Jutaan orang
tidak dapat melebihi keutamaanmu….
Mereka gagah
perkasa tapi tunduk di ujung pedangmu…
Engkau
pemberani melebihi Singa Betina…..
Yang sedang
mengamuk melindungi anaknya……
Engkau lebih
dahsyat dari air bah…..
Rahmat Allah
bagi Abu Sulaiman,
Apa yang ada
di sisi Allah lebih baik daripada yang ada di dunia.
Ia hidup
terpuji, dan berbahagia setelah mati…..
Untaian syair
indah yang dilantunkan Ibunda Khalid saat mengantarkan sang putra ke pemakaman
terakhir.
Di penghujung
pertempuran menjelang akhir, datang seorang utusan kepada Khalid Bin Walid.
Utusan Khalifah yang baru, Umar Bin Khattab ra yang menggantikan Abu Bakar ra
yang telah wafat. Surat itu berisi pemberhentian Khalid dari jabatannya sebagai
panglima perang dengan Abu Ubaidah ra sebagai pengganti.
Dengan tenang
Khalid bin Walid membaca surat itu dan meminta kepada kurir untuk tidak
memberitahukan isi surat kepada siapapun sampai peperangan berakhir.
Pertimbangan Khalid saat itu adalah khawatir instruksi dari Khalifah ini dapat
memecah konsentrasi pasukan muslimin. Pertempuran terus berlanjut sampai
akhirnya pasukan muslimin dapat mencapai kemenangan.
Usai
pertempuran yang melelahkan, saat peluh masih membasah, luka masih belum
terobati, darah masih menetes di ujung pedang. Sang Pedang Allah bergegas
menjumpai Abu Ubaidah untuk menyampaikan pesan pengangkatannya sebagai panglima
pengganti dirinya. Pemecatan Khalid oleh Khalifah Umar bukan sama sekali
dilandasi ketidaksukaan (like or dislike). Tapi lebih didasarkan atas firasyatul
mu’min untuk menyelamatkan aqidah umat dan keimanan Khalid sendiri.
Kemenangan
demi kemenangan yang dicapai Khalid dalam pertempuran menjadikan namnya harum
semerbak, popularitasnya memuncak. Tapi prestasi spektakulernya ini membawa
pada kecenderungan pengkultusan akan dirinya. Khalifah Umar membaca ini dan
khawatir umat terperosok, begitu juga Khalid akan mendapatkan fitnah yang
besar.
Selanjutnya
Khalid kembali berjuang di bawah kendali mantan anak buahnya sebagai jundi
al-muthi’ah tanpa memperdulikan statusnya yang “turun pangkat”. Ketika
dikonfirmasi tentang pemecatan dirinya, beliau menjawab: “Aku berperang bukan
untuk Umar tapi karena Allah swt”.
Subhanallah! Sepenggal kisah yang
sarat makna dan penuh hikmah. Tarbiyah qiyadiyyah yang sungguh luar biasa.
Penghentian tugas struktural (wazhifah tanzhimiyah) oleh Khalifah
terhadap Panglima Perangnya adalah soal ru’yah qiyadiyah, sebuah
keputusan yang harus disikapi dengan ketaatan. Sama sekali tidak menghilangkan
tugas fungsionalnya (wazhifah mashiriyah) sebagai mujahid yang harus
selalu berada di barisan tentara Allah. Inilah inspirasi sekaligus spirit bagi
kita di tengah tugas-tugas kita menuntaskan agenda-agenda dakwah ke
depan.
1. Tidak
Panik, Tetap Berada dalam Kesadaran
Bagi
orang biasa ‘Pemecatan’ serasa gempa bumi, begitu cepat membuat banyak orang
panik. Tapi itu tidak terjadi pada diri Khalid Bin Walid, padahal kejadiannnya
ketika pertempuran tengah berkecamuk, yang bisa jadi memicu orang mata gelap,
kalap bahkan hilang akal sehat. Kekuatan jiwa kepemimpinannya berhasil
mengelola kepanikan yang menimpanya. Baik itu kepanikan anak buah, ataupun
dirinya sendiri. Sehingga, seluruh kepanikan yang terjadi dapat diatasi dengan
baik, ada strategi dan ada solusi yang cukup realistis. Dengan kata lain,
Khalid adalah pemimpin yang menjadi “penenang” dan “pengarah” dalam menghadapi
kepanikan, bukan justru menjadi lebih panik daripada anak buahnya sendiri.
Dia memiliki arah untuk membawa anak buah ke jalan yang seharusnya, bahkan
cenderung rela berkorban untuk keselamatan barisan tentaranya. Sehingga dalam
kepanikan, akan terdengar ucapan yang menyejukkan. “Aku berperang bukan untuk
Umar tapi karena Allah swt”.
2. Tidak
Kecewa, Tetap Berada dalam Tsiqoh
Bagaimana
sikap Khalid membaca surat pemecatan dirinya? Ia menerima pemberhentian
tersebut dengan sikap ksatria. Tidak sedikit pun kekecewaan dan emosi terpancar
dari wajahnya. Kekecewaan
akan menyulut kemarahan, sementara kemarahan hanya akan menenggelamkan
seseorang dalam “kuburan” ego yang akan menjerumuskan diri dalam persoalan.
Sikap mudah emosi atau temperamental tidak ada pada Khalid Bin Walid. Khalid
dapat menguasai naluri kekuasaan yang ada padanya (hubbus siyadah) dan tidak
menjadikan dukungan anak buahnya kepadanya sebagai alat untuk mempertahankan
dan melanggengkan jabatannya. Bahkan dia tetap berperang di bawah komando baru
dan menaati segala perintah Abu Ubaidah yang kini menjadi atasannya.
Bagi orang
biasa tentu sudah sakit hati bila berada pada posisi yang sama seperti dialami
oleh Khalid Bin Walid. Kekecewaan akan membuat seseorang mudah diprovokasi dan
ujung-ujungnya ia akan bertindak sembrono sehingga akan membodohi diri sendiri.
Oleh karena itu, kemarahan yang disulut karena kekecewaan biasanya hanya akan
“terjebak” dalam kubangan yang mencelakakan.
Sesungguhnya
apapun yang kita miliki, harta, anak atau jabatan, prinsipnya adalah ‘laysa
maalikan ashilaan’ kita bukanlah pemilik aslinya. Jabatan itu sifatnya
mandatory, secara hirarkis amanah jabatan diberikan kepada seseorang. Tidak
bisa dituntut, direkayasa apalagi dengan melakukan ‘gerakan-gerakan’ illegal
mendukung atau membendungnya.
3. Tidak
Membalelo, Tetap Berada dalam Tansik
Tentu akan
lain situasinya andaikan Khalid protes atas pemberhentian dirinya sebagai
Panglima dan kemudian memobilisasi pendukungnya demi jabatan itu, seperti yang
sering dan banyak terjadi saat ini, pasti akan terjadi kekacauan dan umat akan
terpecah belah, sehingga terjadi perkelahian dan pertempuran didalam barisan
dan tentunya musuh akan dengan mudah menghantam mereka, dan penaklukan Romawi
pun mungkin hanya akan ada dalam angan-angan. Sungguh luar biasa, kebesaran
jiwa Khalid.
Tidak mudah
bagi seseorang menerima kenyataan yang menimpa dirinya. Pemecatan terkadang
diartikan sebagai ketidakpercayaan terhadap dirinya. Siapa pun kita, pasti
ingin dicintai, mencintai, dipercayai, dan mempercayai orang lain. Tetapi,
ketika sakit hati tiba, sulit rasanya untuk kembali memaafkan dan mempercayai
orang yang melakukannya. Bahkan mungkin merasa sulit untuk membuka hati dan
perasaan kepada orang lain yang tidak tahu apa-apa. Ini adalah dilema yang
harus dihadapi. Akhirnya, terserah kita, memilih untuk berjalan sendiri atau
melanjutkan hubungan setelah apa yang terjadi. Satu hal yang pasti, roda dakwah
akan terus berputar dengan atau tanpa sakit hati.
Tetap disiplin
pada ketentuan dan kendali struktur. Ketentuan tersebut menjadi aksioma
yang mengikat kader-kader yang berhimpun didalamnya. Dengan begitu seluruh
sikap kader senantiasa atas arahan yang menjadi kebijakan struktur (Tansik
al a’mal). Tidak ‘menyempal’ sendirian. Karena sikap semacam itu akan
berakibat bagi yang lainnya dan tanzhim secara langsung. Karenanya mereka
yang melakukan perbuatan semisal itu dikategorikan sebagai sikap indisipliner.
Hal itu ditunjukkan walaupun sudah bukan menjadi mas’ul wilayah tertentu.
Seseorang tidak berhak memobilisasi mantan anak buahnya tanpa berkordinasi
dengan shahibul wilayah yang baru. Inilah kesalihan berorganisasi yang ada pada
diri Khalid ra.
4. Tidak ‘Diam’
Tetap Berada dalam Amal.
Seorang
panglima perang terbaik di zamannya, sedang berada di puncak karir. Harus
mundur di tengah masa jabatan atas permintaan atasannya. Oleh suatu alasan yang
tidak dapat didefinisikan secara teks hukum dimasa kini. Lalu apakah ia
kemudian marah dan kemudian mangkir dari perang setelah tidak menjabat lagi
sebagai panglima? Atau memperkarakan atsannya ke meja hijau? Ternyata tidak,
iapun kembali ikut berperang sebagai prajurit biasa tanpa ada rasa malu atau
sakit hati. Betapa bahagianya Khalid bin Walid.
Lihatlah, betapa mudahnya ia menyerahkan jabatan kepada anak buahnya. Orientasi
perjuangannya adalah Allah, bukan jabatan, ketenaran dan kepuasan nafsunya.
Sungguh pribadi yang memiliki
loyalitas kuat (Quwwatul Intima'i). Hal ini sebagai sikap yang
amat prinsipil. Lantaran dari situlah prestise keimanan terbentuk menjadi
bangunan yang kuat dalam sanubari seorang mukmin. Bila demikian halnya kader
dakwah mampu mengemban amanah yang diserahkan pada dirinya. Kemudian
melaksanakannya dengan segera, berpikir, bersikap dengan langkah tidak keliru.
Agar dalam waktu yang cepat dapat segera mengambil posisi untuk musyarakah
da'awiyah (partisipasi dakwah).
Seorang ulama dakwah bergumam lantang
pada dirinya. ‘Wahai fulan bin fulan, duhai teman hari ini semua tempat telah
jelas untuk siapa? Tiada tempat yang kosong. Semua sibuk mencarinya namun tak
seorangpun yang berani berada pada posisi duduknya yang berbahaya. Aku inginkan
diriku yang menempatinya. Siapkan kalian mengikuti ku untuk mengambil posisi
suci?. “Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang
mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah,
dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (Q.S. Yusuf: 108).
Marilah
kita terus mengevaluasi diri. Boleh jadi kita sibuk beramal, namun sebaik-baik
amal adalah dalam konteks jihad fi sabilillah. Dan sebaik-baik jihad fi
sabilillah adalah yang selalu dalam bingkai nizhamiyatut thaat. Wallahu
a’lam



02.32
bpksms
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar