(Tulisan seorang Anak Kader)
Saya bingung ingin
memulai kisah ini dari mana ketika seseorang yang saya hormati meminta saya
menuliskan tentang bagaimana orangtua saya mendidik saya—atau lebihnya tepatnya
“kami”, saya dan adik-adik saya. Kedua orangtua saya, adalah orang yang
betul-betul sederhana. Dan karena saking sederhananya itulah saya merasa
bingung apa yang mesti saya tulis di sini.
Mereka bukan
siapa-siapa di jagat raya ini. Mereka orang biasa, yang bila berada di antara
kerumunan orang tak akan menjadi pusat perhatian. Tapi berbeda jika mereka
sudah berada di rumah. Mereka seperti matahari, yang menjadi pusat perputaran
planet-planet dalam gugusan bima sakti. Dan kamilah planet-planet itu.
***
Sebelum saya
dipindahkan ke SDIT pada kelas 2 SD, saya bersekolah di SD Islam As Salafy.
Namanya saja ada embel-embel “Islam”. Tapi nilai-nilai yang ditanamkan,
layaknya di sekolah biasa. Nilai-nilai kebaikan standar. Malah, aneh betul
kayaknya tiap orangtua murid dan guru memperhatikan saya lantaran saya memakai
jilbab dan seragam sekolah yang lebih panjang dari yang lain. Seolah-olah ada
yang salah dengan saya.
Ya, saya memang
berbeda di antara sekian ratus siswa di sekolah itu. Mata murid-murid melirik,
bertanya-tanya; kenapa pakai jilbab ke sekolah? Bukankah pakai jilbab kalau
kita ke TPA saja? Apalagi kalau Ummi datang ke sekolah. Wah mencuri perhatian
betul itu. Karena Ummi memakai gamis dan jilbab lebar lengkap pula pakai kaus
kaki walaupun alas kaki yang digunakan cuma sandal jepit swallow. Kalau Ummi
menambah pakaiannya dengan cadar, mungkin mata-mata itu bukan menatap atau
melirik lagi. Tapi melotot. Sebaliknya, guru yang pakai jilbab dengan rok sepan
sedengkul tidak dianggap aneh.
Mungkin itu perasaan
‘berbeda’ yang saya rasakan pertama kali dengan amat jelas. Pada kenyataannya
memang keluarga kami berbeda dengan para tetangga. Tapi jangan salah, berbeda
bukan berarti lantas kami menutup diri. Walau Ummi adalah orang yang tidak
banyak omong, tapi Ummi ramah pada tetangga. Para tetangga menganggap keluarga
kami mungkin keluarga santri atau setidaknya paham agama. Sehingga para
orangtua mengirim anak-anaknya ke rumah kami untuk belajar mengaji.
Saya lupa bagaimana
dulu orangtua saya menjelaskan pada saya dan adik-adik yang perempuan tentang
jilbab. Seingat saya, kelas 1 SD itu saya sudah rutin memakai jilbab kalau
keluar rumah. Walaupun baju yang saya kenakan tidak menutup seluruh aurat. Saya
kecil kerap memakai baju tidur sedengkul-lengan-pendek, tapi berjilbab,
berlari-larian main petak jongkok dengan anak-anak sebaya. Yang saya ingat
dulu, Abi seringkali berteriak meledek saya kalau kedapatan saya tidak
mengenakan jilbab. Ia memanggil saya begini; “Hei, Ahmad!”
Sebagai anak
perempuan kecil, saya ogah diasosiasikan sebagai lelaki.
***
Di rumah kami ada
barang yang baru kami punyai ketika saya SMP, yaitu televisi. Sebelumnya, kami
tak mengenal baik benda itu. Pernah punya tivi, tapi tidak lama karena tivi
yang kami punya masih hitam putih, tivi tahun 60-an dengan gambar yang kruwek-kruwek. Bentuknya juga antik, udah ga jaman banget di tahun 90-an itu;
kotak kayu, dengan tombol-tombol untuk pindah channelnya di sisi kanan. Kacanya
pun cembung bukan main. Tivi ini juga cuma bisa menangkap dua stasiun; TVRI dan
TPI. Yah, mana ada yang mau berlama-lama menonton dengan tivi butut—sementara
pada saat itu sudah eranya tivi berwarna dan ber-remote control?
Entah apa memang
orangtua kami asli tidak mampu membeli tivi baru atau memang mereka punya
prinsip sendiri soal tivi. Tapi yang jelas, tak mudah meminta tivi baru.
Jangankan itu, meminta dibelikan mainan baru atau sesuatu yang sedang ngetrend
saat itu di dunia anak-anak pun, kami mesti susah-susah mengajukan ‘proposal’ (berupa
rengekan yang bisa berujung pada tangisan) apa manfaat barang itu bagi kami.
Ketika lagi trend
koleksi kertas surat, hampir seluruh teman sekelas saya yang perempuan punya
itu. Begitu juga teman sekelas adik saya. Demam kertas surat melanda satu
sekolah (saat itu saya sudah sekolah di SDIT IQRO’). Rasanya, saya saja di
kelas yang tidak punya koleksi semacam itu. Saya cuma menonton bagaimana
teman-teman saya mengatur kertas-kertas surat nan wangi itu, mengeluarkannya
dari map, menjejerkannya di meja, menumpuknya dengan rapi, memasukkannya lagi
ke map, lalu mengulang ritme yang sama setiap ada kesempatan sembari bercerita
ini beli di mana atau menukar dengan siapa.
Begitu juga saat
demam stiker tokoh-tokoh kartun. Saya menjadi penonton. Atau ketika demam
koleksi kertas file bergambar. Saya pun tidak punya itu. Atau (lagi) ketika
demam pulpen gantung bak wartawan yang tintanya wangi, saya juga tidak punya
itu. Saya berbeda. Dan kala itu, perasaan berbeda bukan lagi perasaan pertama,
tapi ke sekian kalinya.
Ingin juga sih punya
itu semua. Yah saya kan anak kecil biasa yang suka iri melihat milik teman.
Tapi meminta pada orangtua itu semua, butuh energi untuk menjelaskan;
sebenarnya untuk apa barang-barang itu? Dan orangtua kami, menanyakan hal
tersebut bukan untuk basa-basi. Kalau memang kami tidak bisa menjelaskan alasan
kenapa kami ingin barang-barang tertentu, mereka tidak akan memberikannya. Mau
sampai nangis guling-guling di tanah pun, orangtua kami tidak akan mencabut
kata-katanya. Belakangan, saya tahu sebenarnya hati Ummi sakit melihat anaknya
meminta sesuatu sampai menangis apalagi sampai guling-guling di lantai. Tapi
memang harus ada sakit yang tertanggung untuk sebuah kebaikan.
Ummi ataupun Abi
tidak menurunkan posisi tawar demi melihat kami ngamuk sampai guling-guling.
Mereka tidak lantas bilang: “Ya deh, ya deh… Abi belikan nanti…” Bagi mereka,
kami tidak boleh belajar ‘menangis untuk mendapatkan sesuatu’.
Ketika sudah tenang
dari isak tangis dan amukan, barulah ada kata-kata yang mampu meluluhkan hati.
“Bukannya ga boleh
punya kertas file. Boleh-boleh aja, tapi kan tadi Ummi nanya; buat apa? Kalo
cuma untuk dikoleksi, apa nggak buang-buang uang? Padahal kamu tuh butuh barang
lain yang lebih penting. Coba aja liat besok. Pasti besok temen-temen kamu udah
bosen sama kertas file. Ganti lagi koleksi yang lain. Dulu juga begitu kan?
Semuaaaa punya kertas surat. Tapi lama-lama temen-temen kamu bosen sama kertas
surat. Terus ganti sekarang ganti kertas file. Terus dikemanain kertas
suratnya? Jadi bungkus cabe? Apa disimpen aja? Apa iya kertas suratnya dipake
buat kirim surat ke temen?”
“Tapi kan semua temen
punya, masa aku ga punya…”
“Udah, santai aja. Ga
ditangkep polisi kok kalo ga punya kertas file…”
Saya yakin, orangtua
saya tidak paham teori gelombang otak yang katanya, kalau ingin mendoktrin anak
itu paling baik saat otak berada dalam keadaan tenang antara sadar dan tidak.
Tapi memang, orangtua saya biasanya mendiamkan dan tidak memberikan wejangan
apa-apa saat kami-kami ini mengamuk. Nasehat baru keluar ketika sudah capek
menangis dan guling-guling, sementara otak mengirim sinyal ke mata agar
mengantuk.
Rasanya, orangtua
saya juga tidak berkata; “Nanti kalau Abi ada rezeki, Abi belikan ya kertas
suratnya…”
Logis sih, karena
bisa jadi ketika Abi ada rezeki, barang yang saya mau (misalnya kertas surat
wangi dan bergambar indah itu) sudah tidak ngetrend lagi untuk dijadikan
koleksi. Punya tapi telat, kan rasanya ketinggalan jaman banget. Dan memang
trend itu begitu. Berubah dengan cepat seiring cuaca.
Ketika Abi ada
rezeki, yang Abi belikan pada kami adalah buku. Macam-macam buku dan majalah.
Kami juga berlangganan majalah anak-anak Aku Anak Saleh dan Orbit, di samping
berlangganan koran Republika. Kami punya setumpuk koleksi kisah nabi-nabi
terbitan Rosda Karya yang nama belakang penulisnya saya ingat “Pamungkas”. Saya
ingat nama belakangnya saja, karena dulu saya pernah bertanya pada Ummi:
“Pamungkas itu artinya apa, Mi?” Ummi jawab: “Terakhir”. Saya ngomong lagi:
“Berarti dia anak terakhir dong, Mi?” Ummi jawab: “Iya. Bisa jadi…”. Itu
sekedar intermezzo.
Jadi rasanya aneh
kalau bilang orangtua saya pelit karena anaknya tidak dibelikan ini-itu yang
dimau. Karena memang orangtua saya tidak pelit kalau sudah menyangkut hal-hal-yang-memang-kami-butuhkan-bukan-sekedar-keinginan.
Saya ingat, Ummi bahkan pernah menjual cincin satu-satunya agar saya dan Rusyda
(adik saya) bisa ikut acara kemah dari sekolah. Acaranya selama tiga hari dan
banyak perlengkapan yang harus dibawa. Di saat yang bersamaan, Ummi dan Abi
tidak punya cukup uang untuk biaya kemah tersebut. Maka Ummi pergi pagi-pagi ke
Pasar Pondok Gede, menjual satu-satunya cincin miliknya yag polos tanpa ukiran
dan permata sebagai hiasan, dan pulang ke rumah membawa pula barang-barang yang
kiranya kam perlukan selama kemah.
Saya tahu kemudian
Ummi menjual cincinnya untuk kami, ketika saya dapati pulang dari pasar Ummi
tidak memakai cincin itu lagi. Padahal, cincin itu adalah ciri khasnya. Selalu
ada di jari manis kanannya. Sehingga janggal sekali bila mendapati Ummi tanpa
cincin emas polos itu.
Peristiwa sederhana
ini yang kemudian selalu ingatkan saya; bahwa orangtua kami yang sederhana ini,
sebetulnya kaya. Mereka punya banyak stok kesabaran untuk mendidik kami secara
konsisten. Mereka punya banyak stok keikhlasan untuk tidak mengungkit apa yang
telah mereka lakukan. Mereka punya banyak stok harapan untuk melihat kami
menjadi ‘seseorang’ bukan ‘seonggok’.
Hikmah besar di balik
‘kepelitan’ mereka untuk tidak selalu memberikan apa saja yang kami minta; kami
belajar menghargai apa saja yang mereka berikan. Kami masih menyimpan boneka
yang Ummi belikan ketika kami masih kecil. Jarang-jarang kan Ummi belikan kami
boneka? Jadi begitu Ummi memberikan boneka pada kami, boneka itu kami jaga
baik-baik. Kami pajang di lemari. Begitu juga buku-buku dari masa kecil kami.
Belakangan, kami sumbangkan buku-buku itu untuk taman bacaan dekat rumah.
Bukan hanya pemberian
berupa barang, tapi juga momen-momen bepergian yang jarang kami lakukan.
Sekalinya kami pergi bersama, walau itu hanya makan bersama di warung tenda
pinggir jalan, kami benar-benar menikmatinya dan mengabadikannya dengan cara
kami. Yang rajin menulis buku harian, menulis di buku hariannya. Yang senang
menggambar, menggambarkan apa saja yang dilihatnya selama pergi bersama.
Coba kalau orangtua
kami ‘murah hati’. Kami nangis sedikit, maka datanglah apa yang kami minta.
Bisa jadi lambat-laun kami tidak menghargai apa-apa yang orangtua kami berikan
karena saking seringnya menerima pemberian dari orangtua kami. Alih-alih
berterimakasih, mungkin kami akan protes; “lho kok yang begini? Kan aku minta
yang begitu!”. Dengan selektifnya orang tua kami dalam memberikan sesuatu,
secara tak langsung kami belajar bagaimana harus berterimakasih dan menghargai
pemberian orang lain.
Selain itu, ke-konsisten-an
mereka untuk menolak membelikan sesuatu yang manfaatnya kecil, membuat kami
belajar setiap kali ada benda yang kami inginkan. Kami belajar menganalisis
sendiri, apakah benda itu kemudian layak kami miliki? Kalau tidak, sudahlah
lupakan benda itu.
Lalu, adakah kemudian
di saat dewasa dan punya penghasilan sendiri, saya dendam untuk memiliki
benda-benda yang tak sempat saya miliki di waktu kecil? Untungnya tidak.
Sebabnya karena itu tadi, kami senantiasa diajak menganalisis; apakah benda
yang saya inginkan ini bermanfaat? Bahkan sampai sekarang, kalau saya punya
uang sendiri dan mau beli sesuatu, Ummi pasti menodong dengan pertanyaan; buat
apa?
Pernah juga
terbersit; Kok Ummi gitu sih? Selalu
tanya buat apa. Ini kan uangku sendiri!
Tapi entah bagaimana,
ujung-ujungnya saya berpikir ulang; apa manfaat benda itu untuk saya? Dan urung
untuk membeli benda tidak penting itu. Mungkin karena saking kuatnya doa Ummi,
sampai-sampai saya selalu tidak bisa membantah apa kata Ummi. Walau awalnya
membantah, selalu saja berakhir dengan gumaman pada diri sendiri; iya ya, bener juga.
***
Karena
kami keluarga sederhana, imbasnya bukan saja susah kalau mau meminta sesuatu.
Tapi juga berimbas dari desain rumah kami yang sederhana. Ruangan yang disekat
hanya kamar tidur dan kamar mandi. Ruang tamu, ruang tengah, ruang makan
menyatu tanpa sekat. Tidak ada lantai dua. Kamar pun hanya tiga; kamar
orangtua, kamar anak perempuan, dan kamar anak laki-laki. Tagline untuk rumah
kami; ke kanan nyenggol, ke kiri nyenggol.
Hikmahnya punya rumah
dengan desain nge-blong begini adalah
adanya kontrol yang maksimal di antara anggota keluarga. Kalau ada satu anak
yang lagi suram, seisi rumah akan segera tahu karena pas sembunyi di kamar, eh
saudara yang lain masuk kamar (yang memang nggak ada kuncinya) terus melihat
saudaranya yang satu ini lagi menangis. Melaporlah si saudara yang lain ini
pada Ummi; “Mi, Kak Anu nangis di kamar…” Nanti kata Ummi; “Husss… udah diemin
dulu…”
Walaupun begitu, Ummi
dan Abi menghargai privasi kami. Mereka tidak pernah membuka-buka laci kami
tanpa keperluan. Mereka percaya sekali, bahwa satu sama lain di antara kami
akan saling mengingatkan kalau misalnya ada suatu barang yang bermasalah. Kan
kalau barang itu disembunyikan, artinya barang itu bermasalah. Misalnya saja
saya menyembunyikan coklat. Tidak perlu menunggu besok, adik saya yang lain
sudah akan menemukannya di hari yang sama. Dan coklat itu memang barang yang
bermasalah karena tidak dibagi.
Masih soal kontrol di
antara anggota keluarga, semua ruangan yang bermuara di ruang tengah ini juga
membawa keuntungan tersendiri bagi Ummi dan Abi. Mereka jadi mudah mengontrol
aktivitas kami. Cukup duduk di ruang tengah, maka akan terlihat si Asiah lagi apa, Rufaida lagi apa, Hania lagi
apa, dan yang lainnya. Selain itu, juga jadi mudah melihat siapa yang sudah sesore
ini belum pulang ke rumah.
Sosialisasi pun tak
perlu membuang energi banyak. Misalnya, merutinkan mengaji setiap habis
maghrib. Tak perlu menggedor setiap pintu kamar sambil bilang: “hoi, ngaji!”.
Sekali lagi, duduklah Ummi di ruang tengah sambil bilang; “ayo, ayo ngaji…”
kemudian Ummi dan Abi mengaji di ruang tengah. Yang tadinya urung mengaji, jadi
malu sendiri karena seisi rumah mengaji. Begitu juga kebiasaan berdiskusi di
rumah kami. Ummi dan Abi jarang berdiskusi hanya berdua di kamar—kecuali kalau
hal yang mereka diskusikan bukan menjadi urusan kami. Mereka terbiasa membaca
buku, menghafal Qur’an, hadits, juga berdiskusi—dari soal agama, politik,
sosial, sampai ekonomi—di ruang tengah. Mau tak mau, kami jadi ikut mendengar
dan terbiasa dengan iklim itu.
Abi dan Ummi juga
biasa menceritakan apa yang mereka alami hari itu kepada kami semua. Walau
mungkin sebenarnya menceritakannya hanya kepada Abi atau Ummi. Tapi apa mau
dikata, mereka bercerita di ruang tengah. Kami juga jadi ikut-ikut dengar, lalu
nimbrung, lalu ikut-ikutan bercerita. Lama-lama kami pun biasa saling bertukar
pengalaman di ruang tengah. Entah sambil makan, atau sambil belajar.
Orangtua kami tidak
memaksakan terbangunnya suasana akrab. Mereka tidak memaksa diri mereka untuk
nyambung dengan dunia kami. Suasana akrab itu terbangun karena kebiasaan yang
sudah lama dibiasakan sejak kami masih kecil; saling terbuka dan bercerita.
Rasanya kok aneh saja kalau tidak cerita ke Ummi. Sehingga keresahan-keresahan
yang kami rasakan—terlebih yang berhubungan dengan identitas kami sebagai
muslim/ah yang mencoba ber-Islam secara kaffah—akan tercetus begitu saja, tanpa
perlu ragu menceritakannya pada orangtua.
***
Kalau
memutar kembali memori, sepertinya orangtua kami tidak terlalu repot
menjebloskan kami untuk aktif dalam tarbiyah. Pemahaman kami akan pentingnya
tarbiyah, tidak dipupuk dalam sehari langsung jadi. Di rumah sederhana kami,
permasalahan ummat menjadi tema diskusi asyik. Dari diskusi ke diskusi,
kesadaran kami akan pentingnya tarbiyah menjadi tumbuh sendiri. Pada awalnya
malas datang ke tempat liqo. Kan bisa belajar aja sama Ummi, bantah kami. Tapi
Ummi bilang, di rumah belajar juga, di luar belajar lebih banyak lagi. Tidak
tanggung-tanggung, saya dan Milla sempat merasakan bagaimana Abi benar-benar
amat memaksa kami sampai-sampai kami diantar ke tempat liqo, dan ditunggui pula
sampai liqo selesai.
Kesannya, Abi kok
kayak ga punya kerjaan lain aja selain nganterin anak liqo dan nungguin. Tapi
pemaksaan serupa itu, membuat kami mencerna sendiri; berarti liqo itu emang
penting banget ya, sampe-sampe Abi mau nganter dan nungguin aku…
Kami juga tidak lepas
dari badai keinginan ingin pakai celana panjang dan jilbab agak naik sedikit.
Keresahan itu kami ungkapkan pada Ummi; “kok si Anu pakai bajunya begitu, Mi.
Aku boleh ga pakai baju kayak dia? Abis kemaren aku ke sekolah pakai rok
dibilangnya kayak ibu-ibu…”
Nah lho… kalo saya
jadi Ummi, saya bingung juga mau nasehatin kayak apa.
Ummi pada awalnya
membolehkan kami memakai celana panjang asal longgar. Jilbab juga yang penting
menutup dada, tidak perlu sampai lewat pinggang. Tapi kok ya baju yang
dibelikan Ummi pada kami lagi-lagi rok. Ya apa boleh buat. Toh roknya juga not bad kok. Dan Ummi sekali waktu
bilang: “perempuan itu lebih anggun tau kalo pake rok…” agak membesarkan hati
sedikit. Tapi kemudian di sekolah, dikomentarin teman lagi: “Perasaan lo pake
rok terus deh, sekali-kali dong pake celana panjang… gue pengen deh liat
penampilan lo pake celana panjang…”
Komentar teman
seperti di atas selalu bikin ciut. Untung kami punya Ummi. Lagi-lagi lapor ke
Ummi, teman komentar begini, begitu. Ummi akan bilang: “ga usah didengar…
Mereka memang selalu berkomentar. Orang itu kalau mau jadi lebih baik memang
cobaannya banyak. Kalau kamu ciut hanya karena komentar begitu, sekarang
bayangin jaman dulu waktu jilbab belum zamannya, perempuan yang pakai jilbab
dijauhi orang, disangka aliran sesat, bahkan ada yang diusir dari rumah…
Padahal perintah pakai jilbab itu ada di Al Qur’an, tapi malah dihina…”
Cerita-cerita itu
membuat kami merasa tidak sendiri. Lagipula, kami biasa berbeda. Kami tidak
tinggal di tengah-tengah keluarga tarbiyah yang lain. Kami tinggal di kampung
yang tingkat pendidikan masyarakatnya rendah sampai-sampai anak kecil diajarkan
buang air di kebun-kebun. Sampai-sampai pula, keluarga kami dicap orang
Muhammadiyah yang kalo mens pun perempuan tetap sholat, dan kalau ada yang
meninggal tidak disholatkan. What? Kayaknya orang Muhammadiyah ga gitu deh…
Jadi, menjadi berbeda
di sekolah atau di antara teman sepermainan, adalah menambah sedikit daftar
perbedaan kami. Orangtua selalu membesarkan hati kami lewat cerita dan diskusi.
Bahwa menjadi berbeda itu sama sekali tidak buruk. Untungnya, nasehat ini tidak
serta merta muncul ketika kami puber, di mana kami sudah kenal ‘dunia luar’.
Mungkin karena Ummi saya tidak sibuk, dan Abi juga tidak sibuk dalam pekerjaan,
jadi kami tidak mengalami missing age
di mana ada kalanya kami jauh dari Ummi dan Abi. Mereka benar-benar orang
terdekat kami dan teman sejati kami; orang-orang pertama yang kami hampiri
ketika ada keresahan dan pertanyaan. Dan
saya yakin betul, kedekatan ini tidak dibangun dalam hitungan hari, tapi
hitungan tahun; sejak saya masih kecil, hingga kini umur saya menginjak 24
tahun.
***
Tidak
ada hal khusus yang diterapkan orangtua kami untuk mendidik kami. Tidak ada
buku parenting bertumpuk-tumpuk. Mereka tidak hapal teori psikologi pendidikan.
Bahkan mungkin tidak tahu juga ada teori itu. Mereka juga tidak rajin ikut
seminar-seminar parenting. Mereka terlampau sederhana untuk itu semua. Mereka mendidik
kami dengan ilmu yang mereka punya ditambah dua hal saja: kontinyu dan
konsisten. Kontinyu dalam hal mengingatkan, menasehati, dan mencontohkan. Konsisten
dalam hal sekali bilang tidak maka tidak; tidak ada prinsip yang berubah.
Seperti matahari pada
gugusan bima sakti, mereka terus menyinari, terus menjadi pusat kehidupan kami,
tak bosan, tak lelah.



01.48
bpksms
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar