Jumat, 26 Agustus 2011

Jumat, 26 Agustus 2011

Imtidad ad-Da`wah (امتداد الدعوة)

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin, Lc.


Agar al-imtidadud da’awi (penyebaran pertumbuhan da’wah) semakin berpengaruh dalam perubahan, pembinaan, dan siyaghatu al-binaai al-ijtima’i (penataan struktur kemasyarakatan), tidak cukup hanya kita respon dengan al-imtidadu tanzhimi (penyebaran pertumbuhan struktur dakwah). Begitu pula agar struktur kemasyarakatan ini semakin dekat dengan siyaghatu al-binaai al-Islamiy (tatanan struktur masyarakat islami), tidak cukup hanya kita respon dengan al-imtidadud tanzhimi, memperluas dan memperlebar struktur kita.
Respon-respon structural itu harus ditindaklanjuti dengan al-imtidad at-tarbawi (pengembangan pembinaan). Hajman wa waznan, baik kapasitas ataupun bobotnya. Pengembangan tarbiyah yang sudah merupakan pekerjaan kita sehari-hari dan merupakan basis operasional, harus kita kembangkan kapasitas daya tampungnya. Sudah banyak yang menunggu untuk ditarbiyah. Sekarang tidak terbatas pada level mahasiswa, pemuda, atau akademisi. Para professional, pengusaha, praktisi bisnis, banyak yang menunggu untuk ditangani secara tarbawi. Sehingga kapasitas tarbiyah kita harus meningkat. Efeknya, tuntutan kepada pengembangan manhaj tarbiyah pun harus meningkat.

Pendekatan tarbiyah untuk pemuda dan mahasiswa berbeda dengan pendekatan tarbiyah kepada alim ulama dan mubaligh. Berbeda pula dengan para professional, praktisi bisnis, dan lain-lain. Oleh karena itu, fann at-tarbawi, penguasaan teknis operasional tarbiyah harus semakin meningkat. Agar kapasitas tarbiyah daya tampungnya semakin luas.
Untuk menjaga kapasitas, daya dan bobot tarbiyah, jangan sampai tarbiyah kita berkembang nuansanya menjadi ta’lim, apalagi tabligh. Karena ta’lim itu tazwidul ‘ilm (pembekalan ilmu), dan tabligh itu tazwidul ma’lumat (pembekalan informasi). Sedangkan tarbiyah merupakan tashihul aqidah, tashihul fikrah, tashihul akhlaq, dan tashihul ‘ibadah. Sehingga bobot taujihnya harus sangat menyentuh mafatihul uqul, mafatihul qulub, wa mafatihun nufus. Harus membuka kunci-kunci jiwa, hati, dan akal manusia. Tarbiyah harus lebih menggugah, lebih berkesan, dan lebih membangkitkan. Sebab tarbiyah bukan talqinul ulum.
Lapisan pendukung dan simpatisan dakwah menunggu penanganan kita. Kalau mereka merasakannya sama dengan majelis ta’lim umum, bahkan naudzubillah dirasakan sama dengan dakwahtainment, maka itu tidak akan menghasilkan potensi dakwah. Ini harus ditata. Karena tarbiyah itu merupakan kerja pertama dan utama jama’ah dakwah kita untuk membangun potensi SDMnya.
Walaupun begitu, tarbiyah, sebagai upaya manusia, bisa saja—naudzubillah—terjadi infilath tarbawi/falatan tarbawi. Artinya hasil tarbiyah yang tidak terkontrol. Hasil kerja keras dan pengorbanan kita, bisa saja natijahnya jelek. Tidak saesuai dengan yang kita inginkan. Infilat tarbawi biasanya berbentuk:
  1. Munculnya tasyaddud, sikap eksklusif, ekstrim, dan merasa benar sendiri. Ini harus dipantau. Padahal kita memiliki pandangan ijabiyah ru’yah (memandang sisi positif). Pada hakekatnya kebaikan itu ada di mana-mana. Cuma ada yang terkonsolidasi oleh kita dan ada yang belum.
  2. Bersikap kamaliyat (perfeksionis). Seolah-olah tarbiyah itu targetnya menciptakan insan malaki, manusia berkualitas malaikat. Ini juga bentuk infilat tarbawi, bentuk penyimpangan.
  3. Bentuk infilath tarbawi yang lain adalah juz’iyyah. Hanya menukik di sector tertentu saja. Misalnya ruhiyah saja, sementara fikriyah kurang berkembang. Sehingga pertumbuhan cara berfikirnya ketinggalan. Tidak mampu menghadapi komunikasi fikriyah seperti yang kita jumpai di lapangan setelah musyarokah ini. Atau hanya menukik di bidang fikriyah atau siyasah saja. Padahal yang kita harapkan adalah tarbiyah yang integral dan terpadu.
Selain imtidad tarbawi, pertumbuhan dakwah kita juga menuntut imtidad tsaqofy. Kita harus belajar dan belajar, terus menerus. Kita harus mau membaca dan membaca. Baik bacaan yang tertulis di buku-buku, majalah-majalah, surat kabar, radio atau TV. Juga membaca kehidupan masyarakat. Ini semua penting. Sehingga tsaqofah kita berkembang, tidak ketinggalan di segala sector.
Kita bergaul dengan mereka yang beraneka ragam keyakinan, beraneka ragam latar belakang ideology, pendidikan, budaya, dan bahkan kepentingannya. Supaya kita tidak gagap, kekurangan modal ketika menghadapi mereka, maka tsaqofah kita harus ditingkatkan. Bagi yang masih mempunyai kesempatan belajar formal, silahkan tingkatkan. Apakah S1, S2, S3, kalau ada S4 kita masuki. Bagi yang pendidikan formalnya sudah tertib, maka informalnya harus iqro’, terus membaca. Memang kalau kita tidak pandai memenej waktu, tazwidul tsaqafah (pembekalan wawasan) ini akan merosot.
Imtidad tsaqofiy—hazman waznan—harus ditingkatkan. Apalagi ajaran Islam mengajarkan bahwa thalabul ‘ilmi itu minal mahdi ilal lahdi. Menuntut ilmu itu dari bauaian hingga liang kubur. Uthlubul ‘ilma walau bi shin. Walaupun di Cina. Padahal waktu itu dakwah Islam belum sampai ke Cina. Tapi kata Rasul carilah ilmu itu sampai ke negeri Cina.
Jama’ah kita ini, di mana pun, terkenal sebagai madrasah, di mana di dalamnya selalu belajar dan meningkatkan diri, sudah menjadi shibghoh yaumiyah, warna keseharian kita.
Imtidad fanni, penguasaan teknik operasional sesuai bidang dan tugas kerja kita, baik kerja tanzhimiyah atau kerja professional. Penguasaan teknis secara lebih mengerucut sesuai dengan latar belakang tugas kita semakin penting.
Berikutnya adalah imtidad idari. Organisasi kita semakin besar, memerlukan manajerial yang tangguh. Sesuai dengan karakter organisasi jama’ah kita, adalah bukan karakter birokrasi, tapi karakter mutathowwi’in (sukarela). Oleh karena itu kita harus membagi pendelegasian wewenang, tugas-tugas secara lebih merata dan lebih meluas. Mungkin kalau dilihat dari sudut pandang birokrasi—perusahaan atau pemerintahan—organisasi kita amat bengkak. Karena kita ini tidak ada keterkaitan antara penugasan dengan standar gaji. Kalau pun ada, itu sifatnya hanya ta’awun. Itu pun jauh dari standar untuk ma’isyah. Karena kaitannya bukan ma’isyah, tapi lebih kepada muwasholah (penyambung) saja.
Karakter organisasi yang mutathowwi’in, sukarelawan ini, tugasnya harus terbagi. Kewenangan didelegasikan d I dalam bidang-bidang. Kalau ada pos-pos yang kurang berjalan, kita tingkatkan agar lebih mampu berjalan dan memikul tugas secara lebih baik. Bukan dengan cara ditekel/diambil. Kita berusaha untuk meningkatkan para penjaga pos agar bertugas secara bertahap. Agar terbagi secara baik, terlaksana melalui proses ta’awanu ‘alal birri wat taqwa. Ini karena tanzhim kita adalah tanzhim mutatowwi’in, bukan birokrasi.
Karakter organisasi lain, yang terkenal sibuk dan bekerja adalah ketua dan sekretaris. Di organisasi kemasyarakatan itu hal biasa. Mudah-mudahan, insya Allah, itu tidak akan merembes kepada kita. Kita sudah terbagi, semua bekerja, yang penting adalah tanasuq dzaatii. Singkronisasi antar komponen organisasi dalam bidang tertentu, dan singkronisasi antara bidang dengan bidang yang lain. Setiap potensi kader harus termanfaatkan. Dengan begitu semakin meningkat kapasitas, bobot, dan kompetensinya.
Selanjutnya al-imtidad al-iqtishodiy (perkembangan ekonomi). Sampai sekarang pembiayaan dakwah kita masih dalam level konvensional melalui tadhiyyah dari ikhwan dan akhwat, dari ta’awun ikhowi yang luar biasa. Tentu berkahnya tidak diragukan. Tapi kalau diakaitkan dengan tugas berat ke depan, pengembangan ekonomi dakwah harus semakin professional. Basis ta’awun dan tadhiyyah harus selalu terpelihara, karena itu adalah modal awal. Tapi kalau modal awal itu tidak berkembang menjadi professional, maka akan banyak pembiayaan-pembiayaan dakwah yang tidak tertangani secara konvensional.
Sudah barang tentu, Allahu Ghaniyyun Karim. Semua sumber kekuatan, termasuk sumber ekonomi adalah dari Allah SWT. Tapi Allah memerintahkan kita bekerja. Rasulullah SAW pernah melihat seseorang yang setiap hari nongkrong terus di masjid. Beliau bertanya, “Siapa yang member nafkah dia?”. Sahabat menjawab, “Saudaranya”. Kata Rasulullah: “Saudaranya itu lebih baik dari dia”.
Umar bin Khattab juga melihat fenomena serupa. Ada orang terus menerus berdo’a di masjid. Kata beliau, “Alaa ta’khudzu fa’san, litahtathibu?” Mengapa kamu tidak ambil kampak, agar kamu mencari kayu. “Fa innas samaa la tumthiru dzahaban wa la fidhdhoh”, sesungguhnya langit tidak akan pernah hujan emas atau perak. Allah akan menurunkan rizki—apalagi rizki untuk dakwah, yang penting kita tampil di hadapan Allah dengan kerja keras.
Sudah tentu ini untuk para ikhwan dan akhwat yang mempunyai bakat di bidangnya. Kalau tidak mempunyai bakat jangan di dorong-dorong. Karena ada dua kerugiannya: bisnis rusak, dakwah rusak.
Disinilah kemudian peran takaful-ta’awun. Kita bakatnya berbeda-beda. Ada yang tumbuh dengan bakat ekonomi, bakat politik, bakat budaya, bakat kerja di charity. Dari semua bakat yang tumbuh ini terjadi ta’awun dan takaful, saling menopang.
Rasa berbagi dari ikhwah yang sukses ekonominya kepada ikhwan yang menekuni bidang lain harus ditumbuh suburkan. Supoaya tidak aka nada komentar dari masyarakat, “Kasihan itu ustadz, dibiarin sama ikhwannya” Walaupun ikhwan akhwat itu ikhlas, tekun menekuni bidangnya walaupun tidak berefek secara ekonomi. Tapi masyarakat yang akan berkomentar. Banyakl komentar itu dating kepada saya. Biasanya selagi masih dapat saya tangani, saya akan tangani sendiri. Kalau tidak, biasanya saya transfer ke ikhwan lain. Tapi kita tentu tidak harus menunggu komentar dari masyarakat. Maka, ikhwah harus mempunyai semangat berbagi. Alhamdulillah, beberapa ikhwah yang ekonominya baik, mempunyai daftar kafalah untuk ikhwah lain. Kalau kebiasaan ini ditumbuh suburkan, Insya Allah semakin berkah dakwah kita.
Perkembangan ekonomi ini, baik kapasitas atau bobotnya harus meningkat. Dari dulu sering saya komentari, Alhamdulillah pertumbuhan ekonomi di liqo’at/halaqoh itu berkah. Tapi pasar itu lebih luas dari halaqoh. Ketika dating ke halaqoh ada yang bawa jilbab, yang ini bawa barang lainnya, insya Allah berkah. Tapi untuk ekonomi dakwah itu kurang. Salah satu yang dibangun Rasulullah SAW setelah hijrah itu adalah pasar. Maka semuanya harus seimbang anatara pertumbuhan tanzhimi, tarbawi, tsaqofi, fanni, idari, dan iqtishady.
Berikutnya adalah factor ijtima’i. Komunikasi social kita harus diperluas. Dalam hal komunikasi social, tidak perlu memakai taqwim nukhbawi (ukuran kader). Kita perluas komunikasi social kita, lintas partai, jama’ah, agama, dan etnis. Kita lakukan komunikasi secara luas. Karena keragaman atau pluralitas itu adalah fitrah. Rasulullah SAW juga mengembangkan hubungan secara luas. Bahkan ada komunikasi social yang jarang terungkap dari sirah nabawiyah, yang disampaikan Abu Bakar Shiddiq. Ketika menjadi khalifah pertama, beliau sangat memperhatikan kebijakan dan kebiasaan Rasulullah SAW.
Salah satunya, ternyata Rasulullah SAW melakukan komunikasi yang sangat baik dan akrab dengan seorang Yahudi yang buta matanya. Setiap pagi Rasulullah SAW datang mengantar roti dan susu. Orang Yahudi ini sudah tua dan giginya ompong. Kalau diberi roti yang kering dan ada air, roti itu dicelupkan. Kalau tidak ada, dikunyahkan Rasulullah, setelah itu disuapkan kepada orang Yahudi itu. Peristiwa itu hanya diketahui Abu Bakar.
Begitu Rasulullah wafat, Abu Bakar menggantikannya. Karena Yahudi ini buta, ia tidak tahu pada Abu Bakar. Ketika Abu Bakar menyuapkan roti, Yahudi itu berkata, “Siapa kamu?” Abu Bakar menjawab, “Saya biasa datang setiap pagi”—maksudnya menemani Rasulullah. Orang Yahudi berkata, “Tapi rasanya tidak begini, dia lebih halus dan lebih hangat”. Abu Bakar pun menangis.Ini adalah komunikasi lintas agama, dan itu merupakan bentuk riil dari rahmatan lil alamin. Sampai orang Yahudi pun menikmati Islam dalam keyahudiannya. Orang Kristen menikmati Islam dalam kekristenannya.
Walaupun entitas non muslim minoritas di Indonesia, tetap harus terjangkau oleh komunikasi social. Di lingkungan umat Islam diperkokoh. Jangan terhambat oleh beda yayasan, beda organisasi, beda partai. Kita harus terbuka. Kalau mereka mulutnya usil kepada kita, kita maafkan. Karena kita kader dakwah. Kadang-kadang ada organisasi yang terkontaminasi oleh kepentingan partai tertentu, lalu usil kepada kita. Maka kita harus lebih dewasa meresponnya. Tidak perlu terprovokasi oleh sifat-sifat yang kita yakini bukan sifat asli dari organisasi itu. Sekedar terkontaminasi, terkotori oleh kepentingan partai tertentu. Kita jangan mudah terpancing untuk kemudian ketus atau menjadi cuek kepda organisasi itu. Mereka tetap ikhwan kita, saudara kita seiman.
Alaqoh ijtima’i diperluas. Agar kehadiran kita diterima secara baik oleh seluruh komponen masyarakat, lintas partai, agama, dan organisasi. Kalaupun masih ada resistensi, itu bagian kecil dan biasanya berwarna ideologis politik.
Dalam berkomunikasi, prinsipnya, “sayyidul qaumi khadimuhum”, selalu berkhidmat. Dalam Islam, khidmat itu sampai ke tingkat “tabassumuka fi wajhika li akhika laka shadaqah”. Murah senyum, ramah, santun, itu merupakan modal dasar bagi komunikasi social kita.
Ini bagian dari tanhidiyah kita menuju mihwar daulah. Agar tingkat resistensi kehadiran kita di tengah-tengah pengelolaan kehidupan berbangsa dan bernegara semakin kecil. Karena masyarakat melihat realitas fenomena kesantunan, keramahan, dan keterbukaan kita dalam komunikasi, insya Allah resistensi itu semakin mengecil, ia akan selalu ada, tapi akan bisa kita kurangi.
Berikutnya. Imtidad siyasi. Ruang lingkup komunikasi politik harus diperluas. Kemampuan berkomunikasi politik sangat besar pengaruhnya. Komunikasi politik itu mencari kemungkinan-kemungkinan di tengah ketidakmungkinan. Mencari titik temu bersama. Kita kelola dengan baik, supaya tidak ada benturan yang tidak perlu. Kita memerlukan peluang dan ruang pertumbuhan. Untuk menjamin keamanan, ruang dan peluang pertumbuhan, kita harus mengurangi komplikasi-komplikasi politik dengan pihak manapun agar kita mencapai posisi yang aman, bahkan sampai ke posisi dominan. Peluang-peluang kita terbuka banyak. Itu harus kita manfaatkan untuk lebih mengokohkan dakwah dan memperbesar dakwah.
Terakhir, imtidad i’lami. Pertumbuhan di sektor media massa. Memang beberapa factor yang mencuat dan dianggap kendala adalah pembiayaan. Tapi ‘ala kulli hal, masalah i’lam (media) ini perlu dikemas secara baik. i’lam yang paling mendasar dalam gerakan dakwah ini adalah performance dari setiap diri kita. Setiap kita harus memancarkan sum’ah thayyibah (aroma yang baik) bagi jama’ahnya. Itulah modal dasar i’lam.
Di tahun 50-an Sayyid Qutb pernah didatangi banyak aktivis Islam. Mereka mengeluh tentang i’lam. Ada yang berbicara kurang modal, ada yang berbicara masalah keamanan. Ada yang mengeluh majalah-majalahnya sering dibredel, diberangus, dicabut izinnya, atau kantornya digerebek. Sayyid Qutb berkata, “I’lam asasi adalah anfusuhum”. Media utama adalah diri kader itu sendiri.
Mrengelola i’lam ini terkadang gamang. Apakah ini tidak termasuk riya, apa tidak merusak zuhud kita, merusak tawadhu kita?
Kalau kita mengumumkan hal-hal yang terkait dengan pribadi, milik kita atau orang lain secara pribadi, itu baru bermasalah. Tapi kalau terkait dengan kepentingan public, yang kita kerjakan, itu justru diperlukan. Untuk merangsang orang lain mengikuti, membantu, dan mendukungnya. Sikap-sikap kita yang membela umat harus ditampilkan. Bahkan itu bisa wajib, karena mendukung eksisistensi dakwah kita, pertumbuhan dakwah kita.
Faktor-faktor tadi secara simultan bergerak, tumbuh, mutawazin, berkembang. Insya Allah dakwah ini bukan hanya berkembang, tapi pengaruhnya, suaranya mudah didengar. Komentarnya mudah diikuti. Kritiknya mudah diterima. Karena kapasitas dan bobot tanzhimi, tarbawi, tsaqofy, fanni, idari, iqtishady, ijtima’i, siyasi, dan i’lami terkelola, terkemas secara baik, simultan dan seimbang.
Insya Allah ini akan menjadi modal agar dakwah dan jama’ah kita berpengaruh. Jika berbicara didengar, Jika bertindak terasa.
Insya Allah jama’ah dakwah kita semakin berbobot. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan taufiq, ri’ayah, inayah. Memberikan tamkin kepada kita. Sehingga semakin mendekatkan diri kita kepada ridha Allah sampai pada li i’lai kalimatillahi hiyal ‘ulya.

Kamis, 25 Agustus 2011

Kamis, 25 Agustus 2011

Istana Pasir

By Ust. Irfan Toni Herlambang

Pagi mulai beranjak siang saat Pak Tua kedatangan anaknya dari kota. Di
tangan kirinya masih tersampir jala yang sedang diperbaiki. Tangan kanannya masih sibuk menelisik jelujur benang nylon, menyusuri sisi-sisi yang koyak dari jala miliknya. Sinar matahari pantai yang datang sedikit terhalang lelaki yang tegak berdiri. Wajah Pak Tua itu pun menengadah, memandang sorot lelah dari kedua mata anaknya."Ada apa?" tanyanya pelan.
"Hidupku suram, Ayah." Mata si anak nanar. "Usahaku baru saja gagal, dan keluargaku tak lagi membuatku bahagia."

Sabtu, 20 Agustus 2011

Sabtu, 20 Agustus 2011

Uang

Oleh: M. Anis Matta, Lc.

Ini adalah bagian dari ceramah saya ketika Jaulah, sekedar ide semoga bermanfaat dan menjadi bahan untuk didiskusikan, meski ada Ikhwah yang mengatakannnya Anismismi (ajaran anis) yang terkesan glamour dan konsumtif… tapi sekali lagi ini adalah sekedar ide…
Bismillah,
Ikhwan dan Akhwat sekalian,
Alhamdulillah kita dipertemukan oleh Allah dipagi hari ini, walaupun kemarin saya ragu-ragu apakah saya bisa hadir hari ini atau tidak. Istri saya sakit demam berdarah dan dirawat di rumah sakit hingga hari ini. Alhamdulillah hari ini ada perbaikan sedikit dan bisa ditinggal. Selain
itu, rasanya sudah rindu sama antum semuanya karena cukup lama tidak ke sini. Sebenarnya saya punya rencana kunjungan ke sini pada bulan Januari yang lalu dalam rangkaian jaulah ke 13 DPW bersama 13 pengurus Bidang Kaderisasi dan Bidang Pembinaan Wilayah. Rencana
itu dibatalkan karena saat itu sedang musim pesawat jatuh, jadi ada 8 DPW yang kita pending perjalanannya termasuk ke kota Pekan Baru ini.
Ikhwan sekalian.
Pagi ini kita bicara tentang uang. Sudah lama sekali saya mengusulkan bagian kurikulum di departemen kaderisasi untuk memasukkan pokok bahasan  tentang  uang.  Gagasan-  gagasan  itu  mulai  muncul  ketika saya dahulu berada di awal dakwah ini. Salah satu pekerjaan yang
saya lakukan adalah Lajnah Minhaj, di Bidang Kaderisasi bersama kang Aus. Saat itu, saya ikut menyusun beberapa Materi Tahmidi H1, H2. Kita  memang  tidak  pernah  berfikir  untuk  menyusun  satu  materi tentang uang karena yang ada dibenak kita bahwa bagian- bagian dari
tarbiyah itu adalah tarbiyah ruhiyah, tarbiyah fikriyah dan tarbiyah jasadiyah. Ketika kita membuat partai, kita menambah sedikit yaitu materi tarbiyah siyasiyah.
Jadi  Kalau  wasilah  dari  tarbiyah  ruhiyah  itu  banyak,  ada  Lailatul Katibah  juga  mutaba’ah  yaumiyah.  Wasilah  tarbiyah  fikriyah  juga banyak tatsqif dan macam- macam. Tarbiyah Jasadiyah ada latsar ada mukhoyam. Tarbiyah siyasiyah sudah dengan sendirinya karena ada
wasilah berupa partai. Tapi kita semuanya menghadapi suatu benturan realita yang disebabkan karena ada missing link dalam system berfikir kita.
Ada satu kosa kata yang tidak masuk kedalam benak kita padahal itu sangat  menentukan  masa  depan  kita  yaitu  uang.  Jika  ada  yang bertanya kenapa kita miskin maka jawab "tidak belajar masalah uang".
 Ikhwan sekalian
Salah  satu  gejala  benturan  budaya  yang  sering  kita  lihat  muncul bersama munculnya orang-orang setengah kaya baru. Tapi itu tidak disebabkan karena bibit- bibt kemiskinan itu memang ada dalam diri kita, ada di lingkungan kita, bahkan ketika kita mulai membuat partai. Padahal  kita  belum  kaya  dan  memang  belum  kaya.  Apabila  kita memakai standar Kiyosaki, masuk dalam tahap amanpun belum. Tapi sudah dianggap hanya kayak arena sedikit beda dengan teman-teman ikhwah yang lain. Kita dianggap kaya karena memiliki mobil padahal mobil itu kebutuhan pokok dalam fiqih Islam. Kita juga dianggap kaya karena bisa bangun rumah, padahal itu indikator dari garis kemiskinan. Rasulullah mengatakan "Cukuplah bagi seorang Muslim itu bahwa dia punya sebuah rumah dan seorang pembantu". Jadi, rumah itu sama dengan  pakaian.  Hanya  saja,  di lingkungan  kita,  banyak  yang mempunyai anggapan, orang disebut kaya kalau sudah punya rumah.
Ikhwah sekalian
Oleh  karena  itu,  banyak  sekali  yang  bolong  dalam  tsaqafah  kita tentang uang. Kita bukan hanya salah membuat persepsi-persepsi itu, tetapi  juga  terkadang  mempunyai  kecenderungan  anti  uang.  Kalau istilah Ust. Rahmat Abdullah ikhwah itu sabar menderita tapi tidak sabar melihat orang lain lebih kaya. Makanya mudah muncul gossip dikalangan  orang  yang  punya  sedikit  kelonggaran  secara  finansial, apalagi kalau sebab kelonggaran finansialnya itu karena dia menjadi anggota dewan. Jadi pada tahun 1999, saya jadi ketua tim khusus. Pada waktu itu sebagai Sekjen saya tahu persis dimana letak daerah kuatnya  P**  kalau  saya  mau  jadi  anggota  dewan.  Ketika  itu  saya dicalonkan dari Bandung, Jakarta dan Sulawesi Selatan atas usul DPW masing- masing. Nah, pilihan tertinggi jatuh pada Sulawesi Selatan. Waktu itu saya belum mau jadi anggota dewan karena saya belum punya rumah dan mobil. Saya tidak tidak mau bila nanti ada persepsi bahwa saya punya mobil dan rumah karena jadi anggota dewan. Oleh
karena itu saya pilih Sulawesi Selatan. Jika saya pilih Bandung atau Jakarta pasti saya terpilih jadi anggota dewan pada tahun 1999. Saya mengerti  persepsi-persepsi,  gossip  dan  fitnah  tentang  harta  di kalangan kita itu banyak disebabkan tsaqafah yang bolong tentang uang. Jadi, kita bukan hanya tidak berbakat jadi kaya tapi juga tidak senang dengan orang kaya dan cenderung anti kekayaan.
Kapan  saatnya  kita  mulai  mengalami  benturan  keuangan.  Yang pertama  setelah  kita  punya  anak.  Dahulu  waktu  saya  kuliah,  kita dimotivasi untuk cepat menikah oleh para murabbi kita, dengan satu alasan  kemaksiatan  sudah  merajalela  disekitar  kita,  daripada  kita berzina lebih baik kita menikah. Kalau kita berargumen lagi bahwa kita belum ada pekerjaan karena kita masih tawakkal   ‘alallah,  innallaha  Ghoniy,  seluruh  alasan-  alasan  aqidah
dikerahkan untuk mendorong kita nikah.
Sebagian  besar  angkatan  saya  menikah  di  tahun  pertama  waktu kuliah. Saat itu saya belum menikah. Di tahun kedua lebih banyak lagi yang menikah, saya belum menikah. Di tahun ketiga lebih banyak lagi yang menikah. Saya termasuk yang telat menikah pada waktu itu. Tapi
kemudian kita menemukan fakta bahwa ikhwah-ikhwah yang menikah semasa kuliah itu sebagian besar angka pelajarannya jeblok karena disibukkan  dengan  dakwah  juga  harus  mencari  ma’isyah.  Saya menikah di tahun keempat setelah angka saya stabil karena naik satu
point lagi. Dosen saya sampai mengatakan, kalau kamu ambil Master, menikah satu kali lagi. Ada ikhwah yang mengatakan kepada saya, Masya Allah, Antum ini merencanakan sesuatu dengan detail. Saya bilang antum punya semangat tapi tidak punya rencana bagus.
Jadi kita semua mulai mengenal uang dan mempunyai persepsi bahwa uang itu perlu ketika anak kita menangis. Ketika saya datang ke calon mertua-saat  itu  beliau  anggota  DPR  dan  sudah  17  tahun  menjadi petinggi  Golkar—untuk  melamar,  dia  bertanya  kepada  saya:  "Anak
saya mau dikasih makan apa?" Saya bilang mungkin saya tidak share di  rumah  bapak  tapi  Insya  Allah  tidak  makan  batu.  Kemudian  dia bertanya  lagi, "Pendapatan  kamu  berapa?"  Saya  jawab,  saya  ada beasiswa 200 ribu perbulan. "Selain itu apa lagi?" Saya bilang tidak
ada. "Masih kuliah". Tapi waktu itu istri saya mengancam, kalau tidak kawin dengan saya, dia tidak mau kawin lagi. Akhirnya kita menikah juga. Jadi kita ini ikhwah learning by accident. Belajar dari benturan.
Ikhwah sekalian
Rasanya  saya  sendiri  sebenarnya  tadinya  tidak  pernah  tertarik  mengenal uang lebih jauh. Karena 6 tahun saya di Pesantren juga tidak pernah belajar  uang.  Lima tahun setengah  kuliah di LIPIA Fakultas Syari’ah juga tidak pernah belajar uang kecuali 1 bab dalam pelajaran
Fiqh yaitu kitab zakat, itupun dalam orientasi Amil Zakat, tidak ada orientasi menjadi muzakki. Saya mulai tertarik dengan uang setelah mengalami benturan diawal tadi saya ungkapkan, juga benturan ketika saya di Sekjen. Setelah jadi Sekjen itulah saya mulai menilai ada suatu masalah besar yang akan kita hadapi kalau masalah-masalah ini tidak selesai. Sejak itulah saya mempelajari hal ini. Sebelumnya meskipun saya mengajar Ekonomi Islam di UI, banyak belajar dan membaca masalah-masalah ekonomi, juga banyak membaca buku- buku bisnis
dan bergaul dengan orang-orang bisnis, saya belum seberapa tertarik secara langsung dan punya perhatian secara khusus terhadap masalah uang.  Ketertarikan  itu  mulai  muncul  setelah  mengalami  benturan betapa  sulitnya  kita  mendanai  aktifitas perpolitikan ini.
Bersambung


Uang
Oleh: M. Anis Matta, Lc.

Ikhwah sekalian
Saya ingin bicara 3 point supaya kita lebih terarah dalam soal uang. Pertama,  Mengapa  Islam  menyuruh  kita  kaya.  Kedua,  Mencari penjelasan tentang mengapa kita miskin. Ketiga, Bagaimana kita mulai merekonstruksi kehidupan finansial kita. Ibnu Abid Duni menjelaskan
beberapa alasan tentang mengapa kita semua diperintahkan menjadi kaya  dalam  Islam  itu.  Alasan  Pertama,  karena  harta  itu  tulang punggung kehidupan. Makanya orang kalau punya harta punggungnya rada bungkuk sedikit. Antum lihat orang-orang Amerika kalau datang
ke sini tegap-tegap semua kan , karena punya duit. Pejabat-pejabat keuangan  kita  kumpul  di  CGI  tunduk-tunduk  semua,  karena  mau pinjam duit. Allah mengatakan "Janganlah kamu berikan harta-harta kamu  kepada  orang-orang  bodoh (orang-orang  yang  tidak  sehat akalnya) yaitu harta harta yang telah Allah jadikan kamu sebagai yang membuat punggung tegap". Jadi Hidup kita tidak normal begitu kita tidak punya uang. Kita pasti punya banyak masalah begitu kita tidak punya uang.
Alasan kedua, peredaran uang itu adalah indikator keshalehan atau keburukan  masyarakat.  Apabila  uang  itu  beredar  lebih  banyak ditangan orang-orang jahat maka itu indikasi bahwa masyarakat itu rusak. Apabila uang itu beredar di tangan orang-orang shaleh maka itu
indikasi bahwa masyarakat itu sehat. Masyarakat Indonesia ini rusak salah satu indikasinya karena karena orang-orang shalehnya sebagian besar adalah para fuqara wa masakin. Ahlul Masjid di negeri ini terdiri atas  fuqara  wa  masakin.  Bahkan  sebagian  besar  orang  mungkin
mengunjungi  masjid  bukan  karena  benar-benar  ingin  ke  Masjid, melainkan    karena    tidak    punya    tempat    untuk    dipakai mengaktualisasikan diri. Antum lihat orang- orang tua yang datang ke masjid biasanya orang yang kalah dalam pergulatan sosial. Kalau dia
tentara, biasa setelah pensiun baru dia ke masjid. Kalau dia pedagang biasanya  setelah dia bangkrut  baru dia ke masjid. Rasulullah SAW mengatakan "Sebaik- baik uang itu adalah uang yang beredar diantara orang-orang  shaleh"  Jadi  Apabila  kita  yang  ada  di  sini  tidak
mengendalikan uang yang ada di Riau, itu adalah tanda- tanda yang tidak bagus. Kenapa? karena kalau uang itu berada ditangan orang-orang shaleh maka uang itu akan mengalir di saluran- saluran yang baik. Kalau ibu-ibu disini dibagikan 1 Milyar kira-kira uang itu akan diapakan.  Buat  daftar  belanjanya.  Antum  bisa  lihat  semuanya  itu belanja kebaikan. Pertama, pasti akan dipakai untuk potongan partai. Coba lihat anggota DPR, begitu jadi anggota dewan yang pertama
potongan buat partai. Waktu itu ada teman dari Golkar dan PPP, "Itu dana konstituen diapakan?" Kita jawab itu tidak lewat kita, melainkan langsung ke Dapil (Daerah Pemilihan). Uang yang masuk ke tangan orang  shaleh  pasti  mengalirnya  di  kebaikan juga. "Kalau gajinya berapa di potong? Kalau di Golkar cuma 2,5 juta perbulan di potong". Kalau di PKS itu biasa 50 sampai 60 % dipotong. Jadi antum lihat daftar  belanjanya orang shaleh. Kedua, untuk rihlah, kemungkinan itu pergi umrah  atau  menghajikan  keluarga  atau  naik  haji  sendiri.  Bapak-bapaknya pun kalau punya uang 1 Milyar, tidak jauh- jauh dari situ juga;  infak  buat  partai,  menyenangkan  keluarga,  dan  operasional pribadi untuk dakwah pribadinya juga. Semuanya di jalur kebaikan. Bila ada kenikmatan, tidak mungkin dia pergi judi. Tidak mungkin juga dia pergi ke tempat prostitusi, paling- paling dia cari jalur halal. Tapi coba sebaliknya, kalau uang itu beredar ditangan orang jahat, larinya juga pada kejahatan. Salah seorang saudara saya cerita, waktu itu ada seorang kaya sangat kaya di daerah Indonesia. Orangnya masih hidup sekarang. Dia punya private jet. Saking kayanya, dia suka main judi ke London.  Pesawat  private  jet  itu  jenis  Boeing.  Jadi  kalau  pergi  dia membawa rombongan, biasanya dia parkir disana 1 minggu atau 2 minggu.  Itu  kalau  parkir,  kan  bayar.  Selama  dia  main  judi,  dia persilahkan teman- temannya yang ingin pakai pesawatnya, seperti layaknya meminjamkan mobil. Sekali main, biasanya bisa rugi sampai 5 juta dollar, meskipun kadang- kadang untung 8 juta dollar. Sekali waktu mereka main ke sana, sudah beberapa hari kangen dengan Nasi Padang. Dia bilang ke Pilotnya tolong ke Singapore beli Nasi Padang terus balik lagi ke London. Begitulah cara mereka menggunakan uang. Kalaupun orang kaya itu muslim, tidak berjudi, tapi dia tidak punya visi dakwah, dan tidak hidup untuk satu misi besar dalam hidupnya, dia pasti akan menggunakan uangnya untuk kesenangan pribadi, seperti perhiasan dan seterusnya. Saya punya kawan, kalau dia pakai seluruh perhiasannya kira- kira sekitar 2 juta dollar di badannya, cincinnya 1 juta dollar. Mobilnya ½ juta dollar, jam tangannya biasa sampai 2milyar. Adalagi temannya kira- kira punya 200-an jam tangan. Sebuah jam tangan itu harganya kira- kira 2 milyar. Lebih buruk lagi, kadang-kadang  orang  kaya  yang  tidak  baik  memakai  uangnya  untuk memerangi kebaikan. Itulah yang terjadi ketika orang-orang Yahudi memegang kendali keuangan dunia. Maka dari itu menjadi kaya itu bagi kita adalah satu keharusan, untuk mengembalikan keseimbangan sosial,  kehidupan  di  tengah-  tengah  kita.  Ketiga,  terlalu  banyak perintah syariah yang hanya bisa dilaksanakan dengan uang. Antum lihat 5 rukun Islam, Syahadat tidak pakai uang, sholat tidak pakai uang, puasa tidak pakai uang tapi zakat dan haji pakai uang. Kalau 200 ribu  orang  umat  Islam  Indonesia  tiap  tahun  pergi  haji.  Rata-  rata mengeluarkan 5000 dollar, coba antum kalikan berapa banyak uang yang beredar untuk melaksanakan satu ibadah. Belum lagi Jihad. Jadi kita tidak bisa berjihad kecuali dengan uang. Misalnya kita di Indonesia sekarang mau pergi ke Palestina untuk pergi berperang, tenaga kita tidak diperlukan karena tenaga sudah cukup dengan ada yang disana. Rasul Mengatakan "Siapa yang menyiapkan seseorang bertempur maka dia juga dapat pahala perang". Jadi banyak sekali perintah-perintah Islam yang memerlukan uang. Waktu Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, diantara hadits-hadits pertama yang beliau sampaikan pada waktu itu adalah Afsussalam wa ath’imu tho’am. Jadi mentraktir itu tradisi  nabawiyah.  Sering-seringlah  mentraktir  karena  itu  perintah Nabi,  dan  ini  turunnya  di  Madinah  pada  saat  menjelang  mihwar daulah. Kira- kira di jaman kita inilah, di mihwar dakwah sekarang. Washilul arham dan sambung shilaturrahim. Antum akan melihat nanti di akhir penjelasan saya nanti bahwa ciri-ciri orang maju itu salah satunya adalah kalau belanjanya dalam 3 hal lebih besar daripada belanja kebutuhan lauk- pauknya, salah satunya belanja komunikasi. Jadi kalau biaya pulsa kita lebih tinggi itu indikator yang baik. Itu artinya shilaturrahim kita jalan. Jangan missed call, suruh orang telpon balik. Keempat, Karena harta itu adalah hal- hal yang dibanggakan oleh manusia sehingga menentukan strata sosial. Antum akan lebih berwibawa dan didengar orang kalau punya uang. Apabila tidak punya uang,  biasanya  kita  juga  biasanya  jarang  didengar  oleh  orang. Misalnya  dalam  keluarga.  Antum  bersaudara  ada 7  orang. Kalau kontribusi finansial antum dalam keluarga itu tidak banyak dan bila antum satu-satunya da’i dalam keluarga, dakwah antum juga kurang didengar oleh keluarga. Karena disamping ingin mendengarkan nasihat yang baik orang juga ingin mendapatkan uang yang banyak. Hadiah-hadiah pada hari lebaran, infaq-infaq dan seterusnya dan itu biasanya melancarkan  dakwah  kita.  Saya  hadir  pada  suatu  waktu  di  sidang Ikatan anggota Parlemen Negara-Negara OKI. Setiap kali ada waktu bertanya yang paling pertama diberi kesempatan bertanya itu utusan dari Arab Saudi, sedangkan utusan dari Negara miskin seperti Maroko atau Tunisia biasanya tidak dapat giliran, kalau bukan sendiri yang angkat tangan. Masalah harta ternyata juga berpengaruh pada hal- hal seperti itu.
Pada tahun 1994 saya ke Jerman. Dua tahun baru selesai kuliah, disana saya bertemu dengan salah seorang ikhwah pengusaha yang punya beberapa supermarket disana. Dia datang menemui saya memakai Mercy. Saya protes kepada dia dengan semangat dakwah dan jihad, antum itu tega pakai Mercy, saudara-saudara antum di Palestina di sana  masih  berjuang,  antum  hidup  di  Jerman  ini  pakai  Mercy bagaimana ceritanya. Dia bilang nanti saya jelaskan, antum ikut saya
saja dulu. Saya diajak keliling supermarketnya dulu. Orang itu memang kaya. Sudah keliling dia bilang, di Jerman ini kalau kau ingin ketemu seorang direktur, begitu kamu parkir mobil nanti direktur itu suruh sekretarisnya tengok dia itu pakai mobil apa. Jika kau tidak pakai Mercy
nanti sekretarisnya bilang Direktur sedang tidak ada. Kalau kau pakai Mercy kau disambut baik-baik oleh mereka. Mercy ini wajib disini. Itu hal- hal yang dibangga-banggakan oleh manusia. Dan itu berkali-kali disebutkan dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu sebagai Muslim saya ingin
didengarkan orang, apalagi kita sebagai da'i kita perlu punya wibawa di depan orang. Sebagian dari wibawa itu dibentuk oleh kondisi finansial kita. Ulama- ulama kita juga meriwayatkan bahwa ternyata  diantara  hal-hal  yang  disenangi  oleh  wanita  kepada  laki-laki  salah satunya adalah uangnya. Perempuan itu katanya menyenangi pada laki-laki kalau dia lebih pintar daripada si perempuan, kalau dia lebih kaya  daripada  perempuan,  lebih  kuat  daripada  perempuan.  Dan kepemimpinan itu kan diberikan kepada laki-laki salah satu sebabnya karena kewajiban memberikan nafkah itu. Kalau kita ingin berwibawa di depan istri tolong kewajibannya ditunaikan dengan sempurna. Itu akan menaikkan wibawa kita di depan istri. Seorang istri itu tidak hanya membutuhkan seorang suami yang romantis tapi juga seorang suami yang romantis dan realistis. Ada seorang akhwat berkata kepada saya, saya sebenarnya tidak materialistis tapi masalahnya kita realistis karena kita tidak bisa hidup tanpa materi. Dan kalau materi kita sedikit maka  hidup  kita  juga  tidak  akan  nyaman.  Sedikit  banyak  itu  juga penting. Kelima, harta itu salah satu sebab yang dapat membuat orang itu bisa bahagia di dunia. Jangan lagi pernah bilang "biar miskin asal bahagia". Sekarang perlu kita balik, "biar kaya asal bahagia". Saya ingat guru saya waktu SD selalu mencari kamuflase, bahwa walaupun kita miskin tetap bisa bahagia. Memang bisa, tapi susah. Adalagi yang bilang "uang tidak bisa membeli cinta". Memang tidak bisa, tapi kalau kita jatuh cinta dan punya uang itu lebih enak. Rasulullah SAW realistis sekali ketika dia mengatakan bahwa diantara yang membuat orang itu bahagia adalah: Pertama, Istri yang sholehah, kedua, rumah yang luas, dalam  hadits  lain  disebutkan  kamar-kamar  yang  banyak.  Menurut Syeikh Qordlowy yang disebut kamar-kamar itu minimal enam kamar. Satu buah kamar untuk suami istri, sebuah kamar untuk anak laki- laki, sebuah kamar untuk anak perempuan, sebuah untuk pembantu, dua buah  kamar  lainnya  untuk  kerabat  suami  dan  istri  yang  datang menginap di rumah. Itu 6 kamar tidak termasuk dapur, ruang makan, ruang  keluarga,  ruang  tamu,  perpustakaan  keluarga  dan  musholla. Kelanjutan dari hadits itu, dan kendaraan yang nyaman.
Antum  perhatikan  Rasulullah  mengatakan  rumah  dan  kendaraan. Rumah  itu  adalah  indikator  stabilitas  dan  kendaraan  itu  adalah indikator mobilitas. Rasulullah mengatakan kendaraan yang nyaman bukan sekedar kendaraan. Naik angkot itu kendaraan tapi belum tentu nyaman, tapi kalau ada sedan yang empuk sehingga kita bisa rehat, itu lebih bagus. Pulang mengisi Liqa’, kalau kendaraannya nyaman kan sedikit  mengurangi  kelelahan.  Itu  juga  perlu  garasi.  Jika  suaminya pengurus DPW, istrinya pengurus DPW, maka masing- masing perlu kendaraan juga. Kalau anaknya 7 siapa yang antar anaknya sekolah, jadi minimal perlu 3 mobil. Waktu saya tidak punya mobil, saya punya motor. Anak saya sekolah di al-Hikmah, jadi kalau pulang diantar sama keponakan saya, anak saya diikat, takut kalau tidur sewaktu-waktu bisa jatuh dari motor. Saya bilang saya dosa kalau anak saya sampai meninggal, akhirnya saya menelepon teman saya, "tolong sediakan mobil untuk saya". Itulah pertama kali saya punya mobil. Dosa kita, kasihan anak itu jatuh dari motor. Setengah mati kita pupuk- pupuk, kita lahirkan dengan baik, tapi mati karena kecelakaan begitu. Kalau suaminya  pengurus  DPW  dan  istrinya  aktif  di  salimah  atau  di  Pos Wanita Keadilan, kan perlu mobilitas juga. Masa suaminya pergi pakai mobil, sedangkan istrinya pergi rapat kemana- mana sambil gendong anak. Dia sudah hamil 9 bulan, merawat anak, malam tidak tidur. Kita zhalim juga terhadap istri kalau kita tidak memberikan hal-hal yang membuat  dia  nyaman  dalam  kehidupan.  Untungnya  waktu  kita menikah dulu banyak akhwat kita yang tidak tahu hadits ini. Padahal dalam banyak pendapat di berbagai madzhab misalnya di madzhab Imam  Syafi’i,  apalagi  Imam  Malik,  kewajiban  wanita  itu  yang sebenarnya  hanya  melayani  suami  dan  mendidik  anak,  sedangkan pekerjaan rumah tangga, mencuci dan seterusnya itu tidak termasuk dalam kewajiban wanita. Qiyadah-qiyadah akhwat mengikuti daurah tingkat nasional kemarin di Jakarta. Coba bayangkan akhwat-akhwat kita sebagian besar sarjana. Waktu kuliah dia direkrut kan salah satu alasannya  karena  dia  anshirut  taqyir  dan  otaknya  brilian.  Banyak akhwat kita Indeks Prestasinya 4,1 begitu 10 tahun menikah, dia sudah tidak  nyambung  lagi  dengan  suaminya  kalau  bicara,  karena  dia mengalami  stagnasi  intelektual.  Tiba-tiba  dia  mengerjakan  semua semua  pekerjaan  pembantu  rumah  tangga,  dia  melahirkan  juga, melayani  suami  juga,  memasak  juga,  mencuci  juga,  dan  kadang-kadang  kita  terbawa  oleh  romantika  perjuangan,  rasanya  heroik melihat istri mencuci, suami pulang dakwah dalam keadaan lelah, istri dirumah  mencuci,  mengepel  lantai.  Sepuluh  tahun  kemudian  kita dielus-elus oleh istri, kita pikir sedang dipijit, padahal hanya dielus-elus karena tangannya dipakai untuk mencuci, jadi tangannya sudah bukan tangan ratu. Sementara suami pegang pulpen, pegang kertas karena sibuk mengisi halaqah, sedangkan pekerjaan yang kasar-kasar dikerjakan oleh istri. Sudah saatnya pekerjaan- pekerjaan begitu kita delegasikan kepada mesin. Jangan buang waktu di dapur, di tempat mencuci. Delegasikan kepada mesin. Kita ini orang- orang pilihan dari umat kita. Berapa banyak orang yang sarjana di negeri ini, sedikit. Makanya kalau capres syaratnya S-1 calonnya juga nanti sedikit. Saya tidak setuju kalau capres itu syaratnya S1, tamat SD pun bisalah. Sebagian besar orang ikut. Jadi yang bisa merasakan pendidikan tinggi itu barang elit di negeri ini. Jadi kalau akhwat kita yang sarjana itu setelah  menikah  disuruh  jadi  pembantu  rumah  tangga  atas  nama kesetiaan,  ketaatan,  cinta  dan  sejenisnya  maka  kita  telah  berbuat zalim terhadap SDM kita sendiri. Mungkin akhwat kita itu sabar-sabar, dia menerima keadaan. Tetapi walaupun dia menerima keadaan, kita kehilangan potensi, kita kehilangan umur-umur terbaik. Sebenarnya kalau  dipacu  untuk  dakwah,  untuk  kepentingan lebih besar, lebih strategis, faedah yang didapat pun akanjauh lebih besar, waktu kita ini tidak akan cukup mengerjakan hal- hal tersebut, maka belilah waktu orang  lain.  Hitung-  hitung  kalau  beli  tenaga  pembantu  kita  buka lapangan kerja, kita bukan hanya mendelegasikan pekerjaan kita juga buka pekerjaan bagi orang lain.
Kira-kira itulah 5 alasan mengapa kita perlu kaya. Memang, walaupun kita miskin kita masih bisa bahagia, tapi itu jauh lebih susah. Bahkan terkadang kekayaan itu lebih mendekatkan orang kepada Allah SWT dibanding  kemiskinan.  Makanya  Rasul  mengatakan  tentang  minum
susu,  makan  habbatussauda’,  madu.  Coba  kalau  antum,  misalnya, tidur diatas kasur yang empuk dalam ruangan ber-AC, tidur 2 jam itu bisa  sangat  nyenyak.  Apalagi  minum  susu  hangat  sebelum  tidur. Bangun  pagi  minum  madu  campur  habbatussauda’.  Saya  kira  kita
perlu  memperbaiki  dan  melihat  kembali  pemahaman  keagamaan seperti   ini   secara   benar.   Sehingga   kita   jangan   menganggap kemewahan itu justru melelehkan orang tapi bikin nyaman. Inilah 5 alasan mengapa kita harus kaya.
Bersambung
Uang
Oleh: M. Anis Matta, Lc.

Sekarang  saya  ingin  lebih  jauh  menembus  kembali  mengapa  kita miskin selama ini. Sebabnya kita miskin adalah: Pertama, karena kita memiliki pemahaman agama yang salah. Salah satunya 5 alasan tadi tidak beredar dikalangan kita. Sekarang coba kita tonton acara TV,
nonton acara ceramah subuh di televisi. Kita akan lihat sebagian besar ceramah-ceramah  televisi  itu  menyuruh  orang-orang  miskin  itu semakin miskin atas nama kesabaran. Bahkan ada perang terhadap materialisme, karena kita harus zuhud sekarang. Pemahaman tentang
kezuhudan itu salah satu pemahaman yang paling banyak merusak kita.  Karena  kita  tidak  tahu  bedanya  orang  zuhud  dengan  orang miskin. Imam  Ghazali  mengatakan  orang zuhud  itu  adalah  orang yang punya dunia lalu meninggalkannya dengan sadar. Orang miskin itu adalah orang yang ditinggal dunia. Kalau ada orang miskin tidak dapat makan lalu puasa Senin-Kamis itu bukan orang zuhud. Itu orang miskin yang berusaha memaksimalisasi kondisi keterbatasannya agar tetap dapat pahala. Daripada tidak makan dan tidak dapat pahala lebih
bagus tidak makan dapat pahala. Orang zuhud itu orang pasca dunia kalau orang miskin itu orang pra dunia. Kita lihat Rasulullah SAW itu sudah kaya raya sebelum jadi Nabi. Kemiskinan Rasulullah yang kita baca di hadits-hadits itu adalah kemiskinan atas pilihan. Itu adalah
pilihannya karena dia punya misi yang jauh lebih besar, yakni: yang begini  itu  dia  tidak  perlu  lagi,  sudah  selesai.  Bahkan  Rasulullah mengatakan semua nabi-nabi itu sebagian besarnya kaya. Tidak ada lagi nabi yang diutus setelah nabi Syu’aib melainkan pasti dia berasal darikeluarga kaya dari kaumnya. Rasulullah itu mengenal uang waktu umurnya 8 tahun, dia mulai kerja dan mendapatkan gaji. Pekerjaan pertamanya mengembala kambing. Umur 12 tahun dia sudah pulang pergi luar negeri ikut dalam bisnis keluarga. Umur 15 sampai 19 tahun ikut dalam perang sehingga punya pengalaman milter, Umur 20 tahun Rasul sudah jadi pengusaha investornya adalah Khadijah. Waktu umur 25 tahun dia nikah dengan investornya. Berapa maharnya? Seratus ekor unta. Berapa harga seekor unta sekarang? Jauh lebih mahal dari 1
ekor sapi. Kira- kira 10 juta 1 ekor unta jadi totalnya 1 Milyar. Anak muda 25 tahun punya uang cash 1 Milyar. Itu maharnya tapi yang disimpan itu masih ada. Walaupun Rasulullah SAW setelah menjadi Nabi mengatakan sebaik-baik wanita adalah wanita yang cantik dan
mahar yang murah, itu sebagai sistem tapi tradisi jahiliyah itu status. Oleh  karena  itu,  waktu  pamannya  yang  bernama  Abu  Thalib menyampaikan khutbah nikahnya sebagai  sambutan keluarga pada pernikahan Rasulullah SAW, beliau mengatakan sesungguhnya orang Quraisy  tahu  bahwa  Muhammad  salah  seorang  pemudanya  yang terbaik, yang paling terhormat. Layaklah dia nikah dengan khadijah karena maharnya tersebut. Pemuda 25 tahun punya uang 1 Milyar, sedangkan  kita  25  tahun  baru  selesai  Perguruan  Tinggi  dan  karya terbesar   kita   adalah   menulis   lamaran   kerja.   Ini   pemahaman keagamaan  yang  beredar  dikalangan  kita  yang  membuat  kita  ini miskin. Itu sebabnya di Zaman penjajahan dahulu para penjajah itu
dengan  sengaja  menghidupkan  kelompok-kelompok  sufi  di  tengah masyarakat. Paham sufiyah dihidupkan supaya orang- orang miskin itu tidak pernah bermimpi menjadi kaya dan merasa benar bahwa dia miskin. Maka langkah pertama menuju kekayaan adalah perbaiki dulu
pemahaman  keagamaan  kita.  Saya  dahulu  sekolah  di  pesantren  6 tahun, tempatnya dulu itu di hutan, bahkan tidak ada mobil lewat di sana, kalau kita ingin mendapatkan kendaraan umum kita harus jalan 3  km  terlebih  dahulu.  Pada  suatu  hari  ada  badai  datang  dan
menerbangkan seluruh atap gedung, masjid, dan seluruh benda yang ada disitu. Semuanya mudah diterbangkan karena bangunan yang ada adalah bangunan murah semuanya. Tiap hari kita makan hanya nasi dan kecap selama 6 tahun. Setiap kali kita makan, guru saya selalu
bilang ini nasi akan membuat kamu besar. Cuma butuh waktu. Karena itu  fisik  saya  kecil  karena  pada  masa  pertumbuhan  kita  tidak mendapatkan gizi yang baik dengan alasan latihan, sabar, perjuangan. Waktu itu saya bilang ini sekolah sengaja disimpan jauh dari  kota
karena  kota  itu  neraka,  disini  kita  hidup  dengan  cara  yang benar. Waktu itu saya mau ke Jakarta untuk kuliah, saya minta guru saya istikharah  buat  saya,  satu  bulan  kemudian  saya  datang  dan  dia menganjurkan kepada saya untuk kuliah di Jakarta saja di LIPIA, karena
LIPIA  itu  selingkar  syurga  yang  dikelilingi  oleh  neraka.  Itulah pemahaman keagamaan yang kita warisi. Waktu saya kuliah di LIPIAjuga belajar syariah namun tetap  tidak ada yang mengajarkan kita pemahaman keagamaan yang benar tentang kekayaan. Kedua, karena
kita tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang tidak mengajarkan kita dasar-dasar yang benar untuk menegakkan kehidupan. Lihat kurikulum yang kita pelajari. Tidak satupun yang kita pelajari di sekolah itu benar-benar kita pakai dalam kehidupan real kita. Sekarang belajar bahasa Inggris sejak kelas 4 SD sampai Perguruan Tinggi. Tahun pertama itu 10 tahun, tetapi TOEFL kita tidak bagus-bagus. Padahal bahasa itu adalah sarana komunikasi yang seharusnya menjadi basic. Begitu juga tentang uang. Kita tidak pernah sama sekali belajar disekolah tentang
uang. Saya dulu belajar hitung dagang di sekolah tapi itu pelajaran yang  paling  kita  tidak  suka.  Jadi  lingkungan  pendidikan  kita  juga seperti  itu.  Setelah  kita  tarbiyah  pun  hal-hal  seperti  itu  belum diajarkan. Mungkin karena satu hikmah ataupun lainnya yang tidak kita
ketahui. Tetapi kalau kita membaca literatur yang ditulis oleh Imam Hasan Al- Banna, sebenarnya perhatian ke arah ekonomi itu justru malah  lebih  besar  dari  awalnya.  Bahkan  muncul  gagasan  ekonomi Islam itu adalah anjuran dari beliau. Salah satu rintisan dari beliau
untuk memperbaiki kehidupan ekonomi ummat Islam. Oleh karena itu saya  menganjurkan  kepada  ikhwah  di  kaderisasi  untuk  segera membuat materi tatsqif tentang uang, karena itu perlu. Ketiga, karena kita ini memiliki ciri- ciri orang miskin dalam kepribadian. Ciri orang
miskin: Pertama, orang miskin itu tidak pernah bermimpi jadi orang kaya. Kalau kita baca buku The Millionaire Mind (pemikiran milioner), di dalam buku tersebut disebutkan fakta bahwa di kalangan orang miskin itu  berkembang  ide-ide  yang  membuat  mereka  itu  miskin.  Salah
satunya karena memang mereka tidak punya mimpi jadi orang kaya. Waktu sekolah saya pernah ikut kursus keterampilan membuat sepatu,jadi saya bisa membuat sepatu. Karena kita mindset-nya disiapkan untuk  menjadi  buruh,  kalau  tidak  bisa  menjadi  guru  bahasa  Arab
akhirnya menjadi tukang sepatu. Kita lihat rintisannya. Jadi kita tidak pernah punya mimpi untuk menjadi kaya. Contohnya, kalau kita lihat orang pakai mobil Mercy, tidak pernah terpikir oleh kita kalau kita juga ingin punya mobil Mercy. Yang terpikir oleh kita adalah tega-teganya
orang ini pakai Mercy.
Pertama kali Ketua Majelis Syuro membangun rumah, banyak sekali ikhwah yang protes. Saya bilang kenapa kalian protes. Dia pinjam uang antum. Saya datang ke rumahnya, Masya Allah rumahnya bagus. Ya Allah berikanlah saya model rumah yang seperti ini. Kalau kita melihat
mobil bagus, rumah bagus, hinggap sebentar di mobil itu, sapu baik-baik lalu berdo’alah. Ketika tinggal di rumah mertua, saya bisa tinggal di tempat yang luasnya beberapa ribu meter. Cuma saya bilang, saya tidak ingin didominasi oleh mertua. Jadi setelah menikah saya bilang
saya mau keluar dari rumah ini. Kata mertua saya, "Kamu mau tinggal dimana?" Itu urusan saya, satu tahun saya sudah tinggal di sini. Saya keluar. Lalu saya kontrak rumah. Rumah saya itu mirip kandang ayam, triplek-triplek saja. Ada 3 petak rumah, kalau kita bersin disini akan
terdengar oleh semua tetangga. Lantainya sebagian itu berupa tanah dan saya pun tidak punya kasur. Saya punya kasur setelah anak ke-3 saya lahir. Istri saya kalau sudah hari Sabtu atau Minggu mengajak pulang. Saya tahu dia ingin balik ke sana, Tapi kita belajar menata hidup kita sendiri, tidak tergantung dari orang. Setiap hari saya lewat di  depan  sebuah  rumah  besar  halamannya  luas.  Kalau  saya  lewat rumah itu saya berjalan pelan-pelan sambil menunggu bis dari Al-Manar. Saya melewati rumah itu yang terletak di pojok halaman yang luas  dan  ada  banyak  pohon-pohonan.  Saya  usap  itu  temboknya. Alhamdulillah rumah itu menjadi rumah saya. Apabila saudara antum punya mobil, antum jangan marah padanya. Jangan Tanya uangnya
dari mana. Jangan Tanya seperti itu. Antum pegang mobilnya, usap-usap  mobilnya.  Sekarang  kalau  saya  mau  ke  DPP  tiap  hari  lewat Menteng, lewati rumah yang bagus-bagus, disitu juga ada masjid yang besar bernama Sunda Kelapa. Saya suka berdo’a juga disitu. Ya Allah,
saya ingin tinggal disamping masjid ini, bagaimana caranya atur   ya Allah. Syurga aja kita pinta, apalagi rumah. Suatu waktu saya pernah naik private jet punya Abu Rizal Bakrie waktu itu jauh sebelum era partai karena saya suka ceramah di rumahnya. Kita pergi naik private jet nya. Enak juga naik private jet. Saya berdo’a juga disitu. Saya juga ingin yang seperti ini karena enak. Syurga aja kita pinta apalagi seperti ini. Kemarin Muraqib ’Am ditanya oleh kader. Kadernya
protes, "Ustadz  Hilmi  anggota  dewannya  sudah  mulai  pada  borju semuanya.  Di  jawab  oleh  ustadz  Hilmi  mereka  tidak  borju  Cuma menyesuaikan  penampilan  dengan  lingkungan  pergaulannya.  Jadi kalau ikhwah pada kaya-kaya saya juga bahagia. Saya paling senang
kalau ada ikhwah yang punya private jet, perlu didorong itu. Jadi kita tidak perlu belanja tiket lagi kalau ingin ke Riau. Tidak terikat dengan jadwal penerbangan regular. Dan saya Tanya harga private jet itu, setidak-tidaknya kita sudah tahu harga private jet itu. Sewaktu-waktu
saya naik mobil Land Cruiser punya teman saya, mobil saya Kijang. Saya bilang mobilmu lebih enak dari mobil saya. Dia bilang kenapa. Saya bilang saya pikir mobil saya itu lebih enak dimuka bumi, ternyata mobil bapak lebih enak. Memang mobil kamu apa, saya jawab Kijang.
Dia bilang, "Oh itu mobil masa lalu saya".
Ikhwah sekalian.
Karakter  orang  miskin  itu  harus  kita  hilangkan,  itu  sebabnya  kita miskin. Karena tidak punya mimpi menjadi orang kaya. Kedua, kita ini umumnya tidak ulet. Senang difasilitasi. Dan, ada karakter yang buruk di Melayu, pada umumnya senang diberi hadiah daripada memberi hadiah.  Bahagia  dan  bangga  kalau  ditraktir  makan  daripada  kalau mentraktir makan. Kalau kita ingin menjelaskan orang Cina lebih kaya dibanding kita di negeri ini, karena dia lebih rajin bekerja. Saya pernah mengisi pelatihan di Telkom, saya suruh tulis mimpi-mimpi mereka semua. Saya kasih kertas besar, mereka menulis dan menggambar. Hampir semua mereka membuat gambar yang sama. Sebuah rumah disampingnya ada sawah-sawah, disampingnya ada masjid, kemudian ada pesawat terbang dan ada ka’bah. Saya harus menjelaskan. Dia bilang  nanti  saya  berharap  insya  Allah sudah naik haji sebelum pensiun,  setelah  pensiun  nanti  saya  punya  rumah  di  desa di sampingnya ada sawah-sawah, disampingnya lagi ada masjid. Jadi dia
Ibadah kerjanya. Saya bilang bapak pensiun umur berapa. Dia bilang 55 tahun. Mau menghabiskan sisa umur di desa di samping masjid dan di samping sawah. Kalau bapak diberi umur 80 tahun oleh Allah SWT berapa sisa umur bapak, 25 tahun akan bapak habiskan disamping sawah.  Begitu cara  kita  berfikir, kita  menghindari  tantangan.  Saya pernah  ceramah  di  Direktur  BULOG,  dia  mau  pensiun  dini,  dia tinggalnya  di  Patra  Kuningan  dekat  rumahnya  Pak  Habibie.  Saya diminta  mengisi  ceramah  di  rumahnya  tentang  menajemen  harta untuk lansia. Yang hadir itu angkatan 63 UGM dari Fakultas Ekonomi
semuanya.  Saya  bilang  bapak  setelah  pensiun  nanti  mau  tinggal dimana. Dia bilang mau balik ke kampung halamannya di Solo. Saya Tanya Solonya dimana. Dia bilang agak ke pinggir sedikit. Dia sudah punya rumah di sana, di sampingnya ada sawah-sawah, ada masjid,
persis  seperti  gambar  orang  Telkom  itu.  Saya  bilang  kenapa  tidak tinggal di Jakarta. Dia bilang siapa yang bisa tahan tinggal di Jakarta setelah  pensiun.  Biaya  mahal,  anak  saya  sedang  pada  kuliah semuanya  saya  tidak  kuat  nanggung.  Coba  kita  lihat  waktu
pendapatan kita berkurang yang kita lakukan itu adalah mereduksi dan mengurangi  kegiatan  kita  supaya  kita  menyesuaikan  diri  dengan pendapatan,  seharusnya  ketika  pendapatan  kita  berkurang  bukan kegiatan  yang  kita  reduksi  tapi  yang  kita  lakukan  adalah  tetap
memperbanyak  kegiatan  dan  menambah  pendapatan.  Jadi  saya bayangkan kalau bapak di kasih umur 80 tahun, bapak akan tinggal di kampung itu selama 25 tahun. Sekarang saya coba menghayal-hayalkira-kira  jadwal hariannya seperti apa. Jam 3 insya Allah dia akan
bangun qiyamul lail sampai subuh dia sudah tidak tidur karena orang kalau sudah diatas 40 tahun kebutuhan tidurnya sebetulnya   cuma 2 jam, setelah subuh mungkin dia nanti wirid, setelah itu dia pergi jalan pagi, mungkin aktifitas jalan pagi dan lainnya selesai jam 7. Setelah itu
dia  mandi  lalu  sarapan  dia  baca  Koran.  Katakanlah  selesai  jam  9. Setelah itu dia shalat dhuha. Setelah itu tanda Tanya karena tidak ada kegiatan yang dia lakukan. Lalu masuk waktu zuhur sebelumnya dia punya waktu 3 jam, setelah itu dia makan siang setelah itu dia bangun
tidur siang, bangun ketika ashar. Ashar sampai maghrib dia lakukan duduk-duduk  di  teras  minum  kopi  sambil  memandang  sawah. Sebelum  maghrib  dia  mandi,  setelah  maghrib  dia  makan  malam sampai isya mungkin dia mengaji. Setelah shalat isya melihat televisi sebentar setelah itu dia tidur lagi. Kita lihat tidak ada waktunya yang produktif. Orang ini 25 tahun menunggu kematian. Kematian itu tidak perlu  ditunggu  nanti  dia  akan  datang  sendiri  kenapa  kita  tunggu-tunggu dia. Kita lihat cara kita merencanakan hidup. Seharusnya di
usia seperti itulah kita bekerja makin giat karena jadwal kita makin dekat.  Kematian  kita  makin  dekat  bukan makin terserah tetapi begitulah pikiran yang ada pada orang-orang miskin, orang-orang ini tidak ulet, menghindari tantangan, tidak ingin kerja keras. Karena itu rata-rata  jadwal  kerja  orang  miskin  itu  dibawah  8  jam.  Sementara jadwal kerja orang kaya itu diatas 15 jam. Wajar kalau mereka jadi kaya karena jam kerja mereka juga banyak.
Bersambung

Uang
Oleh: M. Anis Matta, Lc.

** di masa yang akan datang tidak bisa mengendalikan kehidupan ini semuanya kalau hanya berkuasa di Negara tetapi tidak menguasai pasar.  Tidak  mungkin.  Sekarang  ini  kita  akan  menemukan  secara individu, banyak individu yang lebih kaya dari Negara. Oleh karena itu
gabungan  dari  beberapa  individu  justru  dapat  dengan  mudah mengintervensi Negara dan memiskinkan Negara. Kalau kita hanya masuk  ke  dewan,  padahal  dewan  itu  hanyalah  bagian  kecil  dalam panggung Negara, masih ada eksekutif masih ada yudikatif. Kita hanya
punya sedikit di dewan itu, dan di dewan itu masih sedikit pula. Kita lihat daerah kekuasaan kita, dakwah ini ke depan hanya bisa menekan, menguasai,  mengendalikan  situasi  kalau  kita  punya  orang  yang terdistribusi  secara  merata,  memimpin  Negara,  memimpin  civil
society, dan memimpin pasar. Baru kita akan digjaya sebagai sebuah gerakan dakwah.
Ketiga, bagaimana kita memulai membangun kehidupan financial kita. Pertama,  perbaiki  ide  kita  tentang  uang.  Ide  itu  adalah  wilayah kemungkinan, "space of possibility". Semua yang menjadi mungkin dalam  ide  kita  pasti  akan  menjadi  mungkin  dalam  realita.  Ide  itu
adalah  tempat  penciptaan  pertama  sedangkan  realitas  itu  adalah tempat penciptaan kedua. Jadi tidak ada realitas yang terjadi dalam kehidupan ini tanpa sebelumnya tercipta pertama kali dalam ide-ide kita.  Sebelum  pesawat  terbang  itu  di  ciptakan  yang  pertama  kali dahulu adalah ide bagaimana manusia dapat terbang seperti burung. Jadi  begitu  sesuatu  jadi  mungkin  dalam  ide  kita,  ia  bisa  menjadi mungkin dalam kenyataan.
Sekarang  perbaikilah  ide-ide  kita  tentang  uang.  Belajarlah  untuk mempunyai  mimpi  besar  tentang  uang.  Belajarlah  untuk  membuat daftar  rencana,  Insya  Allah  ketika  saya  meninggal  nanti  saya mewariskan sekian banyak uang. Buatlah step ide ini luas. Karena
kalau space of possibility kita ini luas maka space of reality kita jadi luas. Kalau kita lihat mobil, belajarlah mempunyai selera yang bagus.
Supaya  ide-  ide  ini  tumbuh  dengan  baik  kita  perlu  dari  sekarang membaca sebuah buku tentang uang. Bacalah buku diantaranya The Millionaire Mind, ada dua buku yang ditulis oleh penulis yang sama karena ini adalah risetnya. Selanjutnya The Millionare Dead. Ini adalah penelitian yang dilakukan terhadap cara berpikir orang- orang kaya yang  ada  di  Amerika.  Kemudian  buku  One  Minute  Millionaire (Bagaimana  menjadi  Milliuner  dalam  1  menit)  dan  ini  juga  punya website, kita bisa masuk websitenya, mereka punya psikotest kalau
kita ingin mengetahui apakah kita punya talenta jadi orang kaya atau tidak. Alamat websitenya www.oneminutemillionaire.com.
Buku yang ketiga adalah semua buku Robert T. Kiyosaki. Yang ke-4 ini buku lama tapi termasuk buku- buku awal yang dibaca orang tentang uang yaitu buku yang ditulis oleh Napoleon Hill, Think and Grow Rich, Berfikir dan menjadi Kaya. Buku terakhir ini adalah buku yang sangat lama karena diterbitkan pada tahun 80-an dan ditulis tahun 70-an, tapi menurut saya, saya rasa masih relevan untuk dibaca. Ini buku- buku dasar  semuanya  bagi  pemula.  Dan  saya  rasa  penting  juga  untuk mendapatkan landasan syar’i yang bagus tentang hal ini apabila kita
baca juga buku yang ditulis oleh syeikh Yusuf Qordlowi tentang nilai-nilai moral dalam ekonomi Islam.
Perbaiki dahulu ide kita tentang uang, perbaiki tsaqafah tentang uang dan  mulailah  mempunyai  mimpi  besar  untuk  menjadi  orang  kaya, supaya  kita  Insya  Allah  naik  derajatnya  dari  amil  zakat  menjadi muzakki. Supaya kita datang kepada orang jangan lagi bawa proposal, itu yang benar. Sering-seringlah ke tempat-tempat mewah, jalan-jalan saja untuk memperbaiki selera.
Saya  punya  1  halaqah  yang  terdiri  dari  anak-  anak  LIPIA.  Mereka datangnya dari kampung, dari pesantren semuanya. Saya tahu mereka membawa  background,  di  backmind-nya  itu  ada  psikologi  orang kampung yang tidak pernah bermimpi menjadi orang kaya. Saya Tanya kamu nanti setelah selesai dari LIPIA mau kemana? Mereka bilang Insya Allah kita mau pulang ke kampung mengajar ma’had, mengajar bahasa Arab. Suatu hari saya ajak mereka, hari ini tidak liqa’, tetapi saya tunggu kalian di Hotel Mulia. Saya ada di suatu tempat dan mereka tidak melihat saya. Saya suruh mereka berdiri di lobby. Mereka datang pakai ransel karena mahasiswa datang pakai ransel, diperiksa lama  oleh  security,  karena  penampilannya  sebagai  orang  miskin dicurigai membawa bom. Saya lihat dari atas. Itu masalah strata, kalau antum datang pakai jas dan dasi tidak ada yang periksa antum di situ, karena yang datang pakai ransel tampang kumuh. Kemudian mereka bertanya dimana antum ustadz, saya bilang antum tunggu saja disitu. Saya  dekat  mereka  tapi  mereka  tidak  bisa  melihat,  saya  hanya memperhatikan apa yang mereka lakukan. Kira- kira 2 jam mereka saya suruh di situ, mondar-mandir di lobby. Minggu depan saya tanya apa yang antum lihat disana. Orang lalu lalang, jawab mereka. Saya
Tanya, pertama, apakah ada satu orang yang lalu lalang yang antum lihat yang mukanya jelek, dia bilang tidak ada. Semuanya ganteng semuanya cantik-cantik. Jadi ada korelasi antara wajah dan kekayaan. Makin kaya seseorang makin baik wajahnya. Kedua, ada tidak yang memakai pakaian yang tidak rapi kecuali antum. Dia bilang tidak ada, semuanya rapi. Jadi dengan latihan seperti ini pikirannya sedikit  mulai  terbuka.  Karena  ia  membawa  bibit  dalam  pikirannya untuk menjadi orang miskin. Sekarang Alhamdulillah, mereka bertiga sekarang ini sedang kuliah di UI ambil S2 Ekonomi Islam.
Ikhwah sekalian
Jadi kita perbaiki insting kita. Pertama kali kita perbaiki tsaqafah kita. Jadi hadirkan buku-buku itu ke dalam rumah dan mulai dari sekarang anak-anak kita juga mulai di ajari tentang uang. Ikutilah kursus-kursus tentang entrepreneurship supaya kita dapat memperbaiki dulu citra
kita  tentang  uang.  Kedua,  menyiapkan  diri  untuk  menjadi  kaya. Orang- orang kaya yang bijak itu mempunyai nasehat yang bagus, mereka mengatakan "sebelum anda menjadi kaya latihanlah terlebih dahulu menjadi kaya". Hiduplah dengan hidup gaya orang kaya. Orang
kaya itu optimis. Bagi orang kaya biasanya tidak ada yang susah. Bagi mereka semuanya mungkin, karena itu mereka selalu optimis. Jadi yang harus dihilangkan dari kita adalah pesimis. Saya punya seorang teman sekarang jadi kaya, dia datang ke Jakarta hanya sebagai pelatih
karate dan tidak ada duitnya, tapi supaya tidak ketahuan oleh istrinya bahwa dia tidak punya pekerjaan, setiap habis sholat subuh dia pergi lari untuk olahraga, setelah itu dia memakai pakaian rapi lalu keluar rumah. Dia juga tidak tahu mau kemana yang penting keluar rumah.
Istrinya tidak tahu kalau dia tidak punya pekerjaan. Nanti di jalan baru ditentukan siapa yang dia temui hari ini.
Langkah pertama perbaiki dahulu sirkulasi darah kita, olahraga dulu, supaya  wajah  segar,  makan  yang  banyak.  Banyaklah  makan  yang enak, daging. Sering- seringlah makan yang enak. Menurut Utsman bin Affan  makanan  paling  enak  itu  adalah  kambing  muda.  Setiap  hari mereka  makan  kambing  muda.  Makan  yang  enak,  olah  raga  yang bagus supaya wajah kita berseri. Syeikh Muhammad Al-Ghozali dalam kitab  Jaddid  Hayataka  mengatakan  kenapa  orang-orang  Barat  itu pipinya  merah,  karena  sirkulasi  darahnya  bagus,  gizinya  bagus.
Sedangkan kita orang- orang Timur kalau ketemu itu auranya pesimis, tidak ada harapan. Biasakanlah kalau orang ketemu kita ada harapan yang terlihat, makanya kalau pilih warna baju pilihlah yang cerah-cerah. Ibnu Taimiyah mengatakan ada hubungan antara madzhab dan
batin  kita,  pakaian  apa  yang  kita  pakai  itu  mempengaruhi  kondisi kejiwaan kita. Jangan pakai pakaian orang tua. Ada anak umur 25 tahun pakaiannya pakaian orang tua, bagaimana nanti kalau umurnya 50 tahun pakaiannya seperti apa. Tampillah sebagai anak muda. Cukur
rambut yang bagus, cukur kumis yang rapi janggut dirapikan. Rapi, supaya  kita  kelihatan  ada  optimisme. Belajarlah sedikit latihan menatap supaya sorotan mata kita kuat, perlu sedikit latihan menatap
Misalnya di pagi hari atau sore hari menjelang matahari terbenam, antum tatap matahari dan tidak berkedip matanya. Kalau bisa antum bertahan 1 menit itu bagus. Latihan saja sendiri. Di dalam kamar ambil lilin, matikan lampu, antum tatap lilin dan matanya tidak berkedip dan
tidak berarir. Nanti kalau sudah terbiasa pandangan matanya kuat. Jadi kalau  olahraga  teratur,  sirkulasi  udara  bagus,  pikiran  jadi  segar, tsaqafah kita bertambah mulai memakai pakaian yang cerah-cerah. Makanya Rasulullah itu senangnya memakai baju putih. Jangan pakai
yang  gelap-gelap  atau  warna  yang  tidak  menunjukkan  semangat hidup. Jangan juga berpenampilan seperti orang tua.
Sekadar untuk menunjukkan kita ini kelompok orang-orang shaleh kita pakai baju taqwa, itu pakaian orang Cina. Pakailah baju yang segar agar dapat menunjukkan bahwa kita ada semangat. Walaupun anda sudah  berumur  pun  tetap  pakai  pakaian  yang  muda,  jangan berpenampilan tua. Artinya kita harus merendahkan diri, sebab uban tanpa diundang dia akan datang. Jadi tidak perlu menua-nuakan diri dengan sekadar tampil kelihatan dewasa, tua, bijak. Tampillah sebagai
anak muda yang gesit dan optimis. Ketiga, bergaullah dengan orang-orang kaya, perbanyak teman-teman antum dari kalangan tersebut. Ini tidak bertentangan dengan hadits yang mengatakan bahwa bab rezeki lihatlah  kepada  yang  dibawah  dan  jangan  lihat  yang  ada  di  atas. Antum tidak sedang tamak ke hartanya, tetapi antum sedang belajar kepada mereka.
Dahulu saya suka ceramah di kalangan orang- orang kaya. Waktu saya ceramah di rumahnya Abu Rizal Bakrie yang saat itu sedang berduit-duitnya, saya duduk dalam 1 karpet, ketika krismon pada waktu itu, sekretarisnya bilang pada waktu itu, tahu tidak berapa harga karpet
ini. Saya bilang saya tidak tahu, saya pikir sajadah biasa. Dia bilang karpet  itu  harganya  100  ribu  Dollar.  Karpet  kecil  harganya  1,6  M. Waktu saya selesai ceramah dikasih amplop, amplopnya tipis. Saya bilang sama sekretarisnya. Ini amplop kembalikan kepada dia. Bilang
sama beliau saya cuma ingin berkawan dengan dia. Dia belajar agama sama saya, saya belajar dunia sama dia. Kalau saya terima ini, nanti saya dianggap ustadz dan dia tidak dengar kata- kata saya. Saya mau bersahabat dengan dia. Jangan kasih saya amplop lain kali. Supaya kita bergaul. Setiap kali saya datang ke kelompok yang pengusaha kaya itu saya selalu menolak, saya tidak terima ini saya ingin bergaul dengan bapak, saya ingin jadi  teman.  Alhamdulillah dari situ saya
banyak teman dari kelompok orang- orang kaya, dan kalau datang, kita belajar. Saya bertanya sama mereka kenapa begini, bagaimana caranya, bertanya kita belajar. Memang di jurusan saya dia belajar dari saya kalau ada yang perlu dido’akan panggil saya, bisa. Tapi kan saya tidak punya ilmu bikin duit sebelumnya, saya perlu belajar dari orang yang ahli. Jadi dalam bab itu saya murid, dalam bab saya dia murid.
Jangan karena kita sering ceramah, terus semua orang kita anggap murid dalam segala aspek. Saya bergaul dengan orang-orang kaya dan saya belajar dengan mereka. Saya belajar bagaimana caranya bikin duit, bagaimana caranya bikin perusahaan sama-sama dan saya tidak malu. Bergaul dengan mereka itu dari sekarang. Jangan tamak pada hartanya tetapi ambil ilmunya. Jangan minder bergaul dengan orang kaya seperti itu.
Awal lahirnya reformasi, setelah kalah dalam pemilu 1999, kita Poros Tengah kumpul di rumahnya Fuad Bawazir. Semua orang diam, ada Amin Rais, Yusril, semuanya diam karena malu. Karenanya kita semua kalah, tadinya sombong semua. Pak Amin Rais mengatakan sebelum Pemilu "Nanti Golkar kita lipat-lipat, kita tekuk-tekuk, kita kuburkan di masa lalu". Tidak tahunya Golkar masih di nomor 2. Partainya Pak Amin  rendah  perolehan  suaranya.  Suara  umat  Islam  rendah.  Jadi berkumpullah orang- orang kalah ini semua dalam 2 hari. Waktu itu Pak  Amin  sedang  dikejar-kejar  terus  oleh  Dubes  Amerika  untuk membuat pernyataan bahwa pemenang pemilu legislatif yang paling layak jadi Presiden, tapi Pak Amin menghindar. Jadi saya datang ke rumah Pak Fuad Bawazier. Saya bilang Pak Fuad, saya ini bukan orang politik, saya ini ustadz. Yang saya pelajari dalam syariat kita ini kalau kita sedang kalah seperti ini jalan keluarnya adalah i’tikaf, kita belajar banyak  istighfar,  tilawah  dan  seterusnya.  Jauhi  dulu  wartawan, mungkin dosa-dosa kita banyak sehingga kita kalah. Dia bilang bener juga  ya.  Cuma  kalau  kita  i’tikaf  di  Indonesia  tetap  saja  diketahui wartawan. Kalau begitu kita umrah. Antum ikut ya dari PKS umrah. 4 orang dari PAN, dari PKS sekitar 3 orang. 4 orang ini naik bisnis first class, sedang kita dikasih ekonomi. Yang beli tiket dia soalnya. Mau diprotes bagaimana. Kita cuma dihargai begini, terima apa adanya dahulu. Tapi waktu itu dengan lugu datang menghadap Pak Fuad. Saya bilang Pak Fuad berapa harga tiket first class. Dia bilang pokoknya 2 kali lipat harga ekonomi. Jadi kalau tiket ekonomi pada waktu itu 1000 Dollar harga first class itu sekitar 2000 Dollar. Kenapa kita tidak sama-sama saja di kelas ekonomi, dan selisihnya kita infaqkan untuk orang miskin. Ini kan masyarakat kita lagi susah. Dia ketawa dia bilang ya akhi, nanti ana infaq lagi insya Allah untuk orang faqir, tapi ana tolong dong di first class tidak mungkin ana turun di kelas bawah.
Kita  tidak  tahu  apa  nilai  yang  berkembang  pada  orang  kaya, kenyamanan itu adalah nilai pada mereka. Mereka menghemat energi, tenaga. Dan, angka besar pada kita itu angka kecil bagi mereka. Uang 1 Milyar 2 Milyar itu uang jajan. Kalau kita, belum tentu punya tabungan sampai mati seperti itu. Itu masalah cita rasa. Cita rasa pada orang kaya itu berbeda. Ini yang kita pelajari, yang dianggap besar oleh mereka adalah ini. Dengan begitu kita menjiplak sedikit emosinya. Karena dalam pergaulan itu, kalau kita bergaul dengan seseorang itu, kalau bukan api dia parfum. Kalau dia parfum dia menyebarkan wangi, kalau dia api menyebarkan panas. Orang jahat itu api, kalau antum dekat-dekat akan menyebarkan panas. Orang baik itu parfum, kalau
antum  dekat-dekat  setidak-tidaknya  bau  badan  kita  tertutupi  oleh parfum tersebut. Jadi ikut-ikut karena kita perbaiki selera. Jadi kalau antum punya waktu kosong jalan-jalanlah ke mall, lihat-lihat orang kaya  tidak  usah  belanja,  lihat-lihat  saja  dulu,  memperbaiki  selera.
Datanglah ke showroom mobil, datang ke pameran mobil. Lihat-lihat, pegang-pegang.  Rajinlah  berdo’a.  Bergaullah  dengan  orang  kaya. Selain  itu,  rajinlah  berinfaq  walaupun  kita  miskin.  Gunanya  apa? Supaya antum tetap menganggap uang itu kecil dan supaya tidak ada
angka besar dalam fikiran kita. Misalnya kita punya 10 juta, infaqkan. Supaya antum meneguhkan, mesti ada yang lebih besar dari ini. Jadi angka   itu   terus   bertambah   di   kepala   kita,   walaupun   dalam kenyataannya  belum.  Tetapi  dengan  berinfaq  seperti  itu,  kita
memperbaiki cita rasa kita tentang angka. Bukan sekedar dapat pahala tetapi efek tarbawi-nya bagi kita akan bertambah terus.
Kita belum pernah merasakan bagaimana menginfaqkan mobil, sekali waktu kita berusaha untuk menginfaqkan mobil. Begitu antum punya uang sedikit terus berinfaq, terus seperti itu kita latih sampai menjaga jarak.  Kita  membuat  sirkulasi  jadi  bagus.  Kelima  adalah  mulailah
melakukan bisnis real. Terjun ke dalam bisnis secara langsung. Karena Rasulullah  SAW  mengatakan 9  per 10  rezeki  itu  ada  dalam  hal perdagangan. Saya juga ingin menasehati ikhwah-ikhwah yang sudah jadi anggota DPR dan DPRD, jangan mengandalkan mata pencaharian dari gaji DPR dan DPRD. Itu bahaya. Sebab belum tentu kader-kader di Riau  ini  nanti  masih  menginginkan  Pak  Khairul  untuk  periode selanjutnya. Belum tentu juga juga jama’ah menunjuk kita lagi sebagai anggota dewan, padahal gaya hidup sudah berubah. Anak-anak kita kalau kenalan dengan orang, bapak saya anggota dewan padahal itu hanya sirkulasi. Jadi setiap kali kita mendapatkan pendapatan dari gaji karena  pekerjaan  seperti  ini,  kita  harus  hati-hati  itu  bahaya.  Jadi pendapatan paling bagus itu tetap dari bisnis. Oleh karena itu, mulai sekarang itu belajarlah terjun ke dunia bisnis.
Jatuh bangun waktu bisnis tidak ada masalah, terus saja belajar. Tidak ada juga orang langsung jadi kaya. Yang antum perlu terus berbisnis. Begitu juga dengan para ustadz, teruslah bisnis. Begitu juga dengan seluruh  pengurus  DPW-DPD  dan  seterusnya.  Teruslah  berbisnis.
Lakukan  bisnis  sendiri  sekecil-kecilnya.  Tidak  boleh  tidak.  Itulah sumber rezeki yang sebenarnya. Kalau antum mau kaya sumbernya adalah dagang. Rezeki itu datangnya dari 20 pintu, 19 pintu datangnya dari  pedagang  dan  hanya 1  pintu  untuk  yang  bekerja  dengan keterampilan tangannya, yaitu professional. Misalnya akuntan itukan professional, pekerja pintar, tapi kalau sumber rezekinya satu makanya uangnya terbatas. DPR juga begitu sumbernya satu, yakni gaji bulanan itu hanya 5 tahun. Itu pun kalau tidak di PAW sebelumnya. Jadi kalau saya  ketemu  dengan  ikhwah  dari  dewan,  hati-hati  jangan  sampai mengandalkan mata pencaharian dari situ.
Selain itu potongan dari DPP, DPW, DPD juga besar. Untuk ma’isyah sendiri kita harus cari sumber lain. Waktu kita terjun ke bisnis, kita pasti gagal. Gagal pertama, gagal kedua, gagal ketiga, gagal keempat tapi teruslah jangan pernah putus asa. Saya punya partner bisnis. Dia
mulai bisnis umur 16 tahun, semua jenis pekerjaan sudah dia lakukan. Pada  suatu  waktu  dia  mempunyai 38  perusahaan  tapi  dari 38 perusahaan ini hanya 6 yang menghasilkan uang. Kita lihat berapa ruginya. Jadi seringkali kita salah pandang terhadap orang kaya. Kita pikir tangan dingin semua yang disentuh jadi uang. Ternyata tidak juga. Jadi hal-hal seperti itu harus kita hadapi secara wajar jangan shock kalau rugi. Jangan berfikir dengan berdagang antum akan cepat
kaya, yang menentukan antum cepat berhasil dalam dagang itu adalah secepat apa antum belajar. Cara belajar itu ada dua: baca buku atau sekolah atau bergaul dengan orang- orang sukses, nanti
kalau sudah baca buku sudah bergaul dengan orang sukses masih gagal juga. Teruslah berdagang, teruslah bergaul, teruslah seperti itu karena setiap orang tidak tahu kapan saatnya dia ketemu dengan momentum lompatannya.
TAMAT

(riadi budiman)