Oleh: Sofistika Carevy Ediwindra
“Ya Allah, lindungilah kami dari orang-orang
bertaqwa yang lemah, dan tidak bertaqwa yang lemah dan tidak berdaya, dan
lindungilah kami dari orang-orang jahat yang perkasa dan tangguh.”
Terdapat tiga komponen utama di dalam bait
kalimat tersebut.
Pertama,
perlindungan terhadap orang bertaqwa yang lemah. Kenapa kita harus memohon perlindungan dari orang bertaqwa yang lemah? Bagaimana mungkin orang bertaqwa dibilang sebagai seorang yang lemah? Secara logika, ketika orang disebut sebagai hamba yang bertaqwa maka otomatis kedekatan dirinya dengan Allah adalah hal yang menonjol. Namun ternyata, ia justru disebut sebagai orang yang lemah oleh manusia di sekelilingnya.
perlindungan terhadap orang bertaqwa yang lemah. Kenapa kita harus memohon perlindungan dari orang bertaqwa yang lemah? Bagaimana mungkin orang bertaqwa dibilang sebagai seorang yang lemah? Secara logika, ketika orang disebut sebagai hamba yang bertaqwa maka otomatis kedekatan dirinya dengan Allah adalah hal yang menonjol. Namun ternyata, ia justru disebut sebagai orang yang lemah oleh manusia di sekelilingnya.
Lemah di sini berarti bahwa ia tidak
memiliki bargaining
position (nilai tawar) di dunia, di kehidupan sosial di mana
dia berada. Da’i tidak lagi didengar kata-katanya, tidak lagi dicontoh
keteladanannya, apalagi dihargai keberadaannya oleh masyarakat. Hal itu tidak
lain adalah lantaran masyarakat tidak lagi merasakan kemanfaatan dengan adanya
kita (da’i) di tengah mereka. Da’i, tidak semuanya mampu menunjukkan
prestasinya di hadapan publik. Secara kualitas ibadah vertikal (hablumminallah), dia
mungkin mendapat grade mendekati
sempurna. Akan tetapi, saat dihadapkan dengan masyarakat (hablumminannas), sang da’i
pun mendadak ‘melempem’.
Dia
kurang dapat srawung (bergabung)
dengan tetangga, mungkin dari segi keramahan dinilai kurang oleh masyarakat;
kurang rapi dalam manajemen kehidupannya; hingga pada taraf lemahnya
intelektualitas dan ekonomi sang da’i. Ya, kita semua menyadari bahwa da’i
bukan malaikat. Akan
tetapi, hal ini sangat berpengaruh terhadap citra da’i di hadapan publik.
Bagaimana bisa da’i dipercaya untuk mengurus urusan umat manakala urusan diri
pribadinya pun berantakan.
Kedua, bait kalimat di atas menuntun kita untuk
memohon perlindungan dari orang tidak bertaqwa yang lemah dan tidak berdaya.
Jika dibandingkan dengan aspek pertama, maka aspek kedua ini jauh lebih parah.
Ibarat kata, sudah lemah, tidak berdaya, ditambah lagi tidak ada ketakwaan di
dalamnya. Jika diumpamakan dengan kacang, maka kualitas orang ini adalah kacang
yang kosong tak berisi, ditambah lagi kulitnya kusam dan tidak menarik. Sedikit
pun tidak ada alasan yang mampu membuat orang lain mau untuk melirik ke arah
orang tersebut.
Lemah daya dan lemah takwa ini menjadi
masalah yang serius jika dihinggapi oleh sebagian besar orang. Tatanan
masyarakat yang akan lahir adalah masyarakat yang jauh dari nilai peradaban
islami yang didambakan.
Ketiga yakni permohonan perlindungan terhadap orang
jahat yang perkasa dan tangguh. Pada masa sekarang ini sangat banyak orang yang
memiliki kekuasaan tinggi atas kehidupan dunia. Mereka menguasai sebagian besar
perekonomian dunia, memiliki kuasa penuh terhadap lalu lintas media, pertahanan
dan keamanan, hingga menjadi aktor utama jalannya hukum di negara. Mereka kuat,
sangat kuat. Namun kekuatan yang mereka miliki tiada digunakan untuk
kemanfaatan orang banyak. Mereka memperkaya diri dengan memperbudak banyak
orang. Mereka memainkan seenaknya hukum dengan uang yang mereka punya, pun
mereka mengatur arus media agar sesuai dengan kepentingan mereka.
Sekali lagi, mereka kuat, bahkan sangat kuat.
Namun tidak ada bargaining
position mereka di hadapan Allah. Ibarat mutiara, mereka baik
pada polesan luarnya saja. Di dalam tubuh mereka kosong tak berisi. Mereka
menjadi trouble-maker di
setiap lingkungan di mana mereka berada.
Orang bertaqwa yang lemah, orang tidak
bertaqwa yang lemah, maupun orang jahat yang kuat, ketiganya adalah cerminan
ketidakseimbangan dalam kehidupan manusia. Allah telah memberikan garis merah
yang jelas bagi kita hamba-Nya tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai
seorang insan. Melalui Rasulullah, Allah memberikan sesempurnanya teladan dan
pengajaran bagi manusia seluruhnya untuk menjadi manusia seutuhnya. Bagaimana
Rasulullah tawazun dalam menjalankan hidupnya. Beliau adalah pemimpin yang
terbaik; disegani lawan dicintai kawan, beliau pula seorang suami handal, ayah
terbaik, kawan paling setia, dan guru paling mempesona.
Prinsip seorang muslim, bahwa mereka yang
terbaik adalah mereka yang bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain, bukan
mereka yang memiliki banyak hal pada dirinya sendiri. Bait kalimat di atas
merupakan penghayatan dalam dari seorang lelaki tangguh, cerdas nan berbudi,
Umar bin Khattab. Nampak jelas tersirat bahwa misi sesungguhnya yang Islam
ingin capai adalah melahirkan orang-orang baik yang kuat dan orang-orang kuat
yang baik. Dan itu semua mustahil tanpa usaha dari setiap insan sebagai pilar
kehidupan.
Mau jadi seperti apa kita??



21.58
bpksms
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar