Jumat, 04 November 2011

Jumat, 04 November 2011

Dosa Mendiamkan Kezhaliman dan Kemaksiatan


(#qà)¨?$#ur ZpuZ÷FÏù žw ¨ûtùÅÁè? tûïÏ%©!$# (#qßJn=sß öNä3YÏB Zp¢¹!%s{ ( (#þqßJn=÷æ$#ur žcr& ©!$# ߃Ïx© É>$s)Ïèø9$# ÇËÎÈ  
 “Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (QS. Al Anfal: 25)

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah…
Rasulullah SAW. mengumpamakan bahwa perjalanan kehidupan ini dalam menjaga ketentuan hukum Allah SWT. bagaikan para penumpang perahu. Ada yang berada di atas ada pula yang di bawah. Penumpang yang berada di bawah harus melewati penumpang yang berada di atasnya bila ia ingin mengambil air. Kemudian muncullah keinginan penumpang yang di bawah itu untuk melobangi perahu tersebut sambil meyakinkan dirinya bahwa jika ia melobanginya maka ia tidak lagi mengganggu kenyamanan para penumpang yang ada di atasnya bila ingin mengambil air. Tentu saja hal itu berakibat fatal karena jika dibiarkan perbuatannya, maka akan menenggelamkan seluruh penumpang. Sebaliknya bila tangannya ditahan dari perbuatan itu maka penumpang perahu itu akan selamat.
Perumpamaan Rasulullah SAW. tersebut sangatlah jelas bagi kita bahwa seorang mukmin tidak boleh membiarkan orang lain melakukan kezhaliman dan kemaksiatan. Ia harus menolongnya dengan menahan tangan pelakunya sehingga perbuatan itu tidak muncul. Dengan sikap yang sedemikian rupa ia akan menyelamatkan banyak orang, karena perbuatan zhalim dan maksiat akan berdampak negatif bagi siapa saja, baik pelakunya maupun orang yang berada di sekitarnya yang membiarkan perbuatan itu.
Oleh karena itu kader dakwah tidak boleh tinggal diam terhadap perbuatan buruk, ia harus sensitif sehingga dapat mendeteksinya sejak dini. Ia harus selalu waspada agar perbuatan itu tidak membesar karena semakin besar kezhaliman dan kemaksiatan akan semakin sulit pula untuk ditekan dan dibasmi. Sebagaimana pelajaran yang diberikan Nabi Khidir as. kepada Nabi Musa as. Dalam pelajaran berharga itu, Khidir as. membunuh seorang anak yang mempunyai bibit kedurhakaan yang dapat menjerumuskan orang tuanya kepada kekafiran dan kesesatan.
Firman Allah SWT.
$¨Br&ur ÞO»n=äóø9$# tb%s3sù çn#uqt/r& Èû÷üuZÏB÷sãB !$uZŠÏ±ysù br& $yJßgs)Ïdöãƒ $YZ»uøóèÛ #\øÿà2ur ÇÑÉÈ  
“Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu'min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran”. (QS. Al Kahfi: 80)

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah…
Kezhaliman dan kemaksiatan merupakan kegelapan yang dapat mencelakakan kehidupan ini. Ia akan membuat potensi kebaikan menjadi lemah dan peluang keselamatan menjadi kecil. Apalagi kezhaliman dan kemaksiatan yang kumulatif seperti sekarang ini. Segala bentuk kezhaliman dan kemaksiatan yang terjadi pada umat terdahulu berkumpul dengan kualitas yang lebih dahsyat di hari ini. Dampaknya akan berpengaruh bukan hanya pada satu dekade namun juga pada beberapa generasi mendatang. Perbuatan itu akan menjadi kerusakan sosial yang membahayakan banyak kalangan. Lihatlah dua juta generasi muda kita yang telah menjadi korban narkoba, anak-anak gadis yang telah keranjingan mode hanya untuk menuruti keinginan para durjana, si hidung belang, dan orang-orang tua yang tidak lagi malu mempertontonkan kemaksiatannya di hadapan banyak orang dengan sambil bergoyang hina. Ibu-ibu yang melupakan tugas asasinya mencetak generasi pilihan malah aktif dalam perbuatan kotor. Orang-orang kuat yang menekan mereka yang lemah tak berdaya untuk memenuhi kemauannya. Orang-orang miskin yang dibuai mimpi kosong oleh keranjingan judinya. Penguasa yang memanipulasi amanah rakyat sehingga mereka bisa melanggengkan kekuasaannya untuk mengeruk keuntungan pribadi. Banyak hak-hak segala pihak yang terampas karena kezhaliman dan kemaksiatan. Kita tentu tahu bahwa perbuatan itu akan berakibat pada generasi lima atau sepuluh tahun mendatang. Cobalah kita renungkan, bila potret masyarakat kini diabadikan, bagaimana pemandangan di masa mendatang?.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah…
Mendiamkan kezhaliman dan kemaksiatan adalah perbuatan dosa. Bukan hanya dosa pada Allah SWT. saja melainkan juga berdosa pada generasi mendatang, bagaimana mempertanggungjawabkannya kepada mereka lantaran mewariskan keadaan yang diliputi kezhaliman dan kemaksiatan? Ini artinya kita mewariskan pekerjaan berat bagi generasi mendatang. Selain itu kitapun berdosa pada generasi masa lalu yang telah memberikan bekal dan wasiatnya agar kita menjadi orang yang dapat membasmi kezhaliman dan kemaksiatan. Generasi pada masa lalu telah memberikan patokan untuk kita semua. Mereka telah menyelesaikan tugasnya dan seharusnya kita melanjutkan tugas mereka. Namun bila kita tidak melakukannya berarti kita menyia-nyiakan bekalan dan arahan mereka. Kitapun ikut berdosa kepada zaman karena kita ikut andil terhadap membesarnya perbuatan itu lantaran kita berdiam diri. Sehingga kita tergolong orang yang menghitamkan zaman ini karena kezhaliman dan kemaksiatan merajalela.
Sepatutnya kita merealisasikan pernyataan Rasulullah SAW. kepada para sahabat, “Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim dan yang dizhalimi”. Sahabat heran dengan pernyataan itu sehingga mereka mengatakan, “Ya Rasulullah SAW. kalau menolong orang yang dizhalimi kami sangat bisa memahami dan hal itu merupakan kewajiban, akan tetapi bagaimana cara menolong orang yang berbuat zhalim?”. Lalu beliau menjawab, bahwa menolong orang yang berbuat zhalim adalah dengan menahan tangannya agar ia tidak melakukannya (perbuatan zhalim tersebut).

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah…
Keselamatan umat ini akan terjadi bila kita mengerahkan segenap kemampuan untuk menekan dan membasmi kezhaliman dan kemaksiatan. Kita akan memberikan kecerahan kehidupan ini juga pada generasi mendatang sehingga mereka dapat merajut harapannya untuk membangun umat ini. Hasan Al Banna Rahimahullah menasehati kita semua, “Umat Islam harus berusaha sekuat tenaga - dengan kekuatan atau hukum- untuk membasmi semua gejala kerusakan sosial. Mereka tidak boleh lemah dan berhenti dari sikap itu”. (Majmu’atur Rasail, Kepada Apa Kami Menyeru Manusia).
Pertanyaannya sekarang, siapakah yang siap berdiri pada jalan ini? Pada perjuangan ini? Jawabnya, hendaklah kita mengingat kembali pikiran kita pada pidato Abu Bakar Siddiq RA. ketika akan berangkat untuk membasmi gerakan kemurtadan dan penyimpangan agama, ‘Siapa-siapa yang ingin menyelamatkan generasi ini marilah ikut bersamaku memerangi mereka dan siapa-siapa yang tidak dalam barisanku jadilah kalian seperti umat Musa AS. yang diam berpangku tangan sambil menunggu hasil kemenangan ini’.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah…
Oleh sebab itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh kader dakwah dalam menyikapi hal itu:
1.      Bukalah mata dan telinga agar kita dapat memperhatikan setiap gerakan kezhaliman atau kemaksiatan dan mewaspadainya meskipun masih kecil. Sebagaimana Isa AS. putra Maryam sangat peka terhadap bibit keburukan apakah itu kekafiran, kezhaliman atau kemaksiatan. Karena hal tersebut membahayakan eksistensi kebenaran, maka Isa AS. mengumumkan peperangan terhadapnya.
2.      Perbesar keberanian kita untuk membasminya hingga perbuatan itu tidak akan pernah muncul kembali, lawan dan basmi kemaksiatan. Dengan berani melawannya Allah SWT. dan bala tentaranya akan memberikan bantuan dan pertolongan-Nya.
3.      Berdayakan potensi kebaikan kita sehingga kebaikan ini menjadi surplus, yang dengannya ruang gerak kezhaliman dan kemaksiatan semakin sempit karena kebaikan mendominasinya.
4.      Kokohkan keimanan pada Allah SWT. agar mendapatkan kekuatan dan pertolongan-Nya dalam membasmi kezhaliman dan kemaksiatan. Komitmen kepada Allah SWT. Akan menghantarkan diri kita pada kemenangan menghadapi kezhaliman dan kemaksiatan.
Semoga Allah memberikan kemampuan pada diri kita untuk berada dalam barisan orang-orang yang melawan kezhaliman dan membasmi kemaksiatan. Waallahu ‘alam.

(DH. Al-Yusni)

0 komentar:

Posting Komentar