Minggu, 30 Oktober 2011

Minggu, 30 Oktober 2011

Atsaru Dzunub

Syaithan adalah musuh yang nyata bagi manusia (2: 208). Karena dia senantiasa berupaya menyesatkan dan mendorong manusia melakukan perbuatan dosa (7: 16). Misinya ini ia lakukan dengan mengerahkan seluruh kekuatan dengan serius; tipu daya, aksi terstruktur, koalisi, dlsb. (17: 62). Oleh karena itu manusia hendaknya senantiasa mewaspadai syaithan dengan segala perbuatan dosa yang ditawarkannya, agar terhindar dari kerugian dan kecelakaan yang luar biasa. 
  


Ma’na Dzunub (Perbuatan Dosa)

Pengertian dzunub sekurang-kurangnya mencakup empat hal:

1.       Kullu maa nahallaahu’anhu, segala sesuatu yang dilarang Allah.
2.       Kullu maa nashahul qur’aanu ’ala tahriimihi, segala sesuatu yang dinasehatkan al-qur’an tentang keharamannya.
3.       Maa wajaba fiihi la’natu, apa-apa yang wajib atasnya celaan.
4.       Maa washafa faa’iluhu bi faasiqi, apa-apa yang pelakunya disifati dengan fasik.


 Efek Dosa pada Kehidupan Manusia           

Syaithan sangat senang mendorong manusia melakukan perbuatan dosa. Karena dosa akan berefek pada kehancuran dan kekacauan perikehidupan umat manusia. Inilah yang diharapkan syaithan beserta konco-konconya.           


Ad-Dzunub (perbuatan dosa) akan berefek pada 5 hal:

1.      Al-Qalbu (Hati manusia)

Dosa akan menyebabkan qalbu manusia menjadi pekat. Hal ini menjadikan manusia jauh dari al-haq (2: 6-7; 7: 179). Rasulullah bersabda: “Jika seorang mu’min melakukan perbuatan dosa, muncullah dalam qalbu-nya raan (noda hitam). Tetapi, jika ia segera bertaubat, meninggalkan dan beristighfar atas dosa-dosanya, bersihlah kembali qalbu-nya itu; Dan jika ia malah melakukannya lagi, bertambahlah raan itu sampai menutupi qalbu-nya. (Raan) itulah yang diingatkan Allah dalam Al-Qur’an (lihat 83: 14). 

 2.      An-Nafsu (Jiwa manusia)

Dosa akan menyebabkan jiwa manusia berpenyakit; Al-Hawa akan menguat, dan lambat laun dapat menguasai Ar-Ruh dalam jiwa manusia serta menundukkannya. Jadilah nafsunya an-nafsul amarah, yakni jiwa yang berorientasi pada pemenuhan syahwat (3: 14; 9: 24) dan selalu memerintahkan pada perbuatan dosa (12: 53).  

3.      Al-Mujtama’ (Kehidupan Masyarakat)

Dosa akan menyebabkan terjadinya instabilitas kehidupan sosial. Karena maraknya perbuatan dosa, munculah berbagai macam konflik; perpecahan, kekacauan, permusuhan, dan pertempuran. Semuanya menyebabkan kehidupan menjadi tidak aman (16: 112-113; 6: 65). 

4.      Al-Kaunu (Alam)Dosa akan berdampak pada lingkungan.

Berbagai macam ulah manusia di muka bumi akan menyebabkan terganggunya keseimbangan alam (30: 41). Allah menimpakan berbagai macam bencana (banjir, gempa, angin, dll) agar kemudian manusia kembali kepada Allah. 

5.       Ar-Rizqu (Rizki)

Dosa akan membuat rizki yang kita miliki hilang barokahnya (7: 96). Sehingga sedikitnya menjadi musibah dan banyaknya menjadi bencana. Bukankah negeri ini negeri yang subur makmur? Lihatlah kekayaan lautnya; hutannya yang begitu luas; konon kandungan kayu yang ada di Sumatera saja cukup untuk memenuhi kebutuhan kayu dunia. Hasil bumi berupa minyak adalah termasuk kualitas terbaik. Belum lagi tambang emas dan baru baranya. Tetapi perhatikanlah kondisi masyarakatnya. Konon ada 104 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan. 40 % penduduk usia produktif  adalah pengangguran. Sungguh ironis, sebuah negara agraris dengan hasil bumi dan pertanian yang melimpah ternyata ada penduduknya terserang penyakit busung lapar. Mengapa ini terjadi? ”Tuubuu ila-Llaah..!” demikian nasihat Umar bin Khattab kepada penduduk Madinah selepas terjadinya gempa yang mengagetkan mereka.             

Oleh karena itu saudaraku marilah kita bermuhasabah; renungkanlah gerak langkah hidup kita; kenanglah dosa-dosa kita. Sungguh, dosa adalah perangkap syaithan agar manusia terjerumus pada kehancuran. Jagalah diri dengan cara memohon perlindungan kepada Allah dan berpegang teguh pada syariat-Nya. Segeralah beristighfar Semoga Allah menghindarkan kita dari murkanya.

(M. Indra Kurniawan)    

Maraji:

Al-Qur’anul Karim
Materi Tatsqif, Abu Syauqi.
Ceramah Umum, Abu Fathan. Asaduddin Press: Jakarta          

0 komentar:

Posting Komentar