Mohammad Fauzil Adhim
Sekali waktu,
tengoklah status facebook anakmu. Jelajahilah alam pikirannya. Pahamilah apa
yang sedang terjadi padanya. Dan bersiap-siaplah untuk terkejut disebabkan apa
yang berharga bagi hidupnya, membanggakan dirinya, menyenangkan hatinya dan
menjadi keinginannya justru perkara yang kita membencinya. Mereka sangat berhasrat justru terhadap apa-apa yang kita ajarkan kepada
mereka untuk menjauhi. Astaghfirullahal ‘adzim.
Sekali saat,
periksalah status facebook anak-anakmu. Ketahuilah apa yang sedang berkecamuk
dalam dirinya. Rasakan apa yang menjadi keinginan kuatnya. Rasakan pula yang
membuatnya terkagum-kagum. Dan bersiap-siaplah untuk terperangah jika anak-anak
itu lebih fasih mengucapkan kalimat-kalimat yang tak berharga, ucapan yang tak
bernilai, pembicaraan yang mendekatkan kepada maksiat, dan bahkan ada yang
mendekati kekufuran. Mereka berbicara kepada kita dengan bahasa yang kita
inginkan, tetapi mereka membuka dirinya kepada manusia di seluruh dunia dengan
perkataan-perkataan ingkar. Mereka menyiarkan keburukan dirinya sendiri, tetapi
mereka tidak menyadarinya. Astaghfirullahal ‘adzim.
Kalau suatu saat
ada kesempatan, cermatilah apa yang ditulis oleh anakmu, gambar apa yang
ditampilkan dan siapa yang dielu-elukan di facebooknya. Sadari apa yang telah terjadi dan sedang terjadi pada diri mereka. Ketahui
perubahan apa yang menerpa jiwa mereka. Dan bersiaplah untuk terkejut bahwa apa
yang tampak di depan mata tak selalu sama dengan apa yang terjadi di belakang kita.
Mereka bisa bertutur tentang keshalihan karena berharap terhindar dari kedukaan
atau bahkan kemurkaan kita. Tetapi di facebook, mereka merasa merdeka
mengungkapkan apa pun yang menjadi kegelisahan, keinginannya dan kebanggaannya
yang benar-benar terlahir dari dalam diri mereka.
Beberapa waktu
saya memeriksa akun facebook anak-anak SDIT, alumni SDIT dan mereka yang masih
belajar di SMPIT maupun SMAIT. Hasilnya? Sangat mengejutkan. Harapan saya
tentang isi pembicaraan anak-anak yang telah memperoleh tempaan bertahun-tahun
di sekolah Islam terpadu itu atau yang sejenis dengannya adalah sosok anak-anak
yang hidup jiwanya, cerdas akalnya, tajam pikirannya dan jernih hatinya. Tetapi
ternyata saya harus terkejut. Sekolah-sekolah Islam itu ternyata hanya mampu
menyentuh fisiknya, tetapi bukan jiwanya. Betapa sedih ketika melihat anak-anak
yang dulu jilbabnya besar berkibar-kibar, hanya beberapa bulan sesudah lulus
dari SDIT atau SMPIT, sudah berganti dengan busana yang menampakkan auratnya
dan ia perlihatkan kepada orang lain melalui foto-foto yang mereka pajang di
facebook.
Tentu saja saya
tidak dapat mengatakan bahwa pendidikan Islam terpadu, integral atau apa pun
istilahnya telah gagal total. Tetapi apa yang dapat dengan mudah kita telusuri
dari tulisan mereka di facebook maupun media sosial lainnya memberi gambaran
betapa kita perlu berbenah dengan segera.
Selagi aqidah,
akhlak dan secara umum agama ini hanya kita sampaikan secara kognitif, maka tak
banyak perubahan yang dapat kita harapkan. Jika yang kita berikan adalah
pelajaran tentang agama, dan bukan pendidikan beragama yang dikuati oleh budaya
karakter yang kuat di sekolah, maka anak-anak itu mampu berbicara agama dengan
fasih tapi tidak menjiwai. Tak ada kebanggaan pada diri mereka terhadap apa-apa
yang datang dari agama; apa-apa yang menjadi tuntunan Allah Ta’ala dan
rasul-Nya.
Astaghfirullahal
‘adzim. Na’udzubillahi min dzaalik.
Lalu apa yang
merisaukan dari anak-anak itu? Sekurangnya ada tiga hal. Pertama, cara mereka
berbahasa. Ini menggambarkan alam berpikir sekaligus kesehatan mental mereka.
Kedua, sosok yang mereka banggakan dan mereka elu-elukan kehadirannya maupun
tingkah-lakunya. Sosok yang menjadi panutan (role model). Ketiga, nilai-nilai
dan keyakinan yang mereka banggakan sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku
mereka, meskipun tak tampak di mata orangtua dan guru.
Betapa Mengenaskan Bahasa Mereka
Salah satu
kelebihan Bani Sa’diyah adalah kefasihannya berbahasa. Kepada Halimah dari Bani
Sa’diyah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam disusukan, sehingga masa
kecilnya memperoleh pengalaman berbahasa yang baik. Tampaknya sepele, tetapi bagaimana kita berbahasa sangat mempengaruhi
pertumbuhan mental dan perkembangan cara berpikir. Adalah Alfred Korzybski,
ahli semantik asal Rusia yang menunjukkan bahwa cara berbahasa yang salah
berhubungan erat dengan mental yang sakit pada masyarakat. Terlebih jika
kesalahan serius dalam berbahasa itu secara intens dilakukan oleh seseorang,
utamanya lagi yang masih dalam tahap perkembangan sangat menentukan, yakni anak
atau remaja. Dan kondisi mengenaskan inilah yang sedang terjadi pada anak-anak
kita; dalam pergaulan dan terutama terlihat dari SMS maupun status facebook
mereka.
Mari kita ingat
kembali ketika Lev Vygotsky, seorang psikolog yang juga asal Rusia. Ia
menunjukkan bahwa apa pun kecerdasan yang ingin kita bangun, kuncinya adalah
bahasa. Ia juga menunjukkan betapa erat kaitan antara bahasa dan pemikiran.
Penggunaan bahasa mempengaruhi cara berpikir. Siapa diri kita tercermin dari
bagaimana kita berbahasa. Sebaliknya, cara kita berbahasa akan berpengaruh
besar terhadap diri kita.
Nah, lalu apa
yang bisa kita katakan terhadap anak-anak yang berbahasa alay dan berbicara
dengan perkataan yang tak berguna penuh sampah? Sungguh, tengoklah status
facebook dan SMS mereka. Dan bersiaplah terkejut dengan apa yang terjadi pada
diri mereka. Khawatirilah apa yang akan terjadi pada diri mereka di masa-masa
mendatang. Astaghfirullah. Laa ilaaha illa Anta
subhanaKa ini kuntu minazh-zhaalimin.
Bukan Rasulullah
Saw. yang Mereka Kagumi
Cara berbahasa
mempengaruhi apa yang berharga dan apa yang tidak. Sulit bagi seseorang untuk
mengagumi dan menjadikan seseorang yang cara berbahasanya sangat berbeda
–apalagi bertolak-belakang—sedang sosok yang ingin mereka tiru, mereka
banggakan dan mereka pelajari kehidupannya. Maka jangan heran jika mereka lebih
terharu-biru oleh Justin Bieber daripada para shahabat radhiyallahu ‘anhum
ajma’in. Jangan terkejut pula jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam
justru sosok yang sangat asing bagi mereka. Ironisnya, anak-anak yang seperti
itu justru banyak lahir dari lembaga-lembaga Islam; sejak jenjang pendidikan
dasar hingga perguruan tinggi.
Apa pengaruhnya?
Jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi sosok panutan (role
model) yang mereka banggakan, maka mereka akan berusaha untuk mempelajari
jejak-jejaknya, mengingati kata-katanya dan mencoba melaksanakan apa yang
mereka mampu dalam hidupnya. Mereka juga bangga terhadap orang yang meniru
sosok panutannya. Itu juga berarti, jika sosok panutan mereka adalah Justin
Bieber atau Lady Gaga, maka atribut, kata-kata dan segala hal yang berkait
dengan mereka akan mereka buru dengan penuh kebanggaan. Mereka juga berusaha mengidentifikasikan diri dengan sosok panutannya.
Na’udzubillahi
min dzaalik. Laa haula wa laa quwwata illa biLlah.
Pacaran Online Pun Terjadi
Maka, jangan
terkejut jika anak-anak alumni SDIT yang masih belajar di SMPIT atau sekolah
Islam sejenis justru amat liar pikirannya. Jangan terkejut juga jika menemukan
anak seorang ustadz asyik pacaran online, mengungkapkan perasaan yang tidak
sepatutnya ia ungkapkan kepada lawan jenis, apalagi membiarkannya diketahui
oleh orang banyak. Sungguh, kemaksiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi
lebih ringan nilainya dibanding kemaksiatan yang ia umumkan sendiri.
Ingin sekali
berbincang lebih panjang. Tetapi tak tega rasanya berbicara blak-blakan tentang
masalah ini.
Semoga catatan
sederhana ini dapat menjadi pengingat untuk kita semua. Semoga Allah mudahkan
kita menempuh kebaikan. Semoga pula Allah Ta’ala menjaga iman kita dan anak-anak
kita.
Sebelum kita
akhiri perbincangan ini, mari sejenak kita ingat firman Allah ‘Azza wa Jalla:
“Dan hendaklah
takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka
anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa’, 4: 9).
Wallahu a’lam
bishawab
POJOK A’ILIYAH
Rumah Cinta Bekasi
Hotline Service ; 0878884536



16.43
bpksms
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar