Tampilkan postingan dengan label Taujih Ust. KH. Hilmi Aminuddin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih Ust. KH. Hilmi Aminuddin. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2012

Senin, 13 Februari 2012

Taujih Ustadz Hilmi Aminuddin @ Rakornas Zona 1



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
الحمدلله, الحمدلله الذي هدان لهذا وما كنا لنهتدي لولا عن هدان الله
وأشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له
وأشهد أن محمد عبده ورسوله
وصلاة وسلام على نبين محمد و على اله وصحبه ومن وله
وقال عزوجله فى كتاب العزيز
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
قُلْإِنَّنِيهَدَانِيرَبِّيإِلَىصِرَاطٍمُّسْتَقِيمٍدِيناًقِيَماًمِّلَّةَإِبْرَاهِيمَحَنِيفاًوَمَاكَانَمِنَالْمُشْرِكِينَ
صدق الله العظيم

Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah
Alhamdulillah pada malam hari ini Allah mempertemukan kita dengan tekad bersama meningkatkan kerja dan kinerja dakwah serta perjuangan kita di dalam situasi ketika pada hari hari ini, semangat perjuangan Islam di seluruh dunia sedang bergelora.  Dunia Islam sedang mendapatkan sebutan rabi’ al islami musim semi Islam. Bila di negara-negara yang punya pergiliran empat musim, musim semi datangnya hanya selama 3 bulan dalam setahun yang ditandai dengan tumbuhnya cabang-cabang dan dahan-dahan baru di pohon-pohon, tumbuhnya putik-putik bunga, bermekarannya bunga-bunga dan buah-buah mulai bermunculan, maka di Indonesia keadaan bersemi seperti itu sepanjang tahun sehingga musim semi di Indonesia adalah sepanjang tahun, Allahu Akbar.
Kita dianugrahi Allah SWT sebuah wilayah dakwah yang mempunyai rabi’u da’im, musim semi yang terus menerus, bunga-bunga sepanjang tahun bermekaran, daun-daun sepanjang tahun menghijau, ranting-ranting bertumbuhan  dan buah-buah ranum sepanjang tahun bisa dipetik.  Kita bisa menaman pohon di bulan apapun, sehingga umat Islam Indonesia yang diamanahi Allah SWT negeri yang seindah ini, seharusnya mempunyai semangat musim semi yang terus menerus dan senantiasa tumbuh kembang serta berbuah memberikan manfaat seperti yang digambarkan oleh Al-Quran sebagai kasyajaroh thoyyibah:
كَشَجَرةٍطَيِّبَةٍأَصْلُهَاثَابِتٌوَفَرْعُهَافِيالسَّمَاء ﴿٢٤﴾ تُؤْتِيأُكُلَهَاكُلَّحِينٍبِإِذْنِرَبِّهَا….
Mudah-mudahan karakter musim semi yang merupakan sifat alam Indonesia menjadi sifat umat Islam Indonesia yang selalu bersemi memberikan kecerahan dengan bunga-bunganya bagaikan senyuman-senyuman yang menyapa setiap orangdan  juga memberikan buah-buah ranumnya yang menyegarkan pada siapapun. Hal itu pula yang seharusnya ada pada kita.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah
Dalam kurun waktu satu tahun sejak Januari 2011 di negara-negara Arab terjadi musim semi bagi gerakan Islam. Fenomena yang kita lihat tersebut merupakan fenomena yang menggembirakan dan sungguh memberikan harapan bukan hanya bagi umat Islam melainkan juga harapan bagi kemanusiaan. Mudah-mudahan musim semi Islam ini bisa mengantarkan seluruh umat manusia di muka bumi pada kedamaian dan kesejahteraan karena dengan keadilan hukumnya, kejernihan aqidahnya dan kebersihan ideologinya, diyakini umat Islam bisa mengelola kehidupan kemanusiaan menuju kedamaian dan kesejahteraan, insya Allah. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Namun  kalau kita menengok ke belakang dan mengingat latar belakang sebelum terjadinya musim semi di negara Arab sesungguhnya telah ada episode yang berat sepanjang puluhan tahun yang lalu. Saat ini mungkin kita terkagum-kagum oleh negara Arab yang pertama kali menyelesaikan pemilu dengan sukses yakni Tunisia, namun hal yang tidak boleh dilupakan adalah betapa nasib umat Islam sebelumnya di negeri itu luar biasa menyedihkan di dalam dua periode pemerintahan diktator Habib Burquibah dan kemudian Zainal Abidin bin Ali yang memerintah dengan tangan besi. Gerakan Islam dan dakwah Islam dibungkam bahkan selama 23 tahun dijadikan organisasi terlarang. Selain itu ciri-ciri keislaman dikikis bahkan seandainyapun itu merupakan ciri yang tersembunyi, jika seorang pemuda kelihatan dengkulnya menghitam yang menunjukkan ia suka sholat, maka pemuda itu bisa ditangkap dan dipenjara karena diduga sebagai anggota Gerakan Islam. Bahkan ajaran Islam juga dihinakan di Tunisia sehingga sampai-sampai di kuliah syari’ah di Jami’ah Zaituniyah sengaja dibuatkan kolam renang yang diprogram oleh kampus agar jam berenangnya campur antara wanita dan laki-laki  dengan pakaian yang serba minim.  Kondisi seperti itulah yang menjadi latar belakangi perjuangan mereka hingga akhirnya tiba saatnya mereka mendapat kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT sesuai dengan janjinya “wa tilkal ayyamu nudawiluha bainannaas” dan hari-hari itu akan diputar gilirannya kepada manusia.
Akan tetapi tentu saja yang akan mendapat giliran hanyalah yang siaga sesuai dengan perintah Allah:  وَأَعِدُّواْلَهُممَّااسْتَطَعْتُممِّنقُوَّةٍ.  Hanya mereka yang melaksanakan perintah وَأَعِدُّواْitu sajalah yang siap menangkap kesempatan dan siap memetik hasil pada setiap peluang. Maka ketika datang waktunya kebebasan dan keterbukaan dalam proses demokratisasi di Tunisa yang ditandai dengan Pemilu ternyata yang telah berusaha dighaibkan, ditiadakan, dimusnahkan selama 23 tahun yakni partai Nahdhah yang berasal dari Gerakan Islam memperoleh suara hampir 50% dan sekarang akh Hamadi Jibeli menjadi Perdana Menteri di sana. Setelah 23 tahun mereka diusir dari negerinya dan menjadi pengungsi di banyak negara terutama di Eropa, begitu saatnya tiba untuk kembali maka  para pimpinannya kini memetik hasil kesabaran dalam perjuangan panjang mereka.
Ini adalah sebuah pelajaran berharga bagi kita semua, mengapa bisa tercapai keberhasilan seperti itu di Tunisia. Selanjutnya bila kita menengok negara lain yakni Mesir yang umur dakwahnya lebih tua dari Tunisia, nampak pula oleh kita bahwa dalam usia dakwah yang 84 tahun, kebebasan dakwah di sana hanya bisa dinikmati selama 20 tahun pertama.  Sejak gugurnya imam Syahid, dakwah selama 64 tahun terus menerus ditindas dan dibantai serta banyak aktivisnya yang digantung dan dipenjarakan, bahkan penjara-penjara seolah menjadi langganan persinggahan para aktivis sehingga memunculkan sindrom untuk kembali dan kembali lagi ke penjara. Salah satu tokohnya pernah mengatakan kepada saya terkait dengan program bagi ikhwah yang baru keluar dari penjara, ma kidna nahuju mina sijni ilaa annufaqiraa fii dukhulihiy mawa tansaniyah, setiap kali kami keluar dari penjara yang terpikir kapan kami masuk kembali. Bahkan lebih jauh sindromnya, walaupun sudah di luar penjara, biasanya mereka mengirimkan bahan-bahan bangunan untuk memperbaiki ruangan-ruangan penjara, karena selalu berpikir sewaktu-waktu bisa masuk lagi.
Selama 64 tahun dakwah di Mesir ditindas dan para aktivisnya menjadi buron dimana-mana, walaupun hikmah rabbaniyahnya selalu ada, karena ketika di Mesir dakwah dipukul dan dibantai serta para aktivisnya dipenjarakan dan digantung ternyata justru terjadi proses penyebaran yang cepat luar biasa ke seluruh penjuru dunia. Bagaikan menepuk air di dulang yang kemudian terpercik kemana-mana, dan mungkin salah satu percikan itu sampai ke Indonesia dan percikan itu menyebar ke seluruh Nusantara sehingga di antaranya menyebabkan munculnya fenomena seperti malam ini. Fenomena yang menampilkan semangat musim semi dengan wajah-wajah yang cerah, senyum-senyum yang merekah dalam penampilan baju putih bersih, sehingga bagaikan bunga-bunga melati yang sedang bermekaran. Membangkitkan harapan kita untuk meraih kemenangan 2014 dan sebelumnya akan didahului kemenangan 2012 (di DKI Jakarta dan Kab. Bekasi) dan kemenangan 2013 (Jawa Barat), qobaqo sayni au adnaa, insya ALLAH.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah
Saya ingin menggarisbawahi, betapa umat Islam di negara-negara yang dihimpit dengan berbagai tekanan, intimidasi, pembantaian, pemenjaraan tempat aneka ragam cara keahlian menyiksa orang dilaksanakan, ketika mendapatkan peluang keterbukaan dan demokratisasi seperti misalnya di Mesir tiba-tiba memetik suara 70% (47% nya diraih oleh Hizbu Hurriyah wa ‘Adalah/ PKK).  Hal yang harus menjadi pelajaran bagi kita adalah bahwa kita tidak bisa mengatakan bahwa kemenangan itu mereka dapatkan secara seketika setelah menerima kebebasan.  Kemenangan umat Islam di Tunisia yang hampir 50% atau di Mesir 70%  dengan 47% oleh PKK dan 23% oleh partai Salafiy yang sudah ta’akhwana (sebab Salafiy yang asli mengharamkan politik) merupakan indikator yang jelas bahwa selama puluhan tahun ditindas, mereka tetap bekerja dan tetap berjuang. Mereka tetap berkorban dan tetap berdakwah dalam situasi dan kondisi apapun. Boleh jadi dakwah mereka bersembunyi di ruang-ruang  basement atau merayap di lorong-lorong bagaikan semut-semut yang merayap kemana-mana di seluruh wilayah yang sulit dideteksi selama puluhan tahun.  Mereka tetap bekerja keras itulah ibrah yang harus kita petik, betapa saudara-saudara kita disana dengan tumpukan kesulitan yang demikian banyak, terus berjuang, terus bekerja keras, terus berkorban, terus berproduksi menghasilkan produk-produk dakwah yang bukan saja menambah jumlah junudud da’wah di negerinya melainkan juga untuk disebar ke seluruh dunia. Kerja keras mereka inilah yang harus dijadikan ibrah oleh kita.
Sementara kita, sekali lagi Alhamdulillah mendapat lahan dakwah yang selalu berada di musim semi sehingga seharusnya memiliki peluang dan kesempatan yang lebih banyak untuk kita petik, manfaatkan dan kita olah menjadi produk-produk dakwah yang bisa dinikmati oleh segenap bangsa Indonesia bahkan juga oleh segenap kemanusiaan.  Sekali lagi ibrah yang harus kita ambil, betapa dengan istiqomatu da’wah(استقامة الدعوة), konsistensi dakwah yang terus menerus dalam segala situasi dan kondisi, sulit atau mudah, leluasa atau terhimpit, mereka terus bekerja dan ternyata tetap mampu membangun al wa’yul al islamiy الوعي الاسلامىtermasuk wa’yu siyasiالوعي السياسى.
Ikhwan dan akwat fillah
Bila kita kini melihat pertumbuhan wa’yu siyasi di indonesia, maka salah satu tolok ukurnya adalah Pemilu dan pada Pemilu pertama yang demokratis di Indonesia yakni tahun 1955, konstelasi politik Islam menghasilkan 45%.  Di zaman Soeharto, Pemilu  sekedar dekorasi demokrasi karena perolehannya sudah dijatah dan di setiap pemilu Golkar mendapatkan lebih kurang  75%, PPP dapat 22% dan PDI dapat 3%. Bahkan partai-partai politik tersebut itu tidak  bisa memilih Ketuanya sendiri secara bebas kecuali atas persetujuan penguasa. Barulah di tahun 1999, dilangsungkan lagi Pemilu kedua yang demokratis atau Pemilu pertama di masa Reformasi, namun  ternyata wa’yul islami di bidang politik di Indonesia terus merosot, dari 45% di tahun 1955 dan kini terakhir di pemilu 2009 tinggal 23% suara bagi partai Islam atau berbasis massa Islam dan itu pun terpecah di 4 partai. Hal itu berarti dalam kurun waktu 50 tahun lebih suara hilang yang hilang bagi partai  Islam adalah sebesar 50%.  Berarti kita bisa bertanya fa’aina du’at, kemana para du’at atau mungkin pertanyaan lainnya adalah wa kaifa da’wah, seperti apa sih dakwahnya sehingga tidak menghasilkan wa’yul islami  dan tidak menghasilkan wa’yu siyasi islami.
Dalam kondisi ini umat Islam ada dimana-mana dan banyak yang memiliki semangat religius dan dari segi ibadah mahdah, ritual sangat fenomenal,  tetapi wa’yul islami hampir tidak ada atau paling tidak selalu merosot. Oleh karena itu perlu kita telusuri apa yang salah dengan da’wah kita. Mengapa da’wah yang semarak di mimbar-mimbar di majelis-majelis taklim, di televisi di radio dari sejak dini hari sampai malam hari, tetapi wa’yul islami dan terutama wa’yu siyasi islami nya tidak terbentuk. Hal ini yang perlu kita pelajari kenapa, padahal kesemarakan majelis taklim luar biasa, semakin ke kota semakin semarak. Di Jakarta rombongan ibu-ibu yang pulang dari majelis taklim, bagaikan sebuah kafilah yang pulang dari perjalanan jauh dengan semangatnya luar biasa dan adzan berkumandang dimana-mana serta tidak pernah dilarang seperti di Turki. Adzan dalam bahasa Arab di Turki pernah dilarang dari awal berkuasanya Kemal At Taturk  1923 sampai tahun 1955 jadi sekitar 30 tahun lebih adzan dalam berbahasa arab dilarang. Bahkan di tahun 80an akhir, saya sempat melihat fenomena Islam  yang masih sangat terbelakang di Turki. Masjid hanya diisi oleh orang tua dan kalau baca kitab tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, misalnya baca kitab Bukhari Muslim ya apa adanya bahasa Arab, tidak peduli orang mengerti atau tidak.
Kita tidak pernah merasakan seperti itu karena pesantren-pesantren dengan taklimnya, madaris ma’ahid dengan pendidikannya memiliki keleluasaan berkembang, tetapi sayangnya bila dilihat dari wa’yul islaminya kok malah merosot. Hal tersebutlah yang harus kita evaluasi dan kita bertanggung jawab untuk bersama-sama memperbaiki. Kita harus dapat memanfaatkan semangat religius yang bagus di Indonesia ini. Masyarakat yang rabi’ yang selalu berada di musim semi ini  harus kita manfaatkan untuk mempercepat tumbuhnya wa’yu siyasi al islami agar jangan sampai umat Islam dari sisi politik bagaikan komoditi non migas.  Seorang tokoh agama misalnya mengatakan saya punya pengikut 2 juta, 3 juta atau Ormas  Islam mengatakan saya punya anggota 7 atau 10 juta lalu ditawarkan ke partai-partai untuk melakukan transaksi uang terkait dengan dukungan suara yang bisa diberikannya. Kondisi tersebut menandakan wa’yu siyasi al islami yang terus merosot. Oleh karena itu Pilkada dan Pemilu salah satu manfaatnya adalah sebagai tolok ukur untuk dapat mengevaluasi sejauh mana kita berhasil membangkitkan wa’yu siyasi al islami sehingga suara umat Islam untuk Islam dan bukan untuk yang lain.  Jika wa’yu siyasi al islami itu tumbuh terus maka partai-partai Islam atau lembaga-lembaga perjuangan Islam akan mempunyai legitimasi yang tinggi dalam berjuang di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga tidak dianggap partai emperan yang marginal yang sekedar menjadi  hiasan demokrasi yakni bahwa umat Islam boleh berpartai. Sebaliknya akan betul-betul menjadi partai yang dominan dan menentukan perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia karena sudah  selayaknyalah umat Islam yang mayoritas ini yang paling menentukan garis kehidupan berbangsa dan bernegara. Seharusnya kitalah yang paling berpeluang melaksanakan konsep rahmatan lil ‘alamin, sehingga kasih sayangnya menyentuh seluruh komponen bangsa, membahagiakan dan mensejahterakan seluruh komponen bangsa. Hal ini harus dijadikan bahan evaluasi oleh kita secara terus menerus.
Ikhwan dan akhwat fillah
Tadi sudah saya sebutkan bahwa contoh di negara-negara baik di Libya, Mesir, Tunisia, Yaman dan negara-negara yang selama ini kelihatan terhimpit ternyata wa’yu siyasi al islaminya luar biasa, sehingga ketika peluang terbuka, segera saja umat Islam mengekspresikan pandangan politiknya dan langsung menyalurkannya kepada saluran Islam. Sementara di Indonesia, suara umat Islam menyebar, yaminan wa syimalan, ke kiri dan ke kanan, ada yang ke partai kiri atau ke partai kanan bahkan ada yang ke partai kirinya kanan dan ke partai kanannya kiri. Begitu juga sebagian memberikan suaranya ke ke partai kirinya kiri ke partai kanannya kanan  sehingga semakin jauh dari partai-partai Islam.
Kondisi tersebut harus kita perbaiki dari sisi perjuangan politik kita, sebab kalau tidak kita evaluasi maka umat Islam masih akan selalu marginal di politik, padahal as siyasah tata’alaq bis siyadah, politik itu berhubungan langsung dengan kedaulatan “la siyadata bi la siyasah”, tidak ada kedaulatan tanpa adanya otoritas atau tanpa politik. Hal inilah yang harus kita evaluasi sejak hari ini sampai hari Ahad pada Rapat Kerja Nasional. Kita harus lebih menekuni ibrah keberhasilan mereka yang bukan hanya bisa mempertahankan wa’yu siyasi bahkan hebatnya justru mampu menumbuhkannya di saat-saat sulit, berarti mereka selama kondisi-kondisi sulit itu tetap istiqomah.
Al-quran banyak sekali mengingatkan agar kita istiqomah “fastaqim kama umirta wa man taba ma’a wa laa tathghau innahu kana bima ta’maluna bashir”, istiqomahlah sebagaimana diperintahkan kepadaku dan orang-orang yang bertaubat bersama-sama kami,  walaa tathghau, jangan melampaui batas, karena kalau melampaui batas berarti tidak istiqomah.  Thogho berarti melampaui batas dan berarti tidak akan istiqomah. Di dalam ayat lain Allahjuga berfirman,  “wa anna hadza shirati mustaqiman fattabi’u”,  bahwa ini jalanku yang lurus ikutilah, “wa laa tattabi’u subula fatafarraqu bikum an sabilih”,  dan jangan ikuti jalan-jalan yang begitu banyak jalan-jalan yang lain, “ fatafarriqu bikum an sabilih”,  kalian akan bercerai berai dari jalannya dari jalan Allah SWT, dzalikum washokum bihi la’allakum tattaqun , demikianlah Allah SWT memberikan wasiat kepada kalian agar kalian tetap bertaqwa. Bahkan seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW dengan mengatakan: “ Ya Rasulullah berilah saya nasihat yang setelah ini saya tidak akan meminta nasihat lagi maka nasihat yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat itu adalah  qul amantu billah tsummastaqim, katakanlah berimanlah kepada Allah  dan beristiqomahlah.
Konsistensi ini tentu saja bukan sesuatu yang statis karena istiqomah itu tidak identik dengan statis melainkan dinamis jadi bisa bertambah atau berkurang itu dinamis sehingga kalau tidak dijaga  atau diwaspadai tahu-tahu kita sudah melenceng, mungkin akibat kesulitan hidup mungkin pula justru akibat kesenangan hidup. Kita mungkin melenceng karena jabatan atau kekayaan atau sebaliknya melenceng karena tidak punya jabatan dan kekayaan. Oleh karena itu sebagai kader dakwah kita harus mewaspadai keistiqomahan kita dalam segala situasi baik ketika kita duduk sebagai anggota DPR, DPRD, sebagai walikota, Gubernur atau Bupati, karena hanya dengan keistiqomahan itulah kita akan mampu menjaga kontinuitas dakwah
Ikhwan dan akhwat fillah
Kedua, ibrah yang kita dapatkan dari perjuangan saudara-saudara kita di negara-negara yang mengalami kesulitan yang dahsyat itu adalah tetap memiliki orientasi yang jelas dalam segala langkah perjuangannya. Padahal biasanya bila dalam kondisi sulit tehimpit dan terjepit seseorang akan kehilangan orientasi atau mengalami disorientasi yakni tidak tahu mau kemana dan bahkan tidak mengetahui pula di mana saat ini berada karena begitu bingungnya. Sebaliknya disorientasi juga bisa terjadi pada saat seseorang mengalami banjir kemenangan keberhasilan dan kesenangan padahal memiliki orientasi yang jelas dalam setiap kerja merupakan syarat utama sebagaimana firman Allah SWT, wakulli wijhatun huwa mualliha, setiap orang harus punya wijhah atau orientasi yang jelas tentang arah mana yang akan dituju olehnya.  Kalau sudah jelas orientasinya barulah kemudian bisa berlari, fastabiqul khairat, karena orang yang berlari tanpa wijhah, orientasi yang jelas sama saja dengan orang yang  berlomba lari namun tidak tahu startnya dari mana dan tidak tahu pula akan berakhir di garis finish yang mana.
Fenomena kehidupan umat Islam di Indonesia saat ini menunjukkan gejala disorientasi seperti itu karena umat Islam di Indonesia sebetulnya sangat aktif bergerak di segala sektor kehidupan hanya sayangnya sering kali tidak mengetahui dengan jelas start awal berlarinya dari mana dan garis finishnya di mana.  Misalnya terkait perjalanan antara Bandung – Jakarta, boleh jadi ada yang merasa startnya itu ada di Bandung, ada juga  yang merasa nanti startnya di Cimahi, tetapi sampai di Cimahi bertemu dengan orang yang merasa bahwa garis finishnya di Cimahi sehingga tidak perlu berjalan lagi. Sehingga boleh jadi sepanjang perjalanan ada banyak garis finish, ada yang merasa garis finishnya di Cianjur, ada yang berhenti di Bogor dan ada pula yang di Puncak. Umat  Islam yang disorientasi betapapun nampaknya bekerja keras namun ternyata produktifitasnya rendah. Hal ini yang harus digarisbawahi bahwa orientasi kerja yang jelas akan sangat menentukan produktifitas. Alhamdulillah umat Islam di Indonesia ini sudah aktif tinggal dibenahi orientasinya misalnya orinetasi ekonominya apa, orientasi pendidikannya apa, orientasi kerja tarbiyah apa, kerja siyasahnya apa, kerja tsaqofahnya apa kemudian bagaiman menyinergikannya dan capaian-capaian bersama apa yang mau diraih sebagai satu umat.
Kita sering kali mendengar bahwa capaian itu hasilnya lumayan atau ungkapan ‘lumayanan, segini juga udah alhamdulillah’. Masalahnya adalah istilah lumayan itu tidak jelas ukurannya jadi ukuran keberhasilannya tidak ada dan hal itu disebabkan oleh adanya disorientasi. Jadi sekali lagi wijhah itu sangat penting.  Oleh karena itu Allah pun menegaskan dalam ayat lain (Q.S 30:30), fa aqim wajhaka lid diini hanifa, maka hadapkanlah orientasi hidupmu kepada dien yang hanif ini.  Bahkan dalam sholatpun kita selalu memproklamirkan orientasi kita, inni wajhatu wajhiya lilladzi fatharos samawati wal ardh, sebagaimana surat al-An’am ayat 161, 162, 163 yang tadi saya bacakan di pembukaan. Hal itu juga menunjukkan betapa orientasi itu penting “qul innani hadani rabbi ilaa shiratim mustaqim diinan qiyyaman millata ibrahima hanifa wa maa kana minal musyrikin”, “qul inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa ma mati lillahi rabbil ‘alamin laa syarikalahu wa bidzalika umirtu wa ana awwalul muslimin”. Bukannya berkata, saya nanti saja lah belakangan melainkan “wa ana awwalul muslimin” .  Kalimat awwalul muslimin tentu saja bukan diartikan bahwa sayalah yang pertama masuk Islam melainkan menandaskan keinginan Allah agar kita mempunyai jiwa-jiwa kepeloporan, wa ana awwalul muslimin, bahwa akulah pelopornya umat Islam seperti itu
Jika semangat penekanan orientasinya jelas seperti itu, insya Allah kemenangan-kemenangan yang tadi saya sebutkan bahwa jaraknya sudah qoba qauna saini aw adna itu , insya Allah tidak akan diberikan oleh Allah kepada yang lain.  Oleh karena itu dalam menyusun rencana kerja pertama harus mencerminkan keistiqomahan dan yang kedua orientasi yang jelas. Setiap rencana kerja mempunyai orientasi yang jelas, mau apa sampai dimana dan untuk apa. Jangan belum-belum sudah mengatakan, segini juga Alhamdulillah atau kata orang Sunda, sekie ge uyuhan, jadi kalau digawe uyuhan. Maka saya tekankan sekali lagi kepada kita semua termasuk kepada saya, jangan sampai kehilangan orientasi.

Ikhwan dan akhwat fillah
Ketiga, pelajaran lainnya yang kita dapat dari mereka yang sudah memberikan contoh gemilang keberhasilan dakwahnya adalah selalu mempunyai sikap tawazun (توازن), selalu seimbang. Ketawazunan atau keseimbangan sangat penting karena merupakan soko gurunya fitrah  sebagaimana Allah berfirman (Q.S Ar Rahman: 7-9), was sama`a wa rafa’a wa wadho’al mizan, Allah menciptakan langit dengan meletakkan neraca keseimbangannya sehingga matahari dan bintang berjalan sesuai dengan porosnya  masing-masing secara seimbang. Bahkan Allah  memperingatkan dalam ayat berikutnya, alla tathghau mizan, jangan menabrak keseimbangan, jangan melampaui dan merusak keseimbangan itu, baik keseimbangan antara dakwah dengan ekonomi, keseimbangan antara aktivitas sosial kita dengan aktivitas dakwah dan aktivitas rumah tangga yang menyangkut pula hubungan dengan istri dan anak, hubungan dengan mertua dan lain-lain yang kesemuanya harus dijaga keseimbangannya “alla tathghau fil mizan”
Bahkan untuk ketiga kalinya, Allah SWT menekankan, wa aqimul wajna bil qisthi wa laa tukhtsirul mizan (dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan benar) artinya jangan keseimbangan yang semu atau palsu. Keseimbangan itu jangan dipalsukan dan bagi manusia ukuran keseimbangannya ada di hati yang sebetulnya sensitif terhadap perubahan-perubahan keseimbangan. Dengan adanya keseimbangan maka  kita menjadi stabil dan bisa melaksanakan perintah Allah untuk menjadi ummatan wasathan.  Tidak mungkin kita menjadi ummatan wasathan kalau tidak mempunyai keseimbangan dalam hidup, karena bila tidak wasathan atau tidak seimbang berarti kita cenderung ekstrim ke kanan atau ekstrim  ke kiri atau bahkan mungkin lebih ekstrim lagi yakni kanannya kanan atau kirinya kiri.  Oleh karena itu tawazun harus dijaga dalam segala konteks kehidupan.

Ikhwan dan akhwat fillah
Islam adalah konsep yang syamil, integral, menyeluruh, oleh karena itu dakwah kita juga adalah dakwah yang syamil.  Perlu disadari oleh kita bahwa syumuliatud dakwah itu masih jauh dan  belum tercapai di negeri kita, akan tetapi perolehan-perolehan dakwah kita dalam menuju syumuliyatud dakwah harus tetap dijaga keseimbangan antar komponen dakwahnya agar terjadi takamuliyah.  Bila muazanah antara komponen dakwah selalu terjaga perannya  maka nanti akan saling melengkapi yatakamal ba’duha ba’dh. Keseimbangan adalah sesuatu yang dinamis, oleh karenanya keseimbangan yang kita capai malam ini besokpun harus segera dievaluasi apakah besok kita masih tetap dapat tawazun karena ada faktor-faktor lain yang melakukan penetrasi ke dalam kehidupan kita. Oleh karena tawazun adalah sesuatu yang dinamis maka harus terus menerus kita evaluasi dan kita jaga baik secara pribadi maupun secara jama’i. Dengan keseimbangan kita tidak gampang ditarik ke kiri atau ke kanan dan kita akan betul-betul menjadi ummatan wasatha.
Ikhwan dan akhwat fillah
Keempat, istimrariyah. Bila kita seimbang maka keberlanjutan dakwah ini akan terjamin. Kontinuitas dakwah bisa kita jaga karena kita berjalan secara seimbang, la ifrath wa laa tafrith laa ghuluw wa laa tasahul. Kata orang Jawa Barat sendeger tengah yaitu ummatan wasathan. Hubungan antara tawazun yang menghasilkan wasathiyah dan kemudian istimroriyah dijelaskan oleh dua hadits Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda khairul umur awsatuha sebaik-baik perkara adalah yang wasath, pertengahan atau moderat.  Selain itu Rasululullah SAW juga bersabda khairul a’mal adwamuha sebaik-baik amal adalah yang kontinyu walaupun sedikit, sehingga jangan sekaligus banyak tetapi kemudian kehabisan tenaga dan tidak bisa bekerja lagi. Jadi antara awsatuha dan adwamuha itu ada hubungannya karena kita tidak mungkin bisa adwam, kontinyu kalau tidak awsath. Wasathiyah yang dihasilkan dari tawazun iakan menghasilkan istimroriyah atau kontinyuitas
Mesir telah memberi ibrah kepada kita bagaimana mereka selama 64 tahun ditindas  namun selama itu pula  tetap istiqamah  dan selama itu juga tidak kehilangan orientasi. Mereka tidak pernah mengalami disorientasi dan selalu menjaga keseimbangan agar mereka terus kontinyu bekerja.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah
Untuk menjaga kontinuitas terus berkesinambungan diperlukan faktor yang kelima yaitu taurits. Harus ada khutuwat tauritsiyah, langkah-langkah pewarisan, sehingga program-program rabthul khas tajnid atau kasbil afradh harus terus menerus digulirkan dalam rangka menumbuhkan para pewaris dakwah. Langkah-langkah pewarisan harus terus berlanjut, selain untuk memenuhi kebutuhan tantangan di lapangan yang semakin banyak membutuhkan SDM adalah juga karena SDM memang merupakan aset utama dan pertama kita. Oleh karena itu kita harus memperbanyak warasatul anbiya wal mursalin yaitu para du’at. Khutuwat tauritsiyah ini harus terus dilakukan agar dakwah  kita produktif dan berkelanjutan.
Ikhwan dan akhwat fillah
Dalam perjalanan dakwah kita sekarang ini, kita sudah bukan hanya dituntut dengan tanggung jawab nasional di dalam negeri kita saja, melainkan sudah menjadi tumpuan banyak orang baik di dalam maupun di luar negeri. PKS sering disebut sebagai partai harapan atau partai masa depan, gelar itu memang sedikit menghibur walaupun kadang-kadang perolehan Pemilu dan Pilkada kita sedikit. Hanya saja pertanyaan yang lebih penting adalah apakah benar kita sudah memenuhi harapan orang-orang?. Seperti pertanyaan yang muncul di Jawa Barat katanya PKS teh kahartos tapi nte acan karaos. PKS belum terasakan oleh mereka, artinya belum memenuhi harapan mereka.
Kembali ke persoalan tanggung jawab kita yang bukan hanya dalam skala nasional, melainkan secara regional pun kita dituntut untuk memikul tanggung jawab di beberapa sektor yakni di sektor tarbiyah, sektor thulaby, sektor akhwat, sektor takhtith dan sektor siyasi bahkan wakil penanggung jawab manajemennya dari kita juga. Sudah sejak dua tahun ini kita dituntut memikul tanggung jawab internasional dalam pergaulan ‘amal islami al alami dan sekarang kita juga diminta mengirim kader-kader kita untuk memikul tanggung jawab internasional ini di banyak sektor. Sudah tentu mobilitas vertikal ini meninggalkan kekosongan-kekosongan yang harus segera diisi oleh kader-kader dari produk khuthuwat tauritsiyah untuk mengisi kekosongan tersebut.
Maka, pertama, khuthuwat tauritsiyah harus dilakukan karena adanya mobilitas vertikal yang menimbulkan kekosongan. Kedua, khuthuwat tauritsiyah harus dilakukan bukan hanya karena mobillitas vertikal saja, melainkan juga karena kondisi fitrah setiap orang. Generasi tua, generasi pertama sudah mulai menua dan berambut putih sehingga sudah tidak bisa menjadi andalan lagi. Munculnya indikator-indikator penuaan dari generasi pertama menunjukkan bahwa harus segera disiapkan gantinya. Jangan menunggu mereka lumpuh baru digantikan sebab kalau menunggu lumpuh, mereka tidak bisa menikmati untuk memandangi perkembangan dakwah. Jadi tuntutan fitrah juga sudah semakin mendesak adanya khuthuwat tauritsiyah selain adanya tuntutan tanggung jawab mobilitas vertikal yang luar biasa.  Kita dituntut tanggung jawab yang lebih karena dianggap salah satu negara yang mengalami musim semi lebih awal, bahkan musim seminya tidak pernah berhenti sehingga tentu saja dituntut agar kontribusinya lebih besar dan tuntutan ini tidak bisa ditawar-tawar lagi sehingga harus kita jawab  dan harus kita penuhi dengan produktivitas dalam khuthuwat tauritsiyah kita.
Kita harus mampu menyiapkan generasi muda pelanjut, fidyatun amanu bi rabbihim wa zidnahum huda wa rabathna ‘ala qulubihim idz qomu fa qolu rabbuna rabbus samawati wal ardh lan nad’uwa min dunihi ilahan laqod qulna idzan syathotho, pemuda yang beriman tetapi tidak sekedar beriman melainkan wa zidnahum huda, melainkan pemuda yang tahu jalan perjuangan yang akan ditempuhnya dan mempunyai tekad wa rabathna ‘ala qulubihim, terus berani mendeklarasikan dan memproklamasikan dirinya,  idz qomu fa qolu rabbuna rabbus samawati wal ardhi lan nad’uan min dunihi ilahan laqod qulna idzan syathotho.  Jika secara terus menerus fidyatul huda sebagai generasi penerus diproduksi oleh ikhwan dan akhwat di seluruh penjuru Indonesia ini bahkan oleh perwakilan-perwakilan di luar negeri, insya Allah dakwah di Indonesia ini bukan hanya bisa berkontribusi bagi kebajikan nasional melainkan juga bagi kebajikan regional dan internasional sehingga akan dinikmati oleh kemanusiaan, insya Allah.
Insya Allah dalam Rakernas ini khuthuwat tauritsiyah termasuk yang harus dievaluasi secara tajam yakni sejauh mana efektifitas kita melahirkan generasi fidyatun huda. Mudah-mudahan kita semuanya mendapatkan taufiq,hidayah,riayah dan inayah dari Allah SWT sehingga amal dakwah kita diterima sebagai amal sholeh di sisi Allah dan pahalanya akan kita dapatkan fi mizanin hasanatin yaumal qiyamah, amin ya Rabbal ‘alamin, aqulu qauli hadza wastaghfirullahi walakum. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Rabu, 19 Oktober 2011

Rabu, 19 Oktober 2011

Siyasatud Da'wah


Siyasatud da’wah merupakan aktivitas politik praktis da’wah yang erat kaitannya dengan minhaj da’wah, bukan ilmu politik seperti yang kita kenal selama ini yang dilakukan oleh personal structural dan fungsional da’wah dimana ruang lingkupnya adalah dalam pengendalian problematika da’wah.

Senin, 17 Oktober 2011

Senin, 17 Oktober 2011

7 Arahan Ustadz Hilmi Aminuddin


Situasi yang kita hadapi sekarang adalah mata rantai dari ujian-ujian dakwah sebelumnya. Adalah sunatullah bahwa akan ada terus rekayasa untuk mengkerdilkan dakwah. Namun yang penting adalah bagaimana kemampuan kita untuk membuktikan dengan kerja nyata.
Kita sebagai dai dan daiyah diperintahkan oleh Allah SWT jika menghadapi sesuatu yang sulit, yang menghimpit, cepat kembali kepada Allah (fafirruu ilallah..). Kemudian selesaikan dengan mentadabburi konsep Allah. “Afala yatadabbarunal Qur’an am ‘ala quluubin aqfaluha.”

Jadilah Kader Terlatih

Taujih KH. Hilmi Aminudin
Partai Keadilan Sejahtera adalah partai kader. Pimpinan PKS diberbagai level tidak boleh lelah menyiapkan seluruh perangkat-perangkat kaderisasi. Kader-kader PKS harus menjadi kader-kader terlatih agar sanggup menghadapi segala bentuk kompetisi. Hanya kader-kader terlatihlah yang sanggup memikul beban dakwah.

Menjaga Karamah Basyariyah

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin, Lc.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra, 17: 70)
Ikhwah fillah, di muqaddimah jalasah ini tadi telah saya bacakan ayat yang sangat masyhur dan sering dinukil dari surat Al-Isra’. Dalam ayat ini terlihat betapa Allah SWT secara fitrah, kata orang Malaysia secara ‘semula jadi’, menciptakan manusia dalam kemuliaan : “وَلَقَدْ كَرَّمْنَا”. Akan tetapi kemuliaan ini adalah al-karamah bittakrim, kemuliaan karena dimuliakan dan bukannya al-karamah dzatiyah, kemuliaan an sich atau kemuliaan yang melekat dengan sendirinya.

Minggu, 25 September 2011

Minggu, 25 September 2011

Tamayyuz di Mihwar Muassasi


Ikhwah dan akhwat fillah, saat ini gerakan dakwah kita memiliki rakizah siyasiah, yakni stressing atau titik tekan pada bidang politik. Hal ini perlu saya garis bawahi, mengingat ada beberapa hal yang kadang-kadang menyebabkan kita mengalami keterjebakan situasional. Misalnya ada yang mengatakan atau menganggap kita masuk ke dalam mihwar siyasi (era politik).
Padahal dalam manhaj kita, hanya dikenal mahawir arba’ah atau empat era yang di dalamnya tidak ada mihwar siyasi (era politik) sebagaimana halnya tidak ada mihwar tarbawi (era pembinaan). Keempat mihwar dakwah tersebut ialah mihwar tanzhimi (structural), mihwar sya’bi (masyarakat), mihwar muassasi (kelembagaan) dan mihwar daulah (negara). Di setiap mihwar dari empat mihwar dakwah tersebut terkandung amal siyasi (aktivitas politik) dengan tingkat persentase yang berbeda-beda, karena amal siyasi adalah bagian tidak terpisahkan dari amal da’wi (aktivitas dakwah) kita.
Ikhwah dan akhwat fillah, seringkali dalam menghadapi situasi, kondisi-kondisi, aksi-aksi dan tantangan-tantangan tertentu kita lupa untuk merujuk atau kembali ke manhaj (pedoman). Padahal penguasaan kita akan manhaj, insya Allah cukup baik, apakah itu di ruang lingkup manhaj asasi, yakni Alquran dan Sunah ataupun di ruang lingkup produk ijtihad jama’ah kita yang tentunya juga bersumber dari Alquran dan Sunah. Langkah-langkah perjuangan dalam bentuk manhaj amali (pedoman aktivitas) tersebut cukup untuk dapat merespon dan mengantisipasi segala perkembangan. Hanya saja kita seringkali lupa merujuk ke manhaj tersebut. Boleh jadi karena keterdesakan kita di lapangan atau kesibukan yang demikian padat.

Agar lebih jelas, saya ingin sedikit mengulang penjelasan-penjelasan tentang stressing di masing-masing mihwar. Pada mihwar tanzhimi, rakizatul amal (stressing kerja) kita berupa bina syakhshiyah islamiah dan syakhshiyah da’iyah atau mewujudkan sosok pribadi islami dan pribadi da’iah. Juga bagaimana kita berusaha mengokohkan mishdaqiyah syakhsyiah islamiyah dan mishdaqiyah syakhshiyah da’iyah atau kredibilitas pribadi islami dan kredibilitas pribadi da’iyah.

Di era atau mihwar tanzhimi tersebut yang selalu kita ukur dan evaluasi adalah tingkat pertumbuhan kader dalam arti pertumbuhan dan perkembangan kader-kader kita secara internal. Bahkan ketika kita mengukur, mengevaluasi diri dari segi eksternal, yang kita lihat pun sejauh mana pertumbuhan calon kader yang dapat direkrut menjadi kader. Jadi di masa itu orientasinya adalah perekrutan, pembinaan, pertumbuhan dan perkembangan kader-kader dakwah.

Kemudian dakwah kita berkembang dan memasuki mihwar atau era sya’bi. Di era ini kita mulai ber-sya’biah atau mensosialisasikan siri, kader-kader dan program-program dakwah kita di masyarakat. Sasaran yang ingin dicapai di mihwar ini adalah mishdaqiyah syakhshiyah ijtima’iyah atau kredibilitas sebagai pribadi yang diterima di masyarakat. Kita berupaya keras agar kader-kader kita memiliki kredibilitas tersebut. Di mihwar sya’bi ini kita bukan hanya menerapkan tolak ukur kuantitas berupa pertumbuhan dan perkembangan kader, melainkan juga sejauh mana kader-kader yang kita miliki memberi pengaruh di masyarakat.

Ikhwah dan akhwat fillah, di mihwar tanzhimi kita sudah mulai melaksanakan program-program yang merupakan mukadimah atau pengkondisian ke arah mihwar sya’bi. Begitu pula di mihwar sya’bi, kita sudah melakukan langkah-langkah pendahuluan yang sekaligus merupakan kondisioning untuk menuju mihwar muassasi.

Alhamdulillah, Allah Ta’ala memberikan peluang yang mempercepat masuknya kita ke mihwar muassasi. Kita memang sudah membuat langkah-langkah mukadimah menuju mihwar muassasi berupa pendirian yayasan, lembaga-lembaga pendidikan, lembaga penelitian dan lain sebagainya. Namun perubahan-perubahan cepat yang terjadi yang antara lain dipicu dan dipacu oleh globalisasi ekonomi, politik dan lain-lain serta krisis ekonomi—dan tentu saja sebab utamanya adalah tadbirullah (rekayasa Allah), membuat peluang untuk memunculkan diri dalam bentuk kelembagaan formal terbuka lebar. Maka mulailah kita memasuki mihwar muassasi dengan menampilkan diri sebagai Hizbul ‘Adalah (Partai Keadilan). Kita menyebutnya mihwar muassasi dan bukan mihwar siyasi, walaupun memang dalam mihwar muassasi sebagaimana halnya di mihwar tanzhimi dan sya’bi terkandung aspek-aspek siyasi. Dan karena di mihwar muassasi ini sudah menyentuh aspek kelembagaan politik, maka persentase amal siyasinya pun meningkat.

Upaya memantapkan langkah-langkah secara struktural dan operasional di mihwar muassasi ini juga akan menyentuh sektor amal siyasi. Sekali lagi saya tegaskan bahwa amal siyasi merupakan sektor. Sebab bila kita mengatakan mihwar kini sebagai mihwar siyasi berarti kita terjebak ke dalam amal juz’i dan sekaligus harakah juz’iah, seperti halnya kita tidak bisa mengatakan sebagai mihwar tarbawi agar tidak terjebak juga pada ke-juz’iyah-an atau keparsialan. Jadi setiap mihwar memiliki beragam amal sesuai dengan ke-syumuliah-an dan ke-takamuliah-an amal Islam.

Ikhwah dan akhwat fillah, karena itu di setiap mihwar dibutuhkan adanya ke-tawazun-an antar amal. Ke-tawazun-an adalah proporsionalitas dalam pemberian peran-peran, pendayagunaan dan pengerahan potensi-potensi SDM. Kata proporsionalitas menunjukkan adanya ketepatan atau akurasi penyaluran potensi sesuai dengan tuntutan medan dan situasi-kondisi serta aksi-aksi yang kita lakukan.

Oleh karena itu, ikhwah dan akhwat fillah, betapa pun kita dituntut untuk merespon situasi dan kondisi saat ini dengan proporsionalitas yang menuntut porsi lebih di bidang politik, tetap saja kita tidak boleh mengabaikan amal tarbawi (pembinaan), amal tsaqafi (penambahan wawasan), amal khairi (sosial), amal ijtima’i (kemasyarakatan) dan lain-lain. Masalah stressing atau penekanan di sektor tertentu pada moment tertentu adalah hal yang biasa. Misalnya di bulan Ramadhan kita meliburkan halaqah-halaqah tarbawi internal, karena kita ingin merespon amal khairi dan taabbudi (ibadah) di bulan mulia tersebut. Kita berkonsentrasi meningkatkan tadayyun sya’bi (keberagamaan masyarakat) karena terdapat katsafah furshah (peluang yang luas) di bulan Ramadhan.

Jadi bila kini menjelang pemilu kita merespon tuntutan amal siyasi yang membesar, itu merupakan masalah proporsionalitas tanpa harus mengabaikan bidang-bidang lain. Sehingga memadatnya aktivitas politik kita menjelang pemilu tidak berarti kita terjebak dalam mihwar politik. Mihwar kita adalah mihwar muassasi, artinya secara kelembagaan kita mulai menampilkan diri seluruh batang tubuh ke permukaan dengan nama Hizbul ‘Adalah.

Ikhwah dan akhwat fillah, mihwar muassasi ini akan terus berkembang ditandai dengan bertambahnya muassasah atau lembaga infrastruktur sosial politik kemasyarakatan baik yang kita bangun sendiri atau yang kita warnai (muassasah yang dibangun oleh ikhwah seperjuangan dalam Islam, yaitu ormas atau parpol lain), dan nantinya juga kita bisa melebarkan sayap dengan memasuki secara langsung lembaga-lembaga suprastruktur dan infrastruktur kenegaraan. Hal ini merupakan bagian dari mihwar muassasi dan merupakan langkah-langkah awal yang akan menjembatani masuknya kita, Insya Allah, mustaqbalan (di masa mendatang) ke dalam mihwar daulah.

Hal penting yang harus kita perhatikan di dalam mihwar muassasi ialah bahwa kita bukan sekadar memunculkan diri dalam bentuk kelembagaan partai, melainkan juga mengupayakan bagaimana aqidah, fikrah dan manhaj kita mewarnai infrastruktur sosial politik di masyarakat atau infrastruktur kenegaraan dan kemudian akhirnya supra struktur kenegaraan. Lembaga infrastruktur dan suprastruktur negara akan kita masuki jika tingkat proporsi penyebaran SDM dan pengaruh kita di ruang lingkup kelembagaan infrastruktur kemasyarakatan atau sosial politik sudah memadai. Barulah kemudian kita melangkah ke dalam mihwar daulah.

Dalam hal ini ingin saya ingatkan bahwa setiap mihwar memiliki perimbangan proporsi amal yang berbeda-beda dan dapat berubah-ubah. Hendaknya hal ini tetap dalam ruang lingkup ke-tawazun-an dan keterpaduan amal islami.

Tamayyuz
Langkah-langkah amal kita harus mutamayyiz. Kita bergaul bersama, berpacu, namun nahnu mutamayyyizun (kita berbeda). Kata tamayyuz mengandung pengertian keberbedaan yang mengandung keistimewaan. Jadi bukan asal beda, melainkan mutamayyiz ’an ghairina, berbeda yang mengandung keistimewaan dari yang lainnya. Kita mengetahui slogan yang dikumandangkan oleh Syahid Sayyid Quthb, yaitu yakhtalithun walakin yatamayyazun, kita berbaur, bergaul, bersilaturahmi, ber-tawashau bil haq, ber-tawashau bis shabri, tawashau bil marhamah dengan seluruh lapisan umat, namun nahnu mutamayyizun, kita berbeda. Tamayyuz—kespesifikan ini penting agar menjadi arahan yang memudahkan masyarakat untuk mendukung kita.

Pertama-tama tamayyuz kita adalah dalam ruang lingkup SDM. Kita harus mutamayyiz fii rijal. Kita harus sanggup menampilkan tamayyuz fii rijal, keistimewaan SDM atau personil.

Ikhwah dan akhwat fillah, dalam memasuki mihwar muassasi yang kedudukannya merupakan langkah-langkah mukadimah menuju mihwar daulah, rijalud da’wah atau SDM dakwah kita seyogianya sekaligus juga memiliki bobot dan bakat yang akan dikembangkan menjadi rijalud daulah atau sosok negarawan yang memiliki visi kenegaraan yang baik.

Kita sudah memiliki kader-kader yang berbasis akidah, fikrah dan minhaj yang baik. Kini tinggal berupaya bagaimana kita mengekspresikan diri dan mengaktualisasikan diri secara atraktif. Bukan berarti kita riya, melainkan semata-mata dalam kerangka ‘isyhadu bi anna muslimin”, saksikan kami ini orang-orang Islam. Kita mencoba memperjelas, mengedepankan tampilan produk islamisasi rijal kita.

Paling tidak ada lima kespesifikan, keunikan atau keistimewaan yang—Alhamdulillah—dimiliki oleh jamaah kita, yaitu:

1. Mutamayyiz fii rijal (keistimewaan SDM)
2. Mutamayyiz fi adaa (keistimewaan penunaian tugas)
3. Mutamayyiz fii intaj (keistimewaan sentuhan produk)
4. Mutamayyiz fii khidmah (keistimewaan pelayanan)
5. Mutamayyiz fii muamalah (keistimewaan bermasyarakat)

Keistimewaan yang pertama ialah mutamayyyiz fii rijal atau keistimewaan personil dakwah. Keistimewaan personil dakwah atau SDM ini dilandasi oleh tamayyuz fii aqidah, fikrah, minhaj dan akhlaq. Modal utama berupa keistimewaan dalam akidah, fikrah, minhaj dan akhlak sangat berdayaguna dalam membangun mishdaqiyah syakhshiayah da’iyah (kredibilitas pribadi muslim dan da’iyah).

Namun keistimewaan SDM ini harus ditunjang oleh tamayyuz fii adaa atau keistimewaan dalam penunaian tugas. Jadi kita harus mutamayyiz fii adaa. Dalam menunaikan tugas, kita memiliki modal berupa motivasi yang tinggi yang dibangun oleh aqidah kita. Kemudian idealisme yang besar yang dibangun oleh fikrah kita dan langkah-langkah kerja yang tertib teratur yang dibangun oleh manhajiah kita.

Kesemuanya itu menjadi modal dalam menunaikan ruhul badzli wa tadhhiyah karena dilandasi niat yang khalishan li wajhillah ta’ala. Ruhul badzli wa tadhhiyah adalah modal motivasi, militansi dan vitalitas stamina yang dibangun oleh akidah, fikrah, akhlak dan semangat ibadah kita. Kesemuanya itu menjadi modal utama dalam tamayyuz fii adaa yang kemudian ditopang pula oleh kemampuan dalam takhtit, perencanaan/programming dan idariah/manajemen.

Kelengkapan modal tersebut membuat kita mutamayyiz fi adaa, istimewa dalam penunaian tugas. Kita tidak menjadi orang-orang yang menunaikan tugas secara infiradiyah, sekenanya, seketemunya dan seadanya di lapangan, melainkan benar-benar mutamayyiz fii adaa karena di back up oleh faktor-faktor mental, moral dan ideal serta faktor-faktor konsepsional, berupa perencanaan dan manajemen yang baik. Jika kita berhasil menampilkan adaa’ul wazhaif (penunaian tugas secara baik), insya Allah keistimewaan kita akan muncul di tengah masyarakat.

Apalagi bila diikuti dengan keistimewaan produk-produk yang kita hasilkan yang menimbulkan kesan dan pengaruh yang kuat di masyarakat karena mau tidak mau masyarakat memang menilai dan mengukur masalah produktivitas.

Karena itu, keistimewaan yang ketiga yang harus kita miliki adalah tamayyuz fii intaj. Program-program yang kita gulirkan harus terasa hasilnya di masyarakat. Sudah tentu yang dimaksudkan terasa, tidak selalu harus dalam bentuk produk materi. Bahkan sebagian besar yang kita miliki bukan berupa produk materi, melainkan pendekatan ilmi, shihhi, ijtima’i, ma’nawi dan sebagainya

Ikhwah dan akhwat fillah, sudah sewajarnyalah masyarakat mengharap dan menunggu-nunggu produk-produk nyata yang dihasilkan oleh parpol-parpol dan kelompok-kelompok organisasi yang menjamur belakangan ini. Oleh karena itu kita harus mampu menyajikan produk yang mutamayyiz kepada masyarakat jika ingin mendapatkan sambutan publik yang baik.
Tamayyuz dalam produk bukan diukur dari segi kuantitasnya, melainkan dari segi kualitas sentuhannya yang terasa di hati masyarakat.

Ikhwah dan akhwat fillah, tamayyuz yang berikutnya yang juga harus kita miliki ialah tamayyuz fii khidmatan lis muslimin (keistimewaan dalam pelayanan kepada muslimin), khidmatan lin naas (pelayanan kepada manusia), sehingga kita akan tampil mutamayyiz fii khidmah (istimewa dalam pelayanan). Ada pepatah Arab berbunyi, “An-naas yuwalluna man yakhdimuhum,” (manusia akan memberikan wala atau loyalitas kepada orang-orang yang melayaninya). Karenanya ada juga pepatah lain, “Sayyidul qaum khaadimuhum” (Pemimpin suatu kaum [bangsa] adalah pelayan bagi kaum tersebut).

Bila kita tampil sebagai lembaga yang paling piawai memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka ia pun akan mendapatkan sambutan lebih dibanding dengan yang lain. Pelayanan kepada masyarakat tidak harus selalu diartikan pelayanan fisik, materi yang bersifat langsung, simbolik, atraktif dan promotif, misalnya pemimpin datang memberikan bantuan materi kepada bawahannya. Hal itu hanya merupakan sebagian kecil dari ruang lingkup pelayanan kepada masyarakat. Memang hal itupun perlu juga sekali-kali kita lakukan, namun yang lebih penting adalah bagaimana kerja keras kita, mengupayakan terjaminnya kemaslahatan masyarakat dalam dua hal yang digariskan Allah dalam Q.S. Quraisy: (1) Terjaminnya masyarakat dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya yang asasi أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ (terbebasnya dari kelaparan) dan (2) Kebutuhan akan rasa aman atau terbebas dari ketakutan, ketidakpastian, intimidasi, kediktatoran dan kezhaliman (وَءَامَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ).
Kedua hal tersebut juga berkaitan dengan لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ atau masalah qalb (hati) dan وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ atau berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan jasadiyah. Ruang lingkup pelayanan kita harus meliputi kedua aspek tersebut.

Dalam masalah pelayanan ini, hal yang perlu saya garis bawahi bahwa itu meliputi garis vertikal ke atas, yakni upaya kita mempengaruhi decision making dalam hal politik, hukum dan perundang-undangan dengan cara aktif memberikan usulan, kritik dan koreksi. Kemudian juga meliputi garis vertikal ke bawah, yakni upaya kita menggulirkan produk-produk dalam ruang lingkup ijtima’iyah, khairiyah, ilmiyah, tsaqafiyah, shihhiyah dan fanniyah di tengah masyarakat.

Produk-produk dalam ruang lingkup vertikal ke bawah akan menjadi basis dari upaya meluncurkan produk siyasah wal qanun ke atas. Dan produk siyasah wal qanun ke atas akan memayungi dan melindungi segala aktivitas pelayanan kita ke bawah. Artinya segala aktivitas kita yang menyebar di masyarakat perlu mendapat perlindungan politik dan hukum. Sebaliknya segala aktivitas yang berkaitan dengan masalah politik dan hukum perlu mendapatkan basis berupa produk dan kerja nyata kita di bidang ijtima’iyah, khairiyah, ilmiyah, fanniyah, iqtishadiyah dan sebagainya.

Akhirnya, ikhwah dan akhwat fillah, tamayyuz kelima yang harus kita miliki adalah tamayyuz fii muamalah. Cara agar kita tampil beda dan istimewa dalam bermuamalah (bergaul) adalah bila kita bermuamalah bil ihsan. Allah berfirman,

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلاَّ الْإِحْسَانُ
“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).

Dalam hadits juga disebutkan bahwa Allah menyuruh kita berbuat ihsan dalam segala urusan. Yang dimaksud dengan ihsan adalah kebaikan-kebaikan, apakah berupa kebaikan materi, sulukiyah, maupun sikap dan perilaku. Dalam menyalurkan kebaikan-kebaikan tersebut hendaknya kita membingkainya dengan akhlaqul karimah. Sebab betapa pun besar kebaikan yang diberikan, jika cara memberikannya tidak disertai dengan adab dan kesantunan, maka ia akan lebih dirasakan sebagai penghinaan dan bukan kebaikan.

Inti muamalah adalah bagaimana kita menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat dengan dibingkai akhlaqul karimah. Maka masyarakat pun akan melihat bahwa kita mutamayyiz fii muamalah, istimewa dalam berinteraksi di masyarakat. Sebab upaya menanamkan pengaruh di masyarakat, pada hakikatnya adalah bagaimana kita merebut hati orang. Selain berupaya membuka hati mereka melalui program-program yang kita selenggarakan dengan baik, juga harus dengan kekuatan ta’abudi dan taqarrub kita kepada Allah, karena miftahul qulub, kunci hati ada di tangan Allah. Dengan kekuatan ikhtiar dan doa kita berharap kepada semoga Allah membukakan hati-hati mereka.

Wallahu a’lam



sumber : intimagazine

Sabtu, 24 September 2011

Sabtu, 24 September 2011

Ri’ayah Dakwah

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin, Lc.

Untuk menjamin nishabul baqa (angka atau quota yang aman bagi eksistensi gerakan dakwah), qudratu ‘ala tahammul (kemampuan memikul beban / tanggung jawab), dan hayawiyatul harakah (dinamika gerakan); perlu dilakukan ri’ayah da’wah, yang meliputi:
Ri’ayah Tarbawiyah
Ini sangat penting sebagai basis dari sebuah program.  Sebuah recovery tarbiyyah. Walaupun kita juga harus tawazzun (seimbang), dalam arti, sering saya ingatkan bahwa kita ini harakah Islamiyah bukan harakah tarbawiyyah. Walaupun kita faham bahwa tarbiyah itu bukan segala sesuatu dalam jamaah ini—karena ia hanya juz’iyyatul ‘alal amal islami, tapi dia sangat menentukan segala sesuatu. Makanya jangan lalai dalam tarbiyah ini.  Saya pun bertanggung jawab jangan sampai terjadi tawaruth siyasi (larut dalam dunia politik).
Hasil tarbiyah ini jangan dibatasi manfaatnya menjadi tarbiyah untuk tarbiyah. Artinya moralitas, idealisme, dan semangat yang dihasilkan tarbiyah itu jangan hanya dirasakan ketika ia menjadi murabbi saja. Tapi harus dirasakan juga produk tarbiyah itu baik secara moralitas, idealisme, akhlak, hayawiyah, semangat ke dalam dunia politik. Aktif dalam sektor bisnis, eksekutif, budaya, sosial, dan peradaban; perasaan bahwa mereka juga harus merasakan tarbiyah. Jangan sampai produk-produk tarbawi hanya semangat ketika mentarbiyah saja. Ketika di dunia politik dia lesu, di dunia ekonomi memble, di dunia sosial kemasyarakatan ketinggalan, dalam seni budaya jauh di urutan ke berapa.
Tarbiyah harus bisa memacu, memberikan semangat, memberikan moralitas tinggi, idealisme tinggi dalam segala bidang. Itu sebetulnya sudah kita rasakan, dan semakin kita butuhkan ketika kita semakin besar. Jangan sampai potensi apa pun yang ada tidak mendapat sentuhan tarbawi tersebut. Jangan terjadi apa yang dinamakan al-izaaban (pelarutan). Jangan sampai ketika aktif di bidang politik terjadi izaabatu syakhsiyyatul islamiyyah (pelarutan kepribadian islami), atau aktif di bidang ekonomi terjadi izaabatul akhlaqul islamiyyah. Pelarutan-pelarutan itu insya Allah tidak akan terjadi atau bisa diminimalisir jika tarbiyah kita konsisten.
Ri’ayah Ijtima’iyah
Kemampuan kita melakukan komunikasi sosial, baik dalam jama’ah sendiri atau juga di masyarakat, tahsinul ‘alaqotul ijtima’iyyah (perbaikan hubungan kemasyarakatan) ini sangat dibutuhkan dalam peran kita sebagai da’i.
Ri’ayah Tanzhimiyah
Jaringan struktur kita sebagai jalur komando harus solid. Agar cepat dan tepat, bisa menyalurkan program-program dari pusat sampai ke daerah-daerah.
Ri’ayah Iqtishadiyah
Ekonomi ini menjadi perhatian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (sesaat setelah hijrah-red) setelah membangun masjid. Masjid untuk membangun anfus (jiwa) dan pasar untuk membangun potensi amwal (harta), keduanya untuk wa jahidu bi amwalikum wa anfusikum.
Ekonomi kita masih berbasiskan ekonomi jaringan, belum berbasiskan ekonomi pasar. Yang dagang ikhwan dan akhwat, yang belanja juga ikhwan dan akhwat. Memang ekonomi jaringan itu nikmat, tapi sulit untuk menjadi besar, artinya ketemu pedagang sambil kangen-kangenan, tawar menawarnya juga enak. Dalam ekonomi kalau mau menjadi besar itu harus berbasiskan pasar.
Dalam ri’ayah iqtishadiyah, pelihara terus ekonomi jaringan, tetapi kembangkan menuju ekonomi pasar. Ekonomi jaringan itu menjadi basis ekonomi pasar. Jangan keasyikan berputar-putar di ekonomi jaringan, gak bisa besar. Sebab pasar kita terbatas. Coba hitung berapa persen kader kita yang menjadi pedagang, kemudian berapa komunitas kita yang jadi pasarnya. Apalagi kalau dibagi dengan jumlah pedagang yang berdagang dari halaqoh ke halaqoh, sehingga pembagian jumlah konsumen itu kecil.
Kita berada di negara yang pasarnya dipenuhi oleh negara-negara besar; Amerika, Eropa, Cina, dan Jepang berebut pasar Indonesia. Kenapa kita sebagai pemilik pasar tidak mendayagunakannya sebesar-besar manfaat dari pasar Indonesia ini. Pasar Indonesia ini pasar yang jika dilihat dari luas geografisnya—bahkan secara demografisnya lebih luas lagi—sama dengan London – Moskow.
Ri’ayah Siyasiyah
Komunikasi politik kita harus lebih baik antar partai-partai. Jangan ada hambatan-hambatan yang membuat komunikasi kita dengan mereka terputus. Terutama karena kita partai dakwah. Jangan ada komunikasi yang putus dengan siapa pun. PDIP mad’u (objek dakwah) kita, Golkar mad’u kita, bahkan PDS juga mad’u kita. Sebisa mungkin ada jalur komunikasi. Jika tidak ada komunikasi keumatan atau keislaman, maka bangun jalur kemanusiaan. Saya kira tidak ada partai yang anggotanya bukan manusia. Banteng simbolnya, tapi anggotanya tetap manusia.
Minimal hubungan kemanusiaan harus terbentuk dengan kelompok manapun. Ingat, seperti dulu saya tegaskan bahwa mihwar muassasi itu merupakan muqaddimah menuju mihwar dauli. Kalau kita sudah mencapai mihwar dauli, rakyat yang kita kelola itu dari beragam parpol, kelompok, dan agama; semuanya rakyat yang harus kita kelola. Harus kita layani. Jangan dibayangkan kalau sebuah partai dakwah berkuasa di sebuah negara, akan membumihanguskan golongan-golongan lain. Tidak! Karena khilafah fil ardhi, termasuk embrionya, mihwar daulah, itu juga mengemban misi rahmatan lil ‘alamin, bukan rahmatan lil mu’minin saja. Semua komponen bangsa harus menikmati kehadiran kita dalam sebuah daulah, minimal secara manusia. Terjamin hak-hak kemanusiaannya, termasuk hak-hak politiknya tidak akan diberangus. Kita akan memberikan space kepada siapa pun komponen bangsa ini—sudah tentu yang tidak bertentangan dengan konstitusi negara yang disepakati—agar mempunyai ruang hidup, baik secara politik, ekonomi, budaya, dan relijius.
Itu latihannya dari sekarang. Membangun komunikasi politik, budaya, bisnis, dan sosial dengan semua golongan, semua lapisan masyarakat, semua kelompok, semua komponen bangsa dari sekarang. Sehingga kita diakui, laik memimpin negara ini. Allahu Akbar! Insya Allah tidak lama lagi.

Sabtu, 10 September 2011

Sabtu, 10 September 2011

Taujih Syawal Ust. Hilmi Aminuddin


Oleh: Indra Kusumah, S.Psi., M.Si., CHt.

Kemarin Saya menghadiri Silaturahim di Padepokan Madani. Ada wayang Golek dan Taujih dari Pimpinan Padepokan Madani (Ust Hilmy Aminuddin). Saya langsung sharing via kultwit di twitter @Indra_Kusumah. Berikut ini point-point intinya:


  • Ramadhan itu momentum dari Allah utk mukminin dan mukminat melakukan revitalisasi dan redinamisasi kehidupannya sbg muslim & da'i.
  • Semoga ramadhan mengembalikan kita pada fitrah. Dlm kondisi fitrah lebih mudah berkomunikasi dengan Allah SWT.
  • Allah SWT hanya menerima komunikasi efektif dari orang2 yg memelihara fitrahnya. illa man ataLloha biqolbin salim.
  • Diantara fenomena ramadhan yg harus terus kita jaga adalah semangat kebersamaan, makanya ada tarawih berjamaah, I'tikaf bersama dll.
  • Jgn sampai bakda ramadhan hidup kita jadi nafsi2 (individual). Padahal dlm Al Qur'an nafsi2 itu bahasa akhirat. Di dunia kerja sama.
  • Di akhirat, tiap orang lari dari saudara, ibu, bapak, saudara& anak2nya. Setiap orang datang kpd Allah sendiri2, tanpa pendukung.
  • Oleh karena itu ruh amal jama'i harus terus ditularkan kepada masyarakat. Kita jadi daya kohesif (unsur pemersatu) di masyarakat.
  • Bangsa-bangsa nusantara itu disatukan oleh Islam. Faisal Tanjung dari TNI menyatakan islam itu perekat bangsa di Indonesia.
  • Jadilah pemersatu & jangan jadi pemecah belah. Berkumpullah dan bergeraklah. Kalau berkumpul tp tdk bergerak akan terjadi pembusukan.
  • Lihatlah air laut, kotoran dari berbagai tempat berkumpul di situ, tapi karena bergerak maka jadi bersih dan bermanfaat.
  • Bergeraklah dlm jamaah. Berjamaah tanpa beramal jama'i (bergerak) maka akan terjadi pembusukan. Mulai dari busuk mulut (gosip dll).
  • Fenomena Ramadhan lain yg hrs terus dijaga adalah meningkatnya kepedulian sosial. Ada zakat dll. Ini harus terus dikawal & pelihara.
  • Kita harus menyadari bahwa setiap kita berhutang budi kepada sesama. Kita mengkonsumsi jasa ortu, tetangga, teman, kolega dll.
  • Kalau setiap orang hanya ingin mengkonsumsi kebajikan orang lain, akan defisit kebajikan. Terjadi qoswatul qulub (hati yg gersang).
  • Padahal batu yg gersang msh ada yg bermanfaat dg keluar air darinya. Tp hati yg gersang tdk bermanfaat.
  • Bangsa ini defisit kebajikan. Makanya banyak hutang dan diberi oleh bangsa lain. Semoga bangsa ini jd bangsa surplus kebajikan.
  • Mari memproduksi kebajikan shg jamaah ini surplus kebajikan. Yang surplus kebajikan akan menjadi rahmatan lil 'alamin.
  • Somalia terjadi kelaparan, tapi bangsa muslim terbesar ini blm terdengar membantu secara masif. Defisit kebajikan?
  • Fenomena Ramadhan lain yg harus terus di jaga adalah kecenderungan taat. Jgn sampai ramadhan bulan taat, syawwal bulan maksiat.
  • Manusia itu punya potensi kebaikan & keburukan. Dakwah itu optimalisasi potensi kebaikan & meminimalisir bahkan mengeliminir keburukan.
  • Manusia itu memberikan loyalitas kpd yg melayaninya. Oleh karena itu, mari produksi kebajikan shg surplus kebajikan.
  • Ketika bangsa ini sudah surplus kebajikan, maka mihwar dauli-pun menjadi kenyataaan.
  • Ketika bangsa ini surplus kebajikan, maka tidak hanya manusia, binatangpun diperhatikan seperti di zaman Khalifah Umar bin Khattab.
  • "Jika ada keledai terperosok di Irak, maka Umar yg bertanggung jawab" (Umar bin Khattab). Infrastruktur utk binatangpun diperhatikan.
  • Umar jg instruksikan aparatnya utk tebar gandum d bukit2 "Spy tdk ada org yg berkata ada burung kelaparan d negeri muslim", katanya.
  • Demikian jg anaknya, Ibnu Umar, yg tiap hari lempar gula ke sarang semut di samping rumahnya. "Berbuat baik pada tetangga", katanya.


*)sumber: http://indrakusumah.multiply.com/journal/item/26/TAUJIH_KH_HILMY_AMINUDDIN?utm_source=cp&utm_medium=twitter-cp&utm_campaign=indrakusumah

Jumat, 09 September 2011

Jumat, 09 September 2011

Ahdaful Musyarokah

Sejak awal, musyarokah kitaketerlibatan kita dalam pemerintahan—sama sekali bukan ditujukan untuk kemenangan zhahir saja yang cenderung diisi dengan al-kibr dan al-kibriya’, merasa besar dan sombong.
Kita bermusyarokah untuk mencapai kemenangan sejati, yang didefinisikan oleh Imam Ahmad ibnu Hanbal:
ما لازم الحق قلوبنا
Kemenangan sejati yang paling mendasar dan substansial adalah jika kebenaran tetap bersemayam di hati kita. Tidak terkontaminasi oleh racun-racun kehidupan, tidak tergoda oleh iming-iming apapun bentuknya, yang membuat hati kita diisi oleh nilai-nilai lain selain nilai kebenaran yang  bersumber dari Allah SWT.
Kemenangan sejati juga adalah jika kita berhasil menegakkan kedaulatan Allah di dalam diri kita. Berhasil menegakkan kedaulatan Allah di dalam keluarga kita. Berhasil menegakkan kedaulatan Allah di rumah kita, di bangsa kita dan di negeri kita. Sehingga orientasi hidup bangsa kita adalah mardhotllah, ridho Allah semata.
Oleh karena itu pertama-tama yang harus kita pastikan adalah ahdaful musyarokah (tujuan-tujuan musyarokah) kita.  Jangan sampai berpesong sedikitpun.
Al-Musyarokah littauhiid wal binaa’ ( المشاركة للتوحيد والبناء )
Musyarokah kita bertujuan untuk  berkontribusi dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Berkontribusi untuk membangun bangsa dan negara ini sehingga mencapai kesejahteraan, kejayaan serta kedamaian dengan bangsa-bangsa lain dalam pergaulan internasional. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Persatuan dan kesatuan bangsa ini jangan sampai dirongrong, dirusak, dicerai-beraikan oleh agenda-agenda yang diprogram dari luar yang menghendaki perpecahan. Kita harus menjadi junudullah (prajurit-prajurit Allah) terdepan dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa dan negeri ini.  Karena negeri ini adalah anugerah besar dari Allah—ba’da al-iman, setelah iman—yang harus kita syukuri dengan memberdayakan, menjayakan dan mengunggulkannya. Sehingga mampu memberi kontribusi positif  dalam pergaulan antar bangsa dalam kehidupan global.
Al-Musyarokah littaqwiyah wat tatsbit ( المشاركة للتقوية والتثبيت )
Selain mempersatukan dan membangun, berdaya kohesif dan menjadi penerus pembangunan bangsa dan negara ini, musyarokah kita juga harus berkontribusi dalam mewujudkan negara yang kuat dan kokoh.  Jangan menjadi negeri yang dilecehkan dan dideskreditkan tetangga-tetangganya. Jangan menjadi negara dan bangsa yang sama sekali tidak diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain, bahkan menjadi beban dalam pergaulan internasional.
Untuk menjadi factor taqwiyah wa tastbit, memperkuat  dan mengokohkan kehidupan berbangsa dan bernegara ini, modalnya hanya satu: bersyukur! Negeri ini  menghendaki para kader, pemimpin, pejuang, dan mujahid yang pandai bersyukur. Allah sudah memberikan banyak sekali karunia-Nya kepada negeri ini. Namun banyak potensi yang belum terolah, sehingga terbengkalai dan mubadzir. Bahkan banyak potensi yang diekploitasi oleh kekuatan-kekuatan asing. Ini karena kelemahan dan kebodohan kita, terjebak oleh kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok, sehingga kekayaan yang diberikan oleh Allah ini tergadaikan kepada negeri asing dengan amat sangat murah.
Kita harus waspada dan berani mengevaluasi kebijakan-kebijakan lama yang menyiksa bangsa ini. Berani mengevaluasi seluruh produk-produk konstitusi, perundang-undangan, perda-perda, perjanjian-perjanjian dengan luar negeri yang melemahkan bangsa ini, yang menjadikan  bangsa ini terpuruk. Kekayaan melimpah ruah, bukan dinikmati oleh rakyat. Tapi hanya dinikmati oleh sekelompok tertentu. Bahkan mengalir setiap hari ke negeri-negeri asing. Bukan dalam kerjasama yang saling menguntungkan. Tapi kerjasama yang timpang yang mengandung unsur pelecehan, penipuan, dan konspirasi kepada bangsa ini. Semua ini harus dihentikan.
Al-Musyarokah lit taghyiir wat tajdiid ( المشاركة للتغيير و التجديد  )
Kita tidak ingin bangsa ini statis, jumud dan mandeg. Oleh karena itu tujuan musyarokah kita yang ketiga adalah al-musyarokah lit taghyiir wat tajdiid. Musyarokah kita, kontribusi kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara  adalah melakukan perubahan dan pembaharuan.
Setiap hari Allah SWT memberikan pelajaran kepada kita bagaimana ciptaan-ciptaannya selalu berubah dan memperbaharui diri. Selalu tumbuh dan berkembang. Lahirnya seorang anak dimulai dengan jeritan tangis yang merupakan symbol kehidupan dan mulai berfungsinya organ-organ utama tubuh, terutama paru-paru dan jantung. Mula-mula matapun tidak bisa melihat, tulang-tulangnya lembek dan lemah. Tapi dari hari ke hari kita lihat matanya semakin berbinar terang. Pertama-tama yang ia tahu hanya ibunya. Kemudian akhirnya mulai bisa tahu ayahnya. Berkembang mulai bisa membedakan warna dan ukuran-ukuran. Bahkan membedakan manfaat-manfaat.  Dan mulai bisa membedakan mana yang berbahaya dan mana yang tidak.
Kita lihat pertumbuhan biji-bijian. Biji-biji mulai terbelah merekah, memunculkan tumbuhan kecil. Lalu akarnya menghunjam ke tanah secara bertahap. Sementara batang pohonnya mulai tumbuh berkembang. Berdahan rindang, berdaun hijau, akhirnya berbuah menjadi bermanfaat. Seluruhnya adalah merupakan at-taghyiir wat tajdiid.
Daun-daun yang sudah tua, menguning dan rontok. Tumbuhlah daun-daun muda berkembang menghijau. At-taghyiir wat tajdiid adalah sunnatullah. Kalau bangsa ini tidak mau berubah, statis, dan mandeg, berarti bangsa ini melawan sunnatullah. Kita kader-kader dakwah harus mendorong agar bangsa ini mengikuti sunnatullah. Mengikuti fitrahnya yaitu fitrah perubahan dan pembaharuan.
Semuanya harus berubah, mustahil tidak berubah. Jika tidak mau berubah, dia akan menjadi korban perubahan. Akan digilas oleh perubahan. Makanya kalau kita tidak mau menjadi korban perubahan, kita harus menjadi pelopor perubahan dan pembaharuan.
Semangat perubahan dan pembaharuan adalah bagian penting dari gerakan dakwah. Dari sejak awal dalam manhaj takwiniyah kita tekankan bahwa harakatud dakwah (gerakan dakwah) adalah harakatut taghyiir (gerakan perubahan) dan harakatut tajdiid (gerakan pembaharuan). Kader-kader dakwah harus menjadi :
رُوْحٌ جَدِيْدَةٌ تَسْرِي فِي جَسَدِ الأُمَّةِ
Menjadi jiwa, semangat, moral baru, dan kekuatan baru yang mengalir di tubuh umat ini. Kita harus menjadi innovator perubahan dan pembaharuan di segala sector kehidupan. Jangan sampai bangsa ini tertinggal akibat segan berubah karena malas. Atau bahkan takut berubah, akibat mempertahankan kepentingan-kepentingan pribadi atau kepentingan-kepentingan kelompok/golongan. Karena perubahan dan pembaharuan berarti dinamisasi. Perubahan dan pembaharuan berarti repositioning segenap potensi bangsa.
Dengan musyarokah ini kita melakukan redinamisasi repositioning kita; politik, social, financial, budaya, sains dan teknologi. Kita harus mencapai posisi-posisi baru yang lebih maju, berdaya guna, dan berdaya saing. Juga lebih memberikan manfaat, bukan saja kepada bangsa ini, tapi juga bermanfaat kepada kemanusiaan. Karena bangsa  muslim ini mengemban misi utama rahmatan lil’alamin.
Al-Musyarokah lil ishlah wal ihsan ( المشاركة للإصلاح والإحسان )
Karena kita mengemban misi rahmatan lil’alamin, maka musyarokah pun tujuannya adalah berkontribusi untuk selalu ishlah (melakukan reformasi). Ishlah berarti perbaikan dan selalu mengajak damai.
Musyarokah lil ishlah wal ihsan baru bisa kita gulirkan, kalau kita professional. Mempunyai kafaah muntijah (kesalehan kompetensi dan kemampuan produktif ) dan kafaah ijaabiyah (potensi dan kompentensi yang positif).
Kader-kader kita harus menjadi kader-kader unggulan di tengah-tengah pergaulan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tafawwuq ma’nawiy berbasiskan tafawwuq iimaniiy, keunggulan moral berbasiskan keunggulan iman. Tafawwuq fikri berbasiskan tafawwuq ‘ilmi, keunggulan idealisme berdasarkan keunggulan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan. Begitu juga tafawwuq ‘amaliy berdasarkan tafawwuq manhajiy, keunggulan dalam aktivitas berdasarkan keunggulan metode kerja. Sehingga seluruh lapisan masyarakat mendapatkan sentuhan ishlah wal ihsan dari kita. Seluruh lapisan masyarakat, segenap komponen bangsa, lintas partai, lintas ormas, lintas agama, lintas keyakinan, lintas suku, lintas pulau-pulau yang bertebaran beribu-ribu ini merasakan khuthuwat ishlahiyah dan khuthuwaat ihsaniyah kita.
Al-Musyarokah lit taqwiim wat tasdiid ( المشاركة للتقويم والتسديد )
Musyarokah kita bertujuan untuk berkontribusi dalam meluruskan dan mengakuratkan tujuan hidup dan perjuangan bangsa ini. Agar bangsa ini tidak  menyimpang dari tujuan utamanya.
Allah memerintahkan kepada kita agar kita lurus, sesuai dengan fitrah diciptakannya.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (الروم : ٣٠)
Tidak ada bangsa atau umat atau bahkan makhluk yang bisa hidup baik,  tenang, tentram dan sejahtera kecuali harus lurus dalam fitrahnya.  Nilai-nilai fitrah ini adalah nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Al-Qur’an mengokohkannya dengan nilai-nilai syar’iyyah.
Sebagai kader dakwah kita harus selalu waspada terhadap kemungkinan berbagai penyimpangan,  penyimpangan diri dan penyimpangan di tengah-tengah umat dan bangsa ini. Kita harus menjadi unsur muqawwim (yang meluruskan) wat tasdiid (mengarahkan) agar bangsa ini jangan disorientasi.
Seluruh kader dakwah ini harus berusaha dan mampu mengkonsolidasi, mengkoordinasi, dan memobilisasi seluruh potensi positif konstruktif  di dalam bangsa ini. Siapapun mereka, partai apapun mereka, ormas apapun mereka dan agama apapun mereka, suku bangsa apapun mereka. Penghuni pulau manapun mereka. Kita harus mampu melihat potensi positif dan konstruktif untuk membangun bangsa ini mencapai kesejahteraan, kedamaian dan kejayaannya.
Selain itu kita harus selalu berupaya untuk mempersempit ruang gerak, perilaku, dan peran potensi negative destruktif. Agar kehidupan berbangsa dan bernegara ini tidak terprovokasi, terpecah belah, terlemahkan, terkecoh , tergadaikan, bahkan terjual oleh potensi negative destruktif itu. Sehingga kehidupan bangsa kita tetap bersatu, damai, tentram dan bersemangat untuk kerja keras mencapai tujuan-tujuan nasional, yaitu menjadi bangsa dan Negara yang diridhai oleh Allah SWT.
Sejak awal, ikhwan dan akhwat digembleng diantaranya untuk misi amar ma’ruf nahi munkar. Dalam musyarokah  lit taqwiim wat tasdiid inilah peran amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dimanapun antum berada. Apakah di lembaga legislative, lembaga eksekutif atau yudikatif. Dalam mengelola jama’ah, kehidupan bermasyarakat, lembaga-lembaga social, pendidikan, kebudayaan, dan perekonomian. Tetap taqwim dan tasdiid adalah merupakan refleksi dari misi amar ma’ruf nahi munkar kita.

Sabtu, 03 September 2011

Sabtu, 03 September 2011

Ust Hilmi Aminuddin: Kita Wajib Berlapang Dada

Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah..
Sebagai da’i kita harus punya keteguhan sikap dalam menghadapi berbagai cobaan dan tantangan yang ada karena itu adalah sunnatullah dalam perjalanan dakwah. Karakter da’i adalah Atsbatu mauqifan, paling teguh sikapnya. Tidak tergoda, tidak terprovokasi, tidak berhenti apalagi mundur.
Namun, ikhwan wa akhwat fillah, keteguhan sikap kadang-kadang menimbulkan eksklusivitas. Kadang-kadang –na’udzubillah- menimbulkan kesombongan. Kadang-kadang menimbulkan kekakuan dalam komunikasi. Oleh karena itu, harus diimbangi dengan arhabu shadron, paling berlapang dada. Teguh sikap, tapi paling berlapang dada.

Berlapang dada terhadap kritikan. Berlapang dada, bahkan terhadap aneka ragam cemoohan. Aneka ragam fitnah, kita berlapang dada. Bahkan kita jadikan semua itu bahan-bahan untuk instropeksi, untuk mawas diri, untuk memperbaiki. Kita sebagai pribadi dan kita sebagai jama’ah, kita perbaiki semua. Jadi insyaAllah semua itu kita terima dalam konteks bahan-bahan untuk instropeksi, untuk memperbaiki diri.

Kita berlapang dada. Kita tidak marah, apalagi ngamuk-ngamuk. Walaupun kalimat amuk itu spesifik melayu, sampai jadi bahasa Inggris. Artinya itu spesifik karakter melayu, melakukan sesuatu tanpa perhitungan, gelap mata. Tapi insyaAllah dengan manhaj kita, kita sudah melepaskan diri sikap-sikap amuk melayu itu. Nggak ada pada kita. Nggak ada sikap-sikap amuk itu. Kita dengan tenang menghadapi cemoohan, menghadapi caci maki. Menghadapi ancaman-ancaman, kita tenang aja.

Karena kita arhabu shadron. Sehingga komunikasi kita dengan orang, termasuk dengan yang mencaci-maki pun tidak patah arang. Setiap saat kita tetap bisa menyambung silaturrahim. Setiap saat kemungkinan ta’awun. Setiap saat terbuka kerjasama. Nggak ada kita mutung-mutungan. Nggak ada.

Ini sikap dari kader kita harus begitu. Atsbatu mauqifan, tetapi arhabu shadron. Paling teguh sikapnya, tapi luar biasa lapang dadanya. Dan ini karunia Allah swt.

Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah..

Rasulullah saw. qudwah kita, yang sudah berarti ujiannya jauh lebih besar dari ujian kepada kita. Disebutkan asaddu bala’an itu al anbiya’, yang paling berat ujiannya itu para nabi. Rasulullah saw. ketika datang ujian, di saat-saat fatrah makkiyah, beberapa tahun sebelum hijrah, dua tahun - tiga tahun sebelum hijrah, istri beliau Khadijah ra. meninggal dunia. Padahal dengan wibawanya sebagai bangsawan Quraish, denang hartanya sebagai aghniya’ Quraish, itu mem-back up dakwah Rasulullah saw.

Abu Thalib –pamannya- yang mem-back up melindungi keponakannya juga meninggal dunia dalam waktu yang tidak berjauhan. Di saat itu intimidasi Quraish meningkat, ancaman-ancaman meningkat, karena dua pelindung besar ba’da Allah sudah tidak ada. Sudah tentu sebagai manusia, Rasulullah merasakan himpitan itu, tekanan itu, intimidasi itu semakin terasa. Tapi kemudian Allah menurunkan dua surat (Adh-Dhuha & Al Insyirah), menghibur Rasulullah saw.

Kata Allah swt. dalam surat Ad Dhuha, “Waddhuha, wallaili idza saja..” Allah bersumpah terhadap waktu dhuha dan waktu malam. Kata Allah, “Maa wadda’aka Rabbuka wa maa qola..” Tidak sekali-kali Allah meninggalkanmu dan tidak juga marah kepadamu.

Ini kita sebagai waratsatul anbiya’ wal mursalin, ketika ada himpitan-himpitan, kembali kepada waddhuha itu. Allah memang dari waktu ke waktu menguji kita, selagi kita istiqomah ala thoriqid da’wah, insyaAllah, Allah tidak meninggalkan kita. Maa wadda’aka wa maa qola, dan tidak juga marah.

Itu Allah lagi menggembleng kita. Yang kadang-kadang supaya hasil gemblengannya hakiki, instrukturnya itu memang lawan bener gitu. Jadi bukan artifisial, bukan. Bukan dibuat-buat. Memang orang yang berniat jahat banget sama kita yang jadi instruktur. Agar hasilnya hakiki. Tembakannya bener-bener diarahkan. Supaya hasilnya hakiki, dalam pelatihan itu. Itu sunnatullah begitu.

Kalau dalam latihan yang dibuat, yang artifisial, hasilnya tidak hakiki. Jadi sekali lagi, ingat kepada waddhuha wallaili idza saja. Kata Allah, maa wadda’aka Rabbuka wa maa qola. Bahkan Allah membangunkan optimisme kita, walal akhiratu khairu laka minal ula. Masa depan kalian lebih baik dari masa lalu kalian. Yakini itu.

Untuk menyongsong masa depan yang lebih baik, baik dunia atau akhirat kita, ya kita perlu digembleng. Walal akhiratu khairu laka minal ula. Dan, wala saufa yu’thika, Allah akan selalu memberi dan memberi, memfasilitasi dan memfasilitasi, jika kita tetap berjalan dalam thariqul istiqomah. Wala saufa yu’thika Rabbuka fatardho. Dan kamu ridho, puas, qona’ah, akan perjalanan yang benar ini.

Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah..

Dalam situasi yang seperti yang saya gambarkan dalam sejarah Rasulullah, kemudian diikuti dengan surat al Insyirah. Alam nasyrah laka shadrok, kata Allah. Bukankah telah kami lapangkan dada kalian. Yang tadi saya katakan arhabu shadron, itu karena Allah melapangkan dada kita.

Alam nasyrah laka shadrok, wawadho’na ‘anka wizrok. Dan Kami letakkan beban yang ada di punggung kalian. Alladzi anqodzo dhohrok. Warafa’na laka dzikrok. Kemuliaan kalian ditingkatkan.

Fa inna ma’al ‘usri yusro, inna ma’al ‘usri yusro, kata Allah dalam menghidupi situasi seperti ini,. Luar biasa. Allah untuk memberikan kemudahan melalui kesulitan. Dalam kesulitan itulah terkandung kemudahan. Diingatkan sampai dua kali. Untuk menemukan kemudahan dalam kesulitan. Untuk menemukan kenikmatan dalam ancaman. Ya, kita harus terus aktif.

Fa idza faraghta fanshob. Jangan berhenti bekerja. Artinya, kita para pekerja dakwah. Yang tidak berhenti oleh situasi apapun, oleh ancaman apapun.

Fa idza faraghta fanshob. Dan motivasi kita, tujuan kita jelas. Wa ila Rabbika farghob. Situasi yang menghimpit Rasulullah, situasi yang menekan Rasulullah itu, dijawab oleh Allah dengan dua surat yang sangat menghibur Rasulullah saw. InsyaAllah, dua surat itu harus menjadi bekalan kita dalam segala situasi sehingga kita bisa terus bekerja untuk kemaslahatan bangsa.

Negeri tercinta ini adalah anugerah Allah kepada kita. Apalagi tanah air kita, yang indah permai, mengandung banyak resouces. Yang bangsa-bangsa lain ngiri, ingin ikut menikmatinya. Bahkan kadang-kadang berkonspirasi untuk merebutnya, atau memanfaatkannya, tanpa melihat hak-hak dari pemilik sah dari bumi pertiwi Indonesia ini. Tanggungjawab nasional ini harus tampil, dalam kehadiran kita, dalam program kita, agenda kita, sepak terjang perjuangan kita. Harus tampil.

Kita adalah pengawal di garis terdepan bagi kepentingan-kepentingan bersama secara nasional. Kita tidak ingin merusak negara ini, karena ini adalah negara karunia Allah.


*Kutipan Taushiyah Ketua Majlis Syuro PKS Ustadz Hilmi Aminuddin pada acara DPW PKS DKI tanggal 27 Maret 2011.

Jumat, 26 Agustus 2011

Jumat, 26 Agustus 2011

Imtidad ad-Da`wah (امتداد الدعوة)

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin, Lc.


Agar al-imtidadud da’awi (penyebaran pertumbuhan da’wah) semakin berpengaruh dalam perubahan, pembinaan, dan siyaghatu al-binaai al-ijtima’i (penataan struktur kemasyarakatan), tidak cukup hanya kita respon dengan al-imtidadu tanzhimi (penyebaran pertumbuhan struktur dakwah). Begitu pula agar struktur kemasyarakatan ini semakin dekat dengan siyaghatu al-binaai al-Islamiy (tatanan struktur masyarakat islami), tidak cukup hanya kita respon dengan al-imtidadud tanzhimi, memperluas dan memperlebar struktur kita.
Respon-respon structural itu harus ditindaklanjuti dengan al-imtidad at-tarbawi (pengembangan pembinaan). Hajman wa waznan, baik kapasitas ataupun bobotnya. Pengembangan tarbiyah yang sudah merupakan pekerjaan kita sehari-hari dan merupakan basis operasional, harus kita kembangkan kapasitas daya tampungnya. Sudah banyak yang menunggu untuk ditarbiyah. Sekarang tidak terbatas pada level mahasiswa, pemuda, atau akademisi. Para professional, pengusaha, praktisi bisnis, banyak yang menunggu untuk ditangani secara tarbawi. Sehingga kapasitas tarbiyah kita harus meningkat. Efeknya, tuntutan kepada pengembangan manhaj tarbiyah pun harus meningkat.

Pendekatan tarbiyah untuk pemuda dan mahasiswa berbeda dengan pendekatan tarbiyah kepada alim ulama dan mubaligh. Berbeda pula dengan para professional, praktisi bisnis, dan lain-lain. Oleh karena itu, fann at-tarbawi, penguasaan teknis operasional tarbiyah harus semakin meningkat. Agar kapasitas tarbiyah daya tampungnya semakin luas.
Untuk menjaga kapasitas, daya dan bobot tarbiyah, jangan sampai tarbiyah kita berkembang nuansanya menjadi ta’lim, apalagi tabligh. Karena ta’lim itu tazwidul ‘ilm (pembekalan ilmu), dan tabligh itu tazwidul ma’lumat (pembekalan informasi). Sedangkan tarbiyah merupakan tashihul aqidah, tashihul fikrah, tashihul akhlaq, dan tashihul ‘ibadah. Sehingga bobot taujihnya harus sangat menyentuh mafatihul uqul, mafatihul qulub, wa mafatihun nufus. Harus membuka kunci-kunci jiwa, hati, dan akal manusia. Tarbiyah harus lebih menggugah, lebih berkesan, dan lebih membangkitkan. Sebab tarbiyah bukan talqinul ulum.
Lapisan pendukung dan simpatisan dakwah menunggu penanganan kita. Kalau mereka merasakannya sama dengan majelis ta’lim umum, bahkan naudzubillah dirasakan sama dengan dakwahtainment, maka itu tidak akan menghasilkan potensi dakwah. Ini harus ditata. Karena tarbiyah itu merupakan kerja pertama dan utama jama’ah dakwah kita untuk membangun potensi SDMnya.
Walaupun begitu, tarbiyah, sebagai upaya manusia, bisa saja—naudzubillah—terjadi infilath tarbawi/falatan tarbawi. Artinya hasil tarbiyah yang tidak terkontrol. Hasil kerja keras dan pengorbanan kita, bisa saja natijahnya jelek. Tidak saesuai dengan yang kita inginkan. Infilat tarbawi biasanya berbentuk:
  1. Munculnya tasyaddud, sikap eksklusif, ekstrim, dan merasa benar sendiri. Ini harus dipantau. Padahal kita memiliki pandangan ijabiyah ru’yah (memandang sisi positif). Pada hakekatnya kebaikan itu ada di mana-mana. Cuma ada yang terkonsolidasi oleh kita dan ada yang belum.
  2. Bersikap kamaliyat (perfeksionis). Seolah-olah tarbiyah itu targetnya menciptakan insan malaki, manusia berkualitas malaikat. Ini juga bentuk infilat tarbawi, bentuk penyimpangan.
  3. Bentuk infilath tarbawi yang lain adalah juz’iyyah. Hanya menukik di sector tertentu saja. Misalnya ruhiyah saja, sementara fikriyah kurang berkembang. Sehingga pertumbuhan cara berfikirnya ketinggalan. Tidak mampu menghadapi komunikasi fikriyah seperti yang kita jumpai di lapangan setelah musyarokah ini. Atau hanya menukik di bidang fikriyah atau siyasah saja. Padahal yang kita harapkan adalah tarbiyah yang integral dan terpadu.
Selain imtidad tarbawi, pertumbuhan dakwah kita juga menuntut imtidad tsaqofy. Kita harus belajar dan belajar, terus menerus. Kita harus mau membaca dan membaca. Baik bacaan yang tertulis di buku-buku, majalah-majalah, surat kabar, radio atau TV. Juga membaca kehidupan masyarakat. Ini semua penting. Sehingga tsaqofah kita berkembang, tidak ketinggalan di segala sector.
Kita bergaul dengan mereka yang beraneka ragam keyakinan, beraneka ragam latar belakang ideology, pendidikan, budaya, dan bahkan kepentingannya. Supaya kita tidak gagap, kekurangan modal ketika menghadapi mereka, maka tsaqofah kita harus ditingkatkan. Bagi yang masih mempunyai kesempatan belajar formal, silahkan tingkatkan. Apakah S1, S2, S3, kalau ada S4 kita masuki. Bagi yang pendidikan formalnya sudah tertib, maka informalnya harus iqro’, terus membaca. Memang kalau kita tidak pandai memenej waktu, tazwidul tsaqafah (pembekalan wawasan) ini akan merosot.
Imtidad tsaqofiy—hazman waznan—harus ditingkatkan. Apalagi ajaran Islam mengajarkan bahwa thalabul ‘ilmi itu minal mahdi ilal lahdi. Menuntut ilmu itu dari bauaian hingga liang kubur. Uthlubul ‘ilma walau bi shin. Walaupun di Cina. Padahal waktu itu dakwah Islam belum sampai ke Cina. Tapi kata Rasul carilah ilmu itu sampai ke negeri Cina.
Jama’ah kita ini, di mana pun, terkenal sebagai madrasah, di mana di dalamnya selalu belajar dan meningkatkan diri, sudah menjadi shibghoh yaumiyah, warna keseharian kita.
Imtidad fanni, penguasaan teknik operasional sesuai bidang dan tugas kerja kita, baik kerja tanzhimiyah atau kerja professional. Penguasaan teknis secara lebih mengerucut sesuai dengan latar belakang tugas kita semakin penting.
Berikutnya adalah imtidad idari. Organisasi kita semakin besar, memerlukan manajerial yang tangguh. Sesuai dengan karakter organisasi jama’ah kita, adalah bukan karakter birokrasi, tapi karakter mutathowwi’in (sukarela). Oleh karena itu kita harus membagi pendelegasian wewenang, tugas-tugas secara lebih merata dan lebih meluas. Mungkin kalau dilihat dari sudut pandang birokrasi—perusahaan atau pemerintahan—organisasi kita amat bengkak. Karena kita ini tidak ada keterkaitan antara penugasan dengan standar gaji. Kalau pun ada, itu sifatnya hanya ta’awun. Itu pun jauh dari standar untuk ma’isyah. Karena kaitannya bukan ma’isyah, tapi lebih kepada muwasholah (penyambung) saja.
Karakter organisasi yang mutathowwi’in, sukarelawan ini, tugasnya harus terbagi. Kewenangan didelegasikan d I dalam bidang-bidang. Kalau ada pos-pos yang kurang berjalan, kita tingkatkan agar lebih mampu berjalan dan memikul tugas secara lebih baik. Bukan dengan cara ditekel/diambil. Kita berusaha untuk meningkatkan para penjaga pos agar bertugas secara bertahap. Agar terbagi secara baik, terlaksana melalui proses ta’awanu ‘alal birri wat taqwa. Ini karena tanzhim kita adalah tanzhim mutatowwi’in, bukan birokrasi.
Karakter organisasi lain, yang terkenal sibuk dan bekerja adalah ketua dan sekretaris. Di organisasi kemasyarakatan itu hal biasa. Mudah-mudahan, insya Allah, itu tidak akan merembes kepada kita. Kita sudah terbagi, semua bekerja, yang penting adalah tanasuq dzaatii. Singkronisasi antar komponen organisasi dalam bidang tertentu, dan singkronisasi antara bidang dengan bidang yang lain. Setiap potensi kader harus termanfaatkan. Dengan begitu semakin meningkat kapasitas, bobot, dan kompetensinya.
Selanjutnya al-imtidad al-iqtishodiy (perkembangan ekonomi). Sampai sekarang pembiayaan dakwah kita masih dalam level konvensional melalui tadhiyyah dari ikhwan dan akhwat, dari ta’awun ikhowi yang luar biasa. Tentu berkahnya tidak diragukan. Tapi kalau diakaitkan dengan tugas berat ke depan, pengembangan ekonomi dakwah harus semakin professional. Basis ta’awun dan tadhiyyah harus selalu terpelihara, karena itu adalah modal awal. Tapi kalau modal awal itu tidak berkembang menjadi professional, maka akan banyak pembiayaan-pembiayaan dakwah yang tidak tertangani secara konvensional.
Sudah barang tentu, Allahu Ghaniyyun Karim. Semua sumber kekuatan, termasuk sumber ekonomi adalah dari Allah SWT. Tapi Allah memerintahkan kita bekerja. Rasulullah SAW pernah melihat seseorang yang setiap hari nongkrong terus di masjid. Beliau bertanya, “Siapa yang member nafkah dia?”. Sahabat menjawab, “Saudaranya”. Kata Rasulullah: “Saudaranya itu lebih baik dari dia”.
Umar bin Khattab juga melihat fenomena serupa. Ada orang terus menerus berdo’a di masjid. Kata beliau, “Alaa ta’khudzu fa’san, litahtathibu?” Mengapa kamu tidak ambil kampak, agar kamu mencari kayu. “Fa innas samaa la tumthiru dzahaban wa la fidhdhoh”, sesungguhnya langit tidak akan pernah hujan emas atau perak. Allah akan menurunkan rizki—apalagi rizki untuk dakwah, yang penting kita tampil di hadapan Allah dengan kerja keras.
Sudah tentu ini untuk para ikhwan dan akhwat yang mempunyai bakat di bidangnya. Kalau tidak mempunyai bakat jangan di dorong-dorong. Karena ada dua kerugiannya: bisnis rusak, dakwah rusak.
Disinilah kemudian peran takaful-ta’awun. Kita bakatnya berbeda-beda. Ada yang tumbuh dengan bakat ekonomi, bakat politik, bakat budaya, bakat kerja di charity. Dari semua bakat yang tumbuh ini terjadi ta’awun dan takaful, saling menopang.
Rasa berbagi dari ikhwah yang sukses ekonominya kepada ikhwan yang menekuni bidang lain harus ditumbuh suburkan. Supoaya tidak aka nada komentar dari masyarakat, “Kasihan itu ustadz, dibiarin sama ikhwannya” Walaupun ikhwan akhwat itu ikhlas, tekun menekuni bidangnya walaupun tidak berefek secara ekonomi. Tapi masyarakat yang akan berkomentar. Banyakl komentar itu dating kepada saya. Biasanya selagi masih dapat saya tangani, saya akan tangani sendiri. Kalau tidak, biasanya saya transfer ke ikhwan lain. Tapi kita tentu tidak harus menunggu komentar dari masyarakat. Maka, ikhwah harus mempunyai semangat berbagi. Alhamdulillah, beberapa ikhwah yang ekonominya baik, mempunyai daftar kafalah untuk ikhwah lain. Kalau kebiasaan ini ditumbuh suburkan, Insya Allah semakin berkah dakwah kita.
Perkembangan ekonomi ini, baik kapasitas atau bobotnya harus meningkat. Dari dulu sering saya komentari, Alhamdulillah pertumbuhan ekonomi di liqo’at/halaqoh itu berkah. Tapi pasar itu lebih luas dari halaqoh. Ketika dating ke halaqoh ada yang bawa jilbab, yang ini bawa barang lainnya, insya Allah berkah. Tapi untuk ekonomi dakwah itu kurang. Salah satu yang dibangun Rasulullah SAW setelah hijrah itu adalah pasar. Maka semuanya harus seimbang anatara pertumbuhan tanzhimi, tarbawi, tsaqofi, fanni, idari, dan iqtishady.
Berikutnya adalah factor ijtima’i. Komunikasi social kita harus diperluas. Dalam hal komunikasi social, tidak perlu memakai taqwim nukhbawi (ukuran kader). Kita perluas komunikasi social kita, lintas partai, jama’ah, agama, dan etnis. Kita lakukan komunikasi secara luas. Karena keragaman atau pluralitas itu adalah fitrah. Rasulullah SAW juga mengembangkan hubungan secara luas. Bahkan ada komunikasi social yang jarang terungkap dari sirah nabawiyah, yang disampaikan Abu Bakar Shiddiq. Ketika menjadi khalifah pertama, beliau sangat memperhatikan kebijakan dan kebiasaan Rasulullah SAW.
Salah satunya, ternyata Rasulullah SAW melakukan komunikasi yang sangat baik dan akrab dengan seorang Yahudi yang buta matanya. Setiap pagi Rasulullah SAW datang mengantar roti dan susu. Orang Yahudi ini sudah tua dan giginya ompong. Kalau diberi roti yang kering dan ada air, roti itu dicelupkan. Kalau tidak ada, dikunyahkan Rasulullah, setelah itu disuapkan kepada orang Yahudi itu. Peristiwa itu hanya diketahui Abu Bakar.
Begitu Rasulullah wafat, Abu Bakar menggantikannya. Karena Yahudi ini buta, ia tidak tahu pada Abu Bakar. Ketika Abu Bakar menyuapkan roti, Yahudi itu berkata, “Siapa kamu?” Abu Bakar menjawab, “Saya biasa datang setiap pagi”—maksudnya menemani Rasulullah. Orang Yahudi berkata, “Tapi rasanya tidak begini, dia lebih halus dan lebih hangat”. Abu Bakar pun menangis.Ini adalah komunikasi lintas agama, dan itu merupakan bentuk riil dari rahmatan lil alamin. Sampai orang Yahudi pun menikmati Islam dalam keyahudiannya. Orang Kristen menikmati Islam dalam kekristenannya.
Walaupun entitas non muslim minoritas di Indonesia, tetap harus terjangkau oleh komunikasi social. Di lingkungan umat Islam diperkokoh. Jangan terhambat oleh beda yayasan, beda organisasi, beda partai. Kita harus terbuka. Kalau mereka mulutnya usil kepada kita, kita maafkan. Karena kita kader dakwah. Kadang-kadang ada organisasi yang terkontaminasi oleh kepentingan partai tertentu, lalu usil kepada kita. Maka kita harus lebih dewasa meresponnya. Tidak perlu terprovokasi oleh sifat-sifat yang kita yakini bukan sifat asli dari organisasi itu. Sekedar terkontaminasi, terkotori oleh kepentingan partai tertentu. Kita jangan mudah terpancing untuk kemudian ketus atau menjadi cuek kepda organisasi itu. Mereka tetap ikhwan kita, saudara kita seiman.
Alaqoh ijtima’i diperluas. Agar kehadiran kita diterima secara baik oleh seluruh komponen masyarakat, lintas partai, agama, dan organisasi. Kalaupun masih ada resistensi, itu bagian kecil dan biasanya berwarna ideologis politik.
Dalam berkomunikasi, prinsipnya, “sayyidul qaumi khadimuhum”, selalu berkhidmat. Dalam Islam, khidmat itu sampai ke tingkat “tabassumuka fi wajhika li akhika laka shadaqah”. Murah senyum, ramah, santun, itu merupakan modal dasar bagi komunikasi social kita.
Ini bagian dari tanhidiyah kita menuju mihwar daulah. Agar tingkat resistensi kehadiran kita di tengah-tengah pengelolaan kehidupan berbangsa dan bernegara semakin kecil. Karena masyarakat melihat realitas fenomena kesantunan, keramahan, dan keterbukaan kita dalam komunikasi, insya Allah resistensi itu semakin mengecil, ia akan selalu ada, tapi akan bisa kita kurangi.
Berikutnya. Imtidad siyasi. Ruang lingkup komunikasi politik harus diperluas. Kemampuan berkomunikasi politik sangat besar pengaruhnya. Komunikasi politik itu mencari kemungkinan-kemungkinan di tengah ketidakmungkinan. Mencari titik temu bersama. Kita kelola dengan baik, supaya tidak ada benturan yang tidak perlu. Kita memerlukan peluang dan ruang pertumbuhan. Untuk menjamin keamanan, ruang dan peluang pertumbuhan, kita harus mengurangi komplikasi-komplikasi politik dengan pihak manapun agar kita mencapai posisi yang aman, bahkan sampai ke posisi dominan. Peluang-peluang kita terbuka banyak. Itu harus kita manfaatkan untuk lebih mengokohkan dakwah dan memperbesar dakwah.
Terakhir, imtidad i’lami. Pertumbuhan di sektor media massa. Memang beberapa factor yang mencuat dan dianggap kendala adalah pembiayaan. Tapi ‘ala kulli hal, masalah i’lam (media) ini perlu dikemas secara baik. i’lam yang paling mendasar dalam gerakan dakwah ini adalah performance dari setiap diri kita. Setiap kita harus memancarkan sum’ah thayyibah (aroma yang baik) bagi jama’ahnya. Itulah modal dasar i’lam.
Di tahun 50-an Sayyid Qutb pernah didatangi banyak aktivis Islam. Mereka mengeluh tentang i’lam. Ada yang berbicara kurang modal, ada yang berbicara masalah keamanan. Ada yang mengeluh majalah-majalahnya sering dibredel, diberangus, dicabut izinnya, atau kantornya digerebek. Sayyid Qutb berkata, “I’lam asasi adalah anfusuhum”. Media utama adalah diri kader itu sendiri.
Mrengelola i’lam ini terkadang gamang. Apakah ini tidak termasuk riya, apa tidak merusak zuhud kita, merusak tawadhu kita?
Kalau kita mengumumkan hal-hal yang terkait dengan pribadi, milik kita atau orang lain secara pribadi, itu baru bermasalah. Tapi kalau terkait dengan kepentingan public, yang kita kerjakan, itu justru diperlukan. Untuk merangsang orang lain mengikuti, membantu, dan mendukungnya. Sikap-sikap kita yang membela umat harus ditampilkan. Bahkan itu bisa wajib, karena mendukung eksisistensi dakwah kita, pertumbuhan dakwah kita.
Faktor-faktor tadi secara simultan bergerak, tumbuh, mutawazin, berkembang. Insya Allah dakwah ini bukan hanya berkembang, tapi pengaruhnya, suaranya mudah didengar. Komentarnya mudah diikuti. Kritiknya mudah diterima. Karena kapasitas dan bobot tanzhimi, tarbawi, tsaqofy, fanni, idari, iqtishady, ijtima’i, siyasi, dan i’lami terkelola, terkemas secara baik, simultan dan seimbang.
Insya Allah ini akan menjadi modal agar dakwah dan jama’ah kita berpengaruh. Jika berbicara didengar, Jika bertindak terasa.
Insya Allah jama’ah dakwah kita semakin berbobot. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan taufiq, ri’ayah, inayah. Memberikan tamkin kepada kita. Sehingga semakin mendekatkan diri kita kepada ridha Allah sampai pada li i’lai kalimatillahi hiyal ‘ulya.