Jumat, 16 September 2011

Jumat, 16 September 2011

Kunci

By Ust. Irfan Toni Herlambang


Suatu ketika di sebuah negeri tinggallah seorang tukang kunci yang mahir. Namanya terkenal hingga ke penjuru negeri. Banyak orang datang kepadanya dan mengakui kemampuannya membuat anak kunci. Tak ada lubang pintu ataupun gembok yang tak dapat dibukanya. Tak ada ikatan yang tak dapat ditembusnya. Segala macam kunci mampu dibuatnya. Tak heran, setiap hari rumahnya selalu dipenuhi orang-orang yang meminta bantuannya membuat anak kunci.


Sayang, lambat-laun kemasyhuran itu membuatnya sombong. Setiap kali berhasil membuka kunci yang tertutup, ia selalu sesumbar, “Lihatlah aku, tak ada satupun kunci yang tak dapat kubuka. Anak kunci buatanku paling hebat dan tak ada yang menandinginya!" Tangannya mengangkat tinggi-tinggi serenceng anak kunci yang terikat pada gelang-gelang besi. Gemerincing besi beradu terdengar di sela-sela tawa si Tukang kunci. "Akulah si Raja Kunci…."

Musim telah berubah, waktu telah berganti, namun kesombongan itu makin menjadi-jadi. Walaupun mengakui kehebatannya, tapi orang-orang tidak suka dengan kesombongan yang sering dipamerkannya. Bahkan kini tukang kunci itu semakin jumawa. Ia mulai menganggap dirinya tukang kunci paling hebat di seluruh dunia. "Ayo... ayo... siapa lagi yang butuh bantuanku. Tak ada lubang kunci yang tak dapat kutembus. Tak ada gembok dan rantai yang tak dapat kulepaskan," ujarnya menepuk dada. "Kunci macam apapun, aku bisa menciptakannya.…" Sementara itu gemerincing anak kunci terus berdenting. Tawanya semakin lepas, sesumbarnya semakin meluas.

Kesombongan memang tak akan abadi. Suatu ketika seorang kakek tua datang ke tempat sang tukang kunci. "Apakah kamu mampu membuatkan kunci untukku?”
"Ya, aku bisa membuat kunci apa saja, kunci apapun yang kau butuhkan," ujar si tukang kunci.
"Benarkah demikian? Kalau begitu buatkan aku kunci kebahagiaan," ucap si Kakek tua perlahan.
"Kunci kebahagiaan?" ada nada bertanya di sana.
Kakek tua itu menjawab, "Ya, kunci kebahagiaan. Bukankah kamu si Raja kunci, yang mampu membuat kunci apapun? Penuhilah pesananku. tiga bulan lagi aku akan kembali."
Kakek tua itu meninggalkan tukang kunci yang masih kebingungan. Walaupun begitu, si tukang kunci masih saja tetap sombong. "Ah, itu pekerjaan mudah. Akan kupenuhi pesanan itu segera." Lalu, diambilnya logam-logam terbaik yang dimilikinya. "Dengan baja dan emas ini, kunci kebahagiaan itu pasti akan dapat kubuat. Kakek itu akan puas dengan pekerjaaanku. Lihatlah logam perak yang kupunya, ulir-ulirnya kujamin akan mampu membuka kunci apapun." Si tukang kunci bekerja keras. Dibuatnya anak kunci yang terindah dan termahal yang mampu dibuatnya. Ia tertantang untuk membuktikan kemampuannya kepada kakek tua tadi.

Tiga bulan telah berlalu, tibalah saat itu. Sang kakek tua datang. "Anak kunci pesananmu telah kubuat, cobalah pilih mana yang sesuai." Tukang kunci itu menyodorkan beberapa anak kunci. Ada yang terbuat dari emas, baja, perak, dan campuran tembaga. Semuanya tampak indah dan gemerlap. Gagang dan ujungnya pun disusun dengan cermat. Ulir-ulirnya tampak indah, berukir, membuat lekuk-lekuk yang rumit. Namun si kakek tua tetap mengeleng. Tukang kunci merasa gagal.

"Ketahuilah, di dunia ini ada satu tempat yang tak berpintu. Tempat itu juga tak memiliki ruang. Kedudukannya juga tak melingkupi sesuatu. Ia juga tak memiliki sekat-sekat yang terbagi-bagi." Pertapa itu beranjak duduk. Tukang kunci mengikuti. "Karena tak berpintu, maka tempat itu juga tak memerlukan anak-anak kunci. Dan tempat itu adalah... kebahagiaan. Jika kamu ingin menemukannya, carilah di dalam hatimu. Ia kadang tak memerlukan emas, perak dan tembaga karena ia ada dalam setiap sisi-sisi jiwa.”

Teman, saya percaya, kita menginginkan kebahagiaan. Sebagian dari kita mencarinya dengan menelisik tiap inci jalan kehidupan. Kita menyusurinya seakan kebahagiaan itu ada di suatu tempat yang jauh. Kita kerap berusaha mendapatkannya seakan kebahagiaan itu menempati suatu ruang tertentu. Namun, kita keliru dan tak menemukan apa-apa.

Adakah kebahagiaan itu? Saya percaya kebahagiaan itu sebuah keniscayaan. Tapi, apakah kebahagiaan itu berpintu dan memiliki ruang? Akankah kebahagiaan itu dibatasi dinding-dinding dan sekat-sekat? Saya tak percaya dengan ini. Saya percaya, kebahagiaan itu tak berpintu, tak berdinding, tak memiliki ruang, dan tak dibatasi sekat-sekat. Karena itulah, kebahagiaan tak membutuhkan anak kunci untuk membukanya. Kita tak memerlukan ulir-ukir yang rumit untuk dapat hadir di dalamnya.

Teman, seperti tukang kunci tadi, ada banyak orang yang berusaha mempersepsikan kunci kebahagiaan dengan sesuatu yang gemerlap dan mahal. Rangkaian emas, perak, dan tembaga, dan sebentuk materi lainnya, masih dianggap dapat menggantikan kebahagiaan itu. Namun, adakah ia berhasil? Adakah kekayaan, kegemerlapan, dan semua materi itu dapat menggantikan kebahagiaan? Jawabannya ada di dalam hati kita.

0 komentar:

Posting Komentar