Tampilkan postingan dengan label Taujih Ustadz Cahyadi Takariawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih Ustadz Cahyadi Takariawan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2012

Sabtu, 10 Maret 2012

Tetaplah Husnuzhan atas Ketidakberangkatan Saudaramu


Serial Tabuk – 3

Oleh : Cahyadi Takariawan

Dalam dakwah, ada banyak kondisi yang tidak selalu sama dengan harapan. Oleh karena itu selalu ada ruang permakluman yang kita sediakan, bukan untuk diri sendiri, namun untuk tetap berpikir, berprasangka dan memandang positif saudara kita. Sudah direncanakan mengadakan kegiatan, semua sudah sepakat hadir pada waktu dan tempat yang telah ditentukan. Namun ada satu atau dua orang terlambat. Ada yang tidak hadir dengan mengirim kabar berita, bahkan ada pula yang tidak hadir tanpa mengirim berita sama sekali.

Minggu, 04 Maret 2012

Minggu, 04 Maret 2012

Ketidakberangkatan Menimbulkan Penderitaan


Serial Tabuk – 2

Oleh : Cahyadi Takariawan

Ketidakberangkatan dalam kegiatan dakwah, selalu menimbulkan penderitaan bagi para aktivis. Seakan-akan memilih sikap yang enak, dengan tidak berangkat dan tidak mengikuti kegiatan dakwah. Namun yang didapatkan adalah perasaan menyesal dan menimbulkan penderitaan. Seperti yang dialami oleh Ka’ab bin Malik.

“Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut ke Tabuk. Namun sungguh aku merasakan penderitaan batin sejak Rasulullah saw meninggalkan Madinah”.

Senin, 27 Februari 2012

Senin, 27 Februari 2012

SEBERAPA JAUH TABUKMU ?


Oleh : Cahyadi Takariawan

Apakah yang terjadi pada seorang Ka’ab bin Malik? Ya, ia tidak berangkat ke Tabuk. Masyaallah, harusnya ia berangkat. Sebagaimana perang-perang sebelumnya, bukankah ia tidak pernah absen ? Mengapa ia tidak berangkat menuju Tabuk, padahal Nabi dan para sahabat telah berangkat ?
Pasti ia punya kondisi dan situasi yang membuatnya tidak berangkat. Ada sesuatu di balik ketidakberangkatannya.

Kamis, 02 Februari 2012

Kamis, 02 Februari 2012

Apa Makna Jama’ah (2)


Oleh : Cahyadi Takariawan
gambar : Google
Aku ingin meneruskan berbincang tentang makna jama’ah, dalam sudut pandang yang praktis. Sebelumnya telah aku ungkapkan tentang makna jama’ah dalam skala personal dan dalam skala struktur oganisasi. Kali ini, ada satu hal kecil yang ingin aku tambahkan.
Engkau adalah seorang kader dakwah, seorang aktivis. Dalam dirimu teramat banyak potensi yang Allah berikan, alhamdulillah. Dengan berbagai potensi itu engkau bisa melakukan banyak hal, teramat sangat banyak hal. Engkau bisa mendaftarkan diri menjadi calon kepala daerah atau calon wakil kepala daerah saat Pilkada di daerahmu. Engkau bisa mendaftarkan diri menjadi calon Presiden atau calon wakil Presiden saat berlangsung Pilpres. Engkau bisa mencalonkan diri dalam berbagai jabatan publik, tanpa harus meminta pertimbangan dan masukan dari siapapun.
Engkau bisa menghimpun orang dan melaksanakan kampanye. Engkau bisa membentuk tim sukses yang akan menjalankan semua agenda pemenangan dirimu. Engkau bisa memenuhi semua persyaratan formal untuk pendaftaran dirimu sebagai calon. Engkau bisa membiayai semua keperluan kampanye dan semua konsekuensi pemenanganmu. Engkau bisa mengibarkan bendera bersama tim sukses dan tim teknis yang engkau bentuk, dan memenuhi semua pojok wilayah dengan spanduk dan poster dirimu.
Dengan segala potensi dan kharisma dirimu, engkau bisa menggerakkan massa, menembus media, dan menjadi perhatian publik. Engkau bisa mempengaruhi pilihan masyarakat dengan rekayasa media dan berbagai program nyata di tengah konstituen pendukungmu. Berbagai resources bisa engkau hadirkan untuk mendukung semua langkah pencalonan dan pemenangan dirimu.
Akhirnya, engkau bisa saja memenangkan pertarungan dalam Pilkada atau dalam Pilpres, Sendiri saja,bersama tim sukses bentukanmu, engkau bisa menjadi kepala daerah atau bahkan menjadi Presiden. Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.
Namun itu bukan jama’ah.
Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tidak memutuskan sendirian pencalonan dirimu. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau mempercayakan pembahasan mengenai pencalonan dalam Pilkada kepada tim yang dibentuk oleh struktur. Ketika engkau menyerahkan pilihan untuk maju atau tidak maju dalam pilkada kepada keputusan struktur; dan engkau rela untuk maju atau untuk tidak maju dalam pencalonan sesuai keputusan struktur.
Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tidak memaksakan diri untuk maju, padahal struktur telah memutuskan yang lain. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau bisa menerima keputusan struktur yang mencalonkan kader atau pihak lain dalam Pilkada atau Pilpres, kendati engkau merasa lebih baik dari kader atau pihak yang dicalonkan tersebut.
Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau bersedia maju dalam pencalonan, karena telah menjadi keputusan jama’ah. Engkau tidak menolak amanah itu, kecuali dengan alasan yang syar’i. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau berada dalam koordinasi dan konsolidasi bersama struktur dalam menjalankan agenda pencalonan dan pemenangan. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau mengelola semua resources yang engkau miliki dan bisa engkau usahakan, dalam koordinasi dengan struktur.
Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tetap semangat terlibat dalam proses pemenangan, kendati yang menjadi calon bukan dirimu, karena struktur telah menetapkan kader lain sebagai calon yang diusung. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tetap bekerja dengan bersungguh-sungguh mengusahakan kemenangan saudaramu yang telah ditetapkan sebagai calon, kendati engkau sesungguhnya juga menginginkan posisi itu.
Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tetap terlibat membantu usaha pengelolaan pemerintahan yang bersih, peduli dan profesional, tatkala kader yang dicalonkan telah berhasil memenangkan pemilihan. Engkau tidak menghambat program yang dicanangkan oleh kepala daerah atau Presiden terpilih, kendati engkau tetap memiliki keinginan untuk maju dalam proses pemilihan lima tahun yang akan datang.
Itulah yang disebut jama’ah.

Jumat, 06 Januari 2012

Jumat, 06 Januari 2012

Apa Makna Jama’ah?


Oleh : Cahyadi Takariawan
gambar : Google
gambar : Google
Aku ingin menggambarkan makna jama’ah dengan sangat sederhana. Bukan dengan dalil-dalil, karena itu sudah sangat banyak dijelaskan para ulama dan para ustadz. Namun dengan hal-hal praktis yang kita lakukan dalam kehidupan keseharian. Hal-hal mudah yang bisa kita aplikasikan dalam kegiatan.
Dalam Skala Personal
Engkau adalah seorang kader dakwah, seorang aktivis. Dalam dirimu teramat banyak potensi yang Allah berikan, alhamdulillah. Dengan berbagai potensi itu engkau bisa melakukan banyak hal, teramat sangat banyak hal. Engkau bisa mengundang banyak orang untuk datang menghadiri kegiatanmu, engkau bisa mengumpulkan banyak khalayak untuk memenuhi undanganmu. Engkau bisa menggelar ribuan acara dengan nama dan potensimu. Engkau bisa mengatakan, “Sendiri saja, aku bisa melakukan semua ini”.
Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.
Namun itu bukan jama’ah. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tidak bekerja sendirian, kendati engkau sendiri mampu melakukan itu. Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau tidak menjalankan semua agenda dakwah sendirian, kendati engkau sendiri yakin bisa melakukan itu; oleh karenanya engkau memerlukan kebersamaan untuk mengemban amanah dakwah.
Yang disebut jama’ah adalah ketika engkau menjadi satu bagian yang utuh dari sebuah kebersamaan, kendati engkau merasa lebih leluasa bekerja sendirian. Yang disebut jama’ah adalah ketika ada visi jama’i, ada manhaj, ada khuthuwat, ada baramij, yang kesemuanya merupakan produk kolektif, bukan produk individu, kendati engkau bisa membuat itu semua sendirian.
Pada Struktur Ranting
Pada struktur lembaga dakwah di tingkat ranting, aku sangat yakin bahwa para aktivis yang berada dalamnya memiliki potensi yang luar biasa hebat. Mereka bisa melakukan sangat banyak aktivitas dakwah di tingkat ranting. Mereka melakukan koordinasi, konsolidasi juga ekspansi. Mereka menggelar program dan kegiatan setiap hari. Mereka melakukan berbagai inovasi dakwah tiada henti.
Mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan besar dan mampu menghimpun sangat banyak kalangan. Pada titik ini, struktur dakwah tingkat ranting bisa mengatakan, “Kami bisa berjalan sendiri, tanpa perlu struktur dakwah di tingkat cabang. Toh nyatanya selama ini kami memang telah berjalan sendiri tanpa didampingi struktur cabang”.
Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.
Namun itu bukan jama’ah. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur ranting selalu berkoordinasi dengan cabang, kendati mereka merasa mampu melakukan semua kegiatan itu secara mandiri. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur ranting tidak menjalankan semua agenda dakwah sendirian, dan merasa tidak memerlukan struktur cabang, kendati memang mampu menjalankan semuanya sendirian.
Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur ranting menjadi bagian yang utuh dari struktur cabang, kendati mereka merasa lebih leluasa bekerja mandiri, tanpa intervensi apapun dari cabang. Yang disebut jama’ah adalah ketika ada arahan, supervisi, koordinasi, dan konsolidasi struktur cabang dengan struktur ranting. Ketika ada kebersamaan yang harmonis antara struktur cabang dengan ranting. Karena sesungguhnya tidak artinya cabang ketika tidak ada ranting, dan begitu pula sebaliknya. Inilah yang disebut jama’ah.
gambar : Google
gambar : Google
Pada Struktur Cabang
Pada struktur lembaga dakwah di tingkat cabang, aku sangat yakin bahwa para aktivis yang berada dalamnya memiliki potensi yang luar biasa hebat. Mereka bisa melakukan sangat banyak aktivitas dakwah di tingkat cabang. Mereka melakukan koordinasi, konsolidasi juga ekspansi. Mereka menggelar program dan kegiatan setiap hari. Mereka melakukan berbagai inovasi dakwah tiada henti.
Mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan besar dan mampu menghimpun sangat banyak kalangan. Pada titik ini, struktur dakwah tingkat cabang bisa mengatakan, “Kami bisa berjalan sendiri, tanpa perlu struktur dakwah di tingkat daerah. Toh nyatanya selama ini kami memang telah berjalan sendiri tanpa didampingi struktur daerah”.
Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.
Namun itu bukan jama’ah. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur cabang selalu berkoordinasi dengan pengurus daerah, kendati mereka merasa mampu melakukan semua kegiatan itu secara mandiri. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur cabang tidak menjalankan semua agenda dakwah sendirian, dan merasa tidak memerlukan struktur daerah, kendati memang mampu menjalankan semuanya sendirian.
Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur cabang menjadi bagian yang utuh dari struktur daerah, kendati mereka merasa lebih leluasa bekerja mandiri, tanpa intervensi apapun dari pengurus daerah. Yang disebut jama’ah adalah ketika ada arahan, supervisi, koordinasi, dan konsolidasi struktur daerah dengan struktur cabang. Ketika ada kebersamaan yang harmonis antara struktur daerah dengan cabang. Karena sesungguhnya tidak artinya daerah ketika tidak ada cabang, dan begitu pula sebaliknya. Inilah yang disebut jama’ah.
Pada Struktur Daerah
Aku juga sangat yakin, pada struktur lembaga dakwah di tingkat daerah, para aktivis yang berada dalamnya memiliki potensi yang luar biasa hebat. Mereka bisa melakukan sangat banyak aktivitas dakwah di tingkat daerah. Mereka melakukan koordinasi, konsolidasi juga ekspansi. Mereka menggelar program dan kegiatan setiap hari. Mereka melakukan berbagai inovasi dakwah tiada henti.
Mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan besar dan mampu menghimpun sangat banyak kalangan. Pada titik ini, struktur dakwah tingkat daerah bisa mengatakan, “Kami bisa berjalan sendiri, tanpa perlu struktur dakwah di tingkat wilayah. Toh nyatanya selama ini kami memang telah berjalan sendiri tanpa didampingi struktur wilayah”.
Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.
Namun itu bukan jama’ah. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur daerah selalu berkoordinasi dengan pengurus wilayah, kendati mereka merasa mampu melakukan semua kegiatan itu secara mandiri. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur daerah tidak menjalankan semua agenda dakwah sendirian, dan merasa tidak memerlukan struktur wilayah, kendati memang mampu menjalankan semuanya sendirian.
Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur daerah menjadi bagian yang utuh dari struktur wilayah, kendati mereka merasa lebih leluasa bekerja mandiri, tanpa intervensi apapun dari pengurus wilayah. Yang disebut jama’ah adalah ketika ada arahan, supervisi, koordinasi, dan konsolidasi struktur wilayah dengan struktur daerah. Ketika ada kebersamaan yang harmonis antara struktur wilayah dengan daerah. Karena sesungguhnya tidak artinya wilayah ketika tidak ada daerah, dan begitu pula sebaliknya. Inilah yang disebut jama’ah.
gambar : Google
gambar : Google
Pada Struktur Wilayah
Aku sangat yakin, pada struktur lembaga dakwah di tingkat wilayah, para aktivis yang berada dalamnya memiliki potensi yang luar biasa hebat. Mereka bisa melakukan sangat banyak aktivitas dakwah di tingkat wilayah. Mereka melakukan koordinasi, konsolidasi juga ekspansi. Mereka menggelar program dan kegiatan setiap hari. Mereka melakukan berbagai inovasi dakwah tiada henti.
Mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan besar dan mampu menghimpun sangat banyak kalangan. Pada titik ini, struktur dakwah tingkat wilayah bisa mengatakan, “Kami bisa berjalan sendiri, tanpa perlu struktur dakwah di tingkat pusat. Toh nyatanya selama ini kami memang telah berjalan sendiri tanpa didampingi struktur pusat”.
Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.
Namun itu bukan jama’ah. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur wilayah selalu berkoordinasi dengan pengurus pusat, kendati mereka merasa mampu melakukan semua kegiatan itu secara mandiri. Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur wilayah tidak menjalankan semua agenda dakwah sendirian, dan merasa tidak memerlukan struktur pusat, kendati memang mampu menjalankan semuanya sendirian.
Yang disebut jama’ah adalah ketika struktur wilayah menjadi bagian yang utuh dari struktur pusat, kendati mereka merasa lebih leluasa bekerja mandiri, tanpa intervensi apapun dari pengurus pusat. Yang disebut jama’ah adalah ketika ada arahan, supervisi, koordinasi, dan konsolidasi struktur pusat dengan struktur wilayah. Ketika ada kebersamaan yang harmonis antara struktur pusat dengan wilayah. Karena sesungguhnya tidak artinya pusat  ketika tidak ada wilayah, dan begitu pula sebaliknya. Inilah yang disebut jama’ah.
Inilah Jama’ah
Ya, inilah bangunan jama’ah itu. Ketika semua bagian saling terkait, saling menyatu, saling menjadi bagian utuh dengan bagian lainnya. Setiap bagian sama pentingnya, seperti kita memahami bagian manakah yang penting dari mobil. Roda sama pentingnya dengan kemudi, rem sama pentingnya dengan gas, oli sama pentingnya dengan bahan bakar. Semua bagian menjadi pembentuk bangunan utuh dari jama’ah. Jika berkurang satu bagian, akan berdampak secara sistemik bagi kegiatan dan kehidupan jama’ah.
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam” (HR. Muslim).
Semua dari kita memiliki potensi dan kemampuan yang hebat, alhamdulillah. Namun sehebat apapun potensi itu, menjadi kurang bermakna ketika tidak diwadahi jama’ah. Engkau mungkin kurang sabar dalam mengikuti ritme hidup berjama’ah, karena ada aturan, ada panduan, ada pedoman, ada keputusan yang harus dilakukan. Engkau mungkin merasa bosan dengan berbagai agenda hidup berjama’ah yang tampak lamban, padahal engkau bisa melakukan berbagai hal lebih cepat.
Memang bisa, dan sangat mudah bagimu.
Namun itu bukan jama’ah. Karena jama’ah artinya keterpaduan, kesatuan, keharmonisan, kebersamaan, kesediaan, kerelaan, empati, dan keteraturan. Karena jama’ah artinya perencanaan. koordinasi, konsolidasi, pengaturan, manajemen, komando, pengawasan serta evaluasi. Karena jama’ah artinya penyatuan hati, perasaan, pikiran, dan kegiatan. Karena jama’ah artinya kasih sayang, kelembutan, ketegasan, kedisiplinan dan keserasian.
Karena jama’ah artinya cinta.
gambar : Google
gambar : Google