Tampilkan postingan dengan label Tadzikrah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tadzikrah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Mei 2014

Kamis, 29 Mei 2014

Nilai-Nilai Harokah Dalam Peristiwa Isra' Mi'raj

Oleh Ustadz Muhammad Ridwan

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (17:1)

Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah sebuah peristiwa Maha dahsyat yang terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke 12 dari kenabian. dimana Alloh SWT mengawali firman Nya dalam surat Al-Isra’ ayat 1 dengan kalimat Subhana (Maha Suci Alloh) untuk menggambarkan betapa Agung dan Sucinya peristiwa ini, didalamnya banyak terkandung hikmah dan pelajaran yang sangat berharga bagi Rasululloh sendiri, sahabat, hingga kita ummatnya yang hidup di zaman kini.

Peristiwa ini lebih tepatnya tejadi kira-kira 8 bulan sebelum Hijrahnya Rasululloh Saw dari Mekkah ke Madinah. Sehingga para Mufassirin berpendapat bahwa ada Korelasi yang kuat antara peristiwa Isra’ mi’raj dengan Peristiwa hijrah. Ada Nilai-Nilai Harokah (Pergerakan Dakwah) yang terkandung didalamnya.

1. Al Fitnatu Alaa thoriiqid dakwah (Ujian di jalan dakwah)

Fitnah, ujian dan gangguan yang dialami disepanjang perjalanan dakwah Rasululloh sebelum isra’ mi’raj merupakan salah satu penyebab semakin terasa beratnya Amanah dakwah yang dipikul oleh Rasululloh dan para sahabatnya dikala itu, terlebih lagi peristiwa boikot yang dilakukan orang kaum Quraisy kepada seluruh keluarga Bani Hasyim. Kaum Quraisy tahu bahwa sumber kekuatan Nabi Saw adalah keluarganya. Oleh karena itu untuk menghentikan dakwah Nabi Saw sekaligus menyakitinya, mereka sepakat untuk tidak mengadakan perkawinan, transaksi jual beli dan berbicara dengan keluarga bani Hasyim. Mereka juga bersepakat untuk tidak menjenguk yang sakit dan mengantar yang meninggal dunia dari keluarga Bani Hasyim. Boikot ini berlangsung kurang lebih selama tiga tahun. Tentunya boikot selama itu telah mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan khususnya kepada Nabi Saw dan umumnya kepada keluarga Bani Hasyim. Hal ini menyiratkan makna bagi kita bahwa : Ujian-ujian berat akan selalu mengiringi perjuangan para penggiat dakwah (Muharik dakwah) dimanapun dan sampai kapanpun.

Firman Alloh dalam surat Al-Anfal ayat 30

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.

2. Ahamiyah Ta’yiidu da’wah (Urgensi Dukungan Terhadap Dakwah)

Peristiwa lain sebelum isra' mi'raj adalah wafatnya paman beliau, Abu Thalib, yang disusul dengan wafatanya Khadijah, istri Rasulullah saw.

Peristiwa ini menjadi sangat penting dalam perjalanan dakwah Nabi Saw sebab Abu Thalib adalah salah satu paman beliau yang senantiasa mendukung dakwahnya dan melindungi dirinya dari kejahilan kaum Quraisy. Abu Thalib merupakan tokoh yang sangat disegani siapapun. Dukungan Abu Thalib kepada Rasulullah (dan dakwah) merupakan bentuk dukungan 'politis' yang melindungi dakwah dari kerusakan yang akan membinasakan.

Dukungan dan perlindungan Abu Thalib itu tergambar dari janjinya, "Demi Allah, mereka tidak akan bisa mengusikmu, kecuali kalau aku telah dikuburkan ke dalam tanah." Janji Abu Thalib ini benar. Ketika ia masih hidup tidak banyak orang yang berani mengusik Nabi Muhammad Saw, namun setelah ia wafat kaum Quraisy menjadi leluasa untuk menyakitinya dan bahkan (nantinya) akan membunuhnya. Wafatnya Abu Thalib mengakibatkan hilangnya 'dukungan politis' bagi dakwah di Mekah.

Peristiwa kedua adalah wafatnya istri beliau, Siti Khadijah r.a. Peristiwa ini terjadi tiga hari setelah pamannya wafat. Siti Khadijah bagi Nabi Saw bukan hanya seorang istri yang paling dicintai, tapi juga sebagai sahabat yang senantiasa mendukung perjuangannya baik material maupun spiritual, yang senantiasa bersama baik dalam keadaan suka maupun duka. Oleh karena itu, wafatnya Siti Khadijah menjadi pukulan besar bagi perjuangan Nabi Saw.

Dua peristiwa inilah yang dikenal sebagai peristiwa 'amul huzn (tahun duka cita). Bukan saja berduka karena dtinggal orang-orang yang sangat dicintainya, namun juga karena setelah ketiadaan mereka berdua, penyokong dakwah dari keluarga yang begitu kuat sekarang hilang.

Atas kesedihan (ditinggal orang tercinta) dan kehilangan (dukungan) inilah lalu Allah menghibur sekaligus menguatkan kembali Rasululloh melalui peristiwa isra' mi'raj.  

Dari dua peristiwa yang disebut sebagai peristiwa 'amul huzn (tahun duka cita) tergambarkanlah bahwa betapa pentingnya dakwah mendapat dukungan yang menguatkan, dukungan politis dan dukungan keluarga. Namun dukungan utama kita adalah Allah SWT.

3. Ats-tsiqoh bil qiyadah (Percaya kepada Pemimpin dakwah)

Saat Nabi SAW diisrakan ke Masjid al-Aqsha, subuhnya orang-orang membicarakan hal itu. Maka sebagian orang murtad dari yang awalnya beriman dan membenarkan beliau. Mereka memberitahukan hal itu kepada Abu Bakar radhiya`llahu anhu. Mereka bertanya: "Apa pendapatmu tentang sahabatmu yang mengaku bahwasanya dia diisrakan malam tadi ke Baitul Maqdis?" Dia (Abu Bakar) menjawab: "Apakah ia berkata demikian?" Mereka berkata: Ya. Dia menjawab: "Jika ia mengatakan itu, maka sungguh ia telah (berkata) jujur." Mereka berkata: "Apakah engkau membenarkannya bahwasanya dia pergi malam tadi ke Baitul Maqdis dan sudah pulang sebelum subuh?" Dia menjawab: "Ya, sungguh aku membenarkannya (bahkan) yang lebih jauh dari itu. Aku membenarkannya terhadap berita langit (yang datang) di waktu pagi maupun sore." Maka karena hal itulah, Abu Bakar diberi nama ash-Shiddiq (orang yang membenarkan). [HR al-Hakim dari Aisyah radhiyallahu anha. Shahih lighairih menurut dalam ash-Shahihah (I: 306)]

Sikap yang ditunjukkan oleh Abu Bakar As-Shidiq adalah sifat seorang kader dakwah sejati yang begitu tsiqohnya (percaya) terhadap Rasululloh sebagai Qiyadah Dakwah (pimpinan dakwah) tak terpendam dalam hatinya amroduts tsiqoh (krisis kepercayaan).

Wallohu a’lam

*sumber : pkspiyungan.org

Selasa, 20 Mei 2014

Selasa, 20 Mei 2014

Biarkan Dakwah Bermetamorfosa


Oleh: Jumardi
(Alumni Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau)

Kita mulai dengan renungan
Mengapa Metamorfosa?
    
Seorang syeikh dakwah yang terkenal tajam bashirohnya pernah mengatakan bahwa perubahan adalah sesuatu yang niscaya, "Bahkan ketika seluruh orang di dunia telah berkumpul hatinya sebaik Rasululah SAW sekalipun, perubahan kearah capaian-capaian yang lebih baik tetap perlu dilakukan", kata beliau. Sebab perubahan itu adalahspirit utama kehidupan. Sesuatu yang tidak berubah, seperti mengalami stagnasi kehidupan ataupun ruhnya telah mati suri. Rasulullah SAW mengatakan bahwa mereka yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarinnya, maka ia termasuk kalangan pecundang.
    
Dalam gerak langkah dakwah, ada banyak rintangan yang menghambat kemajuan. Yang dimaksud sebagai penghalang disini adalah cara pandang kita tentang dakwah. Begini, sebagai aktivis, para murabbi kita dulu telah mengajarkan bahwa dalam dakwah -dan Islam secara keseluruhan- ada hal-hal yang bersifat tsawabit dan ada yang tergolongmutaghayyirat. Hal-hal tsawabit ini adalah ketentuan yang baku, rigid, tidak boleh dipertentangkan. Tidak ada ruang diskusi di sana. Ada pula hal-hal yang mengandung prinsip murunnah, keleluasaan. Ia bisa berubah sesuai tuntutan zaman, tuntutan keadaan.    

Kuunu Rabbaniyyin
    
Ketika kesadaran berdakwah dan berjama'ah sudah kembali menancap kokoh dihati kita, bergelora dan meluap-luap, sekaranglah saatnya berbenah diri. Menyiapkan sebanyak-banyaknya untuk mengarungi medan dakwah yang semakin hari terbentang semakin luas, menanam bibit kebaikan di setiap tanah kosong yang kita temui.
    
Imam Thabari menjelaskan berbagai pendapat ulama tentang pengertian rabbani, kemudian beliau menyimpulkan; pertama, Rabbani adalah mustawa atau level yang paling tinggi dari sekedar faqih (memahami agama) dan ‘alim (penguasaan ilmu dari kitab Allah{ali-Imran:79}). Kedua, Rabbani adalah sebuah kejeniusan tersendiri yang mampu menggabungkan antara al-fiqh dan al-'ilm dengan beberapa aspek vital lainnya, yaitu; (1) Al bashiroh bissiyasah, punya sense of politics yang tinggi. Melek Politik, (2) Al bashiroh bittadbir, wawasan manajerial yang memadai, (3) Al Qiyamah bi syu'un arra'iyyah wa ma yushlihuhum fi dunyahum wa dinihim. Pro-rakyat, yakni selalu melaksanakan dan menjalankan segala urusan rakyat dan segala hal yang membawa kemaslahatan mereka, baik dalam kehidupan dunia mereka apalagi kehidupan beragama.
    
'Alim merupakan syarat bagi seorang rabbani, mengingat kedudukan ilmu sangat penting dalam Islam. Al-‘Allamah DR.Yusuf Al- Qardhawy secara bijak mengklasifikasikan ilmu-ilmu yang kita perlukan dalam tuntutan zaman yang semakin berat ini. Yaitu; Ilmu Syariah, Ilmu Bahasa, Ilmu Sejarah, Ilmu Sosial, Sains dan Teknologi, dan Ilmu yang terkait realitas.

Syarat kedua setelah 'alim adalah Faqih (pengetahuan yang mendalam tentang agama). Kegiatan tafaqquh meliputi paling tidak sepuluh ruang lingkup; (1) Fiqh ahkam, (2) Fiqh dakwah, (3) fiqh amal jama'i, (4) fiqh muwazzanah (pertimbangan), (5) fiqh aulawiyat(Prioritas), (6) fiqh sunnah, (7) fiqh Taghyir (Perubahan), (8) Fiqh Tarikh (Sejarah), (9) Fiqh Waqi'(Kemampuan memahami realita), dan (10) Fiqh Ikhtilaf (perbedaan).
    
Setelah capaian itu tercapai semuanya, pada saat itulah perubahan (metamorfosa) itu akan nampak jelas.  Hal ini dilakukan dengan; merekayasa metamorfosa itu, bercita-cita untuk itu, Tamaddun (peradaban), mengumpulkan aset, punya ide cemerlang, human resurces, we need 'duit' it, Eksekusi: mengalih ide ke amal nyata, kapitalisasi aset: menggagas peristiwa, merangkai cerita, dan amal sehat, kemudian diakhiri dengan do'a yang sempurna.
    
Belajar dari kisah para Nabi. Ada tiga setting dakwah yang bisa diambil dari kisah Ashabul Kahfi, nabi Musa, dan nabi Sulaiman. Dimana masa ashabul kahfi sebagai personifikasi dakwah, nabi Musa sebagai pribadi untuk umat, dan nabi Sulaiman sebagai dakwah super power.

Itulah metamorfosa dakwah dimana ashbul kahfi yang mempunyai keimanan yang kuat tapi lemah dan tak berdaya sehingga mereka harus pergi, menghindar dari kezaliman untuk menyelamatkan keimanan mereka. Kemudian datanglah nabi Musa as. dengan bekal keimanan dan keberanian yang kuat, tapi itu juga ternyata tidak bisa membuat Fir'aun takluk di tangannya karena tidak adanya kekuasaan yang mengokohkan kedudukannya. Akhirnya dengan keimanan, keberanian, dan kekuasaan nabi Sulaimanlah negeri-negeri dapat ditaklukan bertanda berjayanya Agama Allah pada masa itu.
    
Ketiga kisah yang termaktub dalam Alquran tersebut mengajarkan tentang Islam secara keseluruhan, integral. Dimana untuk mencapai kejayaan Islam ada tahap-tahap seperti itu. Dimulai dengan perenungan terhadap apa yang harus dilakukan. Kemudian menyiapkan diri priabadi muslim yang rabbani, yang berilmu dan memahami agamanya secara mendalam. Setelah itu, mengumpulkan kekuatan dengan menggabungkan pribadi rabbani itu kedalam wadah, ide, pemikiran, dan visi misi yang sama. Kemudian sama-sama berbuat dan beramal untuk mencapai kejayaan Islam yang diinginkan bersama tadi. 

Wallahu a'lam.

*sumber : pkspiyungan.org

Jumat, 01 Maret 2013

Jumat, 01 Maret 2013

Delapan Pelajaran Dakwah dari Kisah Yusuf | Tafsir Azh-Zhilal


Sayyid Qutb menyatakan dalam tafsirnya Fi Zhilalil Qur’an, bahwa satu-satunya surah yang Allah turunkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pada masa-masa sulit dalam sejarah dakwah dan kehidupannya, adalah surah Yusuf. Surah ini diturunkan antara ‘amul huzni (tahun duka cita karena kematian Abu Thalib dan Khadijah) dan antara baiat Aqabah pertama yang dilanjutkan dengan Baiat Aqabah kedua. Pada saat itu selain mengalami kesedihan karena ditinggal dua orang yang menjadi sandarannya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga mengalami kesedihan akibat pengasingan dan keterputusan hubungan di tengah-tengah masyarakat Quraisy.

Minggu, 19 Februari 2012

Minggu, 19 Februari 2012

MENGHINDARI BISNIS YANG SPEKULATIF DAN MONEY GAME


TADZKIROH
TENTANG
MENGHINDARI BISNIS YANG SPEKULATIF DAN MONEY GAME
NOMOR : 13/TZK/DSP-PKS/ 1433H
(rewrite sesuai aslinya)

Pandangan lslam tentang Harta:

lslam mendorong umatnya untuk bekerja, berwirausaha dan sejahtera. Ajaran ini terus menerus ditegaskan Allah swt dalam Al Qur'an melalui pengulangan kata harta (al maal atau amwaal) secara berulang-ulang dalam berbagai ayat-ayatnya. Pengulangan seperti itu adalah untuk menunjukkan urgensi dan kepentingannya. Kata maal (uang) terulang dalam Al-Quran sebanyak 25 kali (dalam bentuk tunggal) dan amwal (dalam bentuk jamak) sebanyak 61 kali. Hal ini jelas menunjukkan betapa pentingnya persoalan harta, yang tidak saja sebagai penopang hidup kita, tetapi juga untuk menjalankan syariat Allah dan apalagi berjihad di jalan-Nya amat memerlukan harta yang banyak.

Minggu, 05 Februari 2012

Minggu, 05 Februari 2012

Tadzkirah Mursyid untuk para aktivis (pengelola dan pelaksana) Tarbiyah



o   Posisi kita seperti posisi tentara di perbatasan, di mana musuh mencari celah utk masuk ke barisan islam. Celah itu adalah titik lemah dr pos-pos kita, walau seluruh titik sudah di jaga, ada titik tertentu ada penjagaan yang lemah. Kita adalah penjaganya. Jangan sampai ada titik lemah. Kiat satu tim, jangan sampai kegagalan tim –jika gagal -- gara-gara salah satu dari kita.
o   Hendaklah kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah swt, baik saat sendiri mauun saat terbuka/bersama orang lain. Kita hendaklah membawa diri kita, membawa ikhwan-akhwat ke padal hal-hal yang membuat Allah ridha kepada kita, hendaklah kita -- kapan dan di manapun berada -- dalam posisi sesuai yang dikehendaki Allah swt, hendaklah kita menempatkan porsi perhatian terbesar dr seluruh jerih payah kita, waktu kita, dan program2 kita difokuskan kepada aspek peningkatan aspek keimanan dan ibadah.
o   Hendaklah mentarbiyah ikhwah untuk cinta masjid, dan menjadikan masjid sebagai posko, bertolak dari masjid dan kembali ke masjid
o   Kami ingin usrah adalah usrah yang muntijah, baik secara da’awi maupun ijtimai yg produktifitasnya terasa di lingkungan usrah tersebut dan hendaklah syiar usrah -- dlm konteks berlomba menuju allah -- jangan sampai kitanomor dua (harus nomor satu)
o   Hendaklah manajemen dan sistim idarah kita suasananya adalah suasana cinta, kasih saying, simpatik, dan takaful (senasib sepenaggungan), kemudian sistem manajemen kita hendaklah di dominasi oleh prinsip kebebasan berekspresi, tidak boleh ada pengekangan pendapat, tidak boleh ada sikap melukai thd pemilik suatu pendapat, hendaklah menerima kritik dan nasihat dengan lapang dada. Dan hendaklah selalu ingat pesan musythafa masyhur, “berikan nasihat dalam bentuknya yg sempurna dan terimalah nasihat darimanapun datangnya”. Dan hendaklah kita selalu menampilkan qiyadah kita di hadapan ikhwah dengan penampilan yang terbaik.
o   Hendaklah kita seagai pengelola tarbiyah menjadi teladan yang baik dalam setiap ucapan dan perbuatan, mengingat Rasul saw adalah qudwah kita, maka berakhlaqlah dengan akhlaq rasul saw dan jadikan sifat beliau, dan perbuatan beliau sebagai sifat kita. Hendaklah kita sebagai pengelola tarbiyah selalu terdepan dlm setiap pekerjaan atau tugas, jangan sampai …
o   Hendalah kita sebagai pengelola tarbiyah, memanifestasikan/mewujudkan apa yg pernah dinyatakan imam asy syahid,
§  Hak sebagai orang tua utk urusan ikatan hati
§  Hak sebagai ustad utk urusan penambahanwasan ilmu
§  Hak sbg syaikh dlm hal tarbiyah ruhiyah
§  Hak sebagai qaid dlm urusan siyasah amah/policy umum da’wah.
Bgm jika seorang menuntu hak-hak tersebut, karena itu laksanakan amanah dan jadilah sebaik-baik pelaksan hak-hak ini
o   Keistemawaan terpenting dari seorang pengelola tarbiyah adalah kemampuannya utk
§  Menyelesaikan berbagai persoalan
§  Mengatasi berbagai kesulitan
§  Merangkul berbagai personil
§  Menampung berbagai persoalan
§  Mengilaj persoalan itu dengan solusi dan cara terbaik
o   Sebagai aktivis tarbiyah jgn sampai tdk membaca sejarah da’wah sejarah para pemimpinnya, dan sejarah para mursyidnya. Sebab pada sejarah itu terdapat banyak pelajaran dan ibroh, jg terdapat bekalan yg sebenanrnya di atas jalan da’wah, juga terdapat jawaban praktis terhadap berbagai syubhat yg dialamatkan kepada dakwah. Hendaklah kalian mengkaji majmuah rasail dengan pendalaman, pemahaman, kesadaran dan penguasaan. Utk kalian pelajari dan kalian ajarkan prinsip-prinsip haqiqi da’wah
o   Bekerjalah dengan semangat jihad untuk mempraktekkan 10 muwashafat baik terhadap diri antum ataupun terhadap mutarabbi antum.
o   Inilah tadzkirah untuk antum dan ini sebagai alas an kepada Allah bahwa aku telah menunaikan. Semoga Allah membibing antum dan smg diberi keikhlasan dlm berbicara dan bertindak baik saat sendiri atau terbuka.


--
Akhukum fillah
Navis Murbiyanto
Sekretaris Bidang Kaderisasi DPP PKS