Sabtu, 30 Juli 2011

Sabtu, 30 Juli 2011

Taujih Ust H. Hilmi Aminuddin

Pada Acara Pembukaan Musyawarah Majelis Syura 01Jakarta, 18 Juli 2003


Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shalih. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Q.S. An-Nahl: 120-123)
Alhamdulillah, kita baru saja menikmati tazawwud ruhi (pembekalan ruhiyah) dengan shalat (Ashar) kita. Semoga Allah mengabulkan qiyamana wa du’aana, amin ya rabbal ‘alamin, yang sebelumnya juga kita telah menikmati tazawwud fikri dari khithab riasi, yang disampaikan oleh akhinal fadhil, DR. Muhammad Hidayat Nur Wahid. Dari khithab riasi tersebut terpampang jelas, apa yang harus kita lakukan pada masa-masa am intikhabi ini, apa yang harus kita persiapan untuk mensukseskan am intikhabi ini. baca Fi zhilalil khithab riasi tadi untuk suksesnya melaksanakan tuntutan dan tuntutan khithab riasi tadi, saya ingin memberikan beberapa hal sebagai basis untuk menunjang dan menopang suksesnya pelaksanaan tuntunan dan tuntutan dari khithab riasi tadi. Dari khithab riasi tadi tergambar jelas betapa berat tugas-tugas yang akan kita hadapi, betapa berat tantangan-tantangan yang harus kita hadapi. Betapa berat tanggung jawab yang akan kita hadapi di hadapan Allah dan di hadapan umat. Karena itu kita harus mempunyai basis yang kokoh sebagai munthalaq untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut.
Ikhwan dan akhwat fillah, sebetulnya basis yang merupakan qa’idah asasiyah yang bisa dijadikan munthalaq itu sudah amat sangat sering saya sampaikan di banyak majelis yang dihadiri oleh ikhwan dan akhwat. Tugas apapun, situasi apapun, kondisi apapun yang kita hadapi, modalnya sebagai basis utama munthalaqat da’wah kita hanya tiga, yaitu adanya:
1. Matanatul jamaah (kekokohan/kesolidan jamaah)
2. Hayawiyatul harakah (dinamika gerakan)
3. Intajiyatud da’wah (produktivitas dakwah).
Tidak lebih dari itu.
Tiga kalimat ini, kalau kita buka-buka catatan kita, mungkin sudah tertulis belasan kali, bahkan mungkin ada yang sudah menulisnya puluhan kali. Tetapi karena kesibukan kita, tanggung jawab kita yang berat, himpitan dan tantangan internal dan eksternal yang berat, kadang-kadang ketika menghadapi situasi kondisi itu, kita lupa membuka untuk merujuknya dari segi siyasatud da’wah, dari segi idaratud da’wah dan dari segi fiqhud da’wah.
Tapi sebagaimana kebutuhan orang-orang yang aktif yang juga diingatkan oleh Allah yang selalu memerlukan tadzkirah, fadzakkir fainnadzikra tanfa’ul mu’minin, maka kalimat saya di petang hari ini merupakan suatu dzikra, merupakan suatu tadzkirah, faman syaa-a dzakarah, yang mudah-mudahan bagi yang menghendakinya bisa mengingatnya sebagai bekalan langkah-langkah perjuangan sebelum melaksanakan ‘am intikhabi atau ketika melaksanakan program-program intikhabi atau sesudah ‘am intikhabi kita selenggarakan.
Matanatul Jama’ah

0 komentar:

Posting Komentar