik itu hanya akan berlangsung 15 menit setelah itu goncangan kembali ke tempat lain, bukan karena kita yang mengarahkan anginnya ke sana (grr..). Goncangan sudah merupakan kemestian yang akan kita hadapi.

Jadi ikhwah sekalian. Dari perjalanan itu saya mencoba-coba rekonstruksi kembali bahwa memang perjalanan kita ini ketika kita memasuki mihwar muasasi bergumul di ruang politik yang luar biasa dahsyatnya.

Ikhwah sekalian saya pernah tanya seorang pilot apa bedanya menerbangkan pesawat siang hari dan malam hari. Pilot menjawab sama saja karena ketika kita sudah di ketinggian yang ada hamparan kosong. Kanan kiri depan semuanya hanya ada awan.

Jadi gelap dan terang tidak penting bagi kita, jawab pilot. Jadi bagaimana cara anda mengetahui arah kalau tak ada bedanya siang atau malam. Kita pake GPS. GPS yang menuntun perjalanan kita ini. Jadi, hal pertama yang diperlukan seorang pilot adalah GPS. Jadi kalo GPSnya ada masalah pasti dia punya masalah, karena ketika kita sudah ngga di bawah kita ngga tau posisi, kalau bukan karena ada GPS.

Saya hadir di Seminar Mukjizat Al Quran tahun 1986. Saya salah satu penerjemah. Salah satu temanya adalah tentang cuaca. Ayat-ayat AlQuran tentang awan menunjukkan bahwa seluruh yang ada di alam semesta tak bisa kita pastikan apalagi dikendalikan tapi bisa kita ramal. Badai kemana bisa kita ramal.

Jadi karena itu seorang pilot harus terus berkomunikasi dengan orang yang ada di tower untuk mendapatkan update info terbaru tentang keadaan cuaca yang keadaan ini adalah fata yang tak bisa dikendalikan tapi bisa disiasati.

Jadi kalau ada perubahan cuaca mendadak, tower bisa bilang rute dirubah, tapi destinasi tak berubah. Jadi seorang pilot menerbangkan pesawat butuh 2 hal ini. Pertama GPS, kedua ramalan cuaca.

Seorang pilot tak bisa mengendalikan cuaca di luar. Itu di luar kendali sama sekali. Makanya kemungkinan dia mengalami kecelakaan selalu ada. Kita juga tak bisa mengendalikan lingkungan yang ada di luar kita ini. Yang ada dalam analisa-analisa manajemen strategis disebut lingkungan strategis yaitu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi situasi dimana kita berada.

Kita tak bisa memastikannya walau kita bisa membaca dan membuat prediksi-prediksi ang disebut prakiraan keadaan. Tapi semua prediksi ini adalah prediksi yang tidak pasti, tapi diperlukan karena itu memberi kita info real time terhadap situasi yang berkembang.

Oleh karena itu, kalau ada keadaan cuaca yang buruk, pilot bilang: tolong kencangkan ikat pinggang. Selain itu apalagi yang bisa kita lakukan? (Audiens: berdoa …).

Ketika Merapi meletus , ke Jogja yang normalnya 50 menit jadi 2 jam. Di pesawat semua pengurus DPP ada disitu. Ketua Majelis Syuro, Bendahara, semua. Jadi kalau pesawat jatuh, kita harus munaslub (grr..). Pesawat bisa tiba-tiba turun 40 meter. Semua diam. Semua dzikir. Ini bukan goncangan 15 menit.

Karena sudah tegang semua tak ada yang bahkan berbisik dengan tetangga. Kita semua tegang jamai.

Lalu saya menoleh ke belakang dan mengangkat tangan: Assalamualaikum. Kita jadi agak normal kembali walau goncangan tetap saja.

Sekali waktu dalam perjalanan ke batam naik pesawat. Transit di pekanbaru, pilot bilang ada kerusakan di mesin jadi kita harus kembali. Beberapa waktu kemudian ada pengumuman dari pilot kerusakan tidak terlalu parah jadi kita lanjutkan perjalanan. Dalam situasi begitu tak ada yang bisa kita lakukan selain kencangkan ikat pinggang dan .. berdoa.

Ikhwah fillah sekalian,

Tak semua masalah politik harus kita selesaikan dengan cara politik.

Kalau antum lihat di AQ kata yang paling banyak terkait dengan sifat atau karakter adalah sabar. Sabar itu artinya bukan bertahan. Tapi terus menerus maju dengan beban yang ada.

Dan pesawat itu kalau ada guncangan yang kita lakukan adalah kencangkan ikat pinggang, bukannya pesawat berhenti parkir di tengah badai.

Kita dapat laporan dari wartawan. Macam-macam. Dalam situasi begini, kita akan hadapi pakai cara apa? Saat perjanjian hudaibiyah sahabat sampai makan daun. Ada saatnya kencangkan ikat pingganag karena tak ada lain yang bisa dilakukan.

Fitnah itu, kata ulama, saking buruknya situasi kita tak bisa lihat tangan kita sendiri.

Dan saat seperti itu, yang duduk lebih baik daripada yang berdiri. Yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan. Ada saatnya kita kencangkan ikat pinggang.

Kalau antum ambil doa dari orang seperti ayahandanya Nabi Yusuf: Saya hanya mengadukan semua kegelisahan saya kepada Allah.

Ada kisah seorang soleh dirampok di tengah jalan. Tapi perampok merasa tak cukup hanya mengambil hartanya. Saya juga ingin membunuh kamu. Kata orang soleh, tapi kasih saya kesempatan sholat 2 rakaat. Waktu sholat dia berdoa, “ya Allah hadapilah orang ini.” Sebelum dia selesai sholat, perampok sudah mati.

Kaum salaf di antara doa-doa mereka, “Ya Allah ketemukanlah orang zolim dengan sesama orang zalim dan keluarkan kami dari mereka dengan selamat.”

Waktu video mirip saya keluar ada yang mengatakan harus ada operasi politik. Saya katakan lebih baik kita umroh saja sambil menghibur diri dan mohon pertolongan Allah. Kita berdoa dan tak tahu kapan isu itu reda tapi sebelum saya pulang umroh, isu itu reda.

Tidak semua masalah politik harus diselesaikan dengan cara politik. Langit punya cara. Basis spiritual kita harus diperkuat dalam berdakwah. Dengan basis ini kita punya keyakinan.

Allah berfirman bersabarlah karena janji Allah itu benar dan jangan orang-orang yang tidak percaya itu menggoyahkan kamu. Jalan terus tawakkal sambil kencangkan ikat pinggang. Itu cara kita mensiasati. Kita tak hanya berdiam diri.

Kita juga butuh informasi real time. Sambil aware, jangan sampai badai terjadi baru kita mau belok. Tapi kita sudah dapat informasi ini mau ada badai, kita sudah siap.

Jadi ikhwah fillah sekalian, pesawat itu kan goyang-goyang waktu ada badai. Reaksi penumpang beda-beda. Ada yang diam pegang ikat pinggang, ketika goncang menguat naik turun seperti itu ada yang teriak, ada juga yang muntah-muntah.

Kalau goncangan lama banyak yang stress. Naik kapal perintis ke Ambon selama 3 hari. Kami harus berpegangan di kapal selama 3 hari berturut-turut. 3 bulan recovery karena jalan itu seraya goyang dunia.

Pada akhirnya kita berpikir bahwa ujung dari semua ini adalah kematian. Tapi ada juga yang sempat berpikir tentang daftar utang yang belum dibayar. Ada juga yang mikir belum walimah.

Goncangan seperti inilah yang disebut amaliyah tamyiz, proses seleski internal di antara kita sendiri.

Orang-orang yang stress dalam perjalanan panjang itu juga reaksinya macam-macam. Ada yang menyalahkan pilot. Tadi kenapa ga bilang banyak badai, kalo kita tahu kan ga usah terbang.

Tapi apapun reaksi antum, kita harus terus jalan, karena kita tak mungkin berhenti di tengah badai itu, hancur diombang-ambingkan entah mendarat dimana tak jelas.

Jadi apapun yg terjadi di luar, di dalam tak boleh gaduh karena gaduh tak menyelesaikan masalah. Bagaimana kalau lagi goncang begitu nyalah-nyalahin pilot terus pilot bilang ya sudah anda saja ambil alih pesawat. Situasi seperti inilah yang sedang kita hadapi.

Perlu diingat, kita naik pesawat ini sukarela, kita memilih naik di pesawat ini. Keputusan pribadi resiko pribadi kitapun kita sendiri menyetujuinya.

Nah ikhwah sekalian,

Dalam keadaan seperti ini kita melihat antara cuaca yang ada di luar dengan reaksi penumpang yang ada di dalam menentukan situasi apakah kita akan tiba di tujuan dengan selamat.

Setelah melampaui operasi politik yang luar biasa, saya coba-coba cari inspirasi karena baca di teori-teori politik ga ada teorinya. Semua asumsi teori politik dilandaskan atas asumsi normal. Saya mencoba mencari insipirasi dimana kita berada. Saya baca-baca terus Surat Al-Ahzab. Saya menemukan banyak inspirasi di surat ini yang artinya partai-partai, golongan-golongan, multipartai.

Ayat 1 sd ayat 7, berbicara tentang keluarga. Ayat 7-27 bicara tentang situasi perang Khandaq. Ayat 28 dst bicara kembali tentang keluarga. Seakan 2 surat ini ingin mengatakan setiap kita punya 2 dunia. Dunia keluarga dan di luar keluarga. Dan kita bisa menghadapi goncangan-goncangan apabila situasi keluarga juga tenang. Bisa dibayangkan jika di luar terjadi goncangan, lalu pulang ke rumah juga dapat goncangan.

Situasi keluarga ini juga digambarkan dalam alquran terkait permintaan tawaran Nabi kepada istri-istrinya. Tawarkan kepada istri-istrimu: Katakan hai Muhammad, bahwa kalau kamu menginginkan kenikmatan dunia maka akan saya berikan kenikmatan dunia, lalu saya ceraikan kalian. Artinya putus hubungan. Ini dilakukan supaya kita tak menghadapi dua front sekaligus.

Salah satu pembahasan tentang Palestina waktu di Sudan, pimpinan Hhamas diprotes sama beberapa ikhwan dari negara lain. Hamas ini kan gerakan perlawanan, Muqawamah. Misinya jihad. Anda sudah melakukanyna. Tapi 4 tahun terakhir anda memegang Gaza dan tak lagi berperang. Hanya keliling-keliling cari duit untuk dibagikan ke rakyat Gaza, sudah menikmati kenikmatan dunia karena berkuasa. Saya pikir benar juga logis juga 4 tahun tak ada perang. Kenapa anda tak menyerang Israel.

Kenapa tak dipakai serang Israel? Sudah punya roket, basis kota, dll.

Ust. Khalid Misyal menjawab tenang. Kalo kita bertempur kita memerlukan hal yang disebut halaman belakang, jadi kalau prajurit maju dia capek mundur istirahat di halaman belakang. Lalu maju lagi.

Seperti mujahidin Afgan melawan Uni Soviet punya halaman belakang namanya Pakistan. Tapi kita di palestina tak punya halaman belakang karena seluruh tetangga palestina adalah kolaborator Israel. Yordan, Syria, Mesir, Libanon tak ada yang bisa jadi halaman belakang.

Orang Palestina manusia biasa juga. Kalau bertempur terus lalu stress bisa melakukan kesalahan terlalu banyak atau bahkan jadi kanibalis. Itu yang tak dimiliki Hamas sekarang. Halaman belakang Hamas adalah Gaza. Kasih kita waktu untuk istirahat.

Kalau perang terus yang mempunyai masalah bukan cuma mujahidinnya tapi juga keluarga yang ditinggal. Seperti masa Khalifah Umar bin Khatab. Seorang perempuan berpantun ria. Isinya aneh kira-kira begini: Demi Allah kalau bukan karena takut padamu, niscaya ranjang ini sudah bergoyang dengan laki-laki lain.

Saat menghadapi perang Timtim, ada tentara yang jadi kanibalis. Ketemu rumah dibakar, orang disembelih, hewan disembelih. Sampai sekarang orang ini kalau ga lihat darah dalam seminggu bisa stres.

Jadi di pesawat disuruh kencangkan ikat pinggang, ingat bahwa kita meninggalkan rumah. Terus pulang ingat akan perang lagi. Sampai ada yang bilang mending pesawat ini meledak saja sekalian (grr…).

Jadi ikhwah sekalian, halaman belakang kita itu adalah rumah kita sendiri. Bayangkan. Lagi ada masalah di luar, istri telpon, “Bi pulang cepat ada masalah di rumah.”

Tentu berbeda jika sekalipun memang ada masalah di rumah, tapi istri mengatakan, “Umi dan anak-anak mendoakan abi.” Tenang kita berangkat. Kita perlu ketenangan itu.

Basis ketahanan keluarga adalah basis yang kuat. Jadi yang menjadi fokus basis ketahanan keluarga oleh bidang perempuan ini sudah benar. Karena kita akan menghadapi masa seperti kaum muslimin di perang Khandaq. Makin kuat goncangan makin butuh halaman belakang yang solid.

Seorang ikhwan ketemu marah-marah sama saya, bukan sama saya tapi sebenarnya sedang stres. Memang nasib saya tak terlalu bagus hari ini. Stres di kerjaan selama lebih dari 12 jam. Pulang diomelin istri, nanti saya mau berdoa. Allah, berikanlah saya istri-istri yang tidak komplain terus sama saya.

Ini joke saja. Jadi memang berat kalau menghadapi dua perang seperi itu, butuh ketahanan jiwa yang luar biasa.

Ayat 27-28 itu Allah mulai merekonstruksi peristiwa perang Khandaq. Dan rekonstruksi ini dimulai dengan 2 premis. Ayat ke 7 dan 8 yang mengatakan: Dan ingatlah tatkala Allah mengambil dari Nabi-nabi itu sebuah perjanjian dan dari kamu Muhammad, dari Nuh, Musa, Isa, kami ambil dari mereka mitsaqon ghaliza. Semua goncangan ini adalah sunnah dalam perjalanan hidup.

Asyadun naas… yang paling keras ujian hidupnya adalah nabi-nabi, lalu yang paling dekat hidupnya dengan nabi-nabi. Jadi siapa saja yang melalui jalan ini pasti mengalami goncangan. Begitu juga Rasulullah saw.

Itu yang disebut mitsaqon ghaliza. Perjanjian yang keras. Supaya Allah menguji orang yang jujur. Kita berbaiat bukan dengan satu orang. Tapi baiat kita uahidullah al adziim. Berbaiat dengan Allah bukan dengan muroqib aam, atau presiden partai. Kadar kejujuran itu yang akan diuji, ini emasnya berapa karat.

Perhatikan Al Ahzab melukiskan Perang Khandaq dan detil-detilnya. Lalu ayat sesudahnya. Dalam jalan hidup kita pasti ada badai, badai ini untuk menguji kadar kejujuran kita itu. Jadi itu semua cuma ujian. Itu kan cuma peristiwa beberapa menit. Benar-benar seperti sebuah drama.

Premis kedua Allah mengatakan: Wahai orang-orang yang beriman ingatlah karunia Allah kepada kalian. Karena yang memenangkan pertarungan ini bukan strategi kalian yang sangat hebat tapi karena Allah menghendaki begitu.

Allah maunya begitu.

Jadi semua strategi ini cuma asbab. Tapi hasil akhirnya seluruhnya ketentuan Allah swt. Tatkala tentara-tentara itu datang kepada kalian, kami kirim kepada mereka badai/angin. Kenapa angin? Isyarat dari Allah bahwa tools Allah untuk menjalankan rencananya sangat banyak.

Memang hanya angin, tapi angin-angin dikumpulin jadi satu, efeknya beda. Angin-angin dikumpulin jadi badai. Dan tentara yang kalian tidak lihat. Dan Allah maha melihat apa yang kalian lakukan.

Detil lukisannya. Tatkala tentara-tentara itu datang di atas kalian... Perang khandaq terjadi pada tahun ke5. Pasukan terdiri dari 10ribu musyrikin. Ini perlu antum perhatian lukisan ini.

H-6 menjelang pertempuran info baru diketahui pasukan muslimin. Terdiri dari 4ribu musyrikin quraisy sisanya musyrikin arab non quraisy. Jadi mobilisasi terbesar dibanding 2 perang besar sebelumnya. Badar 1000 musyrikin, Uhud 3ribu musyrikin. Naik jadi 10 ribu ini mobilisasi yang luar biasa. Puncak mobilisasi.

Tapi yang lebih berbahaya karena info serangan baru diterima H-6. Muslimin Madinah ga siap makanya menggali parit setengah kota madinah. Saat itu musim dingin dan musim paceklik. Dingin madinah bagi yang tahu, beda dengan dinginnya puncak. Menusuk, mudah hidung mengeluarkan darah.

Maka parit khandaq itu digali sejauh lompatan kuda. Lebar 6 meter dalamnya 3 meter.

Masalah lain, bagaimana menyelesaikan pekerjaan itu dalam 6 hari? Itu sudah masalah tersendiri dan ini juga pelajaran tentang speed of consolidation, tingkat kecepatan konsolidasi.

Selain musyrikin dari luar, ada lagi pasukan yang dari bawah yang dekat dengan kalian. Yaitu yahudi madinah yang sudah tandatangan piagam NKRI sebelumnya. Jadi ada 3 kabilah besar yahudi berkolaborasi dengan 10 ribu yang ada di luar. Ada lagi kaum munafiqin dalam jamaah muslim. Ada lagi yang lain: dhuafa muslimin. Orang-orang lemah yang kata Allah: di antara kalian ada yang suka mendengarkan ocehan mereka itu.

Waktu partai diserang ada yang bilang jangan-jangan benar serangan itu.

Jadi ada musyrikin dari luar, ada yahudi, ada munafiqin. Dalam lukisan ini sangat pendek deskripsi tentang musyrikin, yang panjang justru tentang munafiqin dan dhuafa. Yang di dalam yang mengambat kamu, yang membuat kamu ragu-ragu untuk maju.

Begitulah ungkapan sebagian mereka. Musuh terlalu besar. Target terlalu besar. Apalagi hasil survei masih rendah.

Yang dari dalam itu yang paling berbahaya. Yang saya katakan tadi, reaksi penumpang di pesawat bisa beda-beda. Satu teriak-teriak ketakutan, ada yang diam saja. Ingatlah tatkala mata kalian membelalak dan jantung kalian sampai ke tenggorokan dan kalian mulai menduga yang buruk tentang Allah. Saat itulah orang beriman diuji segoncang-goncangnya.

Ada satu masa kita menghadapi semuanya. Apalagi pilot disorientasi, penumpang panik. Fasten seatbelt, dan tawakal. Itu saja.

Perhatikan, ini adalah drama, Allah mengendalikan semuanya, karena pertempuran ini tak selesai dengan pertempuran. Dalam drama Khandaq, apakah ada pertempuran? Begitu kaum musyrikin sampai, mereka bingung kok ada parit, bengong di depan parit itu. Akhirnya mereka mengalami disorientasi. Nunggu-nunggu begitu , yang terjadi saling menatap.

Saat itu pasukan muslimin dibagi dua: 3ribu di pinggir parit sisanya orangtua, perempuan, anak-anak di balik bukit.

Salah satu yang disuruh jaga bukit adalah Hasan bin Tsabit. Penyair, jadi agak mellow (grr..). Ada perempuan mengatakan ada yahudi yang mau menghasut kita, ya Hasan bunuh yahudi itu. Hasan gemetar karena takut, akhirnya perempuan itu yang membunuhnya.

Rajin mendengarkan hasutan dan takut ambil resiko, seperti pengikut nabi Musa: kita nunggu hasil aja deh. Dan ada orang yang seperi itu. Ini semua cuma drama. Bagaimana menyelesaikannya?

Pasukan musyrikin dikirimkan angin, dan Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dengan seluruh kemarahan mereka, target mereka tak tercapai. Dan Allah menghindarkan orang-orang beriman dari medan pertempuran.

Seperti ulat bulu, gampang saja Allah kirimkan. Dua orang yang sama bersiasat terhadap kita. Hatinya diputar-putar. Oleh Allah, dua orang ini bertengkar. Siapa yang bikin mereka bertengkar kita juga tak tahu. Ya Allah sibukkanlah orang zalim dengan sesama orang zalim. Karena Allah yang memutarb alikkan hatinya.

Kita diselamatkan Allah dengan caranya sendiri.

Coba antum bayangkan waktu kemarin kita hadapi operasi politik, saat itu kita dihadapkan perjanjian baru yang luar biasa mengekangnya. Oooh.. begini cara kerjanya.

Kita ulur-ulur terus sedikit-sedikit. Kita dengarkan semua sudah tandantangan tinggal PKS. Kita dengarkan terus, kita tahu semua ini hanya drama. Allah yang mengatur semua, ilmu kita ini tidak memadai . Waktu kita mau tandatangan, Ust Lutfi Tanya ke ust Hilmi, tandatandangan ustadz? Muroqib aam bilang tandatangan, kita sudah menang. 90% usul kita diterima di kontrak itu.

Di kontrak kita buat celah agar kita bisa exit ketika ada masalah, cuma orang tak tahu kapan exitnya. Dan kita punya dokumen-dokumen yang tak dimiliki partai lain. Waktu kemudian saya ketemu mereka, Pak Sudi, Pak Joko, saat peringatan hari lahir Pancasila, kita jabat tangannya agak enak.

Apakah ada pertempuran? Tak ada pertempuran. Diselesaikan dengan cara Allah swt.

Makanya ikhwah sekalian, dalam situasi sedemikian, tegangnya, tak tahu endingnya dan bikin orang panik, orang yang tak tersambung ke langit gampang menyerahnya. Tapi karena kita tahu skenario Allah, kita jadi tenang menghadapinya.

Waktu nabi Musa diserang Firaun, Allah justru nyuruh ke tepi laut. Teorinya orang dikejar itu larinya ke gunung. Ini ke tepi laut. Mau apa kita di sini? Itu kan hal yang sederhana. Ada rencana yang belum disampaikan Allah swt. Jangan laju dulu. Dikejar tapi jangan laju dulu.

Pada subuh harinya ayam berkokok tak subuh hari, tapi saat matahari mulai terbit. Jadi orang terlambat bangun. Tapi firaun masih santai karena merasa masih bisa menyusul Musa. Begitu Musa sampai di tepi laut, Allah perintahkan pukul tongkat itu.

Firaun bingung, darimana Musa dapat teknologi membelah laut? Setelah Musa dan pengikutnya lewat dan Firaun masuk ke tengah-tengah itu, maka close. Dan sebuah sejarah diakhiri.

Apakah ada pertempuran? Tak ada pertempuran.

Yang diperlukan keyakinan penuh yang tak mempan digoyang. Badasi sedikit, kader-kader banyak yang stres, under pressure. Begitu ada kecelakaan kejadian Arifinto, muncul suara dari kader: Pecat!

Padahal ini kesalahan pelanggaran menengah tak perlu sampai sebegitu sanksinya, tapi semua ikhwah di daerah minta pecat! Mundur! Dewan Syariah juga akhirnya under pressure. Akhirnya DSP bikin keputusan sendiri. Arifinto berjiwa besar. Dia ambil keputusan sendiri. Mengundurkan diri.

Tapi antum lihat, itulah efek kepanikan.

Dan sekarang efek ini pindah ke tempat lain. Sebenarnya secara hukum aneh, Nazarudin itu belum ada status hukumnya sudah dicekal. Tapi hakim-hakim sekarang menghadapi masalah yang juga dihadapi di masa suatu khalifah. Khalifah dan rakyat bertengkar. Hakim bingung. Kalau saya menangkan khalifah, dibilang saya subyektif menangin khalifah karena dia berkuasa. Kalau memenangkan rakyat – yang belum tentu benar – saya akan dielu-elukan karena berpihak pada rakyat.

Ini tak ada hubungannya dengan kasus Nazarudin, tapi kita lihat bahwa hakim bisa menghadapi masalah seperti ini.

Saya ketemu mantan ketua KPK Pak Ruki, yang saya katakan KPK bertaji ketika Pak Ruki jadi Ketuanya. Dia katakana permintaan publik terlalu besar. Kemampuan terlalu kecil. Kita dikasih satu kampak, yang mau ditebang hutan. Kita tebang, dibilang tebang pilih, habis itu semua teman kita jadi musuh, kita jadi kehilangan teman ,kehilangan keluarga. Kita menghadapi situasi seperti ini. Kekacauan seperti ini.

Serangan-serangan ini , kita butuh ketenangan.

Jadi ikhwah sekalian, dengan kesadaran bahwa kita menghadapi goncangan, sumber ketenangan kita berasal dari keyakinan kepada Allah swt yakin pertolongan bahwa ujian yang akan dihadapi ini bersifat indiividual. Ujian individual.

Negara ini hanyalah sumber daya yang kita perlukan, bukan yang kita tuju.

Peran utama kita adalah ustadziyah. Negara ini adalah sumber daya. Waktu kita buat partai cuma 3000 orang. Sekarang berapa kelipatanya? Siapa menteri keuangan jaman nabi Muhamad. Siapa kas jaman nabi? Ada kan? DPW Lampung punya kas ga? Kalo ga punya kas ga mungkin punya GSG begini.

Yang masuk islam sebelum hijrah beda dengan yang masuk islam pasca fathu makkah tentu berbeda. Sekitar 100 sampai 125 ribu orang. Yang pasca fathu mekkah masuk Islam karena apa? Karena politik. Yang masuk islam sebelum itu individual. Pemilih individual. Yang pasca fathu makkah komunal, politik. Terjadi kuantum pada kuantitas karena ada efek kemenangan.

Itulah efek Negara, Negara punya efek multiplier, mengapa yang masuk islam pas hijrah sedikit? Karena yang terbayang resiko. Liqo sembunyi-sembunyi. Resiko ditangkap. Jadi kita akan menghabiskan umur produktif kita underground. Yang sanggup melakoni ini adalah yang punya mentalitas hati bersih, akal sehat , berani pula. Ciri-ciri generasi pertama. Generasi muhajirin jumlahnya sedikit, tapi mereka yang memulai arus sejarah. Begitu berkembang jadi arus, yang lain follower. Orang-orang datang masuk islam.

Sebagian orang masuk islam bukan karena percaya pada islam tapi setelah melihat kekuatan islam. Yang masuk islam karena melihat kekuatan islam adalah pengikut politis.

Coba antum lihat berapa kader kita setelah kita jadi partai. Berapa kuantumnya? Berawal dari 500 orang. Lalu 800-an di awal berpartai. Sekarang 33 ribuan. Itulah efek Negara, jadi Negara adalah sumberdaya dan setiap ideologi butuh 2 hal. Pertama komunitas. Kedua, sumber daya. Pertama adalah qiyadah. Kedua junud, follower.

Tapi untuk membangun ini semua butuh sumber daya. Di PKS ideologi jelas. Komunitas jelas. Masalahnya di sumber daya. Kelak setelah PKS memegang Negara ini yang jadi gubernur bukan PKS, tapi mendaftar di PKS jadi gubernur.

Di pergaulan sehari-hari kita dengar ungkapan orang, hati saya di PKS. Itu efek Negara. Efek kemenangan. Mereka bukan saja membuka hati kepada islam tapi juga takut kepada islam.

Makanya fathu makkah 100ribu laki-laki perempuan. Apa yang mereka katakan. Hai Muhammad kamu ini adalah saudara yang mulia, putra dari saudara yang mulia. Begitu sanjungannya.

Akan ada waktunya orang datang pada antum: PKS kumpulan orang soleh, orang-orang dermawan, bagi dong (grr..). Itu sesuai marhalah mereka. Kata Nabi, kalian bebas. Saya tak datang untuk balas dendam. Bukan untuk membunuh tapi untuk buka mata kalian pada kebenaran.

Sekarang kita berbuat baik, masih gampang dioperasi. Nanti saatnya kita berkuasa orang akan berpikir, dia ini bukan cuma baik, tapi juga bisa balas dendam. Selama ini kita masih pakai tawakal saja. Sekarang kita yang akan menyerang mereka. Setelah itu mereka tak bisa menyerang kita lagi.

Ketika datang perintah haji, kafir Mekkah bilang tahulah kalau kita kalah sama orang Madinah, sekarang orang Madinah mau datang haji, apa maskudnya? Ngeledek. Show of force. Maka mereka ga boleh masuk. Lalu terjadilah Perjanjian Hudaibiyah, kenapa Rasulullah menerima. Ini posisi kita diserang. Situasi defensive juga ada di musyrik Qurais. Tahun berikutnya terjadi umroh qodho. Tahun berikutnya fathu makkah. Dan jumlah yang masuk islam pasca fathu makkah berkali lipat dibanding era mekkah sampai perang khandaq.

Negara adalah organisasi yang dibutuhkan masyarakat untuk mengatur Negara. Kalau ada bansos, boleh ga ikhwah nerima? Boleh saja tapi sesuai persyaratan dan perlu diorganisasi. Kalau ga ada organisasi ga ada pertandingan. Kalau ada organisasi tapi ga dihormati ujung-ujungnya perkelahian.

Tapi organisasi ini adalah infrastruktur. Ga ada isinya. Pernah suatu waktu, negara jalan sendiri, agama jalan sendiri. Ketika kita coba mengumpulkan keduanya, itu dalam konteks menyempurnakan infrastruktur dan isinya. Konten dan sumber daya.


Saya heran orang memperdebatkan agama. Ulama sunni menjelaskan hubungan agama dan Negara. Negara adalah penjaga. Agama adalah asasnya.

Kalo ga bikin partai tarbiyah jalan terus tapi tumbuh terbatas. Ketika kita maju ke Negara persoalannya bukan profesionalisme, tapi konfiden. Termasuk kita di DPP beranggapan jarak masih jauh karena butuh banyak keahlian, dst. Padahal sesungguhnya yang dibutuhkan adalah konfiden, rasa percaya diri. Ini bukan tujuan hanya sarana untuk mengukur seluruh rencana dakwah.

Tentang debat hari lahir Pancasila, memang ada kesalahan pada mindset kaum muslimin saat itu dalam memandang masalah. Bukankah Pancasila adalah perjanjian terbuka. Makanya seluruh aliran dimasukkan disini jadi konsensus bersama. Sila pertama cuma 2 yaitu asas religiusitas: semua org Indonesia Beragama. Maka yang dipakai adalah kalimat umum: ketuhanan yang Maha Esa. Karena Indonesia terlalu beragam. Dan karena pimpinan Indonesia saat itu menganut sosialis.

Kemanusiaan yang adil dan beradab. Persatuan Indonesia. Asasnya keadilan, ga ada kata kemakmuran karena kultur kita lebih berinterpretasi pada pemerataan daripada kemakmkuran. Baru ada di mukadimah UUD. Kita lihat ketika pancasila lahir, begitulah situasinya.

Ditanya PKS asasnya Pancasila atau Islam? Saya tanya apakah itu pertanyaan? Ini semua sudah selesai 3x. Pancasila adalah konsensus bersama. Selesai. Kenyataannya, sekarang pancasila ga dilirik lagi oleh anak muda. Maka PKS saatnya mentakeover seluruh isu nasionalisme (applause…). Jangan lagi jadi pertanyaan.

Ini semagnat sinkretisme di budaya jawa karena kalau antum lihat semua agama pernah lahir di Jawa. Beruntunglah sudah ada hindu dan budha, lalu Islam datang langsung jadi mayoritas. Kristen datang tapi jumlah penganutnya tidak terlalu berkembang.

Islam masuk melalui jalur niaga. Pedagang-pedagang arab. Mereka berdagang, dilihat akhlaknya bagus lalu kawin dengan anak raja. Lalu jadi raja. Begitulah Islam jadi mayoritas. Ini diceritakan dengan runtut oleh seorang penulis dari Australia. Dari abad 13 sampai dengan sekarang bisa dibilang seluruhnya adalah sejarah islam. Tapi common platform: seperti rasulullah ketika memfutuhkan mekkah. Persepsi awalnya orang-orang ini akan menyerang kita.

Mereka harus diredam semangat permusuhannya. Siapapun yang menyerang madinah, yang paling mungkin diserang adalah orang Islam. Tapi kepada Yahudi, kaum kafir di Madinah, Rasulullah bilang kita semua diperangi.

Wa mualafati qulubuhum. Ada orang yang perlu dilembut-lembutkan hatinya. Pakai apa? Pakai fulus.

Pancasila = common platform. Ketegangan ini lebih karena semangat orde baru memaksakan asas tunggal dan karena islam sudah lama termarjinalisasi. Dan orang Islam seperti melihat Negara di kejauhan.

Di harlah pancasila ada ikhwah pakai kopiah putih. Ditanya kok ga pake kopiah hitam? Dia jawab urusan saya bukan sama pancasila, urusan saya sama quran dan sunnah. Bagaimana mempertahankan mindset ini pada saat yang sama kita yang harus mengisi ruang kosong yang ada sekarang.

Tahun 2008 kita ingin membuka sekat-sekat islam dan nasionalisme. Sekarang bukan lagi menghilangkan sekatnya tapi take over agar kita bukan cuma bicara atas nama umat tapi atas nama bangsa keseluruhan.

Oleh karenanya perlu memperdalam tsaqofah nasionalisme. Untuk memperkuat semangat memiliki negara ini. Kita bukan orang luar. Kita ini orang dalam. Ahlul bayt Negara ini. Sifat-sifat, perasaan ini, yang harus dihilangkan. Salah satu sebab kemenangan adalah hilangnya kepercayaan pada partai-partai lama. Tapi pertanyaannya adalah apakah PKS bisa mewakili semua pihak bukan hanya dirinya sendiri,

1999 kita ikut sidang baru dikasih hak bicara. Kita belum memimpin sidang. Sekarang punya hak mengambil keputusan. Apa kerjanya kalau belum menguasai Negara? Mengangkat orang agar menguasai jabatan.

Wallahu alam.

(not. detti febrina)

*)sumber: http://berandakeadilan.blogspot.com/2011/06/taujih-sekjen-pks-tak-semua-masalah.html

Sabtu, 25 Juni 2011

Sabtu, 25 Juni 2011

Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro

Oleh Ust. Anis Matta*

RASANYA PERBINCANGAN kita tentang syuro tidak akan lengkap tanpa membahas masalah yang satu ini. Apa yang harus kita lakukan seandainya tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana "mengelola" ketidaksetujuan itu?

Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.

Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.

Di sinilah kita memperoleh "pengalaman keikhlasan" yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro.

Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani "pengalaman keikhlasan" seperti itu? Pertama, marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu "upaya ilmiah" seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar "lintasan pikiran" yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.

Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.

Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, "Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."

Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan "kebenaran objektif" atau sebenarnya ada "obsesi jiwa" tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk "ngotot"? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah "obsesi jiwa" kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun —karena faktor setan— kita mengatakannya demikian.

Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., "Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan." Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.


Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.

Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.

Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.

Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.

Keempat, sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.

Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.

Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak. ***



*diambil dari buku Anis Matta: 'Menikmati Demokrasi' (cetakan 1, Juli 2002)

nb: Ustadz Anis memang seorang yang briliant, visioner. Jauh lama sebelum 'hiruk pikuk' prahara jama'ah seperti yang sekarang ini, beliau sudah memberi guide bagi jama'ah ini agar tetap eksis, kokoh dalam menghadapi 'segala kemungkinan yang bakal terjadi'. [admin]

---
sumber: http://pkskrukut.multiply.com/journal/item/49


Suluk Tanzhimi Si ‘Pedang Allah’


Jutaan orang tidak dapat melebihi keutamaanmu….
Mereka gagah perkasa tapi tunduk di ujung pedangmu…
Engkau pemberani melebihi Singa Betina…..
Yang sedang mengamuk melindungi anaknya……
Engkau lebih dahsyat dari air bah…..
Yang terjun dari celah bukit curam ke lembah……

Sabtu, 18 Juni 2011

Sabtu, 18 Juni 2011

Iblis Datang dari Muka, Belakang, Kanan, dan Kiri Kita



Di dalam Al Qur’an, akan kita dapati sebuah rekaman dialog antara Allah SWT dengan iblis yang dihukum oleh Allah. Dalam dialog tersebut, iblis menyatakan untuk selalu menyesatkan manusia. Hal tersebut terekam dalam surat Al A’raf ayat 16-17 berikut ini:

Rabu, 15 Juni 2011

Rabu, 15 Juni 2011

Perajin Emas dan Kuningan

By Ust. Irfan Toni Herlambang 

Di sebuah negeri hiduplah dua orang perajin yang tinggal bersebelahan. Mereka adalah perajin emas dan perajin kuningan. Keduanya telah lama menjalani pekerjaan itu, sebab itu pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun. Telah banyak pula barang yang dihasilkan: cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai penghias.

Sabtu, 11 Juni 2011

Sabtu, 11 Juni 2011

PENGHASILAN DINDA


Penghasilan dinda, bukan milik kanda, hanya untuk dinda.
Bahkan, kanda akan berdosa, bila menyuruh dinda mencari nafkah.
Tetapi, waktu-waktu terbaik dinda, bukan untuk anak-anak kita.
Sepadankah pengorbanan ini, dinda.
(sms pak adil kepada istrinya)
 

TAK SEMUA MASALAH POLITIK HARUS DISELESAIKAN DENGAN CARA POLITIK


Ust. Anis Matta

 Assalamualaikum wr wb

 Ikhwan dan akhwat sekalian para mas'ulin DPW Lampung, dan Wilda Sumatra, dan seluruh kader yang saya cintai. Saya bersyukur sekali bisa datang ke sini pagi ini meresmikan gedung baru DPW (GSG) yang lebih bagus dari milik DPP (applause …). Target menuju 3 besar sudah semakin dekat. Apalagi saya juga tahu bahwa di beberapa kabupaten di Lampung ini sudah nomor 3 ya.

Ikhwan akhwat sekalian.
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah ke Malaysia. Tiba-tiba ada goncangan pesawat kemudian ada pengumuman dari pilot "Para penumpang sekalian kita akan mengalami goncangan selama 15 menit setelah itu cuaca akan kembali baik." Setelah 15 menit goncangan benar berhenti, pesawat terbang normal dan kita landing di Kuala Lumpur dengan selamat. Saya mengingat itu terus menerus karena kita sedang menghadapi operasi politik secara bersamaan. Dan saya yakin operasi politik itu hanya akan berlangsung 15 menit setelah itu goncangan kembali ke tempat lain, bukan karena kita yang mengarahkan anginnya ke sana (grr..). Goncangan sudah merupakan kemestian yang akan kita hadapi.

Jadi ikhwah sekalian. Dari perjalanan itu saya mencoba-coba rekonstruksi kembali bahwa memang perjalanan kita ini ketika kita memasuki mihwar muasasi bergumul di ruang politik yang luar biasa dahsyatnya. Ikhwah sekalian saya pernah tanya seorang pilot apa bedanya menerbangkan pesawat siang hari dan malam hari. Pilot menjawab sama saja karena ketika kita sudah di ketinggian yang ada hamparan kosong. Kanan kiri depan semuanya hanya ada awan.
Jadi gelap dan terang tidak penting bagi kita, jawab pilot. Jadi bagaimana cara anda mengetahui arah kalau tak ada bedanya siang atau malam. Kita pake GPS. GPS yang menuntun perjalanan kita ini. Jadi, hal pertama yang diperlukan seorang pilot adalah GPS. Jadi kalo GPSnya ada masalah pasti dia punya masalah, karena ketika kita sudah ngga di bawah kita ngga tau posisi, kalau bukan karena ada GPS

Saya hadir di Seminar Mukjizat Al Quran tahun 1986. Saya salah satu penerjemah. Salah satu temanya adalah tentang cuaca.  Ayat-ayat AlQuran tentang awan menunjukkan bahwa seluruh yang ada di alam semesta tak bisa kita pastikan apalagi dikendalikan tapi bisa kita ramal. Badai kemana bisa kita ramal.Jadi karena itu seorang pilot harus terus berkomunikasi dengan orang yang ada di tower untuk mendapatkan update info terbaru tentang keadaan cuaca yang keadaan ini adalah fata yang tak bisa dikendalikan tapi bisa disiasati. Jadi kalau ada perubahan cuaca mendadak, tower bisa bilang rute dirubah, tapi destinasi tak berubah. Jadi seorang pilot menerbangkan pesawat butuh 2 hal ini. Pertama GPS, kedua ramalan cuaca

Seorang pilot tak bisa mengendalikan cuaca di luar. Itu di luar kendali sama sekali. Makanya kemungkinan dia mengalami kecelakaan selalu ada. Kita juga tak bisa mengendalikan lingkungan yang ada di luar kita ini. Yang ada dalam analisa-analisa manajemen strategis disebut lingkungan strategis yaitu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi situasi dimana kita berada. Kita tak bisa memastikannya walau kita bisa membaca dan membuat prediksi-prediksi ang disebut prakiraan keadaan. Tapi semua prediksi ini adalah prediksi yang tidak pasti, tapi diperlukan karena itu memberi kita info real time terhadap situasi yang berkembang.
Oleh karena itu, kalau ada keadaan cuaca yang buruk, pilot bilang: tolong kencangkan ikat pinggang. Selain itu apalagi yang bisa kita lakukan?

 Ketika Merapi meletus , ke Jogja yang normalnya 50 menit jadi 2 jam. Di pesawat semua pengurus DPP ada disitu. Ketua Majelis Syuro, Bendahara, semua.  Jadi kalau pesawat jatuh, kita harus munaslub (grr..).  Pesawat bisa tiba-tiba turun 40 meter. Semua diam. Semua dzikir. Ini bukan goncangan 15 menit. Karena sudah tegang semua tak ada yang bahkan berbisik dengan tetangga. Kita semua tegang jamai. Lalu saya menoleh ke belakang dan mengangkat tangan: Assalamualaikum. Kita jadi agak normal kembali walau goncangan tetap saja

Sekali waktu dalam perjalanan ke batam naik pesawat. Transit di pekanbaru, pilot bilang ada kerusakan di mesin jadi kita harus kembali. Beberapa waktu kemudian ada pengumuman dari pilot kerusakan tidak terlalu parah jadi kita lanjutkan perjalanan. Dalam situasi begitu tak ada yang bisa kita lakukan selain kencangkan ikat pinggang dan .. berdoa.
Ikhwah fillah sekalian, Tak semua masalah politik harus kita selesaikan dengan cara politik.Kalau antum lihat di AQ kata yang paling banyak terkait dengan sifat atau karakter adalah sabar. Sabar itu artinya bukan bertahan. Tapi terus menerus maju dengan beban yang ada.

 Dan pesawat itu kalau ada guncangan yang kita lakukan adalah kencangkan ikat pinggang, bukannya pesawat berhenti parkir di tengah badai. Kita dapat laporan dari wartawan. Macam-macam. Dalam situasi begini, kita akan hadapi pakai cara apa? Saat perjanjian hudaibiyah sahabat sampai makan daun. Ada saatnya kencangkan ikat pingganag karena tak ada lain yang bisa dilakukan. Fitnah itu, kata ulama, saking buruknya situasi kita tak bisa lihat tangan kita sendiri

 Dan saat seperti itu, yang duduk lebih baik daripada yang berdiri. Yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan. Ada saatnya kita kencangkan ikat pinggang. Kalau antum ambil doa dari orang seperti ayahandanya Nabi Yusuf: Saya hanya mengadukan semua kegelisahan saya kepada Allah. Ada kisah seorang soleh dirampok di tengah jalan. Tapi perampok merasa tak cukup hanya mengambil hartanya. Saya juga ingin membunuh kamu. Kata orang soleh, tapi kasih saya kesempatan sholat 2 rakaat. Waktu sholat dia berdoa, "ya Allah hadapilah orang ini." Sebelum dia selesai sholat, perampok sudah mati

 Kaum salaf di antara doa-doa mereka, "Ya Allah ketemukanlah orang zolim dengan sesama orang zalim dan keluarkan kami dari mereka dengan selamat." Waktu video mirip saya keluar ada yang mengatakan  harus ada operasi politik. Saya katakan lebih baik kita umroh saja sambil menghibur diri dan mohon pertolongan Allah. Kita berdoa dan tak tahu kapan isu itu reda tapi sebelum saya pulang umroh, isu itu reda. Tidak semua masalah politik harus diselesaikan dengan cara politik. Langit punya cara. Basis spiritual kita harus diperkuat  dalam berdakwah. Dengan basis ini kita punya keyakinan

 Allah berfirman bersabarlah karena janji Allah itu benar dan jangan orang-orang yang tidak percaya itu menggoyahkan kamu. Jalan terus tawakkal sambil kencangkan ikat pinggang. Itu cara kita mensiasati. Kita tak hanya berdiam diri.
Kita juga butuh informasi real time. Sambil aware, jangan sampai badai terjadi baru kita mau belok. Tapi kita sudah dapat informasi ini mau ada badai, kita sudah siap. Jadi ikhwah fillah sekalian, pesawat itu kan goyang-goyang waktu ada badai. Reaksi penumpang beda-beda. Ada yang diam pegang ikat pinggang, ketika goncang menguat naik turun seperti itu ada yang teriak, ada juga yang muntah-muntah

Kalau goncangan lama banyak yang stress. Naik kapal perintis ke Ambon selama 3 hari. Kami harus berpegangan di kapal selama 3 hari berturut-turut. 3 bulan recovery karena jalan itu seraya goyang dunia. Pada akhirnya kita berpikir bahwa ujung dari semua ini adalah kematian. Tapi ada juga yang sempat berpikir tentang daftar utang yang belum dibayar. Ada juga yang mikir belum walimah. Goncangan seperti inilah yang disebut amaliyah tamyiz, proses seleski internal di antara kita sendiri

Orang-orang yang stress dalam perjalanan panjang itu juga reaksinya macam-macam. Ada yang menyalahkan pilot. Tadi kenapa ga bilang banyak badai, kalo kita tahu kan ga usah terbang. Tapi apapun reaksi antum, kita harus terus jalan, karena kita tak mungkin berhenti di tengah badai itu, hancur diombang-ambingkan entah mendarat dimana tak jelas. Jadi apapun yg terjadi di luar, di dalam tak boleh gaduh karena gaduh tak menyelesaikan masalah. Bagaimana kalau lagi goncang begitu nyalah-nyalahin pilot terus pilot bilang ya sudah anda saja ambil alih pesawat. Situasi seperti inilah yang sedang kita hadapi

 Perlu diingat, kita naik pesawat ini sukarela, kita memilih naik di pesawat ini. Keputusan pribadi resiko pribadi kitapun kita sendiri menyetujuinya. Nah ikhwah sekalian, Dalam keadaan seperti ini kita melihat antara cuaca yang ada di luar dengan reaksi penumpang yang ada di dalam menentukan situasi apakah kita akan tiba di tujuan dengan selamat.
Setelah melampaui operasi politik yang luar biasa, saya coba-coba cari inspirasi karena baca di teori-teori politik ga ada teorinya. Semua asumsi teori politik dilandaskan atas asumsi normal. Saya mencoba mencari insipirasi dimana kita berada. Saya baca-baca terus Surat Al-Ahzab. Saya menemukan banyak inspirasi di surat ini yang artinya partai-partai, golongan-golongan, multipartai

 Ayat 1 sd ayat 7, berbicara tentang keluarga. Ayat 7-27 bicara tentang situasi perang Khandaq. Ayat 28 dst bicara kembali tentang keluarga. Seakan 2 surat ini ingin mengatakan setiap kita punya 2 dunia. Dunia keluarga dan di luar keluarga. Dan kita bisa menghadapi goncangan-goncangan apabila situasi keluarga juga tenang. Bisa dibayangkan jika di luar terjadi goncangan, lalu pulang ke rumah juga dapat goncangan.
Situasi keluarga ini juga digambarkan dalam alquran terkait permintaan tawaran Nabi kepada istri-istrinya. Tawarkan kepada istri-istrimu: Katakan hai Muhammad, bahwa kalau kamu menginginkan kenikmatan dunia maka akan saya berikan kenikmatan dunia, lalu saya ceraikan kalian. Artinya putus hubungan. Ini dilakukan supaya kita tak menghadapi dua front sekaligus.
Salah satu pembahasan tentang Palestina waktu di Sudan, pimpinan Hhamas diprotes sama beberapa  ikhwan dari negara lain. Hamas ini kan gerakan perlawanan, Muqawamah. Misinya jihad. Anda sudah melakukanyna. Tapi 4 tahun terakhir anda memegang Gaza dan tak lagi berperang. Hanya keliling-keliling cari duit untuk dibagikan ke rakyat Gaza, sudah menikmati kenikmatan dunia karena berkuasa. Saya pikir benar juga logis juga 4 tahun tak ada perang.
Kenapa anda tak menyerang Israel
Kenapa tak dipakai serang Israel? Sudah punya roket, basis kota, dll. Ust. Khalid Misyal menjawab tenang. Kalo kita bertempur kita memerlukan hal yang disebut halaman belakang, jadi kalau prajurit maju dia capek mundur istirahat di halaman belakang. Lalu maju lagi. Seperti mujahidin Afgan melawan Uni Soviet punya halaman belakang namanya Pakistan. Tapi kita di palestina tak punya halaman belakang karena seluruh tetangga palestina dalah kolaborator Israel. Yordan, Syria, Mesir, Libanon tak ada yang bisa jadi halaman belakang  Orang Palestina manusia biasa juga. Kalau bertempur terus lalu stress bisa melakukan kesalahan terlalu banyak atau bahkan jadi kanibalis. Itu yang tak dimiliki Hamas sekarang. Halaman belakang Hamas adalah Gaza. Kasih kita waktu untuk istirahat.
Kalau perang terus yang mempunyai masalah bukan cuma mujahidinnya tapi juga keluarga yang ditinggal. Seperti masa Khalifah Umar bin Khatab. Seorang perempuan berpantun ria. Isinya aneh kira-kira begini: Demi Allah kalau bukan karena takut padamu, niscaya ranjang ini sudah bergoyang dengan laki-laki lain. Saat menghadapi perang Timtim, ada tentara yang jadi kanibalis. Ketemu rumah dibakar, orang disembelih, hewan disembelih. Sampai sekarang orang ini kalau ga lihat darah dalam seminggu bisa stres

 Jadi di pesawat disuruh kencangkan ikat pinggang, ingat bahwa kita meninggalkan rumah. Terus pulang ingat akan perang lagi. Sampai ada yang bilang mending pesawat ini meledak saja sekalian Jadi ikhwah sekalian, halaman belakang kita itu adalah rumah kita sendiri. Bayangkan. Lagi ada masalah di luar, istri telpon, "Bi pulang cepat ada masalah di rumah." Tentu berbeda jika sekalipun memang ada masalah di rumah, tapi istri mengatakan, "Umi dan anak-anak mendoakan  abi." Tenang kita berangkat. Kita perlu ketenangan itu

 Basis ketahanan keluarga adalah basis yang kuat. Jadi yang menjadi fokus basis ketahanan keluarga oleh bidang perempuan ini sudah benar. Karena kita akan menghadapi masa seperti kaum muslimin di perang Khandaq. Makin kuat goncangan makin butuh halaman belakang yang solid. Seorang ikhwan ketemu marah-marah sama saya, bukan sama saya tapi sebenarnya sedang stres. Memang nasib saya tak terlalu bagus hari ini. Stres di kerjaan selama lebih dari 12 jam. Pulang diomelin istri, nanti saya mau berdoa. Allah, berikanlah saya istri-istri yang tidak komplain terus sama saya.
Ini joke saja. Jadi memang berat kalau menghadapi dua perang seperi itu, butuh ketahanan jiwa yang luar biasa

 Ayat 27-28 itu Allah mulai merekonstruksi peristiwa perang Khandaq. Dan rekonstruksi ini dimulai dengan 2 premis. Ayat ke 7 dan 8 yang mengatakan: Dan ingatlah tatkala Allah mengambil dari Nabi-nabi itu sebuah perjanjian dan dari kamu Muhammad, dari Nuh, Musa, Isa, kami ambil dari mereka mitsaqon ghaliza.  Semua goncangan ini adalah sunnah dalam perjalanan hidup.
Asyadun naas…  yang paling keras ujian hidupnya adalah nabi-nabi, lalu yang paling dekat hidupnya dengan nabi-nabi. Jadi siapa saja yang melalui jalan ini pasti mengalami goncangan. Begitu juga Rasulullah saw.
Itu yang disebut mitsaqon ghaliza. Perjanjian yang keras. Supaya Allah menguji orang yang jujur. Kita berbaiat bukan dengan satu orang. Tapi baiat kita uahidullah al adziim. Berbaiat dengan Allah bukan dengan muroqib aam, atau presiden partai. Kadar kejujuran itu yang akan diuji, ini emasnya berapa karat

 Perhatikan Al Ahzab melukiskan Perang Khandaq dan detil-detilnya. Lalu ayat sesudahnya.  Dalam jalan hidup kita pasti ada badai, badai ini untuk menguji kadar kejujuran kita itu. Jadi itu semua cuma ujian. Itu kan cuma peristiwa beberapa menit   Lalu ayat sesudahnya.  Dalam jalan hidup kita pasti ada badai, badai ini untuk menguji kadar kejujuran kita itu. Jadi itu semua cuma ujian. Itu kan cuma peristiwa beberapa menit. Benar-benar seperti sebuah drama.
Premis kedua Allah mengatakan:  Wahai orang-orang yang beriman ingatlah karunia Allah kepada kalian. Karena yang memenangkan pertarungan ini bukan strategi kalian yang sangat hebat tapi karena Allah menghendaki begitu.
Allah maunya begitu2x.

Jadi semua strategi ini cuma asbab. Tapi hasil akhirnya seluruhnya ketentuan Allah swt.  Tatkala tentara-tentara itu datang kepada kalian, kami kirim kepada mereka badai/angin. Kenapa angin? Isyarat dari Allah bahwa tools Allah untuk menjalankan rencananya sangat banyak. Memang hanya angin, tapi angin-angin dikumpulin jadi satu, efeknya beda.
Angin-angin dikumpulin jadi badai. Dan tentara yang kalian tidak lihat. Dan Allah maha melihat apa yang kalian lakukan.
Detil lukisannya. Tatkala tentara-tentara itu datang di atas kalian...
Perang khandaq terjadi pada tahun ke5. Pasukan terdiri dari 10ribu musyrikin. Ini perlu antum perhatian lukisan ini

H-6  menjelang pertempuran info baru diketahui pasukan muslimin. Terdiri dari 4ribu musyrikin quraisy sisanya musyrikin arab non quraisy. Jadi mobilisasi terbesar dibanding 2 perang besar sebelumnya. Badar 1000 musyrikin, Uhud 3ribu musyrikin. Naik jadi 10 ribu ini mobilisasi yang luar biasa. Puncak mobilisasi. Tapi yang lebih berbahaya karena info serangan baru diterima H-6. Muslimin Madinah ga siap makanya menggali parit setengah kota madinah. Saat itu musim dingin dan musim paceklik. Dingin madinah bagi yang tahu, beda dengan dinginnya  puncak. Menusuk, mudah hidung mengeluarkan darah. Maka parit khandaq itu digali sejauh lompatan kuda. Lebar 6 meter dalamnya 3 meter

Masalah lain, bagaimana menyelesaikan pekerjaan itu dalam 6 hari? Itu sudah masalah tersendiri dan ini juga pelajaran tentang speed of consolidation, tingkat kecepatan konsolidasi. Selain musyrikin dari luar, ada lagi pasukan yang dari bawah yang dekat dengan kalian. Yaitu yahudi madinah yang sudah tandatangan piagam NKRI sebelumnya. Jadi ada 3 kabilah besar yahudi berkolaborasi dengan 10 ribu yang ada di luar. Ada lagi kaum munafiqin dalam jamaah muslim. Ada lagi yang lain: dhuafa muslimin. Orang-orang lemah yang kata Allah: di antara kalian ada yang suka mendengarkan ocehan mereka itu

Waktu partai diserang ada yang bilang jangan-jangan benar serangan itu. Jadi ada musyrikin dari luar, ada yahudi, ada munafiqin. Dalam lukisan ini sangat pendek deskripsi tentang musyrikin, yang panjang justru tentang munafiqin dan dhuafa. Yang di dalam yang mengambat kamu, yang membuat kamu ragu-ragu untuk maju.
Begitulah ungkapan sebagian mereka. Musuh terlalu besar. Target terlalu besar. Apalagi hasil survei masih rendah.
Yang dari dalam itu yang paling berbahaya. Yang saya katakan tadi, reaksi penumpang di pesawat bisa beda-beda. Satu teriak-teriak ketakutan, ada yang diam saja. Ingatlah tatkala mata kalian membelalak dan jantung kalian sampai ke tenggorokan dan kalian mulai menduga yang buruk tentang Allah. Saat itulah orang beriman diuji segoncang-goncangnya

Ada satu masa kita menghadapi semuanya. Apalagi pilot disorientasi, penumpang panik. Fasten seatbelt, dan tawakal. Itu saja. Perhatikan, ini adalah drama, Allah mengendalikan semuanya, karena pertempuran ini tak selesai dengan pertempuran. Dalam drama Khandaq, apakah ada pertempuran? Begitu kaum musyrikin sampai, mereka bingung kok ada parit, bengong di depan parit itu. Akhirnya mereka mengalami disorientasi. Nunggu-nunggu begitu , yang terjadi  saling menatap.

Saat itu pasukan muslimin dibagi dua: 3ribu di pinggir parit sisanya orangtua, perempuan, anak-anak di balik bukit.
Salah satu yang disuruh jaga bukit adalah Hasan bin Tsabit. Penyair, jadi agak mellow (grr..).  Ada perempuan mengatakan ada yahudi yang mau menghasut kita, ya Hasan bunuh yahudi itu. Hasan gemetar karena takut, akhirnya perempuan itu yang membunuhnya. Rajin mendengarkan hasutan dan takut ambil resiko, seperti pengikut nabi
Musa: kita nunggu hasil aja deh. Dan ada orang yang seperi itu. Ini semua cuma drama. Bagaimana menyelesaikannya?

Pasukan musyrikin dikirimkan angin, dan Allah mengembalikan orang-orang kafir itu dengan seluruh kemarahan mereka, target mereka tak tercapai. Dan Allah menghindarkan orang-orang beriman dari medan pertempuran.
Seperti ulat bulu, gampang saja Allah kirimkan. Dua orang yang sama bersiasat terhadap kita. Hatinya tdiputar-putar. Oleh Allah, dua orang ini bertengkar. Siapa yang bikin mereka bertengkar kita juga tak tahu. Ya Allah sibukkanlah orang zalim dengan sesama orang zalim. Karena Allah yang memutarb alikkan hatinya. Kita diselamatkan Allah dengan caranya sendiri.

Coba antum bayangkan waktu kemarin kita hadapi operasi politik, saat itu kita dihadapkan perjanjian baru yang luar biasa mengekangnya. Oooh.. begini cara kerjanya. Kita ulur-ulur terus sedikit-sedikit. Kita dengarkan semua sudah tandantangan tinggal PKS. Kita dengarkan terus, kita tahu semua ini hanya drama. Allah yang mengatur semua, ilmu kita ini tidak memadai . Waktu kita mau tandatangan, Ust Lutfi Tanya ke ust Hilmi, tandatandangan ustadz?
Muroqib aam bilang tandatangan, kita sudah menang. 90% usul kita diterima di kontrak itu.

Di kontrak kita buat celah agar kita bisa exit ketika ada masalah, cuma orang tak tahu kapan exitnya. Dan kita punya dokumen-dokumen yang tak dimiliki partai lain. Waktu kemudian saya ketemu mereka, Pak Sudi, Pak Joko, saat peringatan hari lahir Pancasila, kita jabat tangannya agak enak

Apakah ada pertempuran? Tak ada pertempuran. Diselesaikan dengan cara Allah swt. Makanya ikhwah sekalian, dalam situasi sedemikian, tegangnya, tak tahu endingnya dan bikin orang panik, orang yang tak tersambung ke langit gampang menyerahnya. Tapi karena kita tahu skenario Allah, kita jadi tenang menghadapinya.

Waktu nabi Musa diserang Firaun, Allah justru nyuruh ke tepi laut. Teorinya orang dikejar itu larinya ke gunung. Ini ke tepi laut. Mau apa kita di sini? Itu kan hal yang sederhana. Ada rencana yang belum disampaikan Allah swt.
Jangan laju dulu. Dikejar tapi jangan laju dulu. Pada subuh harinya ayam berkokok tak subuh hari, tapi saat matahari mulai terbit. Jadi orang terlambat bangun. Tapi firaun masih santai karena merasa masih bisa menyusul Musa. Begitu Musa sampai di tepi laut, Allah perintahkan pukul tongkat itu. Firaun bingung, darimana Musa dapat teknologi membelah laut? Setelah Musa dan pengikutnya lewat dan Firaun masuk ke tengah-tengah itu, maka close. Dan sebuah sejarah diakhiri. Apakah ada pertempuran? Tak ada pertempuran

Yang diperlukan keyakinan penuh yang tak mempan digoyang. Badasi sedikit, kader-kader banyak yang stres, under pressure. Begitu ada kecelakaan kejadian Arifinto, muncul suara dari kader: Pecat!
Padahal ini kesalahan pelanggaran menengah tak perlu sampai sebegitu sanksinya, tapi semua ikhwah di daerah minta pecat! Mundur! Dewan Syariah juga akhirnya under pressure. Akhirnya DSP bikin keputusan sendiri. Arifinto berjiwa besar. Dia ambil keputusan sendiri. Mengundurkan diri. Tapi antum lihat, itulah efek kepanikan

Dan sekarang efek ini pindah ke tempat lain. Sebenarnya secara hukum aneh, Nazarudin itu belum ada status hukumnya sudah dicekal. Tapi hakim-hakim sekarang menghadapi masalah  yang juga dihadapi di masa suatu khalifah.
Khalifah dan rakyat bertengkar. Hakim bingung. Kalau saya menangkan khalifah, dibilang saya subyektif menangin khalifah karena dia berkuasa.Kalau memenangkan rakyat – yang belum tentu benar – saya akan dielu-elukan karena berpihak pada rakyat.Ini tak ada hubungannya dengan kasus Nazarudin, tapi kita lihat bahwa hakim bisa menghadapi masalah seperti ini.
Saya ketemu mantan ketua KPK Pak Ruki, yang saya katakan KPK bertaji ketika Pak Ruki jadi Ketuanya. Dia katakana permintaan publik terlalu besar. Kemampuan terlalu kecil. Kita dikasih satu kampak, yang mau ditebang hutan.
Kita tebang, dibilang tebang pilih, habis itu semua teman kita jadi musuh, kita jadi kehilangan teman ,kehilangan keluarga. Kita menghadapi situasi seperti ini. Kekacauan seperti ini
Serangan-serangan ini , kita butuh ketenangan.
Jadi ikhwah sekalian, dengan kesadaran bahwa kita menghadapi goncangan, sumber ketenangan kita berasal dari keyakinan kepada Allah swt yakin pertolongan bahwa ujian yang akan dihadapi ini bersifat indiividual. Ujian individual.
Negara ini hanyalah sumber daya yang kita perlukan, bukan yang kita tuju.

Peran utama kita adalah ustadziyah. Negara ini adalah sumber daya. Waktu kita buat partai cuma 3000 orang. Sekarang berapa kelipatanya? Siapa menteri keuangan jaman nabi Muhamad. Siapa kas jaman nabi? Ada kan? DPW Lampung punya kas ga? Kalo ga punya kas ga mungkin punya GSG begini. Yang masuk islam sebelum hijrah beda dengan yang masuk islam pasca fathu makkah tentu berbeda. Sekitar 100 sampai 125 ribu orang. Yang pasca fathu mekkah masuk Islam karena apa? Karena politik. Yang masuk islam sebelum itu individual. Pemilih individual. Yang pasca fathu makkah komunal, politik.
Terjadi kuantum pada kuantitas karena ada efek kemenangan. Itulah efek Negara, Negara punya efek multiplier, mengapa yang masuk islam pas hijrah sedikit? Karena yang terbayang resiko. Liqo sembunyi-sembunyi.
Resiko ditangkap. Jadi kita akan menghabiskan umur produktif kita underground. Yang sanggup melakoni ini adalah yang punya mentalitas hati bersih, akal sehat , berani pula. Ciri-ciri generasi pertama. Generasi muhajirin jumlahnya sedikit, tapi mereka yang memulai arus sejarah. Begitu berkembang jadi arus, yang lain follower. Orang-orang datang masuk islam.

Sebagian orang masuk islam bukan karena percaya pada islam tapi setelah melihat kekuatan islam. Yang masuk islam karena melihat kekuatan islam adalah pengikut politis. Coba antum lihat berapa kader kita setelah kita jadi partai. Berapa kuantumnya? Berawal dari 500 orang. Lalu 800-an di awal berpartai. Sekarang 33 ribuan. Itulah efek Negara, jadi Negara adalah sumberdaya dan setiap ideologi butuh 2 hal. Pertama komunitas. Kedua, sumber daya. Pertama adalah qiyadah. Kedua junud, follower. Tapi untuk membangun ini semua butuh sumber daya. Di PKS ideologi jelas.
Komunitas jelas. Masalahnya di sumber daya. Kelak setelah PKS memegang Negara ini yang jadi gubernur bukan PKS, tapi mendaftar di PKS jadi gubernur

Di pergaulan sehari-hari kita dengar ungkapan orang, hati saya di PKS. Itu efek Negara. Efek kemenangan. Mereka bukan saja membuka hati kepada islam tapi juga takut kepada islam. Makanya fathu makkah 100ribu laki-laki perempuan. Apa yang mereka katakan. Hai Muhammad kamu ini adalah saudara yang mulia, putra dari saudara yang mulia. Begitu sanjungannya. Akan ada waktunya orang datang pada antum: PKS kumpulan orang soleh, orang-orang dermawan, bagi dong (grr..). Itu sesuai marhalah mereka. Kata Nabi, kalian bebas. Saya tak datang untuk balas dendam. Bukan untuk membunuh tapi untuk buka mata kalian pada kebenaran

Sekarang kita berbuat baik, masih gampang dioperasi. Nanti saatnya kita berkuasa orang akan berpikir, dia ini bukan cuma baik, tapi juga bisa balas dendam. Selama ini kita masih pakai tawakal saja. Sekarang kita yang akan menyerang mereka.  Setelah itu mereka tak bisa menyerang kita lagi. Ketika datang perintah haji, kafir Mekkah bilang tahulah kalau kita kalah sama orang Madinah, sekarang orang Madinah mau datang haji, apa maskudnya?
Ngeledek. Show of force. Maka mereka ga boleh masuk. Lalu terjadilah Perjanjian Hudaibiyah, kenapa Rasulullah menerima. Ini posisi kita diserang. Situasi defensive juga ada di musyrik Qurais. Tahun berikutnya terjadi umroh qodho. Tahun berikutnya fathu makkah. Dan jumlah yang masuk islam pasca fathu makkah berkali lipat dibanding era mekkah sampai perang khandaq

Negara adalah organisasi yang dibutuhkan masyarakat untuk mengatur Negara. Kalau ada bansos, boleh ga ikhwah nerima? Boleh saja tapi sesuai persyaratan dan perlu diorganisasi. Kalau ga ada organisasi ga ada pertandingan. Kalau ada organisasi tapi ga dihormati ujung-ujungnya perkelahian.
Tapi organisasi ini adalah infrastruktur. Ga ada isinya. Pernah suatu waktu, negara jalan sendiri, agama jalan sendiri. Ketika kita coba mengumpulkan keduanya, itu dalam konteks menyempurnakan infrastruktur dan isinya. Konten dan sumber daya. Saya heran orang memperdebatkan agama. Ulama sunni menjelaskan hubungan agama dan Negara. Negara adalah penjaga. Agama adalah asasnya

Kalo ga bikin partai tarbiyah jalan terus tapi tumbuh terbatas. Ketika kita maju ke Negara persoalannya bukan profesionalisme, tapi konfiden. Termasuk kita di DPP beranggapan jarak masih jauh karena butuh banyak keahlian, dst.
Padahal sesungguhnya yang dibutuhkan adalah konfiden, rasa percaya diri. Ini bukan tujuan hanya sarana untuk mengukur seluruh rencana dakwah. Tentang debat hari lahir Pancasila, memang ada kesalahan pada mindset kaum muslimin saat itu dalam memandang masalah. Bukankah Pancasila adalah perjanjian terbuka. Makanya seluruh aliran dimasukkan disini jadi konsensus bersama. Sila pertama cuma 2 yaitu asas religiusitas: semua org Indonesia Beragama. Maka yang dipakai adalah kalimat umum: ketuhanan yang Maha Esa. Karena Indonesia terlalu beragam. Dan karena pimpinan Indonesia saat itu menganut sosialis

Kemanusiaan yang adil dan beradab. Persatuan Indonesia. Asasnya keadilan, ga ada kata kemakmuran karena kultur kita lebih berinterpretasi pada pemerataan daripada kemakmkuran. Baru ada di mukadimah  UUD.  Kita lihat ketika pancasila lahir, begitulah situasinya. Ditanya PKS asasnya Pancasila atau Islam? Saya tanya apakah itu pertanyaan?
Ini semua sudah selesai 3x.  Pancasila adalah konsensus bersama. Selesai.
Kenyataannya, sekarang pancasila ga dilirik lagi oleh anak muda. Maka PKS saatnya mentakeover seluruh isu nasionalisme  Jangan lagi jadi pertanyaan.

Ini semagnat sinkretisme di budaya jawa karena kalau antum lihat semua agama pernah lahir di Jawa. Beruntunglah sudah ada hindu dan budha, lalu Islam datang langsung jadi mayoritas. Kristen datang tapi jumlah penganutnya tidak terlalu berkembang. Islam masuk melalui jalur niaga. Pedagang-pedagang arab. Mereka berdagang, dilihat akhlaknya bagus lalu kawin dengan anak raja. Lalu jadi raja.
Begitulah Islam jadi mayoritas. Ini diceritakan dengan runtut oleh seorang penulis dari Australia. Dari abad 13 sampai dengan sekarang bisa dibilang seluruhnya adalah sejarah islam. Tapi common platform: seperti rasulullah ketika memfutuhkan mekkah. Persepsi awalnya orang-orang ini akan menyerang kita.
Mereka harus diredam semangat permusuhannya. Siapapun yang menyerang madinah, yang paling mungkin diserang adalah orang Islam. Tapi kepada Yahudi, kaum kafir di Madinah, Rasulullah bilang kita semua diperangi

Wa mualafati qulubuhum. Ada orang yang perlu dilembut-lembutkan hatinya. Pakai apa? Pakai fulus.
Pancasila = common platform. Ketegangan ini lebih karena semangat orde baru memaksakan asas tunggal dan karena islam sudah lama termarjinalisasi. Dan orang Islam seperti melihat Negara di kejauhan. Di harlah pancasila ada ikhwah pakai kopiah putih. Ditanya kok ga pake kopiah hitam? Dia jawab urusan saya bukan sama pancasila, urusan saya sama quran dan sunnah. Bagaimana mempertahankan mindset ini pada saat yang sama kita yang harus mengisi ruang kosong yang ada sekarang

Tahun 2008 kita ingin membuka sekat-sekat islam dan nasionalisme. Sekarang bukan lagi menghilangkan sekatnya tapi take over agar kita bukan cuma bicara atas nama umat tapi atas nama bangsa keseluruhan.
Oleh karenanya perlu memperdalam tsaqofah nasionalisme. Untuk memperkuat semangat memiliki negara ini. Kita bukan orang luar. Kita ini orang dalam. Ahlul bayt Negara ini. Sifat-sifat, perasaan ini, yang harus dihilangkan.
Salah satu sebab kemenangan adalah hilangnya kepercayaan pada partai-partai lama. Tapi pertanyaannya adalah apakah PKS bisa mewakili semua pihak bukan hanya dirinya sendiri

1999 kita ikut sidang baru dikasih hak bicara. Kita belum memimpin sidang. Sekarang punya hak mengambil keputusan. Apa kerjanya kalau belum menguasai Negara? Mengangkat orang agar menguasai jabatan.

 Wallahu alam

Halaqoh Usbu’iyah Muntijah - Majlis Pekanan Yang Ideal


 Halaqoh Usbu’iyah (majlis pekanan) adalah salah satu sarana terpenting diantara Wasail tarbawi yang ada, bukanlah disebut tarbiyah tanpa adanya halaqoh, ia adalah  asas  (dasar)  dari  tarbiyah, dan ia adalah pondasi tegaknya  dan terlaksananya seluruh agenda  tarbawiyah,  jika  halaqohnya kuat, maka dia akan memiliki daya dorong yang  kuat  pula bagi terlaksananya agenda tarbawiyah,  jika  halaqohnya  lemah  maka  efek  yang akan ditimbulkan adalah tersendatnya, bahkan tak terlaksananya agenda tarbawiyah dengan baik.
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS 58.Al Mujadilah – Ayat 11]
Lalu halaqoh yang bagaimanakah  yang dimaksud  :

Jumat, 10 Juni 2011

Jumat, 10 Juni 2011

Tragedi Lucu Penggerebekan Pengajian PKS


Suaranews – Mencuatnya kasus isu NII (Negara Islam Indonesia) dan pengusung Ideologi Khilafah, membuat masyarakat phobia dengan berbagai pengajian Islam. Hal inilah
yang menjadikan beberapa masyarakat semakin waspadah terhadap orang-orang yang melakukan pengajian Islam.
http://suaranews.com/tragedi-lucu-penggerebekan-pengajian-pks

Minggu, 05 Juni 2011

Minggu, 05 Juni 2011

KEBERANIAN






Ust. Anis Matta:
Saudara yang paling dekat dari naluri kepahlawan adalah keberanian. Pahlawan sejati selalu merupakan seorang pemberani sejati. Tidak akan pernah seseorang disebut pahlawan jika ia tidak pemah membuktikan keberaniannya. Pekerjaan-pekerjaan besar atau tantangan-tantangan besar dalam sejarah selalu membutuhkan kadar keberanian yang sama besarnya dengan pekerjaan dan tantangan itu. Karena pekerjaan dan tantangan besar itu selalu menyimpan risiko. Dan, tak ada keberanian tanpa risiko.

Naluri kepahlawan adalah akar dari pohon kepahlawanan. Tapi keberanian adalah batang yang menegakkannya. Keberanian adalah kekuatan yang tersimpan dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju menunaikan tugas --tindakan atau perkataan-- demi kebenaran dan kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan, dan dengan menyadari sepenuhnya semua kemungkinan risiko yang akan diterimanya.

Cobalah perhatikan ayat-ayat jihad dalam AI-Qur'an. Perintah ini hanya dapat terlaksana di tangan para pemberani. Dan cobalah perhatikan betapa AI-Qur'an memuji ketegaran dalam perang, membenci para pengecut dan orang-orang yang takut pada risiko kematian. Apakah yang dapat kita pahami dari hadits riwayat Muslim ini: "Sesungguhnya pintu-pintu surga itu berada di bawah naungan pedang?" selain dari betapa kuatnya keberanian mendekatkan kita ke surga?
Maka dengarlah pesan Abu Bakar kepada tentara-tentara Islam yang akan berperang: "Carilah kematian niscaya kalian akan mendapatkan kehidupan."

Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang. Sebagian yang lain biasanya diperoleh melalui latihan. Keberanian fitrah maupun melalui latihan, selalu mendapatkan pijakan kuat pada kekuatan kebenaran dan kebajikan, keyakinan dan cinta yang kuat terhadap prinsip dan jalan hidup, kepercayaan pada hari akhirat, serta kerinduan yang menderu-deru untuk bertemu Allah. Semua itu adalah mata air yang mengalirkan keberanian dalam jiwa seorang mukmin. Bahkan, meski kondisi fisiknya tak terlalu mendukungya, seperti jenis keberanian Ibnu Mas'ud dan Abu Bakar. Tapi menjadi lebih berani dengan dukurigan fisik, seperti keberanian Umar, Ali, dan Khalid.

Tapi Islam hendak memadukan antara keberanian fitrah dan keberanian iman. Maka beruntunlah ajaran-ajarannya menyuruh umatnya melatih anak-anak untuk berenang, berkuda, dan memanah. Dengarlah sabda Rasulullah SAW, "Ajarilah anakmu berenang sebelum menu lis. Karena ia bisa diganti orang lain jika ia tak pandai menulis, tapi ia tidak dapat diganti orang lain jika tak mampu berenang." Dengar lagi sabdanya, "Kekuatan itu pada memanah, kekuatan itu pada memanah, kekuatan itu pada memanah." Itu semua sekelompok keterampilan fisik yang mendukung munculnya keberanian fitrah. Tinggal lagi keberanian iman. Maka dengarlah nasehat Umar, "Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani."

Kepada orang-orang Romawi yang berlindung di balik benteng di Kinnasrin, Khalid bin Walid berkata, "Andaikata kalian bersembunyi di langit, niscaya kuda-kuda kami akan memanjat langit untuk membunuh kalian. Andaikata kalian berada di perut bumi, niscaya kami akan menyelami bumi untuk membunuh kalian." Dan, roh keberanian itu memadai untuk mematikan semangat perlawanan orang-orang Romawi. Mereka takluk.

Mungkinkah kita mendengar ungkapan itu lagi hari ini?