Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
الحمدلله, الحمدلله الذي هدان لهذا وما
كنا لنهتدي لولا عن هدان الله
وأشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له
وأشهد أن محمد عبده ورسوله
وصلاة وسلام على نبين محمد و على اله
وصحبه ومن وله
وقال عزوجله فى كتاب العزيز
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
قُلْإِنَّنِيهَدَانِيرَبِّيإِلَىصِرَاطٍمُّسْتَقِيمٍدِيناًقِيَماًمِّلَّةَإِبْرَاهِيمَحَنِيفاًوَمَاكَانَمِنَالْمُشْرِكِينَ
صدق الله العظيم
Ikhwan dan
akhwat fillah rahimakumullah
Alhamdulillah pada malam hari ini Allah mempertemukan kita dengan tekad
bersama meningkatkan kerja dan kinerja dakwah serta perjuangan kita di dalam
situasi ketika pada hari hari ini, semangat perjuangan Islam di seluruh dunia
sedang bergelora. Dunia Islam sedang
mendapatkan sebutan rabi’ al islami musim semi Islam. Bila di
negara-negara yang punya pergiliran empat musim, musim semi datangnya hanya
selama 3 bulan dalam setahun yang ditandai dengan tumbuhnya cabang-cabang dan
dahan-dahan baru di pohon-pohon, tumbuhnya putik-putik bunga, bermekarannya
bunga-bunga dan buah-buah mulai bermunculan, maka di Indonesia keadaan bersemi
seperti itu sepanjang tahun sehingga musim semi di Indonesia adalah sepanjang
tahun, Allahu Akbar.
Kita dianugrahi Allah SWT sebuah wilayah dakwah yang mempunyai rabi’u da’im, musim semi yang terus
menerus, bunga-bunga sepanjang tahun bermekaran, daun-daun sepanjang tahun
menghijau, ranting-ranting bertumbuhan
dan buah-buah ranum sepanjang tahun bisa dipetik. Kita bisa menaman pohon di bulan apapun,
sehingga umat Islam Indonesia yang diamanahi Allah SWT negeri yang seindah ini,
seharusnya mempunyai semangat musim semi yang terus menerus dan senantiasa
tumbuh kembang serta berbuah memberikan manfaat seperti yang digambarkan oleh
Al-Quran sebagai kasyajaroh thoyyibah:
…كَشَجَرةٍطَيِّبَةٍأَصْلُهَاثَابِتٌوَفَرْعُهَافِيالسَّمَاء ﴿٢٤﴾ تُؤْتِيأُكُلَهَاكُلَّحِينٍبِإِذْنِرَبِّهَا….
Mudah-mudahan karakter musim semi yang merupakan sifat alam Indonesia
menjadi sifat umat Islam Indonesia yang selalu bersemi memberikan kecerahan
dengan bunga-bunganya bagaikan senyuman-senyuman yang menyapa setiap
orangdan juga memberikan buah-buah
ranumnya yang menyegarkan pada siapapun. Hal itu pula yang seharusnya ada pada
kita.
Ikhwan dan akhwat
fillah rahimakumullah
Dalam kurun waktu satu tahun sejak Januari 2011 di negara-negara Arab
terjadi musim semi bagi gerakan Islam. Fenomena yang kita lihat tersebut
merupakan fenomena yang menggembirakan dan sungguh memberikan harapan bukan
hanya bagi umat Islam melainkan juga harapan bagi kemanusiaan. Mudah-mudahan
musim semi Islam ini bisa mengantarkan seluruh umat manusia di muka bumi pada
kedamaian dan kesejahteraan karena dengan keadilan hukumnya, kejernihan
aqidahnya dan kebersihan ideologinya, diyakini umat Islam bisa mengelola
kehidupan kemanusiaan menuju kedamaian dan kesejahteraan, insya Allah. Amin ya
Rabbal ‘alamin.
Namun kalau kita menengok ke
belakang dan mengingat latar belakang sebelum terjadinya musim semi di negara
Arab sesungguhnya telah ada episode yang berat sepanjang puluhan tahun yang
lalu. Saat ini mungkin kita terkagum-kagum oleh negara Arab yang pertama kali
menyelesaikan pemilu dengan sukses yakni Tunisia, namun hal yang tidak boleh
dilupakan adalah betapa nasib umat Islam sebelumnya di negeri itu luar biasa
menyedihkan di dalam dua periode pemerintahan diktator Habib Burquibah dan
kemudian Zainal Abidin bin Ali yang memerintah dengan tangan besi. Gerakan
Islam dan dakwah Islam dibungkam bahkan selama 23 tahun dijadikan organisasi
terlarang. Selain itu ciri-ciri keislaman dikikis bahkan seandainyapun itu
merupakan ciri yang tersembunyi, jika seorang pemuda kelihatan dengkulnya
menghitam yang menunjukkan ia suka sholat, maka pemuda itu bisa ditangkap dan
dipenjara karena diduga sebagai anggota Gerakan Islam. Bahkan ajaran Islam juga
dihinakan di Tunisia sehingga sampai-sampai di kuliah syari’ah di Jami’ah Zaituniyah sengaja dibuatkan kolam
renang yang diprogram oleh kampus agar jam berenangnya campur antara wanita dan
laki-laki dengan pakaian yang serba
minim. Kondisi seperti itulah yang
menjadi latar belakangi perjuangan mereka hingga akhirnya tiba saatnya mereka
mendapat kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT sesuai dengan janjinya “wa
tilkal ayyamu nudawiluha bainannaas” dan hari-hari itu akan diputar gilirannya
kepada manusia.
Akan tetapi tentu saja yang akan mendapat giliran hanyalah yang siaga
sesuai dengan perintah Allah: وَأَعِدُّواْلَهُممَّااسْتَطَعْتُممِّنقُوَّةٍ. Hanya mereka yang melaksanakan perintah وَأَعِدُّواْitu sajalah yang siap menangkap kesempatan
dan siap memetik hasil pada setiap peluang. Maka ketika datang waktunya kebebasan
dan keterbukaan dalam proses demokratisasi di Tunisa yang ditandai dengan
Pemilu ternyata yang telah berusaha dighaibkan,
ditiadakan, dimusnahkan selama 23 tahun yakni partai Nahdhah yang berasal dari
Gerakan Islam memperoleh suara hampir 50% dan sekarang akh Hamadi Jibeli
menjadi Perdana Menteri di sana. Setelah 23 tahun mereka diusir dari negerinya
dan menjadi pengungsi di banyak negara terutama di Eropa, begitu saatnya tiba
untuk kembali maka para pimpinannya kini
memetik hasil kesabaran dalam perjuangan panjang mereka.
Ini adalah sebuah pelajaran berharga bagi kita semua, mengapa bisa
tercapai keberhasilan seperti itu di Tunisia. Selanjutnya bila kita menengok
negara lain yakni Mesir yang umur dakwahnya lebih tua dari Tunisia, nampak pula
oleh kita bahwa dalam usia dakwah yang 84 tahun, kebebasan dakwah di sana hanya
bisa dinikmati selama 20 tahun pertama.
Sejak gugurnya imam Syahid, dakwah selama 64 tahun terus menerus
ditindas dan dibantai serta banyak aktivisnya yang digantung dan dipenjarakan,
bahkan penjara-penjara seolah menjadi langganan persinggahan para aktivis
sehingga memunculkan sindrom untuk kembali dan kembali lagi ke penjara. Salah
satu tokohnya pernah mengatakan kepada saya terkait dengan program bagi ikhwah
yang baru keluar dari penjara, ma kidna nahuju mina sijni ilaa annufaqiraa
fii dukhulihiy mawa tansaniyah, setiap kali kami keluar dari penjara yang
terpikir kapan kami masuk kembali. Bahkan lebih jauh sindromnya, walaupun sudah
di luar penjara, biasanya mereka mengirimkan bahan-bahan bangunan untuk
memperbaiki ruangan-ruangan penjara, karena selalu berpikir sewaktu-waktu bisa
masuk lagi.
Selama 64 tahun dakwah di Mesir ditindas dan para aktivisnya menjadi
buron dimana-mana, walaupun hikmah
rabbaniyahnya selalu ada, karena ketika di Mesir dakwah dipukul dan
dibantai serta para aktivisnya dipenjarakan dan digantung ternyata justru
terjadi proses penyebaran yang cepat luar biasa ke seluruh penjuru dunia.
Bagaikan menepuk air di dulang yang kemudian terpercik kemana-mana, dan mungkin
salah satu percikan itu sampai ke Indonesia dan percikan itu menyebar ke
seluruh Nusantara sehingga di antaranya menyebabkan munculnya fenomena seperti
malam ini. Fenomena yang menampilkan semangat musim semi dengan wajah-wajah
yang cerah, senyum-senyum yang merekah dalam penampilan baju putih bersih,
sehingga bagaikan bunga-bunga melati yang sedang bermekaran. Membangkitkan
harapan kita untuk meraih kemenangan 2014 dan sebelumnya akan didahului
kemenangan 2012 (di DKI Jakarta dan Kab. Bekasi) dan kemenangan 2013 (Jawa
Barat), qobaqo sayni au adnaa, insya ALLAH.
Ikhwan dan akhwat
fillah rahimakumullah
Saya ingin menggarisbawahi, betapa umat Islam di negara-negara yang
dihimpit dengan berbagai tekanan, intimidasi, pembantaian, pemenjaraan tempat
aneka ragam cara keahlian menyiksa orang dilaksanakan, ketika mendapatkan
peluang keterbukaan dan demokratisasi seperti misalnya di Mesir tiba-tiba
memetik suara 70% (47% nya diraih oleh Hizbu
Hurriyah wa ‘Adalah/ PKK). Hal yang
harus menjadi pelajaran bagi kita adalah bahwa kita tidak bisa mengatakan bahwa
kemenangan itu mereka dapatkan secara seketika setelah menerima kebebasan. Kemenangan umat Islam di Tunisia yang hampir
50% atau di Mesir 70% dengan 47% oleh
PKK dan 23% oleh partai Salafiy yang
sudah ta’akhwana (sebab Salafiy yang
asli mengharamkan politik) merupakan indikator yang jelas bahwa selama puluhan
tahun ditindas, mereka tetap bekerja dan tetap berjuang. Mereka tetap berkorban
dan tetap berdakwah dalam situasi dan kondisi apapun. Boleh jadi dakwah mereka
bersembunyi di ruang-ruang basement atau merayap di lorong-lorong
bagaikan semut-semut yang merayap kemana-mana di seluruh wilayah yang sulit
dideteksi selama puluhan tahun. Mereka
tetap bekerja keras itulah ibrah yang
harus kita petik, betapa saudara-saudara kita disana dengan tumpukan kesulitan
yang demikian banyak, terus berjuang, terus bekerja keras, terus berkorban,
terus berproduksi menghasilkan produk-produk dakwah yang bukan saja menambah
jumlah junudud da’wah di negerinya melainkan juga untuk disebar ke seluruh dunia.
Kerja keras mereka inilah yang harus dijadikan ibrah oleh kita.
Sementara kita, sekali lagi Alhamdulillah mendapat lahan dakwah yang
selalu berada di musim semi sehingga seharusnya memiliki peluang dan kesempatan
yang lebih banyak untuk kita petik, manfaatkan dan kita olah menjadi
produk-produk dakwah yang bisa dinikmati oleh segenap bangsa Indonesia bahkan
juga oleh segenap kemanusiaan. Sekali
lagi ibrah yang harus kita ambil, betapa dengan istiqomatu da’wah(استقامة الدعوة), konsistensi dakwah
yang terus menerus dalam segala situasi dan kondisi, sulit atau mudah, leluasa
atau terhimpit, mereka terus bekerja dan ternyata tetap mampu membangun al
wa’yul al islamiy الوعي الاسلامىtermasuk wa’yu siyasiالوعي السياسى.
Ikhwan dan akwat fillah
Bila kita kini melihat pertumbuhan wa’yu
siyasi di indonesia, maka salah satu tolok ukurnya adalah Pemilu dan pada
Pemilu pertama yang demokratis di Indonesia yakni tahun 1955, konstelasi
politik Islam menghasilkan 45%. Di zaman
Soeharto, Pemilu sekedar dekorasi
demokrasi karena perolehannya sudah dijatah dan di setiap pemilu Golkar
mendapatkan lebih kurang 75%, PPP dapat
22% dan PDI dapat 3%. Bahkan partai-partai politik tersebut itu tidak bisa memilih Ketuanya sendiri secara bebas
kecuali atas persetujuan penguasa. Barulah di tahun 1999, dilangsungkan lagi
Pemilu kedua yang demokratis atau Pemilu pertama di masa Reformasi, namun ternyata wa’yul
islami di bidang politik di Indonesia terus merosot, dari 45% di tahun 1955
dan kini terakhir di pemilu 2009 tinggal 23% suara bagi partai Islam atau berbasis
massa Islam dan itu pun terpecah di 4 partai. Hal itu berarti dalam kurun waktu
50 tahun lebih suara hilang yang hilang bagi partai Islam adalah sebesar 50%. Berarti kita bisa bertanya fa’aina du’at, kemana para du’at atau mungkin pertanyaan lainnya adalah
wa kaifa da’wah, seperti apa sih
dakwahnya sehingga tidak menghasilkan
wa’yul islami dan tidak menghasilkan
wa’yu siyasi islami.
Dalam kondisi ini umat Islam ada dimana-mana dan banyak yang memiliki
semangat religius dan dari segi ibadah mahdah,
ritual sangat fenomenal, tetapi wa’yul islami hampir tidak ada atau
paling tidak selalu merosot. Oleh karena itu perlu kita telusuri apa yang salah
dengan da’wah kita. Mengapa da’wah yang semarak di mimbar-mimbar di
majelis-majelis taklim, di televisi di radio dari sejak dini hari sampai malam
hari, tetapi wa’yul islami dan
terutama wa’yu siyasi islami nya
tidak terbentuk. Hal ini yang perlu kita pelajari kenapa, padahal kesemarakan
majelis taklim luar biasa, semakin ke kota semakin semarak. Di Jakarta
rombongan ibu-ibu yang pulang dari majelis taklim, bagaikan sebuah kafilah yang
pulang dari perjalanan jauh dengan semangatnya luar biasa dan adzan
berkumandang dimana-mana serta tidak pernah dilarang seperti di Turki. Adzan
dalam bahasa Arab di Turki pernah dilarang dari awal berkuasanya Kemal At
Taturk 1923 sampai tahun 1955 jadi
sekitar 30 tahun lebih adzan dalam berbahasa arab dilarang. Bahkan di tahun
80an akhir, saya sempat melihat fenomena Islam
yang masih sangat terbelakang di Turki. Masjid hanya diisi oleh orang
tua dan kalau baca kitab tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa Turki,
misalnya baca kitab Bukhari Muslim ya apa adanya bahasa Arab, tidak peduli
orang mengerti atau tidak.
Kita tidak pernah merasakan seperti itu karena pesantren-pesantren
dengan taklimnya, madaris ma’ahid
dengan pendidikannya memiliki keleluasaan berkembang, tetapi sayangnya bila
dilihat dari wa’yul islaminya kok
malah merosot. Hal tersebutlah yang harus kita evaluasi dan kita bertanggung
jawab untuk bersama-sama memperbaiki. Kita harus dapat memanfaatkan semangat
religius yang bagus di Indonesia ini. Masyarakat yang rabi’ yang selalu berada di musim semi ini harus kita manfaatkan untuk mempercepat
tumbuhnya wa’yu siyasi al islami agar
jangan sampai umat Islam dari sisi politik bagaikan komoditi non migas. Seorang tokoh agama misalnya mengatakan saya
punya pengikut 2 juta, 3 juta atau Ormas
Islam mengatakan saya punya anggota 7 atau 10 juta lalu ditawarkan ke
partai-partai untuk melakukan transaksi uang terkait dengan dukungan suara yang
bisa diberikannya. Kondisi tersebut menandakan wa’yu siyasi al islami
yang terus merosot. Oleh karena itu Pilkada dan Pemilu salah satu manfaatnya
adalah sebagai tolok ukur untuk dapat mengevaluasi sejauh mana kita berhasil membangkitkan
wa’yu siyasi al islami sehingga suara
umat Islam untuk Islam dan bukan untuk yang lain. Jika wa’yu
siyasi al islami itu tumbuh terus maka partai-partai Islam atau
lembaga-lembaga perjuangan Islam akan mempunyai legitimasi yang tinggi dalam berjuang
di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga tidak dianggap
partai emperan yang marginal yang sekedar menjadi hiasan demokrasi yakni bahwa umat Islam boleh
berpartai. Sebaliknya akan betul-betul menjadi partai yang dominan dan menentukan
perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia karena sudah selayaknyalah umat Islam yang mayoritas ini
yang paling menentukan garis kehidupan berbangsa dan bernegara. Seharusnya
kitalah yang paling berpeluang melaksanakan konsep rahmatan lil ‘alamin, sehingga kasih sayangnya menyentuh seluruh
komponen bangsa, membahagiakan dan mensejahterakan seluruh komponen bangsa. Hal
ini harus dijadikan bahan evaluasi oleh kita secara terus menerus.
Ikhwan dan
akhwat fillah
Tadi sudah saya sebutkan bahwa contoh di negara-negara baik di Libya,
Mesir, Tunisia, Yaman dan negara-negara yang selama ini kelihatan terhimpit
ternyata wa’yu siyasi al islaminya
luar biasa, sehingga ketika peluang terbuka, segera saja umat Islam
mengekspresikan pandangan politiknya dan langsung menyalurkannya kepada saluran
Islam. Sementara di Indonesia, suara umat Islam menyebar, yaminan wa syimalan, ke kiri dan ke kanan, ada yang ke partai kiri
atau ke partai kanan bahkan ada yang ke partai kirinya kanan dan ke partai
kanannya kiri. Begitu juga sebagian memberikan suaranya ke ke partai kirinya
kiri ke partai kanannya kanan sehingga
semakin jauh dari partai-partai Islam.
Kondisi tersebut harus kita perbaiki dari sisi perjuangan politik kita,
sebab kalau tidak kita evaluasi maka umat Islam masih akan selalu marginal di
politik, padahal as siyasah tata’alaq bis
siyadah, politik itu berhubungan langsung dengan kedaulatan “la siyadata bi
la siyasah”, tidak ada kedaulatan tanpa adanya otoritas atau tanpa politik. Hal
inilah yang harus kita evaluasi sejak hari ini sampai hari Ahad pada Rapat
Kerja Nasional. Kita harus lebih menekuni ibrah
keberhasilan mereka yang bukan hanya bisa mempertahankan wa’yu siyasi bahkan hebatnya justru mampu menumbuhkannya di
saat-saat sulit, berarti mereka selama kondisi-kondisi sulit itu tetap
istiqomah.
Al-quran banyak sekali mengingatkan agar kita istiqomah “fastaqim kama umirta wa man taba ma’a wa laa tathghau
innahu kana bima ta’maluna bashir”, istiqomahlah sebagaimana diperintahkan
kepadaku dan orang-orang yang bertaubat bersama-sama kami, walaa
tathghau, jangan melampaui batas, karena kalau melampaui batas berarti
tidak istiqomah. Thogho berarti melampaui batas dan berarti tidak akan istiqomah. Di
dalam ayat lain Allahjuga berfirman, “wa
anna hadza shirati mustaqiman fattabi’u”,
bahwa ini jalanku yang lurus ikutilah, “wa laa tattabi’u subula
fatafarraqu bikum an sabilih”, dan
jangan ikuti jalan-jalan yang begitu banyak jalan-jalan yang lain, “
fatafarriqu bikum an sabilih”, kalian
akan bercerai berai dari jalannya dari jalan Allah SWT, dzalikum washokum bihi la’allakum tattaqun , demikianlah Allah SWT memberikan wasiat kepada kalian
agar kalian tetap bertaqwa. Bahkan seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW
dengan mengatakan: “ Ya Rasulullah berilah saya nasihat yang setelah ini saya
tidak akan meminta nasihat lagi maka nasihat yang diberikan oleh Rasulullah SAW
kepada sahabat itu adalah qul amantu billah tsummastaqim,
katakanlah berimanlah kepada Allah dan
beristiqomahlah.
Konsistensi ini tentu saja bukan sesuatu yang statis karena istiqomah
itu tidak identik dengan statis melainkan dinamis jadi bisa bertambah atau
berkurang itu dinamis sehingga kalau tidak dijaga atau diwaspadai tahu-tahu kita sudah melenceng,
mungkin akibat kesulitan hidup mungkin pula justru akibat kesenangan hidup.
Kita mungkin melenceng karena jabatan atau kekayaan atau sebaliknya melenceng
karena tidak punya jabatan dan kekayaan. Oleh karena itu sebagai kader dakwah
kita harus mewaspadai keistiqomahan kita dalam segala situasi baik ketika kita
duduk sebagai anggota DPR, DPRD, sebagai walikota, Gubernur atau Bupati, karena
hanya dengan keistiqomahan itulah kita akan mampu menjaga kontinuitas dakwah
Ikhwan dan akhwat
fillah
Kedua, ibrah
yang kita dapatkan dari perjuangan saudara-saudara kita di negara-negara yang
mengalami kesulitan yang dahsyat itu adalah tetap memiliki orientasi yang jelas
dalam segala langkah perjuangannya. Padahal biasanya bila dalam kondisi sulit
tehimpit dan terjepit seseorang akan kehilangan orientasi atau mengalami
disorientasi yakni tidak tahu mau kemana dan bahkan tidak mengetahui pula di
mana saat ini berada karena begitu bingungnya. Sebaliknya disorientasi juga
bisa terjadi pada saat seseorang mengalami banjir kemenangan keberhasilan dan
kesenangan padahal memiliki orientasi yang jelas dalam setiap kerja merupakan
syarat utama sebagaimana firman Allah SWT, wakulli
wijhatun huwa mualliha, setiap orang harus punya wijhah atau orientasi yang jelas tentang arah mana yang akan dituju
olehnya. Kalau sudah jelas orientasinya
barulah kemudian bisa berlari, fastabiqul
khairat, karena orang yang berlari tanpa wijhah, orientasi yang jelas sama saja dengan orang yang berlomba lari namun tidak tahu startnya dari
mana dan tidak tahu pula akan berakhir di garis finish yang mana.
Fenomena kehidupan umat Islam di Indonesia saat ini menunjukkan gejala
disorientasi seperti itu karena umat Islam di Indonesia sebetulnya sangat aktif
bergerak di segala sektor kehidupan hanya sayangnya sering kali tidak
mengetahui dengan jelas start awal
berlarinya dari mana dan garis finishnya di mana. Misalnya terkait perjalanan antara Bandung –
Jakarta, boleh jadi ada yang merasa startnya
itu ada di Bandung, ada juga yang merasa
nanti startnya di Cimahi, tetapi
sampai di Cimahi bertemu dengan orang yang merasa bahwa garis finishnya di
Cimahi sehingga tidak perlu berjalan lagi. Sehingga boleh jadi sepanjang
perjalanan ada banyak garis finish, ada yang merasa garis finishnya di Cianjur,
ada yang berhenti di Bogor dan ada pula yang di Puncak. Umat Islam yang disorientasi betapapun nampaknya
bekerja keras namun ternyata produktifitasnya rendah. Hal ini yang harus
digarisbawahi bahwa orientasi kerja yang jelas akan sangat menentukan
produktifitas. Alhamdulillah umat Islam di Indonesia ini sudah aktif tinggal
dibenahi orientasinya misalnya orinetasi ekonominya apa, orientasi
pendidikannya apa, orientasi kerja tarbiyah
apa, kerja siyasahnya apa, kerja tsaqofahnya apa kemudian bagaiman
menyinergikannya dan capaian-capaian bersama apa yang mau diraih sebagai satu
umat.
Kita sering kali mendengar bahwa capaian itu hasilnya lumayan atau
ungkapan ‘lumayanan, segini juga udah alhamdulillah’. Masalahnya adalah istilah
lumayan itu tidak jelas ukurannya jadi ukuran keberhasilannya tidak ada dan hal
itu disebabkan oleh adanya disorientasi. Jadi sekali lagi wijhah itu sangat penting.
Oleh karena itu Allah pun menegaskan dalam ayat lain (Q.S 30:30), fa aqim wajhaka lid diini hanifa, maka
hadapkanlah orientasi hidupmu kepada dien
yang hanif ini. Bahkan dalam sholatpun kita selalu
memproklamirkan orientasi kita, inni wajhatu wajhiya lilladzi fatharos samawati
wal ardh, sebagaimana surat al-An’am ayat 161, 162, 163 yang tadi saya
bacakan di pembukaan. Hal itu juga menunjukkan betapa orientasi itu penting “qul
innani hadani rabbi ilaa shiratim mustaqim diinan qiyyaman millata ibrahima
hanifa wa maa kana minal musyrikin”, “qul inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa
ma mati lillahi rabbil ‘alamin laa syarikalahu wa bidzalika umirtu wa ana
awwalul muslimin”. Bukannya berkata, saya nanti saja lah belakangan melainkan
“wa ana awwalul muslimin” . Kalimat awwalul muslimin tentu saja bukan
diartikan bahwa sayalah yang pertama masuk Islam melainkan menandaskan
keinginan Allah agar kita mempunyai jiwa-jiwa kepeloporan, wa ana awwalul muslimin, bahwa akulah pelopornya umat Islam seperti
itu
Jika semangat penekanan orientasinya jelas seperti itu, insya Allah
kemenangan-kemenangan yang tadi saya sebutkan bahwa jaraknya sudah qoba qauna saini aw adna itu , insya
Allah tidak akan diberikan oleh Allah kepada yang lain. Oleh karena itu dalam menyusun rencana kerja
pertama harus mencerminkan keistiqomahan dan yang kedua orientasi yang jelas.
Setiap rencana kerja mempunyai orientasi yang jelas, mau apa sampai dimana dan
untuk apa. Jangan belum-belum sudah mengatakan, segini juga Alhamdulillah atau
kata orang Sunda, sekie ge uyuhan,
jadi kalau digawe uyuhan. Maka saya tekankan sekali lagi
kepada kita semua termasuk kepada saya, jangan sampai kehilangan orientasi.
Ikhwan dan akhwat
fillah
Ketiga, pelajaran lainnya yang kita dapat dari
mereka yang sudah memberikan contoh gemilang keberhasilan dakwahnya adalah
selalu mempunyai sikap tawazun (توازن), selalu seimbang.
Ketawazunan atau keseimbangan sangat penting karena merupakan soko gurunya fitrah
sebagaimana Allah berfirman (Q.S Ar Rahman: 7-9), was sama`a wa rafa’a wa wadho’al mizan, Allah menciptakan langit
dengan meletakkan neraca keseimbangannya sehingga matahari dan bintang berjalan
sesuai dengan porosnya masing-masing
secara seimbang. Bahkan Allah
memperingatkan dalam ayat berikutnya, alla tathghau mizan, jangan menabrak keseimbangan, jangan melampaui
dan merusak keseimbangan itu, baik keseimbangan antara dakwah dengan ekonomi,
keseimbangan antara aktivitas sosial kita dengan aktivitas dakwah dan aktivitas
rumah tangga yang menyangkut pula hubungan dengan istri dan anak, hubungan
dengan mertua dan lain-lain yang kesemuanya harus dijaga keseimbangannya “alla
tathghau fil mizan”
Bahkan untuk ketiga kalinya, Allah SWT menekankan, wa aqimul wajna bil qisthi wa laa tukhtsirul mizan (dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan benar) artinya
jangan keseimbangan yang semu atau palsu. Keseimbangan itu jangan dipalsukan
dan bagi manusia ukuran keseimbangannya ada di hati yang sebetulnya sensitif
terhadap perubahan-perubahan keseimbangan. Dengan adanya keseimbangan maka kita menjadi stabil dan bisa melaksanakan
perintah Allah untuk menjadi ummatan
wasathan. Tidak mungkin kita menjadi
ummatan wasathan kalau tidak
mempunyai keseimbangan dalam hidup, karena bila tidak wasathan atau tidak seimbang berarti kita cenderung ekstrim ke
kanan atau ekstrim ke kiri atau bahkan
mungkin lebih ekstrim lagi yakni kanannya kanan atau kirinya kiri. Oleh karena itu tawazun harus dijaga dalam segala konteks kehidupan.
Ikhwan dan akhwat fillah
Islam adalah konsep yang syamil,
integral, menyeluruh, oleh karena itu dakwah kita juga adalah dakwah yang
syamil. Perlu disadari oleh kita bahwa syumuliatud dakwah itu masih jauh
dan belum tercapai di negeri kita, akan
tetapi perolehan-perolehan dakwah kita dalam menuju syumuliyatud dakwah harus tetap dijaga keseimbangan antar komponen
dakwahnya agar terjadi takamuliyah. Bila
muazanah antara komponen dakwah
selalu terjaga perannya maka nanti akan
saling melengkapi yatakamal ba’duha ba’dh.
Keseimbangan adalah sesuatu yang dinamis, oleh karenanya keseimbangan yang kita
capai malam ini besokpun harus segera dievaluasi apakah besok kita masih tetap
dapat tawazun karena ada faktor-faktor lain yang melakukan penetrasi ke dalam
kehidupan kita. Oleh karena tawazun adalah sesuatu yang dinamis maka harus
terus menerus kita evaluasi dan kita jaga baik secara pribadi maupun secara
jama’i. Dengan keseimbangan kita tidak gampang ditarik ke kiri atau ke kanan
dan kita akan betul-betul menjadi ummatan
wasatha.
Ikhwan dan akhwat fillah
Keempat, istimrariyah.
Bila kita seimbang maka keberlanjutan dakwah ini akan terjamin. Kontinuitas
dakwah bisa kita jaga karena kita berjalan secara seimbang, la ifrath wa laa tafrith laa ghuluw wa laa
tasahul. Kata orang Jawa Barat sendeger tengah yaitu ummatan wasathan. Hubungan antara tawazun yang menghasilkan wasathiyah dan kemudian istimroriyah dijelaskan oleh dua hadits
Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda khairul
umur awsatuha sebaik-baik perkara adalah yang wasath, pertengahan atau moderat.
Selain itu Rasululullah SAW juga bersabda khairul a’mal adwamuha
sebaik-baik amal adalah yang kontinyu walaupun sedikit, sehingga jangan
sekaligus banyak tetapi kemudian kehabisan tenaga dan tidak bisa bekerja lagi.
Jadi antara awsatuha dan adwamuha itu ada hubungannya karena kita
tidak mungkin bisa adwam, kontinyu
kalau tidak awsath. Wasathiyah yang dihasilkan dari tawazun iakan menghasilkan istimroriyah atau kontinyuitas
Mesir telah memberi ibrah kepada kita bagaimana mereka selama 64 tahun
ditindas namun selama itu pula tetap istiqamah dan selama itu juga tidak kehilangan
orientasi. Mereka tidak pernah mengalami disorientasi dan selalu menjaga
keseimbangan agar mereka terus kontinyu bekerja.
Ikhwan dan
akhwat fillah rahimakumullah
Untuk menjaga kontinuitas terus berkesinambungan diperlukan faktor yang
kelima yaitu taurits. Harus ada khutuwat tauritsiyah, langkah-langkah
pewarisan, sehingga program-program rabthul
khas tajnid atau kasbil afradh harus terus menerus
digulirkan dalam rangka menumbuhkan para pewaris dakwah. Langkah-langkah
pewarisan harus terus berlanjut, selain untuk memenuhi kebutuhan tantangan di
lapangan yang semakin banyak membutuhkan SDM adalah juga karena SDM memang
merupakan aset utama dan pertama kita. Oleh karena itu kita harus memperbanyak warasatul anbiya wal mursalin yaitu para du’at. Khutuwat tauritsiyah
ini harus terus dilakukan agar dakwah
kita produktif dan berkelanjutan.
Ikhwan dan akhwat
fillah
Dalam perjalanan dakwah kita sekarang ini, kita sudah bukan hanya
dituntut dengan tanggung jawab nasional di dalam negeri kita saja, melainkan sudah
menjadi tumpuan banyak orang baik di dalam maupun di luar negeri. PKS sering
disebut sebagai partai harapan atau partai masa depan, gelar itu memang sedikit
menghibur walaupun kadang-kadang perolehan Pemilu dan Pilkada kita sedikit.
Hanya saja pertanyaan yang lebih penting adalah apakah benar kita sudah
memenuhi harapan orang-orang?. Seperti pertanyaan yang muncul di Jawa Barat
katanya PKS teh kahartos tapi nte acan
karaos. PKS belum terasakan oleh mereka, artinya belum memenuhi harapan
mereka.
Kembali ke persoalan tanggung jawab kita yang bukan hanya dalam skala
nasional, melainkan secara regional pun kita dituntut untuk memikul tanggung
jawab di beberapa sektor yakni di sektor tarbiyah,
sektor thulaby, sektor akhwat, sektor takhtith dan sektor siyasi
bahkan wakil penanggung jawab manajemennya dari kita juga. Sudah sejak dua
tahun ini kita dituntut memikul tanggung jawab internasional dalam pergaulan ‘amal islami al alami dan sekarang kita
juga diminta mengirim kader-kader kita untuk memikul tanggung jawab
internasional ini di banyak sektor. Sudah tentu mobilitas vertikal ini
meninggalkan kekosongan-kekosongan yang harus segera diisi oleh kader-kader
dari produk khuthuwat tauritsiyah
untuk mengisi kekosongan tersebut.
Maka, pertama, khuthuwat tauritsiyah
harus dilakukan karena adanya mobilitas vertikal yang menimbulkan kekosongan. Kedua, khuthuwat tauritsiyah harus dilakukan bukan hanya karena mobillitas
vertikal saja, melainkan juga karena kondisi fitrah setiap orang. Generasi tua,
generasi pertama sudah mulai menua dan berambut putih sehingga sudah tidak bisa
menjadi andalan lagi. Munculnya indikator-indikator penuaan dari generasi
pertama menunjukkan bahwa harus segera disiapkan gantinya. Jangan menunggu
mereka lumpuh baru digantikan sebab kalau menunggu lumpuh, mereka tidak bisa
menikmati untuk memandangi perkembangan dakwah. Jadi tuntutan fitrah juga sudah
semakin mendesak adanya khuthuwat tauritsiyah selain adanya tuntutan
tanggung jawab mobilitas vertikal yang luar biasa. Kita dituntut tanggung jawab yang lebih
karena dianggap salah satu negara yang mengalami musim semi lebih awal, bahkan
musim seminya tidak pernah berhenti sehingga tentu saja dituntut agar
kontribusinya lebih besar dan tuntutan ini tidak bisa ditawar-tawar lagi
sehingga harus kita jawab dan harus kita
penuhi dengan produktivitas dalam khuthuwat
tauritsiyah kita.
Kita harus mampu menyiapkan generasi muda pelanjut, fidyatun amanu bi rabbihim wa zidnahum huda
wa rabathna ‘ala qulubihim idz qomu fa qolu rabbuna rabbus samawati wal ardh
lan nad’uwa min dunihi ilahan laqod qulna idzan syathotho, pemuda yang
beriman tetapi tidak sekedar beriman melainkan wa zidnahum huda, melainkan pemuda yang tahu jalan perjuangan yang
akan ditempuhnya dan mempunyai tekad wa
rabathna ‘ala qulubihim, terus berani mendeklarasikan dan memproklamasikan
dirinya, idz qomu fa qolu rabbuna rabbus samawati wal ardhi lan nad’uan min
dunihi ilahan laqod qulna idzan syathotho.
Jika secara terus menerus fidyatul
huda sebagai generasi penerus diproduksi oleh ikhwan dan akhwat di seluruh
penjuru Indonesia ini bahkan oleh perwakilan-perwakilan di luar negeri, insya Allah dakwah di Indonesia ini
bukan hanya bisa berkontribusi bagi kebajikan nasional melainkan juga bagi
kebajikan regional dan internasional sehingga akan dinikmati oleh kemanusiaan, insya Allah.
Insya Allah dalam Rakernas ini khuthuwat
tauritsiyah termasuk yang harus dievaluasi secara tajam yakni sejauh mana
efektifitas kita melahirkan generasi fidyatun
huda. Mudah-mudahan kita semuanya mendapatkan taufiq,hidayah,riayah dan
inayah dari Allah SWT sehingga amal dakwah kita diterima sebagai amal sholeh di
sisi Allah dan pahalanya akan kita dapatkan fi
mizanin hasanatin yaumal qiyamah, amin ya Rabbal ‘alamin, aqulu qauli hadza wastaghfirullahi walakum.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



21.35
bpksms
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar