Sabtu, 10 Maret 2012

Sabtu, 10 Maret 2012

Tetaplah Husnuzhan atas Ketidakberangkatan Saudaramu


Serial Tabuk – 3

Oleh : Cahyadi Takariawan

Dalam dakwah, ada banyak kondisi yang tidak selalu sama dengan harapan. Oleh karena itu selalu ada ruang permakluman yang kita sediakan, bukan untuk diri sendiri, namun untuk tetap berpikir, berprasangka dan memandang positif saudara kita. Sudah direncanakan mengadakan kegiatan, semua sudah sepakat hadir pada waktu dan tempat yang telah ditentukan. Namun ada satu atau dua orang terlambat. Ada yang tidak hadir dengan mengirim kabar berita, bahkan ada pula yang tidak hadir tanpa mengirim berita sama sekali.

Minggu, 04 Maret 2012

Minggu, 04 Maret 2012

Ketidakberangkatan Menimbulkan Penderitaan


Serial Tabuk – 2

Oleh : Cahyadi Takariawan

Ketidakberangkatan dalam kegiatan dakwah, selalu menimbulkan penderitaan bagi para aktivis. Seakan-akan memilih sikap yang enak, dengan tidak berangkat dan tidak mengikuti kegiatan dakwah. Namun yang didapatkan adalah perasaan menyesal dan menimbulkan penderitaan. Seperti yang dialami oleh Ka’ab bin Malik.

“Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut ke Tabuk. Namun sungguh aku merasakan penderitaan batin sejak Rasulullah saw meninggalkan Madinah”.

Rabu, 29 Februari 2012

Rabu, 29 Februari 2012

BERMATA TAPI TAK MELIHAT


oleh Bimbo/Taufik Ismail

Bermata Tapi Tak Melihat
bertelinga Tapi Tak Mendengar
bermulut Tapi Tak Menyapa
berhati Tapi Tak Merasa

Berharta Tapi Tak Sedekah
berbenda Tapi Tak Berzakat
berilmu Tapi Tak Beramal
berjalan Tapi Tak Terarah

Semoga Kita Terhindar
dari Hal-hal Sedemikian
semoga Kita Menjauh
dari Sikap Sedemikian

Beramal Tapi Kurang Ikhlas
berjanji Tapi Suka Lupa
bergunjing Hampir Tiap Hari
berkata Tapi Menyakitkan

Senin, 27 Februari 2012

Senin, 27 Februari 2012

SYIAR RABI'UTS TSANI 1433 H


SURAT EDARAN(rewrite sesuai aslinya)
Nomor : 23/D/EDR/KDR-PKS/1433
SYIAR RABI'UTS TSANI 1433 H

Kata “rabi’” dalam bahasa Arab bermakna musim semi, kata yang memberikan nuansa indah dan nyaman di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, terutama dalam berdakwah. Fenomena runtuhnya berbagai ideologi besar dunia semoga memberikan peluang besar bagi tegak dan kokohnya nilai-nilai Islam dalam tata kehidupan baru yang penuh rahmah.
Menyambut momentum bulan Rabi’ ini, Dewan Pengurus Pusat Partai Keadilan Sejahtera Bidang Kaderisasi menyerukan kepada seluruh kader dan simpatisan untuk menjadikan kesempatan ini sebagai furshah dzahabiyah (kesempatan emas) dalam rangka menumbuhsuburkan dakwah ini dengan berbagai aktifitas berikut :
1. Peningkatan kualitas pribadi kader yang mampu tumbuh dimana pun ia berada dengan meningkatkan pelaksanaan wajibat yaumiyah (kewajiban harian) kader yang mencakup shalat berjamaah di masjid, shalat sunnah rawatib, qiyamullail, witir, dhuha, dan tilawah, serta wazhifah kubra pagi dan sore.
2. Melaksanakan puasa ayyamul bidh dan menjadikannya sebagai pekan usbu’ ruhiy, yang bertepatan dengan hari Selasa-Rabu-Kamis / 6,7,8 Maret 2012.
3. Memberikan hadiah 3 buah buku dakwah kepada tiga orang kerabat/teman/ tetangga yang belum menjadi kader dakwah.
4. Menyapa, memberi senyum, dan memberi salam kepada sesama muslim di lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja.
5. Memperdengarkan tilawah Al Qur’an kepada keluarga di rumah masing-masing minimal tiga kali sepekan.
6. Menyelenggarakan halaqah/kelompok baca Al Qur’an di masjid, mushalla, lingkungan atau tempat kerja.
Demikian syiar ini kami sampaikan agar menjadi perhatian seluruh kader dan simpatisan, mohon struktur kaderisasi di semua level, para nuqaba, dan murabbi turut mendukung serta memutaba’ah kegiatan ini. Semoga Allah SWT memudahkan dan memberkahi kerja kita semua, jazakumullah khairan.
Jakarta, 14 Februari 2012 M / 21 Rabi’ul Awwal 1433 H

DEWAN PENGURUS PUSAT
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
BIDANG KADERISASI
Musyaffa Ahmad Rahim, Lc., M.A.
Ketua Bidang



SEBERAPA JAUH TABUKMU ?


Oleh : Cahyadi Takariawan

Apakah yang terjadi pada seorang Ka’ab bin Malik? Ya, ia tidak berangkat ke Tabuk. Masyaallah, harusnya ia berangkat. Sebagaimana perang-perang sebelumnya, bukankah ia tidak pernah absen ? Mengapa ia tidak berangkat menuju Tabuk, padahal Nabi dan para sahabat telah berangkat ?
Pasti ia punya kondisi dan situasi yang membuatnya tidak berangkat. Ada sesuatu di balik ketidakberangkatannya.

Jumat, 24 Februari 2012

Jumat, 24 Februari 2012

PERBEDAAN KITA DENGAN RASULULLAH SAW HANYA SEDIKIT


Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, merupakan sosok yang istimewa. Sebagai nabi dan rasul terakhir yang juga merupakan kekasih Allah subhana wa ta’ala, beliau memiliki banyak kelebihan. Kesabaran yang diabadikan di dalam Kitab suci Al-Quran menjadi bukti yang tak terbantahkan, bahwa beliau adalah manusia sempurna, dalam wujud lahiriah (penampakan), maupun batinnya. Tanda-tanda ini tampak pada diri beliau, dari batinnya yang mulia sampai pada bentuk lahirnya yang indah.

Rabu, 22 Februari 2012

Rabu, 22 Februari 2012

KENIKMATAN DUNIA HANYA SETETES AIR DI JARI


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Demi Allah, DUNIA ini dibanding AKHIRAT ibarat seseorang yang mencelupkan JARINYA ke LAUT; air yang TERSISA di JARINYA ketika diangkat itulah NILAI DUNIA (AKHIRAT = LAUT)”. (HR Muslim)
Bagaimana untuk memahami hadits di atas?
Kenikmatan di akhirat adalah kenikmatan di SURGA yang luasnya seluas LANGIT dan BUMI.
Allah SWT berfirman, “Dan BERSEGERALAH bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Ali Imron : 133)
Adakah yang sudah bisa menembus batas LANGIT?
Sampai sekarang tidak seorangpun yang mengetahui batas langit terluar. Sehingga diibaratkan LANGIT ini adalah LAUT, maka BUMI – bagian kecil dari LANGIT- hanyalah satu tetes air yang tersisa di jari bila diceupkan ke LAUT.
Dan kenikmatan yang lebih indah dari surga adalah ‘merasakan’ ridha Allah dan kesempatan berjumpa dengan ‘WAJAH” Allah, Inilah puncak segala kenikmatan. Ketika itu kita akan benar-benar memahami hadits: “Allah itu INDAH dan suka dengan KEINDAHAN”
Kenikmatan di Surga adalah kenikmatan yang tak mampu dibayangkan manusia, di sana banyak keindahan yang tak pernah dilihat oleh mata, keindahan suara yang tak pernah didengar telinga, kenikmatan rasa yang tidak pernah dirasa oleh lidah, dan perasaan damai dan ketenangan yang sesungguhnya.
Janganlah Silau dengan kenikmatan Dunia yang Semu…
Semua itu hanyalah ujian dari Allah, untuk melihat siapa-siapa yang menjadi hamba-Nya dan siapa-siapa yang menjadi HAMBA DUNIA dan hawa nafsu syaithan…
Yang menjadi HAMBA-HAMBA ALLAH… mereka layak mendapatkan KENIKMATAN HIDUP yang SESUNGGUHNYA di SURGA.
Yang menjadi HAMBA-HAMBA DUNIA dan hawa nafsu syaithan… maka mereka layak bersama para SYAITHAN di NERAKA yang MENYALA.
Semoga ALLAH Subhanahu Wa Ta’Aala, selalu membimbing kita dan melindungi kita dari bujuk rayu SYAITHAN agar selamat dari SIKSA NERAKA dan selamat bisa menuju SURGANYA yang tiada tara, tiada terbayang, tiada terbatas NIKMATnya… amiin.
Wallahu ‘alam bishowab.

Minggu, 19 Februari 2012

Minggu, 19 Februari 2012

MENGHINDARI BISNIS YANG SPEKULATIF DAN MONEY GAME


TADZKIROH
TENTANG
MENGHINDARI BISNIS YANG SPEKULATIF DAN MONEY GAME
NOMOR : 13/TZK/DSP-PKS/ 1433H
(rewrite sesuai aslinya)

Pandangan lslam tentang Harta:

lslam mendorong umatnya untuk bekerja, berwirausaha dan sejahtera. Ajaran ini terus menerus ditegaskan Allah swt dalam Al Qur'an melalui pengulangan kata harta (al maal atau amwaal) secara berulang-ulang dalam berbagai ayat-ayatnya. Pengulangan seperti itu adalah untuk menunjukkan urgensi dan kepentingannya. Kata maal (uang) terulang dalam Al-Quran sebanyak 25 kali (dalam bentuk tunggal) dan amwal (dalam bentuk jamak) sebanyak 61 kali. Hal ini jelas menunjukkan betapa pentingnya persoalan harta, yang tidak saja sebagai penopang hidup kita, tetapi juga untuk menjalankan syariat Allah dan apalagi berjihad di jalan-Nya amat memerlukan harta yang banyak.

Jumat, 17 Februari 2012

Jumat, 17 Februari 2012

TIDAK INGIN APA-APA


Malam yang dingin seperti ini, dengan tiupan angin kencang yang membuat curahan hujan seakan diayun ayun, selalu membuatku terkenang akan dia,  yang sekarang entah berada dimana.
Persis seperti suasana dimalam ini, duapuluhan tahun yang lalu,  aku kebetulan bertemu dengannya. Kami terlibat dalam dialog tanpa pola. Namun berujung pada proses belajar yang penuh makna.
Malam ini, aku seakan kembali berada didepannya. Terngiang  ditelinga kata-katanya yang  sederhana. Ya, demikian sederhananya, sehingga sekilas bagaikan tidak mengandung arti apa-apa.

Rabu, 15 Februari 2012

Rabu, 15 Februari 2012

Ketika Aktivis Mengeluh...!!!


Islamedia - Menjadi aktivis dakwah itu enak. Bisa selalu sibuk, semua kegiatannya merupakan hal-hal yang diridhai Allah, banyak teman bahkan banyak saudara yang siap saling membantu dalam kebaikan dan takwa.
Ahmad, sebut saja namanya begitu, tidak setuju dengan pendapat saya. Menurutnya, menjadi aktivis itu melelahkan. Mengurus kuliah saja sudah menguras waktu dan tenaga, bagaimana pula jika ditambah mengurusi dakwah yang kegiatannya 24 jam sehari, tujuh hari sepekan?

Senin, 13 Februari 2012

Senin, 13 Februari 2012

Taujih Ustadz Hilmi Aminuddin @ Rakornas Zona 1



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
الحمدلله, الحمدلله الذي هدان لهذا وما كنا لنهتدي لولا عن هدان الله
وأشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له
وأشهد أن محمد عبده ورسوله
وصلاة وسلام على نبين محمد و على اله وصحبه ومن وله
وقال عزوجله فى كتاب العزيز
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
قُلْإِنَّنِيهَدَانِيرَبِّيإِلَىصِرَاطٍمُّسْتَقِيمٍدِيناًقِيَماًمِّلَّةَإِبْرَاهِيمَحَنِيفاًوَمَاكَانَمِنَالْمُشْرِكِينَ
صدق الله العظيم

Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah
Alhamdulillah pada malam hari ini Allah mempertemukan kita dengan tekad bersama meningkatkan kerja dan kinerja dakwah serta perjuangan kita di dalam situasi ketika pada hari hari ini, semangat perjuangan Islam di seluruh dunia sedang bergelora.  Dunia Islam sedang mendapatkan sebutan rabi’ al islami musim semi Islam. Bila di negara-negara yang punya pergiliran empat musim, musim semi datangnya hanya selama 3 bulan dalam setahun yang ditandai dengan tumbuhnya cabang-cabang dan dahan-dahan baru di pohon-pohon, tumbuhnya putik-putik bunga, bermekarannya bunga-bunga dan buah-buah mulai bermunculan, maka di Indonesia keadaan bersemi seperti itu sepanjang tahun sehingga musim semi di Indonesia adalah sepanjang tahun, Allahu Akbar.
Kita dianugrahi Allah SWT sebuah wilayah dakwah yang mempunyai rabi’u da’im, musim semi yang terus menerus, bunga-bunga sepanjang tahun bermekaran, daun-daun sepanjang tahun menghijau, ranting-ranting bertumbuhan  dan buah-buah ranum sepanjang tahun bisa dipetik.  Kita bisa menaman pohon di bulan apapun, sehingga umat Islam Indonesia yang diamanahi Allah SWT negeri yang seindah ini, seharusnya mempunyai semangat musim semi yang terus menerus dan senantiasa tumbuh kembang serta berbuah memberikan manfaat seperti yang digambarkan oleh Al-Quran sebagai kasyajaroh thoyyibah:
كَشَجَرةٍطَيِّبَةٍأَصْلُهَاثَابِتٌوَفَرْعُهَافِيالسَّمَاء ﴿٢٤﴾ تُؤْتِيأُكُلَهَاكُلَّحِينٍبِإِذْنِرَبِّهَا….
Mudah-mudahan karakter musim semi yang merupakan sifat alam Indonesia menjadi sifat umat Islam Indonesia yang selalu bersemi memberikan kecerahan dengan bunga-bunganya bagaikan senyuman-senyuman yang menyapa setiap orangdan  juga memberikan buah-buah ranumnya yang menyegarkan pada siapapun. Hal itu pula yang seharusnya ada pada kita.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah
Dalam kurun waktu satu tahun sejak Januari 2011 di negara-negara Arab terjadi musim semi bagi gerakan Islam. Fenomena yang kita lihat tersebut merupakan fenomena yang menggembirakan dan sungguh memberikan harapan bukan hanya bagi umat Islam melainkan juga harapan bagi kemanusiaan. Mudah-mudahan musim semi Islam ini bisa mengantarkan seluruh umat manusia di muka bumi pada kedamaian dan kesejahteraan karena dengan keadilan hukumnya, kejernihan aqidahnya dan kebersihan ideologinya, diyakini umat Islam bisa mengelola kehidupan kemanusiaan menuju kedamaian dan kesejahteraan, insya Allah. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Namun  kalau kita menengok ke belakang dan mengingat latar belakang sebelum terjadinya musim semi di negara Arab sesungguhnya telah ada episode yang berat sepanjang puluhan tahun yang lalu. Saat ini mungkin kita terkagum-kagum oleh negara Arab yang pertama kali menyelesaikan pemilu dengan sukses yakni Tunisia, namun hal yang tidak boleh dilupakan adalah betapa nasib umat Islam sebelumnya di negeri itu luar biasa menyedihkan di dalam dua periode pemerintahan diktator Habib Burquibah dan kemudian Zainal Abidin bin Ali yang memerintah dengan tangan besi. Gerakan Islam dan dakwah Islam dibungkam bahkan selama 23 tahun dijadikan organisasi terlarang. Selain itu ciri-ciri keislaman dikikis bahkan seandainyapun itu merupakan ciri yang tersembunyi, jika seorang pemuda kelihatan dengkulnya menghitam yang menunjukkan ia suka sholat, maka pemuda itu bisa ditangkap dan dipenjara karena diduga sebagai anggota Gerakan Islam. Bahkan ajaran Islam juga dihinakan di Tunisia sehingga sampai-sampai di kuliah syari’ah di Jami’ah Zaituniyah sengaja dibuatkan kolam renang yang diprogram oleh kampus agar jam berenangnya campur antara wanita dan laki-laki  dengan pakaian yang serba minim.  Kondisi seperti itulah yang menjadi latar belakangi perjuangan mereka hingga akhirnya tiba saatnya mereka mendapat kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT sesuai dengan janjinya “wa tilkal ayyamu nudawiluha bainannaas” dan hari-hari itu akan diputar gilirannya kepada manusia.
Akan tetapi tentu saja yang akan mendapat giliran hanyalah yang siaga sesuai dengan perintah Allah:  وَأَعِدُّواْلَهُممَّااسْتَطَعْتُممِّنقُوَّةٍ.  Hanya mereka yang melaksanakan perintah وَأَعِدُّواْitu sajalah yang siap menangkap kesempatan dan siap memetik hasil pada setiap peluang. Maka ketika datang waktunya kebebasan dan keterbukaan dalam proses demokratisasi di Tunisa yang ditandai dengan Pemilu ternyata yang telah berusaha dighaibkan, ditiadakan, dimusnahkan selama 23 tahun yakni partai Nahdhah yang berasal dari Gerakan Islam memperoleh suara hampir 50% dan sekarang akh Hamadi Jibeli menjadi Perdana Menteri di sana. Setelah 23 tahun mereka diusir dari negerinya dan menjadi pengungsi di banyak negara terutama di Eropa, begitu saatnya tiba untuk kembali maka  para pimpinannya kini memetik hasil kesabaran dalam perjuangan panjang mereka.
Ini adalah sebuah pelajaran berharga bagi kita semua, mengapa bisa tercapai keberhasilan seperti itu di Tunisia. Selanjutnya bila kita menengok negara lain yakni Mesir yang umur dakwahnya lebih tua dari Tunisia, nampak pula oleh kita bahwa dalam usia dakwah yang 84 tahun, kebebasan dakwah di sana hanya bisa dinikmati selama 20 tahun pertama.  Sejak gugurnya imam Syahid, dakwah selama 64 tahun terus menerus ditindas dan dibantai serta banyak aktivisnya yang digantung dan dipenjarakan, bahkan penjara-penjara seolah menjadi langganan persinggahan para aktivis sehingga memunculkan sindrom untuk kembali dan kembali lagi ke penjara. Salah satu tokohnya pernah mengatakan kepada saya terkait dengan program bagi ikhwah yang baru keluar dari penjara, ma kidna nahuju mina sijni ilaa annufaqiraa fii dukhulihiy mawa tansaniyah, setiap kali kami keluar dari penjara yang terpikir kapan kami masuk kembali. Bahkan lebih jauh sindromnya, walaupun sudah di luar penjara, biasanya mereka mengirimkan bahan-bahan bangunan untuk memperbaiki ruangan-ruangan penjara, karena selalu berpikir sewaktu-waktu bisa masuk lagi.
Selama 64 tahun dakwah di Mesir ditindas dan para aktivisnya menjadi buron dimana-mana, walaupun hikmah rabbaniyahnya selalu ada, karena ketika di Mesir dakwah dipukul dan dibantai serta para aktivisnya dipenjarakan dan digantung ternyata justru terjadi proses penyebaran yang cepat luar biasa ke seluruh penjuru dunia. Bagaikan menepuk air di dulang yang kemudian terpercik kemana-mana, dan mungkin salah satu percikan itu sampai ke Indonesia dan percikan itu menyebar ke seluruh Nusantara sehingga di antaranya menyebabkan munculnya fenomena seperti malam ini. Fenomena yang menampilkan semangat musim semi dengan wajah-wajah yang cerah, senyum-senyum yang merekah dalam penampilan baju putih bersih, sehingga bagaikan bunga-bunga melati yang sedang bermekaran. Membangkitkan harapan kita untuk meraih kemenangan 2014 dan sebelumnya akan didahului kemenangan 2012 (di DKI Jakarta dan Kab. Bekasi) dan kemenangan 2013 (Jawa Barat), qobaqo sayni au adnaa, insya ALLAH.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah
Saya ingin menggarisbawahi, betapa umat Islam di negara-negara yang dihimpit dengan berbagai tekanan, intimidasi, pembantaian, pemenjaraan tempat aneka ragam cara keahlian menyiksa orang dilaksanakan, ketika mendapatkan peluang keterbukaan dan demokratisasi seperti misalnya di Mesir tiba-tiba memetik suara 70% (47% nya diraih oleh Hizbu Hurriyah wa ‘Adalah/ PKK).  Hal yang harus menjadi pelajaran bagi kita adalah bahwa kita tidak bisa mengatakan bahwa kemenangan itu mereka dapatkan secara seketika setelah menerima kebebasan.  Kemenangan umat Islam di Tunisia yang hampir 50% atau di Mesir 70%  dengan 47% oleh PKK dan 23% oleh partai Salafiy yang sudah ta’akhwana (sebab Salafiy yang asli mengharamkan politik) merupakan indikator yang jelas bahwa selama puluhan tahun ditindas, mereka tetap bekerja dan tetap berjuang. Mereka tetap berkorban dan tetap berdakwah dalam situasi dan kondisi apapun. Boleh jadi dakwah mereka bersembunyi di ruang-ruang  basement atau merayap di lorong-lorong bagaikan semut-semut yang merayap kemana-mana di seluruh wilayah yang sulit dideteksi selama puluhan tahun.  Mereka tetap bekerja keras itulah ibrah yang harus kita petik, betapa saudara-saudara kita disana dengan tumpukan kesulitan yang demikian banyak, terus berjuang, terus bekerja keras, terus berkorban, terus berproduksi menghasilkan produk-produk dakwah yang bukan saja menambah jumlah junudud da’wah di negerinya melainkan juga untuk disebar ke seluruh dunia. Kerja keras mereka inilah yang harus dijadikan ibrah oleh kita.
Sementara kita, sekali lagi Alhamdulillah mendapat lahan dakwah yang selalu berada di musim semi sehingga seharusnya memiliki peluang dan kesempatan yang lebih banyak untuk kita petik, manfaatkan dan kita olah menjadi produk-produk dakwah yang bisa dinikmati oleh segenap bangsa Indonesia bahkan juga oleh segenap kemanusiaan.  Sekali lagi ibrah yang harus kita ambil, betapa dengan istiqomatu da’wah(استقامة الدعوة), konsistensi dakwah yang terus menerus dalam segala situasi dan kondisi, sulit atau mudah, leluasa atau terhimpit, mereka terus bekerja dan ternyata tetap mampu membangun al wa’yul al islamiy الوعي الاسلامىtermasuk wa’yu siyasiالوعي السياسى.
Ikhwan dan akwat fillah
Bila kita kini melihat pertumbuhan wa’yu siyasi di indonesia, maka salah satu tolok ukurnya adalah Pemilu dan pada Pemilu pertama yang demokratis di Indonesia yakni tahun 1955, konstelasi politik Islam menghasilkan 45%.  Di zaman Soeharto, Pemilu  sekedar dekorasi demokrasi karena perolehannya sudah dijatah dan di setiap pemilu Golkar mendapatkan lebih kurang  75%, PPP dapat 22% dan PDI dapat 3%. Bahkan partai-partai politik tersebut itu tidak  bisa memilih Ketuanya sendiri secara bebas kecuali atas persetujuan penguasa. Barulah di tahun 1999, dilangsungkan lagi Pemilu kedua yang demokratis atau Pemilu pertama di masa Reformasi, namun  ternyata wa’yul islami di bidang politik di Indonesia terus merosot, dari 45% di tahun 1955 dan kini terakhir di pemilu 2009 tinggal 23% suara bagi partai Islam atau berbasis massa Islam dan itu pun terpecah di 4 partai. Hal itu berarti dalam kurun waktu 50 tahun lebih suara hilang yang hilang bagi partai  Islam adalah sebesar 50%.  Berarti kita bisa bertanya fa’aina du’at, kemana para du’at atau mungkin pertanyaan lainnya adalah wa kaifa da’wah, seperti apa sih dakwahnya sehingga tidak menghasilkan wa’yul islami  dan tidak menghasilkan wa’yu siyasi islami.
Dalam kondisi ini umat Islam ada dimana-mana dan banyak yang memiliki semangat religius dan dari segi ibadah mahdah, ritual sangat fenomenal,  tetapi wa’yul islami hampir tidak ada atau paling tidak selalu merosot. Oleh karena itu perlu kita telusuri apa yang salah dengan da’wah kita. Mengapa da’wah yang semarak di mimbar-mimbar di majelis-majelis taklim, di televisi di radio dari sejak dini hari sampai malam hari, tetapi wa’yul islami dan terutama wa’yu siyasi islami nya tidak terbentuk. Hal ini yang perlu kita pelajari kenapa, padahal kesemarakan majelis taklim luar biasa, semakin ke kota semakin semarak. Di Jakarta rombongan ibu-ibu yang pulang dari majelis taklim, bagaikan sebuah kafilah yang pulang dari perjalanan jauh dengan semangatnya luar biasa dan adzan berkumandang dimana-mana serta tidak pernah dilarang seperti di Turki. Adzan dalam bahasa Arab di Turki pernah dilarang dari awal berkuasanya Kemal At Taturk  1923 sampai tahun 1955 jadi sekitar 30 tahun lebih adzan dalam berbahasa arab dilarang. Bahkan di tahun 80an akhir, saya sempat melihat fenomena Islam  yang masih sangat terbelakang di Turki. Masjid hanya diisi oleh orang tua dan kalau baca kitab tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, misalnya baca kitab Bukhari Muslim ya apa adanya bahasa Arab, tidak peduli orang mengerti atau tidak.
Kita tidak pernah merasakan seperti itu karena pesantren-pesantren dengan taklimnya, madaris ma’ahid dengan pendidikannya memiliki keleluasaan berkembang, tetapi sayangnya bila dilihat dari wa’yul islaminya kok malah merosot. Hal tersebutlah yang harus kita evaluasi dan kita bertanggung jawab untuk bersama-sama memperbaiki. Kita harus dapat memanfaatkan semangat religius yang bagus di Indonesia ini. Masyarakat yang rabi’ yang selalu berada di musim semi ini  harus kita manfaatkan untuk mempercepat tumbuhnya wa’yu siyasi al islami agar jangan sampai umat Islam dari sisi politik bagaikan komoditi non migas.  Seorang tokoh agama misalnya mengatakan saya punya pengikut 2 juta, 3 juta atau Ormas  Islam mengatakan saya punya anggota 7 atau 10 juta lalu ditawarkan ke partai-partai untuk melakukan transaksi uang terkait dengan dukungan suara yang bisa diberikannya. Kondisi tersebut menandakan wa’yu siyasi al islami yang terus merosot. Oleh karena itu Pilkada dan Pemilu salah satu manfaatnya adalah sebagai tolok ukur untuk dapat mengevaluasi sejauh mana kita berhasil membangkitkan wa’yu siyasi al islami sehingga suara umat Islam untuk Islam dan bukan untuk yang lain.  Jika wa’yu siyasi al islami itu tumbuh terus maka partai-partai Islam atau lembaga-lembaga perjuangan Islam akan mempunyai legitimasi yang tinggi dalam berjuang di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga tidak dianggap partai emperan yang marginal yang sekedar menjadi  hiasan demokrasi yakni bahwa umat Islam boleh berpartai. Sebaliknya akan betul-betul menjadi partai yang dominan dan menentukan perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia karena sudah  selayaknyalah umat Islam yang mayoritas ini yang paling menentukan garis kehidupan berbangsa dan bernegara. Seharusnya kitalah yang paling berpeluang melaksanakan konsep rahmatan lil ‘alamin, sehingga kasih sayangnya menyentuh seluruh komponen bangsa, membahagiakan dan mensejahterakan seluruh komponen bangsa. Hal ini harus dijadikan bahan evaluasi oleh kita secara terus menerus.
Ikhwan dan akhwat fillah
Tadi sudah saya sebutkan bahwa contoh di negara-negara baik di Libya, Mesir, Tunisia, Yaman dan negara-negara yang selama ini kelihatan terhimpit ternyata wa’yu siyasi al islaminya luar biasa, sehingga ketika peluang terbuka, segera saja umat Islam mengekspresikan pandangan politiknya dan langsung menyalurkannya kepada saluran Islam. Sementara di Indonesia, suara umat Islam menyebar, yaminan wa syimalan, ke kiri dan ke kanan, ada yang ke partai kiri atau ke partai kanan bahkan ada yang ke partai kirinya kanan dan ke partai kanannya kiri. Begitu juga sebagian memberikan suaranya ke ke partai kirinya kiri ke partai kanannya kanan  sehingga semakin jauh dari partai-partai Islam.
Kondisi tersebut harus kita perbaiki dari sisi perjuangan politik kita, sebab kalau tidak kita evaluasi maka umat Islam masih akan selalu marginal di politik, padahal as siyasah tata’alaq bis siyadah, politik itu berhubungan langsung dengan kedaulatan “la siyadata bi la siyasah”, tidak ada kedaulatan tanpa adanya otoritas atau tanpa politik. Hal inilah yang harus kita evaluasi sejak hari ini sampai hari Ahad pada Rapat Kerja Nasional. Kita harus lebih menekuni ibrah keberhasilan mereka yang bukan hanya bisa mempertahankan wa’yu siyasi bahkan hebatnya justru mampu menumbuhkannya di saat-saat sulit, berarti mereka selama kondisi-kondisi sulit itu tetap istiqomah.
Al-quran banyak sekali mengingatkan agar kita istiqomah “fastaqim kama umirta wa man taba ma’a wa laa tathghau innahu kana bima ta’maluna bashir”, istiqomahlah sebagaimana diperintahkan kepadaku dan orang-orang yang bertaubat bersama-sama kami,  walaa tathghau, jangan melampaui batas, karena kalau melampaui batas berarti tidak istiqomah.  Thogho berarti melampaui batas dan berarti tidak akan istiqomah. Di dalam ayat lain Allahjuga berfirman,  “wa anna hadza shirati mustaqiman fattabi’u”,  bahwa ini jalanku yang lurus ikutilah, “wa laa tattabi’u subula fatafarraqu bikum an sabilih”,  dan jangan ikuti jalan-jalan yang begitu banyak jalan-jalan yang lain, “ fatafarriqu bikum an sabilih”,  kalian akan bercerai berai dari jalannya dari jalan Allah SWT, dzalikum washokum bihi la’allakum tattaqun , demikianlah Allah SWT memberikan wasiat kepada kalian agar kalian tetap bertaqwa. Bahkan seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW dengan mengatakan: “ Ya Rasulullah berilah saya nasihat yang setelah ini saya tidak akan meminta nasihat lagi maka nasihat yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat itu adalah  qul amantu billah tsummastaqim, katakanlah berimanlah kepada Allah  dan beristiqomahlah.
Konsistensi ini tentu saja bukan sesuatu yang statis karena istiqomah itu tidak identik dengan statis melainkan dinamis jadi bisa bertambah atau berkurang itu dinamis sehingga kalau tidak dijaga  atau diwaspadai tahu-tahu kita sudah melenceng, mungkin akibat kesulitan hidup mungkin pula justru akibat kesenangan hidup. Kita mungkin melenceng karena jabatan atau kekayaan atau sebaliknya melenceng karena tidak punya jabatan dan kekayaan. Oleh karena itu sebagai kader dakwah kita harus mewaspadai keistiqomahan kita dalam segala situasi baik ketika kita duduk sebagai anggota DPR, DPRD, sebagai walikota, Gubernur atau Bupati, karena hanya dengan keistiqomahan itulah kita akan mampu menjaga kontinuitas dakwah
Ikhwan dan akhwat fillah
Kedua, ibrah yang kita dapatkan dari perjuangan saudara-saudara kita di negara-negara yang mengalami kesulitan yang dahsyat itu adalah tetap memiliki orientasi yang jelas dalam segala langkah perjuangannya. Padahal biasanya bila dalam kondisi sulit tehimpit dan terjepit seseorang akan kehilangan orientasi atau mengalami disorientasi yakni tidak tahu mau kemana dan bahkan tidak mengetahui pula di mana saat ini berada karena begitu bingungnya. Sebaliknya disorientasi juga bisa terjadi pada saat seseorang mengalami banjir kemenangan keberhasilan dan kesenangan padahal memiliki orientasi yang jelas dalam setiap kerja merupakan syarat utama sebagaimana firman Allah SWT, wakulli wijhatun huwa mualliha, setiap orang harus punya wijhah atau orientasi yang jelas tentang arah mana yang akan dituju olehnya.  Kalau sudah jelas orientasinya barulah kemudian bisa berlari, fastabiqul khairat, karena orang yang berlari tanpa wijhah, orientasi yang jelas sama saja dengan orang yang  berlomba lari namun tidak tahu startnya dari mana dan tidak tahu pula akan berakhir di garis finish yang mana.
Fenomena kehidupan umat Islam di Indonesia saat ini menunjukkan gejala disorientasi seperti itu karena umat Islam di Indonesia sebetulnya sangat aktif bergerak di segala sektor kehidupan hanya sayangnya sering kali tidak mengetahui dengan jelas start awal berlarinya dari mana dan garis finishnya di mana.  Misalnya terkait perjalanan antara Bandung – Jakarta, boleh jadi ada yang merasa startnya itu ada di Bandung, ada juga  yang merasa nanti startnya di Cimahi, tetapi sampai di Cimahi bertemu dengan orang yang merasa bahwa garis finishnya di Cimahi sehingga tidak perlu berjalan lagi. Sehingga boleh jadi sepanjang perjalanan ada banyak garis finish, ada yang merasa garis finishnya di Cianjur, ada yang berhenti di Bogor dan ada pula yang di Puncak. Umat  Islam yang disorientasi betapapun nampaknya bekerja keras namun ternyata produktifitasnya rendah. Hal ini yang harus digarisbawahi bahwa orientasi kerja yang jelas akan sangat menentukan produktifitas. Alhamdulillah umat Islam di Indonesia ini sudah aktif tinggal dibenahi orientasinya misalnya orinetasi ekonominya apa, orientasi pendidikannya apa, orientasi kerja tarbiyah apa, kerja siyasahnya apa, kerja tsaqofahnya apa kemudian bagaiman menyinergikannya dan capaian-capaian bersama apa yang mau diraih sebagai satu umat.
Kita sering kali mendengar bahwa capaian itu hasilnya lumayan atau ungkapan ‘lumayanan, segini juga udah alhamdulillah’. Masalahnya adalah istilah lumayan itu tidak jelas ukurannya jadi ukuran keberhasilannya tidak ada dan hal itu disebabkan oleh adanya disorientasi. Jadi sekali lagi wijhah itu sangat penting.  Oleh karena itu Allah pun menegaskan dalam ayat lain (Q.S 30:30), fa aqim wajhaka lid diini hanifa, maka hadapkanlah orientasi hidupmu kepada dien yang hanif ini.  Bahkan dalam sholatpun kita selalu memproklamirkan orientasi kita, inni wajhatu wajhiya lilladzi fatharos samawati wal ardh, sebagaimana surat al-An’am ayat 161, 162, 163 yang tadi saya bacakan di pembukaan. Hal itu juga menunjukkan betapa orientasi itu penting “qul innani hadani rabbi ilaa shiratim mustaqim diinan qiyyaman millata ibrahima hanifa wa maa kana minal musyrikin”, “qul inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa ma mati lillahi rabbil ‘alamin laa syarikalahu wa bidzalika umirtu wa ana awwalul muslimin”. Bukannya berkata, saya nanti saja lah belakangan melainkan “wa ana awwalul muslimin” .  Kalimat awwalul muslimin tentu saja bukan diartikan bahwa sayalah yang pertama masuk Islam melainkan menandaskan keinginan Allah agar kita mempunyai jiwa-jiwa kepeloporan, wa ana awwalul muslimin, bahwa akulah pelopornya umat Islam seperti itu
Jika semangat penekanan orientasinya jelas seperti itu, insya Allah kemenangan-kemenangan yang tadi saya sebutkan bahwa jaraknya sudah qoba qauna saini aw adna itu , insya Allah tidak akan diberikan oleh Allah kepada yang lain.  Oleh karena itu dalam menyusun rencana kerja pertama harus mencerminkan keistiqomahan dan yang kedua orientasi yang jelas. Setiap rencana kerja mempunyai orientasi yang jelas, mau apa sampai dimana dan untuk apa. Jangan belum-belum sudah mengatakan, segini juga Alhamdulillah atau kata orang Sunda, sekie ge uyuhan, jadi kalau digawe uyuhan. Maka saya tekankan sekali lagi kepada kita semua termasuk kepada saya, jangan sampai kehilangan orientasi.

Ikhwan dan akhwat fillah
Ketiga, pelajaran lainnya yang kita dapat dari mereka yang sudah memberikan contoh gemilang keberhasilan dakwahnya adalah selalu mempunyai sikap tawazun (توازن), selalu seimbang. Ketawazunan atau keseimbangan sangat penting karena merupakan soko gurunya fitrah  sebagaimana Allah berfirman (Q.S Ar Rahman: 7-9), was sama`a wa rafa’a wa wadho’al mizan, Allah menciptakan langit dengan meletakkan neraca keseimbangannya sehingga matahari dan bintang berjalan sesuai dengan porosnya  masing-masing secara seimbang. Bahkan Allah  memperingatkan dalam ayat berikutnya, alla tathghau mizan, jangan menabrak keseimbangan, jangan melampaui dan merusak keseimbangan itu, baik keseimbangan antara dakwah dengan ekonomi, keseimbangan antara aktivitas sosial kita dengan aktivitas dakwah dan aktivitas rumah tangga yang menyangkut pula hubungan dengan istri dan anak, hubungan dengan mertua dan lain-lain yang kesemuanya harus dijaga keseimbangannya “alla tathghau fil mizan”
Bahkan untuk ketiga kalinya, Allah SWT menekankan, wa aqimul wajna bil qisthi wa laa tukhtsirul mizan (dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan benar) artinya jangan keseimbangan yang semu atau palsu. Keseimbangan itu jangan dipalsukan dan bagi manusia ukuran keseimbangannya ada di hati yang sebetulnya sensitif terhadap perubahan-perubahan keseimbangan. Dengan adanya keseimbangan maka  kita menjadi stabil dan bisa melaksanakan perintah Allah untuk menjadi ummatan wasathan.  Tidak mungkin kita menjadi ummatan wasathan kalau tidak mempunyai keseimbangan dalam hidup, karena bila tidak wasathan atau tidak seimbang berarti kita cenderung ekstrim ke kanan atau ekstrim  ke kiri atau bahkan mungkin lebih ekstrim lagi yakni kanannya kanan atau kirinya kiri.  Oleh karena itu tawazun harus dijaga dalam segala konteks kehidupan.

Ikhwan dan akhwat fillah
Islam adalah konsep yang syamil, integral, menyeluruh, oleh karena itu dakwah kita juga adalah dakwah yang syamil.  Perlu disadari oleh kita bahwa syumuliatud dakwah itu masih jauh dan  belum tercapai di negeri kita, akan tetapi perolehan-perolehan dakwah kita dalam menuju syumuliyatud dakwah harus tetap dijaga keseimbangan antar komponen dakwahnya agar terjadi takamuliyah.  Bila muazanah antara komponen dakwah selalu terjaga perannya  maka nanti akan saling melengkapi yatakamal ba’duha ba’dh. Keseimbangan adalah sesuatu yang dinamis, oleh karenanya keseimbangan yang kita capai malam ini besokpun harus segera dievaluasi apakah besok kita masih tetap dapat tawazun karena ada faktor-faktor lain yang melakukan penetrasi ke dalam kehidupan kita. Oleh karena tawazun adalah sesuatu yang dinamis maka harus terus menerus kita evaluasi dan kita jaga baik secara pribadi maupun secara jama’i. Dengan keseimbangan kita tidak gampang ditarik ke kiri atau ke kanan dan kita akan betul-betul menjadi ummatan wasatha.
Ikhwan dan akhwat fillah
Keempat, istimrariyah. Bila kita seimbang maka keberlanjutan dakwah ini akan terjamin. Kontinuitas dakwah bisa kita jaga karena kita berjalan secara seimbang, la ifrath wa laa tafrith laa ghuluw wa laa tasahul. Kata orang Jawa Barat sendeger tengah yaitu ummatan wasathan. Hubungan antara tawazun yang menghasilkan wasathiyah dan kemudian istimroriyah dijelaskan oleh dua hadits Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda khairul umur awsatuha sebaik-baik perkara adalah yang wasath, pertengahan atau moderat.  Selain itu Rasululullah SAW juga bersabda khairul a’mal adwamuha sebaik-baik amal adalah yang kontinyu walaupun sedikit, sehingga jangan sekaligus banyak tetapi kemudian kehabisan tenaga dan tidak bisa bekerja lagi. Jadi antara awsatuha dan adwamuha itu ada hubungannya karena kita tidak mungkin bisa adwam, kontinyu kalau tidak awsath. Wasathiyah yang dihasilkan dari tawazun iakan menghasilkan istimroriyah atau kontinyuitas
Mesir telah memberi ibrah kepada kita bagaimana mereka selama 64 tahun ditindas  namun selama itu pula  tetap istiqamah  dan selama itu juga tidak kehilangan orientasi. Mereka tidak pernah mengalami disorientasi dan selalu menjaga keseimbangan agar mereka terus kontinyu bekerja.
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah
Untuk menjaga kontinuitas terus berkesinambungan diperlukan faktor yang kelima yaitu taurits. Harus ada khutuwat tauritsiyah, langkah-langkah pewarisan, sehingga program-program rabthul khas tajnid atau kasbil afradh harus terus menerus digulirkan dalam rangka menumbuhkan para pewaris dakwah. Langkah-langkah pewarisan harus terus berlanjut, selain untuk memenuhi kebutuhan tantangan di lapangan yang semakin banyak membutuhkan SDM adalah juga karena SDM memang merupakan aset utama dan pertama kita. Oleh karena itu kita harus memperbanyak warasatul anbiya wal mursalin yaitu para du’at. Khutuwat tauritsiyah ini harus terus dilakukan agar dakwah  kita produktif dan berkelanjutan.
Ikhwan dan akhwat fillah
Dalam perjalanan dakwah kita sekarang ini, kita sudah bukan hanya dituntut dengan tanggung jawab nasional di dalam negeri kita saja, melainkan sudah menjadi tumpuan banyak orang baik di dalam maupun di luar negeri. PKS sering disebut sebagai partai harapan atau partai masa depan, gelar itu memang sedikit menghibur walaupun kadang-kadang perolehan Pemilu dan Pilkada kita sedikit. Hanya saja pertanyaan yang lebih penting adalah apakah benar kita sudah memenuhi harapan orang-orang?. Seperti pertanyaan yang muncul di Jawa Barat katanya PKS teh kahartos tapi nte acan karaos. PKS belum terasakan oleh mereka, artinya belum memenuhi harapan mereka.
Kembali ke persoalan tanggung jawab kita yang bukan hanya dalam skala nasional, melainkan secara regional pun kita dituntut untuk memikul tanggung jawab di beberapa sektor yakni di sektor tarbiyah, sektor thulaby, sektor akhwat, sektor takhtith dan sektor siyasi bahkan wakil penanggung jawab manajemennya dari kita juga. Sudah sejak dua tahun ini kita dituntut memikul tanggung jawab internasional dalam pergaulan ‘amal islami al alami dan sekarang kita juga diminta mengirim kader-kader kita untuk memikul tanggung jawab internasional ini di banyak sektor. Sudah tentu mobilitas vertikal ini meninggalkan kekosongan-kekosongan yang harus segera diisi oleh kader-kader dari produk khuthuwat tauritsiyah untuk mengisi kekosongan tersebut.
Maka, pertama, khuthuwat tauritsiyah harus dilakukan karena adanya mobilitas vertikal yang menimbulkan kekosongan. Kedua, khuthuwat tauritsiyah harus dilakukan bukan hanya karena mobillitas vertikal saja, melainkan juga karena kondisi fitrah setiap orang. Generasi tua, generasi pertama sudah mulai menua dan berambut putih sehingga sudah tidak bisa menjadi andalan lagi. Munculnya indikator-indikator penuaan dari generasi pertama menunjukkan bahwa harus segera disiapkan gantinya. Jangan menunggu mereka lumpuh baru digantikan sebab kalau menunggu lumpuh, mereka tidak bisa menikmati untuk memandangi perkembangan dakwah. Jadi tuntutan fitrah juga sudah semakin mendesak adanya khuthuwat tauritsiyah selain adanya tuntutan tanggung jawab mobilitas vertikal yang luar biasa.  Kita dituntut tanggung jawab yang lebih karena dianggap salah satu negara yang mengalami musim semi lebih awal, bahkan musim seminya tidak pernah berhenti sehingga tentu saja dituntut agar kontribusinya lebih besar dan tuntutan ini tidak bisa ditawar-tawar lagi sehingga harus kita jawab  dan harus kita penuhi dengan produktivitas dalam khuthuwat tauritsiyah kita.
Kita harus mampu menyiapkan generasi muda pelanjut, fidyatun amanu bi rabbihim wa zidnahum huda wa rabathna ‘ala qulubihim idz qomu fa qolu rabbuna rabbus samawati wal ardh lan nad’uwa min dunihi ilahan laqod qulna idzan syathotho, pemuda yang beriman tetapi tidak sekedar beriman melainkan wa zidnahum huda, melainkan pemuda yang tahu jalan perjuangan yang akan ditempuhnya dan mempunyai tekad wa rabathna ‘ala qulubihim, terus berani mendeklarasikan dan memproklamasikan dirinya,  idz qomu fa qolu rabbuna rabbus samawati wal ardhi lan nad’uan min dunihi ilahan laqod qulna idzan syathotho.  Jika secara terus menerus fidyatul huda sebagai generasi penerus diproduksi oleh ikhwan dan akhwat di seluruh penjuru Indonesia ini bahkan oleh perwakilan-perwakilan di luar negeri, insya Allah dakwah di Indonesia ini bukan hanya bisa berkontribusi bagi kebajikan nasional melainkan juga bagi kebajikan regional dan internasional sehingga akan dinikmati oleh kemanusiaan, insya Allah.
Insya Allah dalam Rakernas ini khuthuwat tauritsiyah termasuk yang harus dievaluasi secara tajam yakni sejauh mana efektifitas kita melahirkan generasi fidyatun huda. Mudah-mudahan kita semuanya mendapatkan taufiq,hidayah,riayah dan inayah dari Allah SWT sehingga amal dakwah kita diterima sebagai amal sholeh di sisi Allah dan pahalanya akan kita dapatkan fi mizanin hasanatin yaumal qiyamah, amin ya Rabbal ‘alamin, aqulu qauli hadza wastaghfirullahi walakum. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sabtu, 11 Februari 2012

Sabtu, 11 Februari 2012

Keluarga Sakinah, Mawaddah wa Rahmah

Oleh: Cahyadi Takariawan*

Setiap kali kita berbicara tentang keluarga bahagia, selalu mengkaitkan dengan istilah sakinah, mawadah, wa rahmah. Tiga kata yang acap diringkas dengan sebutan Keluarga Sakinah. Sebenarnya apa makna sakinah, mawadah dan rahmah? Bagaimana pula ciri keluarga yang dikatakan sakinah?


Sebagaimana diketahui, kata sakinah, mawadah dan rahmah itu diambil dari firman Tuhan:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri (pasangan) dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih (mawadah) dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar Rum : 21).

Makna Sakinah

Kata sakinah berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, kata sakinah mengandung makna tenang, tenteram, damai, terhormat, aman, nyaman, merasa dilindungi, penuh kasih sayang, dan memperoleh pembelaan. Dengan demikian keluarga sakinah berarti keluarga yang semua anggotanya merasakan ketenangan, kedamaian, keamanan, ketenteraman, perlindungan, kebahagiaan, keberkahan, dan penghargaan.

Kata sakinah juga sudah diserap menjadi bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sakinah bermakna kedamaian; ketenteraman; ketenangan; kebahagiaan.

Makna Mawaddah

Kata mawaddah juga berasal dari bahasa Arab. Mawaddah adalah jenis cinta membara, perasaan cinta dan kasih sayang yang menggebu kepada pasangan jenisnya. Mawaddah adalah perasaan cinta yang muncul dengan dorongan nafsu kepada pasangan jenisnya, atau muncul karena adanya sebab-sebab yang bercorak fisik. Seperti cinta yang muncul karena kecantikan, ketampanan, kemolekan dan kemulusan fisik, tubuh yang seksi; atau muncul karena harta benda, kedudukan, pangkat, dan lain sebagainya.

Biasanya mawaddah muncul pada pasangan muda atau pasangan yang baru menikah, dimana corak fisik masih sangat kuat. Alasan-alasan fisik masih sangat dominan pada pasangan yang baru menikah. Kontak fisik juga sangat kuat mewarnai pasangan muda. Misalnya ketika seorang lelaki ditanya, “Mengapa anda menikah dengan perempuan itu, bukan dengan yang lainnya?” Jika jawabannya adalah, “Karena ia cantik, seksi, kulitnya bersih”, dan lain sebagainya yang bercorak sebab fisik, itulah mawaddah.

Demikian pula ketika seorang perempuan ditanya, “Mengapa anda menikah dengan lelaki itu, bukan dengan yang lainnya ?” Jika jawabannya adalah, “Karena ia tampan, macho, kaya”, dan lain sebagainya yang bercorak sebab fisik, itulah yang disebut mawaddah.

Kata mawaddah juga sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia, menjadi mawadah (dengan satu huruf d). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata mawadah bermakna kasih sayang.

Makna Rahmah

Rahmah berasal dari bahasa Arab. yang berarti ampunan, anugerah, karunia, rahmat, belas kasih, juga rejeki. Rahmah merupakan jenis cinta dan kasih sayang yang lembut, terpancar dari kedalaman hati yang tulus, siap berkorban, siap melindungi yang dicintai, tanpa pamrih “sebab”. Bisa dikatakan rahmah adalah perasaan cinta dan kasih sayang yang sudah berada di luar batas-batas sebab yang bercorak fisik.

Biasanya rahmah muncul pada pasangan yang sudah lama berkeluarga, dimana tautan hati dan perasaan sudah sangat kuat, saling membutuhkan, saling memberi, saling menerima, saling memahami. Corak fisik sudah tidak dominan.

Misalnya seorang kakek yang berusia 80 tahun hidup rukun, tenang dan harmonis dengan isterinya yang berusia 75 tahun. Ketika ditanya, “Mengapa kakek masih mencintai nenek pada umur setua ini?” Tidak mungkin dijawab dengan, “Karena nenekmu cantik, seksi, genit”, dan seterusnya, karena si nenek sudah ompong dan kulitnya berkeriput.

Demikian pula ketika nenek ditanya, “Mengapa nenek masih mencintai kakek pada umur setua ini?” Tidak akan dijawab dengan, “Karena kakekmu cakep, jantan, macho, perkasa”, dan lain sebagainya; karena si kakek sudah udzur dan sering sakit-sakitan. Rasa cinta dan kasih sayang antara kakek dan nenek itu bahkan sudah berada di luar batas-batas sebab. Mereka tidak bisa menjelaskan lagi “mengapa dan sebab apa” masih saling mencintai.

Kata rahmah diserap dalam bahasa Indonesia menjadi rahmat (dengan huruf t). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata rahmah atau rahmat bermakna belas kasih; kerahiman; karunia (Allah); dan berkah (Allah).

Ciri Keluarga Sakinah

Saya sering membuat ciri yang sederhana, kapan keluarga anda disebut keluarga sakinah. Misalnya seorang suami bekerja di luar rumah, dan pulang ke rumah setiap sore jam 17.00. Jika suami ini merasa tenang, damai, nyaman, tenteram saat semakin dekat ke rumah, maka ia memiliki perasaan sakinah. Namun jika setiap kali mau pulang, semakin dekat ke rumah hatinya semakin gelisah, tidak nyaman, enggan pulang karena tidak tenang, maka sangat dipertanyakan dimana rasa sakinahnya.

Demikian pula saat isteri di rumah, ia mengetahui bahwa setiap jam 17.00 suaminya pulang ke rumah. Jika semakin dekat dengan jam kepulangan suami, hatinya semakin bahagia, tenang dan tenteram, maka ia memiliki perasaan sakinah. Namun jika semakin dekat dengan jam kepulangan suami hatinya berdegup kencang, tidak tenang, takut dan gelisah, maka sangat dipertanyakan dimana sakinahnya.

Apalagi jika si isteri berdoa “Semoga suamiku tidak jadi pulang, semoga suamiku dapat tugas lembur lagi sampai bulan depan”; atau bahkan “Semoga suamiku kecelakaan dan meninggal dunia”, maka sakinah sudah tidak ada lagi.

Keluarga sakinah memiliki suasana yang damai, tenang, tenteram, aman, nyaman, sejuk, penuh cinta, kasih dan sayang. Keluarga yang saling menerima, saling memberi, saling memahami, saling membutuhkan. Keluarga yang saling menasihati, saling menjaga, saling melindungi, saling berbaik sangka. Keluarga yang saling memaafkan, saling mengalah, saling menguatkan dalam kebaikan, saling mencintai, saling merindukan, saling mengasihi. Keluarga yang diliputi oleh suasana jiwa penuh kesyukuran, terjauhkan dari penyelewengan dan kerusakan.

Semoga kita semua mendapatkan dan memiliki keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah.

Selamat pagi, selamat beraktivitas. God bless us.

*)http://edukasi.kompasiana.com/2011/12/03/keluarga-sakinah-mawaddah-wa-rahmah/

Kamis, 09 Februari 2012

Kamis, 09 Februari 2012

Perangkat Nilai “Mesin” Dakwah

Oleh : Cahyadi Takariawan

Bekerja di ladang dakwah telah memberikan banyak hikmah dan pelajaran kepada kita semua. Semakin hari semestinya kita menjadi semakin dewasa, karena dimatangkan oleh peristiwa demi peristiwa, oleh benturan, oleh gesekan, oleh program yang berkesinambungan.

Ketika dakwah mampu menghimpun para aktivis dalam sebuah tatanan, sesungguhnya pada dirinya terkandung dua sisi sekaligus. Pertama sisi potensi yang melimpah ruah, oleh karena dakwah akan dikuatkan oleh berbagai potensi yang dibawa oleh setiap aktivis. Namun pada sisi lainnya, terdapat pula peluang terjadinya gesekan tingkat tinggi, karena semua orang memiliki kemampuan yang setara untuk memimpin dan menempati posisi strategis.

Misalnya saat menentukan kepemimpinan lembaga dakwah, semua aktivis pada hakikatnya memiliki kemampuan, kapasitas, dan kapabilitas yang setara. Artinya, semua aktivis memiliki peluang yang sama dalam menempati posisi tersebut. Demikian pula saat menentukan personal untuk menempati pos-pos strategis dalam dakwah, baik di dalam lembaga maupun di luar lembaga, semua aktivis relatif memiliki kapasitas yang setara untuk mendudukinya.

Para pemimpin sering kesulitan saat harus memilih personal, bukan karena tidak ada potensi, namun justru karena semua aktivis memiliki potensi. Sementara pos-pos strategis baik internal maupun eksternal jumlahnya cukup terbatas, yang tentu saja tidak mungkin mampu mewadahi semua aktivis. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus memilih. Bagi yang tidak terpilih, bukan berarti “tidak potensial” atau “tidak terpakai”, sesungguhnyalah semua ingin dipilih, namun pos yang ada sangat terbatas.

Gesekan Adalah Keniscayaan

Setiap titik interaksi kita, selalu menimbulkan gesekan. Walaupun interaksi itu seluruhnya dalam kebaikan, tidak ada satupun yang bernilai kejahatan. Namun selalu menimbulkan gesekan. Justru karena saling bergesekan antara satu komponen dengan komponen lainnya itulah yang menyebabkan mesin menjadi berfungsi dan bisa menggerakkan roda mobil.

Gesekan itu kadang terasa menyakitkan, justru karena kita semua menginginkan kebaikan. Sejak awal kita “menjadi mesin” yang menggerakkan roda perjalanan dakwah, sepenuhnya telah sadar, bahwa apapun akan kita tempuh untuk mencapai tujuan mulia. Kita menyadari ada bahaya dan hambatan dari luar, namun amat banyak pula yang berasal dari dalam.

Manajemen apapun tidak akan bisa menghindarkan kita dari saling bergesekan, karena sebagai mesin kita semua harus bergerak. Satu komponen berpengaruh dan terhubung dengan komponen lain, saling berinteraksi secara positif, sehingga bergeraklah roda dakwah. Namun sepanjang perjalanan, mesin tentu mengalami pemanasan, dan semakin kencang laju mobil dakwah, semakin kuat pula gesekan antar komponen.

Manajemen yang diperlukan bukanlah menghindarkan gesekan antar komponen, namun manajemen untuk melicinkannya, agar gesekan yang terjadi sebagai sebuah keharusan tidak saling menyakiti dan tidak saling melukai. Semua komponen diperlkukan, walau hanya mur dan baut, walau hanya karet penghubung, namun seluruhnya menjadi satu kesatuan untuk berfungsinya mesin dengan baik.

Pada banyak kalangan partai politik, gesekan bisa sedemikian keras dan kasar. Dampaknya, sebagian pihak terlempar, sebagian terjatuh, sebagian terbuang, sebagian tersingkirkan, dan sebagian lainnya berkuasa. Mereka tidak tahan terhadap gesekan, karena memiliki watak ingin menguasai. Semua komponen ingin mengalahkan dan menjatuhkan yang lainnya, dalam sebuah rivalitas yang amat keras.

Sepuluh Perangkat Nilai

Bersyukur, dalam dakwah telah disiapkan perangkat yang memungkinkan semua komponen siap untuk bekerja dengan optimal. Perangkat paling utama bernama kepahaman. Dengan perangkat ini semua komponen mengerti berbagai tuntutan perjalanan dakwah sehingga mampu menyiapkan diri dan menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut.

Perangkat kedua adalah keikhlasan. Dengan landasan keikhlasan, berbagai gesekan tidak sampai menimbulkan korban yang berjatuhan. Bukankah kita semua bekerja untuk mencari ridha Allah dan bukan mencari jabatan, kemuliaan, popularitas, kedudukan dan lain sebagainya.

Perangkat ketiga adalah amal yang berkesinambungan. Bekerja dalam dakwah memerlukan kontinuitas amal, sehingga menuntut bekerjanya semua komponen mesin dakwah setiap saat. Dakwah tidak akan berhenti hanya oleh karena ketakutan terkena dampak gesekan.

Perangkat keempat adalah kesungguhan atau jihad. Semua komponen dituntut untuk melaksanakan kegiatan dan agenda dakwah sepenuh kesungguhan. Termasuk bersungguh-sungguh menyiapkan jiwa agar memiliki daya tahah prima di medan dakwah yang penuh tantangan.

Perangkat kelima adalah pengorbanan. Dakwah tidak akan bisa berjalan tanpa didukung pengorbanan. Semua komponen siap memberikan pengorbanan terbaik demi tercapainya tujuan-tujuan dakwah. Termasuk mengorbankan “gengsi” diri, dalam rangka mencapai tujuan dakwah.

Perangkat keenam adalah ketaatan. Semua pihak dalam tatanan dakwah harus memiliki ketaatan terhadap rujukan utama dari Allah dan Rasul-Nya. Dalam tataran praktis, dituntut pula memiliki ketaatan terhadap manhaj dakwah, serta keputusan lembaga dan para pimpinan, walaupun di antara isi keputusan tersebut ada yang tidak sesuai dengan pendapat pribadinya.

Perangkat ketujuh adalah keteguhan. Seluruh aktivis dakwah harus memiliki keteguhan dan ketegaran dalam menapaki jalan dakwah. Sangat banyak cobaan dan hambatan di sepanjang perjalanan dakwah, hanya aktivis yang memiliki keteguhan hati, ketegaran jiwa, kekokohan sikap, yang akan mampu melewatinya.

Perangkat kedelapan adalah kemurnian. Dakwah menuntut kemurnian hati, pemikiran dan aktivitas. Dakwah menghajatkan kemurnian orientasi, niat dan tujuan, agar terbebaskan dari penyimpangan tujuan yang sangat membahayakan.

Perangkat kesembilan adalah persaudaraan. Kita semua diikat dalam sebuah tali persaudaraan yang kuat. Setiap kita lebih mengutamakan saudaranya daripada diri sendiri. Kita bahagia jika mampu membahagiakan saudaranya. Semua kita menjadi bersedih jika membuat saudaranya berduka. Kebersamaan adalah kunci kemenangan dakwah.

Perangkat kesepuluh adalah kepercayaan. Ikatan dalam dakwah bukanlah materi, bukan jabatan, bukan kedudukan duniawi, namun ikatan visi, ikatan tujuan, ikatan iman, ikatan manhaj. Oleh karena itu sangat diperlukan saling kepercayaan antara satu bagian dengan bagian lainnya, antara pimpinan dengan anggota, dan antara sesama aktivis dakwah.

Saya selalu merangkai sepuluh perangkat tersebut dalam satu kesatuan. Saya selalu melihat kesepuluh perangkat itu adalah mutiara berkilauan. Sebelum berbicara manajemen praktis, kita terlebih dahulu diikat oleh sepuluh perangkat nilai, yang menyebabkan kita mampu melewati semua mihwar, semua tahapan, semua fase dalam dakwah, kendati sangat banyak gesekan dalam menjalankan kegiatan.





*)sumber: http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2038

Minggu, 05 Februari 2012

Minggu, 05 Februari 2012

Tadzkirah Mursyid untuk para aktivis (pengelola dan pelaksana) Tarbiyah



o   Posisi kita seperti posisi tentara di perbatasan, di mana musuh mencari celah utk masuk ke barisan islam. Celah itu adalah titik lemah dr pos-pos kita, walau seluruh titik sudah di jaga, ada titik tertentu ada penjagaan yang lemah. Kita adalah penjaganya. Jangan sampai ada titik lemah. Kiat satu tim, jangan sampai kegagalan tim –jika gagal -- gara-gara salah satu dari kita.
o   Hendaklah kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah swt, baik saat sendiri mauun saat terbuka/bersama orang lain. Kita hendaklah membawa diri kita, membawa ikhwan-akhwat ke padal hal-hal yang membuat Allah ridha kepada kita, hendaklah kita -- kapan dan di manapun berada -- dalam posisi sesuai yang dikehendaki Allah swt, hendaklah kita menempatkan porsi perhatian terbesar dr seluruh jerih payah kita, waktu kita, dan program2 kita difokuskan kepada aspek peningkatan aspek keimanan dan ibadah.
o   Hendaklah mentarbiyah ikhwah untuk cinta masjid, dan menjadikan masjid sebagai posko, bertolak dari masjid dan kembali ke masjid
o   Kami ingin usrah adalah usrah yang muntijah, baik secara da’awi maupun ijtimai yg produktifitasnya terasa di lingkungan usrah tersebut dan hendaklah syiar usrah -- dlm konteks berlomba menuju allah -- jangan sampai kitanomor dua (harus nomor satu)
o   Hendaklah manajemen dan sistim idarah kita suasananya adalah suasana cinta, kasih saying, simpatik, dan takaful (senasib sepenaggungan), kemudian sistem manajemen kita hendaklah di dominasi oleh prinsip kebebasan berekspresi, tidak boleh ada pengekangan pendapat, tidak boleh ada sikap melukai thd pemilik suatu pendapat, hendaklah menerima kritik dan nasihat dengan lapang dada. Dan hendaklah selalu ingat pesan musythafa masyhur, “berikan nasihat dalam bentuknya yg sempurna dan terimalah nasihat darimanapun datangnya”. Dan hendaklah kita selalu menampilkan qiyadah kita di hadapan ikhwah dengan penampilan yang terbaik.
o   Hendaklah kita seagai pengelola tarbiyah menjadi teladan yang baik dalam setiap ucapan dan perbuatan, mengingat Rasul saw adalah qudwah kita, maka berakhlaqlah dengan akhlaq rasul saw dan jadikan sifat beliau, dan perbuatan beliau sebagai sifat kita. Hendaklah kita sebagai pengelola tarbiyah selalu terdepan dlm setiap pekerjaan atau tugas, jangan sampai …
o   Hendalah kita sebagai pengelola tarbiyah, memanifestasikan/mewujudkan apa yg pernah dinyatakan imam asy syahid,
§  Hak sebagai orang tua utk urusan ikatan hati
§  Hak sebagai ustad utk urusan penambahanwasan ilmu
§  Hak sbg syaikh dlm hal tarbiyah ruhiyah
§  Hak sebagai qaid dlm urusan siyasah amah/policy umum da’wah.
Bgm jika seorang menuntu hak-hak tersebut, karena itu laksanakan amanah dan jadilah sebaik-baik pelaksan hak-hak ini
o   Keistemawaan terpenting dari seorang pengelola tarbiyah adalah kemampuannya utk
§  Menyelesaikan berbagai persoalan
§  Mengatasi berbagai kesulitan
§  Merangkul berbagai personil
§  Menampung berbagai persoalan
§  Mengilaj persoalan itu dengan solusi dan cara terbaik
o   Sebagai aktivis tarbiyah jgn sampai tdk membaca sejarah da’wah sejarah para pemimpinnya, dan sejarah para mursyidnya. Sebab pada sejarah itu terdapat banyak pelajaran dan ibroh, jg terdapat bekalan yg sebenanrnya di atas jalan da’wah, juga terdapat jawaban praktis terhadap berbagai syubhat yg dialamatkan kepada dakwah. Hendaklah kalian mengkaji majmuah rasail dengan pendalaman, pemahaman, kesadaran dan penguasaan. Utk kalian pelajari dan kalian ajarkan prinsip-prinsip haqiqi da’wah
o   Bekerjalah dengan semangat jihad untuk mempraktekkan 10 muwashafat baik terhadap diri antum ataupun terhadap mutarabbi antum.
o   Inilah tadzkirah untuk antum dan ini sebagai alas an kepada Allah bahwa aku telah menunaikan. Semoga Allah membibing antum dan smg diberi keikhlasan dlm berbicara dan bertindak baik saat sendiri atau terbuka.


--
Akhukum fillah
Navis Murbiyanto
Sekretaris Bidang Kaderisasi DPP PKS

Jumat, 03 Februari 2012

Jumat, 03 Februari 2012

Nurhuda Trisula : Seorang Mu’asis Telah Pergi


Oleh : Cahyadi Takariawan

Sepertinya kami satu generasi. Hanya saja beliau tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur, sedangkan saya di Yogyakarta. Saya mengenal beliau cukup lama. Jalan dakwah ini menghantarkan saya untuk bertemu dan berkomunikasi dengan banyak aktivis di berbagai wilayah dan daerah.
Kadang bertemu beliau saat saya menghadiri kegiatan di wilayah Kalimantan Timur. Kadang bertemu beliau saat menghadiri kegiatan di Jakarta, atau di tempat lain. Tidak terlalu sering saya bertemu beliau, namun saya merasa sangat dekat dan nyaman dengan beliau. Saya kira perasaan seperti ini dirasakan semua aktivis yang mengenal beliau.
Namanya Nurhuda Trisula. Wajahnya teduh, kalimatnya optimistik, cara pandangnya positif. Sosok yang sejuk dan tepat menjadi mu’asis dakwah di wilayahnya. Saya senang berdiskusi dan berbincang tentang berbagai hal dengan beliau, karena tampak semangat dan getar cinta yang luar biasa dari pembicaraan dan pembawaannya. Kecintaan kepada dakwah dan jama’ah, kecintaan kepada kader dan semua ikhwah.
Saya sempat bertemu di saat beliau masih menjalani terapi karena stroke. Namun luar biasa, dalam kondisi stroke dan tengah berupaya melakukan pemulihan, yang tampak hanyalah ketegaran dan kegigihan. Semangat, optimistik, dan selalu tegar. Itulah yang saya dapatkan dari beliau, baik semasa sehat maupun setelah mengalami stroke.
Pada masa yang berat karena harus menjaga kesehatan fisiknya, beliau selalu terlibat dalam berbagai kegiatan dakwah. Beliau tidak ingin ketinggalan momentum. Beliau tidak ingin terlambat dalam menghantarkan dakwah menuju kemenangan. Maka yang dilakukan adalah terus berdakwah, terus bergerak, terus beraktivitas. Seperti tidak ada bedanya antara saat masih segar bugar dengan setelah sempat terserang stroke.
Sungguh saya iri dengan ketegaran beliau.
Untuk lebih mengenal akhuna Nurhuda Trisula, berikut saya nukilkan salah satu postingan sahabat diwww.pelangikalasenja.com tentang beliau. Moga bermanfaat.
*************
Semua yang mengenal Ustadz Nurhuda Trisula pasti sangat tahu bagaimana karakternya dalam da’wah, akhlaknya dengan sesama dan prinsipnya dalam hidup. Bahkan saat almarhum dalam keadaan sakit menahun pun, karakter, akhlak dan prinsip itu tak ikut luntur menghilang bersama lemah fisiknya. Bahkan di akhir-akhir hayatnya, beliau masih tetap meneladankan keseriusan dan pengorbanan fisik dan pikirannya kepada da’wah yang tiada terkira.
Dalam bulan-bulan terakhir, beberapa kali aku mendengar curhat dari beliau langsung tentang kegusaran istrinya akibat “keras-kepala” nya. Bagaimana Mba Win melarang untuk mengurangi aktifitas beliau, karena tanda-tanda stroke kedua yang kemungkinan mendekat. Sampai-sampai Mba Win pernah sms -sebagai bentuk gugatan kasih sayang- kepada beliau dan beliau ceritakan kepadaku; “aku telah menjadi istri yang gagal karena tidak mampu melarang suami untuk istirahat”. Beliau tidak pernah menanggapi dengan melankolis.
Ikhwah di DPW juga sering menutup-nutupi jadwal rapat demi keinginan seluruh ikhwah untuk tidak melibatkan beliau, karena melihat kondisi fisik beliau. Tapi beliau selalu menemukan cara dengan mencari tahu jadwal rapat dan memaksa ikut, memberikan kontribusi pemikiran dan solusi paling banyak dan paling sering mengarahkan seluruh ikhwah tentang langkah-langkah yang harus diambil berkaitan dengan strategi da’wah.
Hari Rabu, empat hari sebelum beliau tak sadarkan diri, aku masih di rumahnya dari jam 7 pagi hingga jam setengah 12. Aku masih membuat bahan presentasi untuk disampaikan beliau kepada BPH DPW. Diantara wajah letih beliau, beliau masih mau mendengarkan paparanku. Di sela-sela paparanku, beliau sempat berkata; “Akh, saya lihat antum seperti berputar-putar badannya lho”. Aku langsung kaget dan menghentikan pembicaraan. Kataku; “Ustadz, kita stop dulu ya. Besok bisa kita lanjutkan. Antum istirahat dulu”. Tapi dengan tegas beliau mengatakan; “Tidak usah akh. Antum lanjutkan saja. Saya bisa mendengarkan sambil berbaring”.
Setengah jam kemudian, saat aku masih menjelaskan, beliau memotong dengan muka gusar; “Akh, tangan saya dan kaki saya sebelah kanan tidak bisa digerakkan nih. Dari kemarin seperti ini”. Aku langsung cemas dan berkata; “Ustadz, kita stop dulu ya”. Beliau menjawab dengan tersenyum; “Tidak usah. Selesaikan saja. Santai akh”.
Aku membatin, bagaimana bisa aku santai mendengar kondisinya. Akhirnya aku percepat presentasi dan mengcopy bahan presentasi itu ke flashdisk beliau. Saat aku diam begitu lama, sambil berbaring beliau berkata; “Akh, dua hari ini saya mengalami disorientasi. Jadi, saya bangun pagi dan tiba-tiba bingung mau ngapain. Saya bisa mengalami kebingungan hingga berjam-jam. Kata dokter, kalau kita disorientasi seperti itu, biasanya mau stroke yang kedua lho, dan itu alamat delapan puluh persen saya wafat”.
Beliau berkata seperti itu tanpa beban. Tanpa ketakutan. Tetap tenang dan sambil tertawa !. Aku saja yang mendengarnya begitu cemas. Waktu aku pulang, aku sempat berpesan; “syaikh, kalau boleh nyaranin, sebaiknya banyak istirahat”. Dan aku yakin, pesanku tak akan digubrisnya. Karena dia sudah menjadwalkan akan ke DPW seharian ini, ke Bontang esok harinya, ke DPP pada hari Jum’at dan ke Jakarta lagi untuk mengatarkan Adzkiya pada hari Ahad. Begitulah beliau dengan keteguhan dan sikap tak mau dikasihani-nya. Jika beliau bisa melakukan sendiri, buat apa minta bantuan yang lain katanya.
Kenangan tentang keteguhan beliau kerja keras beliau hingga wafat di jalan Allah juga di rasakan oleh sahabat-sahabat dekatnya. Ustadz Haris pernah jalan berdua bersamaku waktu ada acara Partai di Jakarta setahun yang lalu. Dan beliau dengan sangat gamblang menceritakan tentang Ustadz Nurhuda; “antum harus contoh Ustadz Nurhuda akh. Tentang obsesinya dalam da’wah, tentang komitmennya yang tiada pernah patah. Jangan pernah menyerah dengan masalah-masalah”. Kata-katanya membuatku tersenyum malu.
Saat aku bertandang ke rumah seorang ustadz yang sealmamater dengan beliau, setengah tahun lalu, Ustadz tersebut menceritakan bahwa dengan keteladanan akhlaknya, Ustadz Nurhuda menjadi orang yang bisa menengahi berbagai masalah di kalangan ikhwah di berbagai daerah. Saat ada konflik dan perbedaan pendapat, beliaulah orang yang didepan dua kelompok yang berselisih tersebut yang bisa menyatukan pandangan-pandangan ekstrim dan merangkumnya dalam sikap moderat dialiri kasih sayang dan persaudaraan
Orangtua Bang Icha, Ustadz Andre dan seluruh keluarganya, telah menganggap Ustadz Nurhuda adalah bagian dari anak dan saudaranya, karena mereka sangat lama berinteraksi dan memetik kebaikan, ketulusan, kasih sayang dan kuatnya ikatan persaudaraan dari Ustadz Nurhuda saat-saat da’wah ini di buka di Kalimantan Timur, dimana Bang Icha dan Ustadz Nurhuda berjibaku untuk pertamakali.
Beberapa saat setelah wafatnya Ustadz Nurhuda, saat Ustadz Zainal Haq masuk ke ruangan ICU sekitar pukul tujuh bersama Ustadz Hadi Mulyadi, beliau dengan suara terbata-bata menahan tangis menegaskan bahwa Ustadz Nurhuda adalah orang yang paling layak diteladani oleh seluruh ikhwah. Saat Ustadz Hadi Mulyadi memberi kata sambutan tentang kebaikan-kebaikan almarhum, beliau mengatakan, ; “Semua yang pernah mengenal almarhum, pasti kagum dengan kesungguhannya pada da’wah dan jama’ah. Dan harus diakui bahwa beliaulah yang merintis da’wah di Kalimantan, dan dengan segala kesungguhannya, kita menjadi orang-orang yang berdiri di jama’ah ini”.
Beberapa kali Ustadz Masykur juga pernah mengeluh kepadaku tentang Ustadz Nurhuda; “Memang akh, kalau mau belajar politik da’wah dan strateginya kita harus belajar kepada Ustadz Nurhuda. Tapi ya itu akh, semua mau dipikirkan dengan sangat serius. Beliau selalu ingin terlibat dan meng-eksekusi keputusan besar jama’ah. Padahal kan kita kasihan sama fisiknya. Takut ada apa-apa”.
Di lain waktu, saat pidato pelepasan jenazah, beliau juga menegaskan bahwa; “semua ikhwah yang ada di Kalimantan, terutama Kalimantan Timur adalah murid-muridnya. Karena sebab almarhum (dan tentu saja : izin Allah, ed.), saya dan seluruh ikhwah mendapatkan hidayah Allah. Saya akui bahwa saya murid almarhum. Semua murid almarhum. Satu hal yang wajib kita lakukan adalah mencontoh semua kebaikannya”.
“Almarhum adalah ‘Arkanul Bai’at yang berjalan di antara kita. Kita tidak pernah meragukan pengorbanannya dalam da’wah ini. Kita begitu mengagumi keikhlasannya dalam jalan da’wah ini. Waktu menjadi anggota DPRD, beliau sampai memberikan duapertiga pendapatannya untuk da’wah dan sepertiganya untuk keluarga. Itupun masih terpotong untuk aktivitas da’wah sehari-hari. Bahkan almarhum pernah bercerita kepada saya bahwa almarhum hanya menyisahkan limaratus ribu untuk Bu Win dan anak-anak. Betapa kita sulit menemukan orang-orang seperti beliau. Kita wajib mengikuti jejak beliau, meneladani dan meneruskan apa yang menjadi cita-cita beliau”.
Begitulah beliau di mata sahabat dan kawan seiring perjuangan. Aku sendiri telah banyak menulis kenangan indah baik saat kami berdua mengunjungi kota lain, duduk berdua, atau bersama-sama saudaraku yang lain. Kurangkum sebagian kenanganku dalam sebuah tulisan pesan nan indah di hatiku. Dan sebagian kutuliskan untuk saudaraku yang lain, di “Penakluk Ribuan Hati”.
28 Januari 2012