Antho Bandara (Budayawan)
Cerita ini berawal ketika ada kegiatan Mabit (malam bina iman dan taqwa) di sebuah Masjid di pulau kecil. Sekumpulan Ikhwan sudah mulai tertidur pulas diatas Karpet yang terbentang.
Malam demikian larut, angin dingin bertiup dari beberapa kipas Angin yang menempel di dinding. Ditambah lagi dengan angin yang masuk dari celah-celah jendela yang mengantar angin sepoi-sepoi dari laut yang berjarak sekitar 50 meteran dari Masjid tersebut.
Saya belum bisa juga memejamkan mata saat berbaring di satu sudut ruangan yang agak jauh terpisah dari mereka. Mulanya ingin tenang tapi suara dengkuran (ngorok) mereka begitu kuat. Seperti alunan musik "orchestra". Seakan-akan sedang ada sebuah konser besar yang saya lihat, sesekali diantara mereka terbangun dan menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan dengkuran orang yang baring disebelahnya.
Lalu Ia tertidur kembali dan yang lainnya pun bangun bergantian kemudian tidur lagi. Masing-masing mereka merasa terganggu dengan dengkuran teman disebelahnya. Hingga akhirnya sekitar pukul 3 dini hari, semua bangun bersiap untuk Sholat Tahajud bersama, dan berlanjut dengan Sholat Shubuh berjama'ah.
Kemudian mendengar tausiyah dari Murobbi lalu beraktifitas seperti biasa menyongsong terbitnya matahari. Tiba-tiba dua orang diantara mereka tertawa kepada saya sambil berkata,"Ngorok Bapak begitu kuat sekali tadi malam,"ucapnya.
Saya senyum saja, seakan mereka pun tidak tidur mendengkur. Ironis memang hidup ini. Semua manusia cenderung dapat melihat dengan baik kelemahan orang lain. Padahal ketika Jari telunjuknya menuju pada seseorang, ketiga jarinya justru menunjuk pada dirinya sendiri. Dan, Ibu jarinya menjadi saksi.
Mari kita sibukkan diri ini untuk lebih banyak mengevaluasi diri sendiri saja sambil memberikan contoh yang terbaik buat orang-orang yang mengenal kita. Tentu dengan CINTA.
#PKS Nongsa ***Dari Batam untuk Indonesia***



03.25
bpksms
0 komentar:
Posting Komentar